Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 117


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Sesuai dengan pembicaraannya dengan Al tadi siang, kini Ibra tengah mematut dirinya di depan cermin untuk segera bertemu dengan kekasih hatinya. kemeja hitam dan celana bahan dongker yang melekat indah di tubuh Ibra menambah kesan tampan pria ini.


"Huft, ini lebih menegangkan daripada saat pertama kali aku melamarmu, Sayang," gumam Ibra sambil memasang jam tangan mewah di pergelangan tangan sebelah kirinya.


Dirasa penampilannya sudah pas, Ibra mengambil sebuket bunga yang sudah dia siapkan untuk Dee dan bidadari kecilnya, Kina. Setelah itu, Ibra keluar rumah dengan siulan yang menggambarkan bagaimana hatinya berbunga-bunga saat ini.


Sedangkan di tempat lain, Zahra sedang merengek kepada Sofia untuk segera bertemu dengan Ibra. Karena anak itu sudah lebih dari tiga hati tidak bertemu dengan Abinya. Saat ini mereka sedang berada di kantor menemani Kevin yang harus bekerja mengurus perusahaan ketika Ibra masih harus memperjuangkan hidup dan matinya di tempat lain.


"Buna, Kenapa Abi nggak datang-datang? Di kantol juga nggak ada Abi," ucap Zahra dengan nada merajuknya.


"Sayang, dengerin Bunda, ya. Zahra mau segera bertemu dengan Abang dan Adek, kan?" tanya Sofia.


Zahra mengangguk antusias. "Mau Buna," jawab Zahra semangat.


"Kalau begitu Zahra harus sabar, ya. Sekarang Abi lagi berjuang buat bujuk Abang, Adek dan Umi buat kembali sama kita," ucap Sofia menjelaskan.


"Anak Ayah kenapa? Kok cemberut?" tanya Kevin yang baru memasuki ruangannya setelah melaksanakan meeting. Kevin kadang kewalahan mengurus perusahaan, apalagi banyak perusahaan yang meminta kerja sama dengan perusahaan Ibra. Tapi atas bantuan Alan dan Wijaya, Kevin bisa mengatasinya tanpa ada kendala.


"Ayah," rengek Zahra kepada Kevin sambil merentangkan tangannya minta di gendong.


Kevin yang melihat itu langsung mengangkat Zahra dari kursi rodanya.


"Anak Ayah kenapa, Hem?" tanya Kevin lembut. Sofia yang melihat bagaimana Kevin begitu menyayangi Zahra ikut senang. Anaknya diterima baik oleh keluarga Ibra walaupun keegoisannya membuat banyak luka.


"Ala kangen Abi," ucap Zahra menunduk.


"Ara kangen Abi?" tanya Kevin memastikan.


Zahra dengan yakin mengangguk.


"Kalau Ara kangen Abi, Ara harus doain Abi. Sekarang Abi lagi berusaha untuk membujuk Abang dan Adek buat bisa ikut sama Abi kesini. Ara mau ketemu Abang, Adek dan Umi, kan?" ucap Kevin lembut.


Lagi-lagi dengan antusias Zahra mengangguk.


"Kalau begitu lepaskan kangen Ara pada Abi lewat doa dalam sholat, ya," ucap Kevin.


"Iya, Ayah. Ala selalu doain Abi," ucap Zahra senang.


"Itu baru anak Ayah," ucap Kevin mencium kedua pipi Zahra.


"Em ... Ayah," panggil Zahra lirih kepada Kevin.


"Iya, Nak?" jawab Kevin lembut.


"Apa nanti Abang dan Adek mau main sama Ala? Soalnya Ala nggak bisa jalan. Apa Abang sama Adek nggak malu jika punya saudala sepelti Ala?" tanya Zahra menunduk takut.


Sofia yang mendengar pertanyaan anaknya tak kuasa menahan tangisnya. Dia berlalu keluar ruangan Kevin agar Zahra tidak mengetahui bahwa dia menangis. Kevin yang melihat itu hanya menghela nafas dan mencoba membujuk Zahra.


"Zahra, Abi dan Ayah sering bilang kalau Abang dan Umi itu orang baik. Bahkan sangat baik, jadi mereka pasti akan bisa menerima Zahra dan menganggap Zahra sebagai saudara," ucap Kevin.


"Benalkah Ayah?" tanya Zahra memastikan.


"Benar, Sayang," jawab Kevin.


"Kalau gitu Ara udah nggak sabar menunggu kedatangan Abang sama Adek dan juga Umi. Kita harus doain Abi terus ya, Ayah," ucap Zahra senang.


"Pasti, Nak," ucap Kevin memeluk erat Zahra yang ada di gendongannya.


Karena kesalahan kami, bahkan kamu yang masih kecil sudah mendapat akibatnya, Nak. Jika suatu hari nanti kamu mengetahui kesalahan apa yang sudah kami perbuat, semoga kamu tidak membenci kami semua. Batin Kevin sendu melihat kondisi Zahra yang hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan kursi roda.


.....

__ADS_1


Di rumah Dee, Kina dan Al kini tengah menonton video sholawat melalui ponsel di kamar Kina. Sedangkan Dee sedang di Toko membantu para karyawannya.


"Dek," panggil Al pada Kina.


"Iya, Ban," jawab Kina tanpa mengalihkan pandanganya dari ponsel.


"Apa Abang boleh bertanya?" ucap Al.


Kina hanya mengangguk. Hatinya sedang sibuk mengikuti setiap ucapan Sholawat yang dia nonton.


"Apa Adek mau ketemu Abi?" tanya Al.


Kina lantas terduduk mendengar perkataan Abangnya. Ponsel yang tadi dia pegang terjatuh ke kasur.


Al yang tadinya sedang tiduran di sebelah Kina ikut terduduk melihat reaksi adiknya.


Mata Kina berkaca-kaca jika berbicara mengenai Abinya.


"Apa Ina boleh dawab dudul?" ucap Kina.


"Jawab yang jujur, Dek," ucap Al.


"Ina cangat inin tetemu Abi," ucap Kina dengan mata berkaca-kaca.


Al tersenyum senang. "Nanti Abi akan datang untuk bertemu kita, Dek," ucap Al.


Mata Kina membola mendengar perkataan Abangnya. "Aban Ndak bohong?" tanya Ina memastikan.


"Abang nggak bohong, Dek. Tapi boleh Abang minta sesuatu?" tanya Al.


Kina mengangguk semangat.


"Jika nanti Abi nggak kenal sama Adek, Adek jangan sedih, ya. Adek sendiri yang harus memperkenalkan diri Adek kepada Abi. Karena Abi baru pertama kali ketemu Adek, jadi kita harus perkenalkan diri," ucap Al menjelaskan kepada Kina. Al takut nanti Kina akan sedih saat Ibra bertemu dengannya, Ibra tidak mengenali Kina.


Kina mengangguk semangat. Dia tidak masalah akan hal itu. Yang penting baginya saat ini mengetahui jika Abinya datang saja dia sudah bersyukur.


"Adek ngapain?" tanya Al.


"Adek mau mandi. Tetemu Abi nanti Adek halus tantik, tayak Umi," ucap Kina dan langsung masuk ke kamar mandi.


Al hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik kesayangannya itu.


Semoga kedatangan Abi bisa mengobati kerinduan Kina. Semoga Abi tidak memberi kecewa kepada Kina seperti Abi memberi kecewa Al dan Umi. Batin Al menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


.....


Ibra memandangi Toko dan Rumah yang ada di depan matanya. Beberapa kali dia menghembuskan nafas pelan demi menghilangkan rasa gugupnya.


Dengan perlahan Ibra turun dari motor dan berjalan menuju Toko. Jantung Ibra serasa lari maraton dalam keadaan seperti ini.


"Permisi," ucap Ibra saat sampai di Toko Dee.


Joni yang kebetulan tidak ada pekerjaan berjalan ke arah pintu ketika melihat ada pengunjung di Toko.


"Loh, Bapak ..." ucap Joni mencoba mengingat siapa Ibra.


"Iya, ini saya. Saya yang waktu itu tidak sengaja nabrak motor kamu di tepi jalan," ucap Ibra mengingatkan.


"Wah, iya saya ingat sekarang. Bapak mau beli guci atau kerajinan keramik?" tanya Joni.


Ibra menggeleng. "Tidak. Kedatangan saya ingin bertemu dengan memiliki Toko ini," ucap Ibra.


"Ibuk bos?" tanya Joni.

__ADS_1


"Iya. Bisakah saya bertemu dengannya?"


"Wah, pucuk dicinta bulan pun tiba. Baru kemarin saya mengatakan kepada Buk Bos kalau yang menabrak orang nya sangat ganteng dan cocok dengan Buk Bos. Eh, ternyata Bapaknya datang sendiri," ucap Joni.


Ibra tersenyum senang. "Kau begitu bisakah saya bertemu Buk Bos mu?" tanya Ibra lagi.


"Silahkan langsung ke rumah saja, Pak. Tadi Buk Bos udah balik ke rumah habis dari sini. Katanya mau bersih-bersih," jawab Joni.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih, Joni," ucap Ibra.


"Iya, Pak," jawab Joni ramah.


Ibra keluar dari Toko dan berjalan menuju rumah Dee.


Ya Allah, lancarkan jalanku. Batin Ibra sebelum mengetuk pintu rumah Dee.


Tangan Ibra terangkat untuk mengetuk pintu rumah yang tertutup itu.


"Tok, tok, tok," suara ketukan Ibra.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibra sedikit berteriak.


Tidak mendapat jawaban, Ibra kembali mengetuk pintu dan mengucap salam. Hingga sosok kecil membuka pintu dan suara mungil menjawab salam Ibra.


"Alaikumcalam," jawab Kina yang sedikit kesusahan membuka pintu.


Kina mendongak bersamaan dengan Ibra yang menunduk memandangi Kina.


Ibra bersimpuh dengan kedua lututnya sebagai tumpuan di depan Kina. Mata Ibra berkaca-kaca melihat sosok mungil yang sangat ingin dia peluk.


"Assalamu'alaikum, Anak Abi," ucap Ibra dengan suara bergetar.


"Alaikumcalam, A-"


Ibra mengangguk melihat Kina yang menghentikan omongannya. Mata anak itu berkaca-kaca memandangi Ibra.


"Iya, Nak. Ini Abi," ucap Ibra.


"Abi datan?" tanya Kina. Air mata anak itu sudah tidak bisa dia tahan.


Ibra mengangguk pasti.


"Abi tau talau Ina anak Abi?" tanya Kina lagi.


Hati Ibra sakit mendengar pertanyaan Kina. Sama sekali tidak ada raut benci di wajah Kina terhadap dirinya. Tapi pertanyaan Kina menjadi tamparan keras untuknya.


"Abi sangat mengenal Anak Abi. Sakinah, Anak Abi," ucap Ibra dengan suara bergetar.


Ibra meletakkan bunga yang tadi di genggamannya dan merentangkan tangannya kepada Kina. Dengan langkah pelan namun pasti, Kina berhambur kedalam pelukan Ibra.


"Tenapa balu datan, Abi?" tanya Kina dalam tangisnya.


"Maaf, Nak," ucap Ibra. Lidah tercekat tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan bidadari kecilnya ini.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Dee dan Al menyaksikan interaksi Abi dan Anak itu.


Terimakasih telah mengenali Kina, Abi. Abi memberi kebahagiaan disaat pertama dia bertemu Abi. Batin Al memandang senang Ibra dan Kina dari anak tangga terakhir.


Ya Allah, apa selama ini anak-anak ku tersiksa karena keegoisan ku? Aku mohon maafkan aku dan beri aku petunjuk, Ya Allah. Batin Dee yang melihat Ibra dan Kina dari balik tembok ruang tamu.


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹

__ADS_1


Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2