
🌹HAPPY READING🌹
Setelah menyaksikan adik-adik dan kedua orangtuanya saling menerima satu sama lain, Al kembali ke rumah Bima untuk menyusul istrinya.
"Assalamu'alaikum," ucap Al memasuki rumah Bima.
"Waalaikumsalam," jawab Bima yang duduk sendiri diruang tamu.
"Bella dimana?" tanya Al tanpa embel-embel Papa. Al masih kesal dengan sikap Bima yang dulu sangat tidak baik pada istrinya. Ditambah perbuatan Bima yang membuat Bella menjadi pemuas nafsu bodyguardnya.
Bima hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan Al. Dia tidak marah, Al pantas bersikap seperti itu kepadanya. Mengingat apa yang telah dia lakukan.
"Bisa kita bicara, Al?" pinta Bima.
"Bella dimana?" tanya Al lagi. Dia tidak menghiraukan permintaan Bima.
"Sebentar saja, Al," ucap Bima memohon.
Al menghela nafas pelan. Setelah itu dia ikut mendudukkan tubuhnya di sebelah Bima.
Bima tersenyum melihat Al yang duduk disebelahnya. "Bella istirahat di kamarnya," ucap Bima menjawab pertanyaan Al tadi. Rumah Bima memang selalu dia rawat. Saat berada di Inggris, Bima meminta seorang pembantu dan seorang tukang kebun yang merupakan sepasang suami istri untuk merawat rumahnya.
"Mau bicara apa?" tanya Al.
"Didepan anakku kau sangat baik sekali, Al," ucap Bima meledek menantunya.
"Sederhana saja, yang pasti bukan karena aku sudah melupakan apa yang kau perbuat terhadap istriku, tapi aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran Bella," jawab Al.
Bima tersenyum. Setidaknya Al mencintai anaknya dengan tulus.
"Terimakasih, Al," ucap Bima memandang Al.
Al menoleh dan membalas tatapan Bima. Dahinya berkerut heran. "Untuk apa?" tanya Al.
"Terimakasih telah mencintai anakku," jawab Bima.
Al terkekeh kecil. Dia tidak marah ataupun benci dengan Bima, tapi dia kesal dengan mertuanya itu. "Sudah takdirku mencintainya," ucap Al.
Bima mengangguk setuju. "Aku senang, anakku memiliki takdir yang baik. Boleh aku meminta sesuatu, Al?" tanya Bima.
"Jika itu baik, silahkan," jawab Al.
"Tolong isi hari anak-anakku dengan kebahagiaan. Tolong jangan pernah mengungkit masa lalunya, Al. Bahagiakan dia. Gantikan luka yang sudah aku berikan dengan senyum bahagianya," ucap Bima.
__ADS_1
Al mengangguk yakin. "Tanpa kau mintapun, aku pasti melakukannya. Sudah tugas seorang suami membahagiakan istrinya," ucap Al.
"Al," panggil Bima lirih.
Al langsung menatap Bima begitu mendengar suaranya yang berubah sendu.
"Jangan jadikan status anakku yang bukan lagi seorang gadis menjadi Boomerang dalam rumah tangga kalian. Jika nanti dia bersalah atau perbuatannya membuat ku kesal, aku mohon jangan membalasnya dengan membicarakan kekurangannya, Al," ucap Bima sendu.
Al masih terus menatap Bima. Al dapat melihat ketulusan dan kesedihan dalam tatapan Bima.
"Jika nanti kau sudah tidak mencintainya, kembalikan dia dengan baik-baik kepadaku, Al. Segala kekurangannya jangan pernah kau katakan padanya untuk melampiaskan rasa kesalmu, tapi katakan kepadaku, Al. Lampiaskan semuanya kepadaku. Aku yang harusnya dihina, bukan Runa," lanjut Bima dengan mata memerah menahan air bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Al memegang pelan bahu Bima. Bagaimanapun juga Bima adalah mertuanya, Ayah dari wanita yang dia cintai.
"Aku memang kesal padamu, tapi aku tidak benci. Biar semesta yang menghukum atas segala perbuatanmu. Tapi satu hal yang harus kau ketahui, aku akan berusaha menjadikan anakmu ratu dalam hidupku," ucap Al.
Senyum Bima terbit mendengar jawaban Al. "Terimakasih, terimakasih banyak, Al," ucap Bima tulus.
Al mengangguk. "Bisakah aku menemui istriku sekarang?" tanya Al.
"Kau sudah tak sabar rupanya. Pergilah," ucap Bima mengizinkan Al pergi.
"Selamat malam," ucap Al berdiri dan berlalu meninggalkan Bima yang masih duduk di ruang tamu.
.....
Al membuka pintu kamar dengan pelan. Dilihatnya Bella yang sudah tidur dengan pakaian tidurnya. Al dapat melihat wajah cantik Bella yang tidur dengan sangat pulas. Bibir yang sedikit terbuka itu membuat Al gemas terhadap istrinya.
Al paham, mungkin istrinya kelelahan karena banyak tenaga yang terkuras untuk hari ini. Tanpa pikir panjang, Al membuka kaosnya dan meletakkan di kaki ranjang. Setelah itu Al langsung merebahkan dirinya dan membawa Bella kedalam pelukannya.
Bella yang merasa terganggu dalam tidurnya dengan perlahan membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah dada bidang suaminya yang mulus dengan otot yang tidak terlalu menonjol, namu sangat pas untuknya.
"Suami," panggil Bella lembut menengadah melihat Al.
Al membuka matanya dan berbalas menatap Bella. "Iya, Sayang," jawab Al tersenyum.
"Mimpi aku jadi kenyataan," ucap Bella.
"Perpisahan dulu membawa kita pada pernikahan ini, Sayang," ucap Al.
"Al," panggil Bella lirih.
"Kenapa?" jawab Al lembut.
__ADS_1
"Harusnya kamu mendapatkan dan merasakan nikmatnya seorang perawan Al. Tapi aku-"
CUP.
Al memotong perkataan Bella dengan bibirnya. Bella yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari Al melongo tak percaya.
Al tersenyum melihat wajah polos istrinya. "Runa, sejak aku memutuskan untuk menikahimu, itu artinya aku harus siap dengan segala kekurangan kamu, Runa. Tidak peduli kamu perawan atau tidak. Jujur saja, setiap lelaki pasti mengharapkan seorang gadis, begitu juga aku. Tapi kamu tahu Runa, aku menikah bukan untuk mencari segelmu, aku menikahimu untuk menyempurnakan ibadahku. Aku ikhlas dan tulus mencintaimu," ucap Al memandang Bella yang sudah berkaca-kaca.
"Al."
"Aku juga bukan manusia sempurna, Runa. Kita menikah untuk saling menutupi kekurangan, mari kita jalankan pernikahan ini dengan cinta dan sayang," ucap Al.
Bella mengangguk senang. Setetes air bening itu akhirnya jatuh membasahi pipi Bella. "Kamu tujuan aku tetap bertahan, Al. Kamu harapan aku untuk tetap ada," ucap Bella.
Bella mengambil salah satu telapak tangan Al dan menciumnya layaknya seorang istri yang mencium tangan suaminya. "Kamu adalah imam yang harus aku patuhi. Aku akan selalu menjadi makmum yang bisa kamu banggakan. Aku akan menjadi versi terbaik diriku untuk pernikahan kita, Al," ucap Bella.
Al tersenyum dan mengangguk. "Sekarang tidur, ya," ucap Al lembut mengusap dahi Bella yang tertutupi sedikit rambutnya.
"Kamu tidak meminta hakmu, Al?" tanya Bella. Dia takut jika Al tidak mau menyentuhnya.
"Aku tahu kamu lelah. Masih ada besok pagi, siang dan malam-malam selanjutnya untuk kita melakukannya. Jika perlu setiap hari," ucap Al.
Plak.
Bella memukul pelan dada Al. "Kamu bisa membuatku lumpuh jika seperti itu," ucap Bella.
Al tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan mereka. "Selamat tidur, Istri," ucap Al menunduk mengecup dahi Bella.
Bella tersenyum dalam pelukan Al. "Selamat tidur kembali, Suami," ucap Bella.
Al mengusap lembut rambut Bella, memberi kenyamanan untuk gadis itu. Setelah beberapa menit, terdengar dengkuran halus dari Bella. Al tersenyum dan memandang lembut wajah damai Bella.
Kamu memang tidak setabah Khadijah, kamu memang tidak secantik Aisyah, dan kamu juga tidak setawakal Fatimah, tapi aku yang hanya lelaki akhir zaman penuh dosa ini mencintaimu dengan segala kekuranganmu. Kamu istimewa dengan dirimu sendiri, Istriku. I Love You. Batin Al senang dan bersyukur atas segala takdir yang Allah berikan untuknya.
Setelah itu Al ikut memejamkan mata menyusul Bella ke dunia mimpi.
......................
Hai teman-teman, nggak terasa novel ini udah mau tamat. Untuk kisah rumah tangga Al dan Kina bakal author buat terpisah.
Jangan lupa buat tetap like, komen dan kasih vote ya teman-teman
Tinggal beberapa part lagi, novel ini akan tamat. Semoga kalian nggak bosan menunggu sampai part terakhir yaa. Terimakasih banyak teman-teman 🌹🌹😍
__ADS_1