
🌹HAPPY READING🌹
Al dan Kina berdiri di ambang pintu, melihat Ibra yang sedang memeluk seorang anak kecil yang tengah duduk di kursi rodanya.
"Abi nggak pelnah telepon Ala, hiks," ucap Zahra dalam tangisnya. Anak itu sangat merindukan Ibra.
Ibra memeluk erat Zahra yang menangis dalam dekapannya. Semua itu tidak lepas dari pandangan Al dan Kina.
Mata Al memanas melihat pemandangan ini. Sedangkan Kina hanya menatap polos orang-orang dewasa didepannya. Mereka semua masih belum menyadari kehadiran Al dan Kina di sana.
Al mengedarkan pandangannya. Dia dapat melihat Uminya yang berdiri di sebelah Ibra dengan mata yang sembab. Pandangan Al berhenti ketika dia melihat seorang wanita yang dulu pernah datang ke rumahnya di Jakarta. Wanita itu yang menyebabkan hancurnya rumah tangga Abi dan Uminya.
"Acalamualaitum," ucap Kina mengalihkan pandangan mereka semua. Sedangkan Al hanya diam menatap dingin semua yang ada di sana.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.
"Al, cucu Nenek," ucap Raina bahagia yang melihat Al berdiri di ambang pintu.
Ternyata yang datang ke rumah Dee bukan hanya Wijaya dan Raina, tapi ada Kevin, Sofia, Zahra dan Agam.
"Boy," ucap Kevin dan Agam bersamaan melihat Al.
Sedangkan Sofia hanya menatap Al dengan pandangan sendu. Hatinya berharap Al bisa memaafkannya.
Dengan wajah bingungnya, Kina melangkah mendekati Umi dan Abinya. Sampai di dekat Uminya, Kina menyalami tangan Dee dan Ibra secara bergantian. Sedangkan Al hanya tetap diam di ambang pintu. Kina memandang lekat wajah Zahra yang basah karena air mata.
"Jilbab na belantakan," ucap Kina memperbaiki Jilbab Zahra yang berantakan dengan tangan mungilnya. Dengan berjinjit, dia bisa meraih jilbab Zahra.
"Meleka cemua capa, Umi?" tanya Kina setelah membenarkan jilbab Zahra.
Dee berjongkok di depan Kina. "Adek, mereka semua keluarga kita dari Jakarta. Itu Nenek, Kakek, Uncle Agam, Uncle Kevin, dan ... Bunda Sofia," ucap Dee sedikit menjeda perkataan di akhir kalimatnya dan menunjuk satu-satu persatu mereka semua yang ada di sana.
Dee memang memutuskan untuk memaafkan mereka semua. Karena saat memutuskan untuk kembali kepada Ibra, itu berarti dia harus menerima kembali semua masa lalunya. Memilih berdamai dan mencoba untuk memaafkan. Tapi akan sulit untuk melupakannya.
"Ayo, Adek salam sama semuanya," ucap Dee lembut.
Kina mengangguk patuh. Dia berjalan menyalami mereka satu persatu.
__ADS_1
"Cucu Nenek, kau tumbuh dengan baik, Nak," ucap Raina dengan air mata kerinduannya. Raina mencium seluruh wajah Kina hingga membuat anak itu terkekeh geli.
Secara bergantian Kina menyalami mereka. Ciuman bertubi-tubi di wajah mungil itu Kina dapatkan dari semua keluarganya.
"Pipi Ina telam, Umi," ucap Kina mengadu kepada Dee karena merasakan pipinya yang sedikit keram dan basah.
Mereka semua yang ada di sana tersenyum mendengar celoteh anak itu. Namun tidak dengan Al. Anak itu memandang dingin mereka semua.
"Boy," panggil Ibra lembut. Dalam hatinya Ibra melafalkan segala doa agar Al bisa menerima semuanya.
Dengan perlahan Al berjalan mendekat Ibra. Al menyalami tangan Ibra dan Dee secara bergantian. Setelah bersalaman, pandangan Al beralih kepada Zahra yang sedari tadi menunduk takut melihat mata dingin Al.
"Jadi ini kejutannya, Abi?" tanya Al kepada Ibra.
Ibra mengangguk. Mencoba untuk tersenyum kepada Al. Seketika suasana berubah canggung dan menegangkan.
"Apa anak cacat ini anak Abi dengan wanita itu?" tanya Al tajam menunjuk Sofia.
"Al!" ucap Dee tegas memperingati cara bicara Al yang tidak sopan. Sedangkan Zahra yang mendapat penolakan dari Al hanya menunduk takut memilih ujung jilbabnya.
Al beralih menatap Uminya. "Kenapa Umi? Apa Al salah?" Tanya Al kepada Dee.
"Adik? Al hanya punya satu Adik, Umi. Sakinah Salsabila!" jawab Al tegas.
"Boy," panggil Ibra lirih dengan pandangan sendu.
"Apa Abi marah?" tanya Al kepada Ibra.
Ibra menggeleng lemah. Dia sadar disini dia lah pelaku utamanya. Dia yang menyebabkan semuanya seperti ini.
Sedangkan Sofia sudah menitihkan air mata melihat penolakan Al. Dia yang bersalah, dia yang ceroboh, tapi kenapa harus anaknya yang menerima semuanya. Dia sungguh tidak tega melihat Zahra yang hanya menunduk ketakutan melihat Al.
Al mengalihkan pandanganya kepada Sofia. "Kenapa menangis Aunty?" tanya Al.
Sofia hanya bungkam. Kevin yang ada di sebelah Sofia menggenggam lembut tangan istrinya memberikan kekuatan.
"Ma-maafkan saya, Nak," ucap Sofia menatap sendu Al.
__ADS_1
"Maaf untuk apa? Apa Aunty sanggup mencium kaki Umi ku untuk mendapat maaf itu? Apa sekarang Aunty menyesal karena perbuatan Aunty, Aunty memiliki anak cacat seperti dia!" ucap Al menunjuk Zahra.
"Al!" ucap Dee tegas menegur Al.
Zahra menangis mendengar bentakan Al. Mereka semua yang ada di sana hanya bungkam mendengar perkataan Al.
"Ucapan Al bisa menyakiti hati seseorang, Nak," ucap Dee kembali lembut.
"Lalu bagaimana dengan dia yang sudah menyakiti kita, Umi? Apa Al tidak boleh marah sama dia? Apa Al tidak boleh menolak kehadirannya? Anaknya lahir langsung mendapat kasih sayang Abi. Sedangkan Kina, dia lahir tanpa Ayah, Umi!" ucap Al kepada Dee.
Mereka semua bungkam. Dee tercengang mendengar perkataan tegas Al. Raina hanya mampu menangis memeluk pinggang Wijaya yang berdiri di sebelah kursi rodanya. Sedangkan Agam dan Adam yang berdiri di sebelah Wijaya hanya memandang sendu.
Kevin yang melihat itu maju untuk mendekati Al. Kevin bersimpuh di depan Al dan memegang kedua tangan Al. "Boy, semua ini memang rumit. Tapi jangan menyakiti hati Zahra. Dia masih terlalu kecil untuk menerima semuanya," ucap Kevin menatap Zahra yang menangis di kursi rodanya.
"Lalu bagaimana dengan Al yang waktu itu baru berusia lima tahun, Uncle. Bukankah itu juga masih kecil? Bagaimana juga dengan Kina? Bahkan saat itu dia masih dalam perut Umi, Uncle," ucap Al memandang sendu Kevin. Dia sangat merindukan kedua Uncle nya.
"Bahkan kalian semua adalah pelakunya," sambung Al lirih memandang semua yang ada di sana. Dan hal itu sukses membuat Kevin bungkam.
Ibra menurunkan Kina dari gendongannya. Dia memutar tubuh Al dengan lembut agar menghadap ke arahnya. Ibra bersimpuh untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Al.
"Boy, pukul Abi, caci Abi, maki Abi, Boy. Tapi jangan sampai membenci, Nak. Jangan kotori hati Al dengan kebencian. Semua ini salah Abi. Al, Kina dan Zahra adalah anak Abi. Kalian sama-sama anak Abi," ucap Ibra sendu.
Al mengalihkan pandanganya kepada Zahra yang menunduk dan menangis. Setelah itu dia melihat Kina yang menunduk di pelukan Dee.
"Boy, jangan renggut identitas Abi sebagai Ayah kalian, Nak. Tidak pernah ada sebutan untuk seorang Ayah yang ditinggalkan anaknya, Boy. Abi mohon, kalian bertiga adalah anak-anak Abi," ucap Ibra memohon kepada Al.
"Hiks, Umi," tangis Al pecah memanggil Uminya sambil menunduk. Sungguh dia tidak bermaksud menghina Zahra.
Dee ikut bersimpuh dan memeluk tubuh Kina dan Al sekaligus. "Maafkan jika Umi kasar, Nak," ucap Dee lembut.
"A-Abang," cicit Zahra takut mencoba untuk memanggil Al.
Mereka semua yang ada di sana mengangkat kepala mendengar Zahra memanggil Al.
......................
Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote dari kalian ya.
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz
Terimakasih