Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 154


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Jangan mencoba melanggar perintah Tuan, Nona!" ucap seorang bodyguard yang datang tiba-tibda dari balik pintu apartemen Runa.


Runa kembali menarik tangannya dan menghadap bodyguard tersebut. "Dimana Tuanmu?" tanya Runa datar.


"Bersiaplah, Nona. Malam ini Tuan akan kembali," ucap Bodyguard tersebut.


Senyum terbit di bibir Runa. "Papa akan kembali?" tanya Runa memastikan.


"Bersiaplah, Nona," ucap Bodyguard tersebut dan berlalu pergi dari pandangan Runa.


"Semoga Papa sudah berubah. Sudah banyak yang Runa perbuat untuk Papa," gumamnya sendu.


Setelah itu Runa berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


.....


Di apartemennya, Al memikirkan apa yang tadi Runa bicarakan. Setiap perkataan Runa selalu ada dalam pikirannya, membuat matanya enggan untuk terpejam. Padahal jam sudah menunjukkan pukul satu malam waktu London. Sedangkan Aska sudah kembali sejak pukul sebelas malam tadi.


Al menatap langit-langit kamarnya dengan kedua lengan sebagai bantalan kepalanya.


"Ada maksud dari setiap perkataan Bella. Tapi apa?" gumam Bella bertanya pada dirinya sendiri.


"Mungkinkan perasaan yang aku lihat pada tatapan Bella benar adanya? Mungkinkah dia memang memiliki rasa terhadapku? Tapi kami tidak mungkin untuk bersatu," gumam Al.


Al mengambil ponsel yang ada disebelah bantalnya. "Aku harus minta tolong Abi," ucap Al.


Al membuka kontak pada ponselnya dan mencari nama Ibra. Dengan segera Al menekan tombol panggil saat kontak dengan nama 'Abi' sudah dia temukan.


"Assalamu'alaikum, Boy," ucap Ibra dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Abi," jawab Al.


"Kenapa? Tumben sekali menelpon Abi," tanya Ibra bingung. Karena biasanya anak lelaki itu hanya akan menelpon ke ponsel Uminya.


"Apa Abi sibuk?" ucap Al tanpa menghiraukan pertanyaan Ibra.


"Abi selalu sibuk, Boy. Makanya cepatlah pulang. Kau tahu, adikmu selalu merengek menanyakanmu," ucap Ibra.


"Sebentar lagi, Abi," jawab Al.


"Lagian kenapa melarang Abi dan Umi untuk menghadiri wisudamu, Boy?" tanya Ibra heran.


Al menggeleng di tempatnya. "Al hanya tidak ingin orang tahu bahwa Al anak Abi," jawab Al cuek.


"Ck, kau malu mengakui Abimu?" tanya Ibra kesal.

__ADS_1


"Hahaha bercanda, Abi," ucap Al tergelak.


"Yasudah, apa yang kamu inginkan, Boy?" tanya Ibra.


"Abi, bantu Al menyelidiki seorang gadis," ucap Al.


"Kamu tidak berbuat macam-macamkan Al?" tanya Ibra serius.


"Ck, Al tidak berbuat macam-macam, Abi," jawab Al.


"Eh, tunggu. Bukankah di sana masih tengah malam? Kenapa tidak tidur? Ingin Abi bilang pada Umimu?" ucap Ibra.


"Ayolah, Abi. Sekali ini tolong kerjasamanya," ucap Al.


"Ya ya ya, gadis mana yang ingin kamu Abi selidiki?" tanya Ibra.


"Al akan kirim gambarnya," ucap Al. Al mengotak-atik ponselnya mencari fotonya bertiga dengan Aska dan Bella. Setelah ketemu, Al langsung mengirim kepada Ibra.


Ibra melihat pesan yang dikirim oleh anaknya. "Apa anak Abi jatuh cinta?" tanya Ibra meledek.


"Ck, ada sesuatu yang harus Al pastikan Abi. Dan satu lagi, jangan bilang-bilang Umi," ucap Al.


"Apa yang Abi dapatkan?" tanya Ibra jahil.


"Waktu yang lebih banyak bersama Umi," ucap Al kesal. Karena dia tahu apa yang diinginkan Abinya itu.


"Good reward, Boy," ucap Ibra.


"Oke, tunggu dalam tiga hari. Orang-orang Abi bersama Uncle Alan akan menyelidikinya," ucap Ibra.


Al mengangguk di tempatnya. "Assalamu'alaikum, Abi," ucap Al.


"Waalaikumsalam," jawab Ibra memutus panggilannya.


"Semoga apa yang aku pikirkan tidak benar, Ya Allah," gumam Al memejamkan matanya dan menghela nafas pelan. Setelah itu ia mencoba untuk tidur dan mendatangi dunia mimpi.


.....


Di apartemennya, Runa sudah siap dengan dress selutut nya. Malam ini dia akan menyambut kedatangan Papanya sesuai apa yang dikatakan bodyguard tadi. Sudah dua jam Runa menunggu di meja makan, tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Hingga suara pintu dibuka dengan kasar mengalihkan pandangan Runa.


Terlihat Bima yang merupakan Papa Runa berjalan mendekati gadis itu.


Plak.


Satu tamparan mendarat dengan mulus di wajah Runa. Runa memegang pipinya yang terasa sangat sakit. Mata Runa berkaca-kaca menatap Bima.


"Apa ini sambutan untuk Runa, Pa?" tanya Runa sendu.

__ADS_1


"Sudah berapa kali saya bilang jangan pernah menyimpan barang yang berhubungan yang Tuhanmu itu!" teriak Bima tepat di wajah Runa.


"Peduli apa Papa sama barang-barang Runa? Papa kemana selama ini? Kenapa baru kembali?" tanya Runa sendu.


"Kemana saya itu tidak penting. Yang penting kamu tetap saya nafkahi sebagai anak saya," jawab Bima mengalihkan pandangannya.


"Kebahagiaan tidak selalu dengan materi, Pa," ucap Runa.


"Jangan munafik kamu! Kamu hidup dengan uang pemberian saya!" jawab Bima tegas.


"Pa, apa yang bisa Runa lakukan agar kasih sayang Papa dapat Runa raih?" tanya Runa sendu.


"Kembalikan istri saya!" jawab Bima.


"Pa, kepergian Bunda memang sudah jalan-Nya, Pa," ucap Runa tidak menyebut nama Tuhan di depan Papanya. Karena dia takut Papanya akan berulah.


"Istri saya selalu menyembahnya. Tapi mengapa dia mengambilnya dari saya? KENAPA?" teriak Bima.


Runa menunduk takut mendengar teriakan Bima.


"Itu sudah takdir, Pa," ucap Runa pelan.


"Berani kau menyembahnya, kau bisa lihat apa yang akan saya lakukan!" ucap Bima tegas.


Runa hanya diam sambil terus mengusap air matanya. Runa memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Bima.


"Pa," panggil Runa lirih.


"Mengapa tidak bunuh Runa saja?" tanya Runa sendu.


"Tenang saja, suatu saat itu akan saya lakukan!" ucap Bima.


Tubuh Runa bergetar mendengar perkataan Runa. Sekejam inikah lelaki yang dia sayangi? Sekejam inikah lelaki yang dia harapkan bisa menjadi sandarannya? Pikir Runa bertanya-tanya.


"Persiapkan dirimu untuk menikah dengan lelaki pilihanku!" ucap Bima tegas. Setelah mengatakan itu, Bima berlalu pergi meninggalkan Runa yang masih merayapi takdirnya.


"Hiks, apalagi ini?" ucap Runa dalam tangisnya.


"Bunda, bawa Runa pergi," ucap Runa dalam tangisnya.


Tubuh Runa luruh kelantai. Tenaganya seakan terkuras habis mendengar perkataan terakhir Bima. Rasanya kematian lebih baik untuknya saat ini. Tapi dia tahu, bunuh diri adalah dosa yang sangat besar. Bundanya selalu melarang akan hal itu.


"Bahkan Runa rela mengkhianati Tuhan demi Papa. Kenapa Papa seperti ini sama Runa, hiks?"


"Maafkan Runa jika Runa tidak lagi bisa menuruti kehendak Papa," ucap Runa yakin menghapus air matanya dengan kasar.


Runa berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya. Saat sampai di kamar, Runa meraih sebuah kotak yang berisi kalung dengan mainan nama Nabi Muhammad dalam bahasa Arab. Itu adalah kalung pasangan dengan Bundanya. Kalung dengan mainan Allah yang ada pada Al adalah milik bundanya.

__ADS_1


"Besok aku akan membuka segalanya. Semoga kamu menerimaku, Al," ucap Runa penuh harap memandangi kalung yang ada tangannya.


......................


__ADS_2