Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 65


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


"Kemana keberanian mu sebagai Komandan?" tanya Ibra sinis kepada Bram.


"Aku tidak mengenalnya!" jawab Bram membela dirinya.


"Heh, tidak mengenalnya? Setelah kalian saling memuaskan kau berani bilang tidak mengenalnya? Kau memang bajingan!" bentak Ibra kepada Bram. Saat ini dia bahkan lupa bahwa lelaki yang di bentaknya adalah adik dari Papanya sendiri.


"Bawa masuk mereka semua!" titah Ibra. Dari pintu munculah tiga orang wanita memakai baju tahanan penjara.


"Apa kau juga tak mengenal mereka?" tanya Ibra menunjuk ketiga wanita tersebut.


"Kau sengaja memasukkan mereka ke dalam penjara untuk menyiksa istriku disini. Kau tahu, perbuatan mu hampir membunuh istriku. Kau memang brengsek!" ucap Ibra marah. Jangan tanya kenapa ketiga tahanan itu bisa ada disini, sudah pasti ini kerjaan Alan yang menjadi seorang detektif. Dan Agam mempermudah semuanya karena profesinya sebagai Polisi.


Naina yang berada di sana hanya menunduk takut tidak berani menatap siapapun. Sama halnya dengan ketiga wanita tersebut.


"Kau memfitnah Om mu sendiri hanya karena pembunuh Ini?" ucap Bram menunjuk wajah Dee.


"Istriku bukan pembunuh!" ucap Ibra membela Dee.


"Dan aku mempunyai semua buktinya. Kau menodai seragam mu hanya karena nafsu kepada wanita itu!" lanjut Ibra menunjuk Naina.


Dee benar-benar tidak tahu mengenai ini. Jadi dia sengaja di siksa disini? pikir Dee. Dee mengusap lembut lengan Ibra memberikan ketenangan kepada suaminya. Dengan segenap keberaniannya Dee menatap Bram. "Apa Dee punya salah kepada Om? Kenapa Om sangat membenci Dee?" tanya Dee dengan wajah sendunya kepada Bram.


Bram menatap Dee tajam. Tidak ada alasan pasti yang dapat dia lakukan. Dia melakukan semua ini karena cintanya kepada Naina. Sahabat dari ponakannya sendiri.


"Jawab pertanyaan istriku!"


"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaannya!" balas Bram kepada Ibra.


"Bram," panggil Wijaya mengeluarkan suaranya yang dari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan anak dan adiknya.

__ADS_1


Bram menoleh kepada Wijaya. "Bisa tinggalkan aku berdua dengan Bram?" ucap Wijaya meminta waktu berdua dengan adiknya.


"Pa," ucap Ibra hendak protes kepada Wijaya.


"Papa mohon. Tinggalkan Papa berdua dengan Om mu!" ucap Wijaya tegas.


Mendengar keseriusan Wijaya, Agam meminta anggota Polisi yang lain meninggalkan mereka berdua. Diikuti oleh Ibra, Dee, Kevin, Alan dan Naina yang terus di pegang oleh anak buah Ibra.


"Kenapa melakukan semua ini, Bram?" tanya Wijaya setelah mereka semua meninggalkan dia dan Bram berdua.


Bram hanya menggeleng menjawab pertanyaan Wijaya. "Bram adikku tidak seperti ini. Bram adikku tidak akan mungkin menghancurkan kebahagiaan keponakannya sendiri. Bram adikku tidak akan mungkin melukai keluarganya sendiri," ucap Wijaya sendu kepada Bram.


"Aku hanya membahagiakan wanita yang aku cintai, Kak," jawab Bram.


"Ini bukan cinta, Bram. Kau hanya dikuasi nafsumu dengan Naina. Kau tahu, bukan, wanita yang kau cintai itu sahabat Ponakan mu sendiri. Bahkan umur kalian terpaut sepuluh tahun, Bram," ucap Wijaya mencoba memberi pengertian kepada Bram.


"Cinta tidak memandang umur, Kak."


"Bram, kau bahkan tahu kalau wanita yang kau cintai itu mencintai ponakan mu sendiri. Dia hanya memanfaatkan mu untuk obsesinya kepada Ibra."


" Aku tahu, maka dari itu aku melakukan semua ini."


"Mungkin dengan melakukan ini semua Naina bisa memberikan hatinya padaku. Aku hanya mengusahakan kebahagiaan untuk orang yang aku cintai, Kak."


"Tapi tidak harus seperti ini, Bram. Kau tahu, karena perbuatan kalian banyak hati yang kecewa, banyak air mata yang keluar sia-sia. Banyak hati yang berkorban, Bram."


Bram hanya diam tidak berniat membalas perkataan Ibra. Dia sadar bahwa dia salah, bahkan setelah ini dia akan diturunkan dari jabatannya di Kepolisian, atau bahkan mungkin akan di penjara.


"Aku tidak bisa menolong apapun jika Ibra mengambil keputusan nanti untukmu."


"Aku tidak mengharapkan bantuan, Kakak. Aku siap dengan resikonya," ucap Bram mantap.


Wijaya menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan adiknya ini. Apakah ini cinta atau hanya nafsu saja? ini benar-benar gila menurutnya.


Setelah dirasa cukup berbicara dengan Bram, Wijaya menyuruh mereka semua kembali masuk untuk bergabung.


"Aku menerima semua hukumanku!" ucap Bram tegas setelah mereka semua masuk. Dia tahu sudah tidak mungkin lagi baginya untuk mengelak. Semua bukti sudah ada di depan mata.


Naina langsung menatap dalam mata Bram yang berada cukup jauh darinya. Bram membalas tatapan Naina dengan sendu. Dalam hatinya berharap bahwa dia bisa memiliki hati Naina, tidak hanya tubuhnya. Pengorbanannya sungguh besar untuk wanita itu. Sedangkan Naina yang melihat tatapan Bram hanya diam. Ada rasa menyesal di hati Naina telah melibatkan banyak orang. Dan kini pria yang dia manfaatkan dengan berani menerima semua resikonya.

__ADS_1


Ibra, Kevin, Agam dan Alan yang mendengar perkataan Bram hanya tersenyum remeh. Mengapa tidak dari tadi pria ini mengakui kejahatannya. Sedangkan Wijaya hanya diam. Mungkin hukuman memang yang terbaik untuk adiknya.


Dee melepaskan tangannya dari gandengan Ibra. Dia berjalan mendekati Naina. Mereka semua melihat pergerakkan Dee.


"Nai," panggil Dee lembut kepada Naina.


Naina membalas tatapan Dee.


"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Dee lirih kepada Naina.


"Karena aku mencintai suamimu," jawab Naina.


Bram memejamkan mata mendengar jawaban Naina. Tangannya terkepal kuat menahan sesaknya. Sedangkan Wijaya hanya memandang iba kepada adiknya itu.


"Dia adalah pria yang sudah beristri, Nai. Bahkan dia sudah memiliki seorang anak. Kau layak mendapat yang lebih baik darinya," ucap Dee.


"Jika aku bisa mengatur cinta, maka aku akan memilih orang yang lebih segalanya dari Ibra. Tapi hatiku memilihnya."


"Bukan hatimu yang memilihnya, tapi obsesi mu menguasai hatimu, Naina."


Naina menunduk mendengar jawaban Dee menyembunyikan air matanya. Semua yang ada di sana menjadi pendengar setia pembicaraan Dee dan Naina.


Naina memegang lembut kedua bahu Naina dan membawa wanita itu ke pelukannya. "Terimakasih," ucap Dee. Air mata Naina jatuh seketika mendengar ucapan terimakasih Dee. Dee tahu, Naina membutuhkan keluarganya saat ini.


"Terimakasih, walau bagaimanapun kau pernah merawat anakku dan menemani suamiku saat aku berada disini. Aku sudah memaafkan mu. Jika kamu hanya melukai ku, mungkin aku bisa meminta Mas Ibra untuk membebaskan mu. Tapi kau juga memberi luka yang sangat pedih kepada anakku. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab atas luka anakku." ucap Dee mengusap lembut punggung Naina.


Naina hanya mengangguk dalam tangisnya. Wanita yang memeluknya ini benar-benar berhati malaikat. Dee melepaskan pelukannya dan memandang lembut wajah Naina.


"Aku minta maaf atas luka yang diberikan suamiku," ucap Dee memandang luka di tubuh Naina.


"Sayang," panggil Ibra hendak protes kepada Dee. Tapi di tahan oleh Wijaya.


Naina hanya mengangguk. Kata-kata hilang begitu saja dari bibirnya. Semua yang ada di sana ikut baru melihat bagaimana Dee dengan besar hati memberikan semangat kepada Naina.


......................


Saling memaafkan itu sangat indah teman-teman. Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. Jika kita membalasnya, lantas apa bedanya kita dengan orang jahat itu. Tapi setiap kejahatan harus menerima pertanggungjawabannya. Itulah yang diberikan Dee kepada Naina. Benar-benar terharu.


Terimakasih buat kalian yang selalu setia. Jangan lupa kasih Like dan komentarnya yaaa 🌹🌹🙏

__ADS_1


__ADS_2