Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 69


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Ibra lega karena hari ini pekerjaannya bisa selesai lebih cepat dari hari sebelumnya. Ibra berdiri dan mengambil jas yang ia letakkan di sandaran kursi, setelah itu ia bergegas untuk pulang. Tiga puluh menit kemudian, Ibra sampai di rumahnya. Saat memasuki rumah, Ibra melihat Al dan Dee yang sedang menonton televisi. Tanpa pikir panjang Ibra langsung berjalan menghampiri mereka. Langkah Ibra terhenti karena mendengar perkataan Al.


Maafkan Abi, Nak. Batin Ibra sedih mendengar isi hati anaknya. Tidak mau mengganggu anak dan istrinya, Ibra berjalan kembali dan duduk di ruang tamu. Ibra menyandarkan tubuhnya sambil menutup mata.


"Mas," panggil Dee.


Ibra membuka mata dan melihat Dee yang berdiri di depannya. "Iya, Sayang."


Dee mendudukkan tubuhnya disebelah Ibra. "Kenapa nggak masuk? kenapa malah duduk di ruang tamu aja?" tanya Dee lembut kepada Ibra.


Sebenarnya saat Ibra datang, Dee menyadarinya. Dia sengaja membiarkan Ibra mendengar semua keluh kesah Al, agar Ibra tahu bahwa Al sangat merindukannya.


Ibra hanya menggeleng menjawab pertanyaan Dee. Dia menggeser sedikit duduknya lalu merebahkan tubuhnya dengan kepala yang diletakkan di paha Dee.


Tangan Dee bergerak mengusap rambut Ibra.


"Capek banget, ya," ucap Dee perhatian.


Ibra hanya mengangguk sambil memejamkan mata menjawab pertanyaan Dee. Lima belas menit dengan posisi seperti ini, Dee mendengar dengkuran halus dari suaminya.


"Pasti capek banget sampai ketiduran begini," gumam Dee memperhatikan wajah lelah Ibra yang tertidur. Dee yang tidak tega membangunkan suaminya hanya diam dan ikut memejamkan mata hingga mereka berdua tertidur di ruang tamu.


Ibra terusik karena merasa ada yang meraba wajahnya. Ibra membuka mata dan melihat wajah tampan anaknya. Ibra bangun dari tidurnya.


"Boy," ucap Ibra dengan suara seraknya.


"Kenapa tidul disini, Abi?" tanya Al heran karena melihat Umi dan Abinya tidur di ruang tamu. Tadi saat menonton bersama, Al meminta minum kepada Dee. Dee yang hendak mengambil minum berbalik arah keruang tamu saat melihat Ibra di sana. Al menunggu Uminya tidak datang-datang akhirnya menyusul untuk ke dapur. Tapi dia melihat Abi dan Uminya yang tertidur di ruang tamu langsung menghampiri mereka.

__ADS_1


Ibra menoleh kesamping dan melihat Dee yang tidur sambil duduk. "Abi ketiduran, Boy. Bawain tas Abi, ya. Biar Abi yang gendong Umi ke kamar," ucap Ibra memberikan tas kerjanya kepada Al.


"Iya, Abi," ucap Al patuh menerima tas kerja Ibra.


Ibra mengangkat Dee dan menggendongnya ala bridal style menuju kamar.


"Buka pintunya, Boy," ucap Ibra kepada Al setelah sampai di pintu kamar.


Al mengangguk, dengan sedikit berjinjit Al membuka pintu kamar Abinya. Setelah pintu terbuka, Ibra merebahkan Dee di kasur dengan hati-hati.


"Ini, Abi," ucap Al memberikan tas kerjanya kepada Ibra.


Ibra mensejajarkan tubuhnya dengan Al dan membawa anak itu kepelukannya. "Maafin Abi, ya," ucap Ibra.


"Kenapa minta maaf, Abi?" tanya Al heran.


"Maaf karena udah buat anak Abi merindukan Abi sedalam ini."


Al mengangguk, anak itu dengan jujur membenarkan perkataan Abinya. "Abi menyiksa anak Abi dengan kelinduan ini, Abi," ucap Al menunduk. Dia takut Abinya akan marah karena kejujurannya.


"Al nggak mau banyak mainan lagi. Al nggak akan minta uang Abi lagi buat beli es klim. Al mau Abi main telus sama Al. Buat apa banyak mainan kalau Al main sendili dan nggak ketemu Abi." Isi hati Al terucap begitu saja kepada Ibra.


Al tersenyum cerah mendengar perkataan Abinya. "Benalkah Abi?"


"Iya. Kemanapun akan Abi temani."


"Sama Umi juga?"


Ibra tersenyum dan mengangguk, "Kita akan Family time besok," ujar Ibra.


"Telimakasih, Abi," ucap Al memeluk Ibra yang sejajar dengan tinggi badannya.


Ibra membalas erat pelukan Al. Ternyata kebahagiaan sesederhana ini. Terimakasih Ya Allah. Batin Ibra bersyukur kepada penciptanya.


"Sekarang Al tidur, ya," ucap Ibra melepaskan pelukannya dengan Al.


"Tidul sama Abi sama Umi, ya," pinta Al kepada Ibra.

__ADS_1


Ibra mengangguk mengiyakan permintaan Al. Al bersorak senang dan langsung naik ke kasur dengan hati-hati agar tidak membangunkan Uminya.


Ibra yang melihat kelakuan anaknya hanya menggelengkan kepala. Setelah itu Ibra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Setelah membersihkan diri, Ibra ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Al. Kini posisi Al berada di tengah-tengah antara Umi dan Abinya. Ibra memeluk erat tubuh anaknya menyalurkan kerinduan yang sama seperti Al.


.....


Pagi ini Al nampak sangat bersemangat. Sejak bangun tidur, anak itu tidak henti-hentinya mengembangkan senyum di bibirnya. Pasalnya, hari ini dia akan jalan-jalan bersama Umi dan Abinya. Seperti cerita yang selalu dia dengar dari teman-temannya.


"Bahagia banget, Boy?" tanya Ibra. Kini mereka tengah menikmati sarapan bersama di meja makan. Dee sudah mengetahui rencana jalan-jalan mereka. Karena baru saja dia bangun, sudah di sambut dengan semangat anaknya yang meminta agar cepat mandi. karena mereka akan jalan-jalan.


"Iya dong, Abi. Kita Faly time sekarang," ujar Al senang.


"Family time, Nak," ucap Dee membenarkan perkataan Al.


"Hehe," tawa polos Al karena malu pada Umi dan Abinya.


"Al mau kita kemana?" tanya Dee.


"ZOO," teriak Al semangat kepada Umi dan Abinya.


"Apapun untuk anak Abi," ucap Ibra kepada Al.


.....


Saat ini keluarga kecil itu sudah berada di salah satu kebun binatang terbesar di kota mereka. Tidak hanya kebun bintang, disana juga banya terdapat wahana bermain, kolam berenang dan Playground. Benar-benar surganya anak-anak.


Sebelum memasuki kebun binatang, Al meminta untuk bermain di wahana permainan terlebih dahulu. Al meminta untuk naik seluncuran besar yang ada di sana. Karena takut anaknya kenapa-napa, Ibra ikut naik bersama Al. Karena anak-anak diperbolehkan naik bersama orang tuanya.


"Saat kita meluncur, kita teriakin Umi ya, Boy," titah Ibra kepada Al. Al mengangguk patuh. Dia duduk dipangkuan Ibra dengan senang. Kaki mereka berdua selonjoran untuk segera meleset ke bawah.


"Satu, dua, tiga,"


"UMI," teriak Al dan Ibra bersamaan dengan badan mereka yang mulai turun dari perosotan.


......................

__ADS_1


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹


__ADS_2