
🌹HAPPY READING🌹
Hari ini adalah hari Minggu. Besok adalah hari pertama Al sekolah di tempat yang baru. Waktu menunjukan pukul empat sore, Al dan Kina sedang asik bermain di halaman depan rumah. Sedangkan Ibra tentu sedang bermanja ria dengan wanita tercintanya. Al nampak mengajari Kina yang sedang belajar mengendarai sepedanya. Walaupun sepeda Kina sudah menggunakan roda bantu, tapi tetap saja Al takut Adik kesayangannya itu kenapa-napa
"Aban," panggil Kina kepada Al yang sedang memegangi sepeda bagian belakangnya.
"Iya Dek," jawab Al.
"Loda bantu na lepas aja, ya," ucap Kina sambil terus mengayuh sepedanya.
Al menggeleng tegas. "Nanti jatuh, Dek," ucap Al.
"Ina udah bica, Aban," ucap Kina.
"Adek bisa karena pakai roda bantu, kalau nggak pakai pasti nggak bisa," ucap Al.
"Kali ini aja, Aban. Nanti pacang lagi," ucap Kina memohon dengan wajah imutnya.
"Enggak, Dek," ucap Al tegas.
Bibir Kina berkerut lucu mendengar penolakan Abangnya. Kaki Kina berhenti mengayuh sepeda dan segara turun. Tanpa bersuara, Kina berlari memasuki rumah tanpa menghiraukan Al yang sedang memanggilnya. Saat ini Kina sedang dalam mode ngambek On.
Al menghela nafas pelan melihat kelakuan Adiknya. Dia lebih memilih Adiknya itu marah daripada Kina harus terluka nanti. Baru kaki Al melangkah ingin menyusul Kina, telinganya tidak sengaja menangkap suara ribut yang berasal dari sebelah rumahnya.
Dengan perlahan Al berjalan menuju pagar dan keluar dari pekarangan rumahnya. Kaki Al melangkah ke rumah yang menjadi sumber suara.
"Pintu rumahnya tertutup, tapi kenapa ada suara orang marah dan anak-anak yang menangis?" gumam Al bertanya pada dirinya sendiri.
Tidak ingin semakin penasaran, Al segera melangkahkan kakinya mendekati rumah tersebut. Dengan diam-diam, Al mengintip dari kaca jendela yang tidak tertutup gorden.
Mulut Al menganga dan matanya membola ketika penglihatannya menangkap sosok gadis kecil yang akhir-akhir ini selalu ada dipikirannya. Al menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara. Dengan serius Al mencoba mendengar perkataan orang tua gadis tersebut.
"Sudah aku bilang berapa kali, kau tidak usah melaksanakan kewajiban mu kepada Tuhan itu. Kita ini tidak perlu percaya padanya. Gara-gara aku menyembah dia, Ibu mu harus meninggal. Kenapa kau tidak mengerti juga ha?" bentak sang Ayah kepada gadis kecil tersebut. Mukena bermotif bunga-bunga yang membalut tubuh mungilnya nampang sangat berantakan.
"Hiks, Runa percaya Allah, Ayah," ucap gadis tersebut menangis.
Sang Ayah mencengkram kedua bahu gadis itu dengan sangat erat. "Sekali lagi aku melihatmu menyembahnya, aku akan kirim kau ke Neraka!" bentak Sang Ayah menghempaskan tubuh kecil itu ke lantai. Setelah itu Sang Ayah berjalan menaiki tangga rumahnya.
"Hiks, sakit," rintih gadis tersebut sambil menangis dan memeluk tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Mata Al berkaca-kaca melihat itu. Dia pernah merasakan bagaimana sakitnya dipukul seperti itu. Tapi dia laki-laki, dan dia masih bisa menahannya. Tapi ini adalah seorang perempuan. Bagaimana bisa dia menahan sakit di tubuhnya? Pikir Al.
Mata indah yang mengeluarkan buliran kristal itu tidak sengaja menangkap sosok tubuh mungil dibalik jendela rumahnya. Pandangan Al dan gadis kecil tersebut bertemu. Gadis itu memandang Al dengan pandangan yang sangat sendu.
Tidak kuat melihat pemandangan di depannya, Al segera berlari meninggalkan rumah tersebut. Sedangkan gadis kecil tersebut hanya menangis memeluk tubuhnya yang terasa sakit.
.....
Al memasuki rumah dengan nafas yang tak beraturan.
"Kenapa, Boy?" tanya Ibra yang baru datang dari arah dapur.
Al berjalan mendekati Abinya yang sudah duduk di ruang keluarga.
"Abi, orang yang tinggal di sebelah rumah itu siapa, Abi?" tanya Al pada Ibra.
Alis tebal Ibra bertemu. "Sebelah mana, Boy?" tanya Ibra.
"Itu rumah besar yang disebelah pos satpam kita, Abi," ucap Al.
"Oh, katanya itu salah satu pejabat negara, Boy. Tapi Abi juga nggak tahu. Kamu tahu sendiri orang disini sangat tertutup dan privasi, Boy. Jadi wajar jika tidak saling kenal," jawab Ibra.
"Dia sudah lama tinggal disini, Boy. Emang kamu pernah pergi main ke luar rumah?" tanya Ibra.
"Iya juga ya. Al kan nggak pernah main dulu," gumam Al yang masih bisa di dengar Ibra.
"Memang kenapa, Boy?" tanya Ibra heran. Pasalnya baru kali ini anak itu bertanya mengenai tetangganya. Biasanya Al hanya cuek tidak peduli.
Al menggeleng. "Tidak apa, Abi. Adek sama Umi dimana, Bi?" tanya Al celingak-celinguk mencari keberadaan Dee dan Kina.
"Lagi dikamar Kina. Dia ngambek gara-gara kamu," ucap Ibra.
Al menghela nafas pelan. Setelah itu dai ikut duduk di sebelah Ibra. Meminum jus jeruk yang tadi dibawa eh Ibra dari dapur. Kini Anak dan Abi itu fokus dengan layar televisi yang menayangkan siaran bulutangkis.
"Abi," panggil Al.
"Iya, Boy," ucap Ibra tanpa mengalihkan pandanganya dari layar televisi.
"Apa anak harus selalu mengikuti perkataan orang tuanya, Abi?" tanya Al.
__ADS_1
Ibra langsung mengalihkan pandanganya kepada Al begitu telinga mendengar pertanyaan Al.
"Kenapa bertanya seperti itu, Boy?" tanya Ibra bingung.
"Ck, jawab saja, Abi," ucap Al kesal.
"Selagi itu baik, ya tidak apa-apa," jawab Ibra santai.
"Lalu bagaimana jika orang tua tidak menuruti perintah anaknya, padahal itu adalah hal yang baik, Abi," ucap Al lagi.
"Selagi itu demi kebaikan semuanya, tidak ada halangan orang tua menuruti perkataan anaknya, Boy. Orang tua tidak selalu benar. Dia juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan," ucap Ibra menjelaskan.
"Seperti Abi?" tanya Al menjahili Ibra.
"Ck, jangan hakimi Abi lagi, Boy," ucap Ibra kesal.
Al terkekeh pelan mendengar perkataan Ibra. Sedetik kemudian, anak itu memeluk pinggang Ibra dari samping.
Ibra tersenyum dan mengusap pelan tangan Al yang melingkar di pinggangnya.
"Abi, jika orang tua menyuruh kita jauh terhadap Allah, dan kita tidak mau mengikutinya, kita tidak akan jadi anak durhaka kan Abi?" tanya Al.
"Itu berarti kita anak yang baik, Boy. Karena mengingatkan orang tua untuk kembali ke jalan yang benar," jawab Ibra.
"Apa Al termasuk anak yang baik, Abi?" tanya Al lagi.
Dengan yakin Ibra mengangguk dan mencium pucuk kepala Al. "Tidak ada orang tua yang menganggap anaknya buruk, Al," ucap Ibra.
"Dan satu lagi, Abi bersyukur karena diberi Amanah untuk menjadi Abinya Al," lanjut Ibra.
Al tersenyum senang. "Al sayang Abi," ucap Al kepada Ibra.
"Abi lebih sayang Al," jawab Ibra memeluk erat tubuh anaknya. Kini giliran televisi yang menonton keuwuan Anak dan Abi itu.
Berarti gadis Al adalah anak yang baik. Hati Al memang tidak salah memilih. Semoga dia selalu baik-baik saja dan kelak menjadi jodoh Al. Batin Al kembali mengingat gadis yang tadi menangis di depan matanya. Namun sayang, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
......................
Al kayaknya bibit-bibit nikah muda ya 😂😂🌹🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa. Aku sayang kalian.Terimakasih 🌹