Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 109


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah selesai pengumuman juara, penyerahan hadiah dan acara salam-salaman, Al langsung turun dari panggung dan berlari ke arah Anton.


"Pak, kita langsung ke hotel, ya," ucap Al mendongak memohon kepada Pak Anton.


"Tapi kenapa buru-buru, Nak?" tanya Pak Anton heran.


"Al mohon Pak, kita langsung ke hotel dan pulang ke Padang sekarang, ya?" ucap Al memohon.


"Baiklah, ayo kita pergi," ucap Pak Anton. Setelah itu Anton memanggil pendamping mereka dan berlalu pergi meninggalkan tempat lomba. Al meminta lewat pintu samping karena di pintu masuk depan ada Kevin, Agam dan Alan.


Ibra yang tidak melihat Al di tengah banyaknya peserta karena saat ini peserta berhamburan untuk saling bersalaman. Ibra bertanya-tanya kepada semua orang, tapi tidak ada satupun yang melihat Al. Setelah itu Ibra pergi ke tempat dimana Kevin, Agam dan Alan berada.


"Vin, Al udah keluar belum?" tanya Ibra.


"Al ada di sa-, loh Al sama gurunya kemana?" ucap Kevin menunjuk tempat duduk Al dan Pak Anton.


"Al nggak ada. Kalian bertiga berdiri disini ngapain aja sih? Al keluar aja nggak tahu," ucap Ibra kesal.


"Gam, peserta lomba nginap di hotel mana?" lanjut Ibra bertanya pada Agam.


"Nggak tahu, Ib. Gue cuman keamanan doang," jawab Agam.


Setelah itu Ibra berlari ke belakang panggung untuk menemui beberapa panitia yang masih ada di sana. Diikuti oleh Kevin, Alan dan Agam yang ikut berlari. Tiga orang pria gagah ber jas dan seorang lelaki tampan mengenakan seragam Polisi yang tengah berlarian itu tanpa memikirkan tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sana.


"Permisi, Pak. Saya mau tanya, peserta lomba nginap di hotel mana?" tanya Ibra kepada salah satu Bapak yang menjadi panitia lombanya.


"Maaf, atas keperluan apa Bapak bertanya mengenai peserta?" ucap Bapak tersebut tanpa menjawab pertanyaan Ibra.


"Pak, cepat kasih tahu saya, Pak. Ini mengenai hidup dan mati saya," ucap Ibra.


"Tapi itu adalah privasi untuk melindungi setiap peserta kami, Pak," jawab Bapak tersebut.


"Pak, saya yang bertanggung jawab nanti. Semuanya pasti akan aman. Cepat katakan di hotel mana peserta menginap, Pak?" ucap Agam ikut bersuara.


Melihat Agam yang menggunakan seragam Polisi, dan yang dia ketahui Agam juga salah satu pihak yang bertanggung jawab mengenai keamanan, Bapak tersebut akhirnya memberitahu Ibra.


"Semua peserta yang mengikuti lomba nginap di Hebi's Hotel, Pak," ucap Bapak tersebut.


"Sial! Harusnya gue tahu ini lebih awal," ucap Ibra. Tanpa ucapan terimakasih, Ibra berlari keluar ruangan. Begitu juga dengan Kevin dan Alan.


"Pak terimakasih," ucap Agam mewakili mereka semua. Setelah itu dia ikut menyusul sahabat-sahabatnya itu.


Lima belas menit kemudian, mobil Ibra sampai di lobi hotelnya. Ibra langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam yang berdiri di pintu masuk. Semua karyawan yang melihat pemilik hotel itu datang mengangguk hormat.


"Kamar atas nama Albarra dimana?" tanya Ibra tanpa basa-basi.


Dengan sedikit ketakutan, resepsionis tersebut mencarinya.


"Maaf, Pak. Atas nama Albarra dan Anton yang merupakan peserta lomba sudah keluar setengah jam yang lalu," jawab Resepsionis dengan sedikit gemetar.


"KENAPA DIBIARIAN PERGI?" teriak Ibra memukul meja resepsionis tersebut. Resepsionis tersebut terlonjak kaget. Badannya gemetaran melihat pemilik Hotel itu mengamuk di sana.


"AAKH SIAL!" umpat Ibra berteriak.

__ADS_1


"Ib Lo tenang dulu," ucap Alan menenangkan Ibra.


"Al udah pergi dan Lo masih suruh gue buat tenang?" ucap Ibra dengan sedikit membentak Kevin.


"Untuk sekarang pakai otak Lo, bodoh. Jangan pakai emosi," sentak Kevin kepada Ibra.


"Ib, Al adalah salah satu peserta yang mewakili Kota Padang. Berarti sekarang Al sudah pergi ke bandara untuk langsung pulang ke Padang, Ib," ucap Agam.


"Padang?" tanya Ibra memastikan.


Agam mengangguk yakin menjawab pertanyaan Ibra.


Sebesar itu niat kamu untuk pergi, Sayang. Kamu benar-benar tahu dimana tempat yang tak mungkin aku ketahui. Batin Ibra sendu.


"Vin, pesan tiket ke Padang sekarang, Vin," ucap Ibra kepada Kevin.


"Gue ikut," ucap Agam.


"Nggak, Lo semua disini, biar sekarang gue yang berjuang. Vin, gue titip perusahaan. Kalau gue butuh bantuan, gue pasti bakal hubungi Lo pada," ucap Ibra.


"Lo yakin mau pergi sendiri, Ib?" tanya Kevin.


"Sangat yakin, Vin," ucap Ibra.


"Kalau gitu Lo hati-hati, Ib. Apapun yang terjadi di sana nanti, jangan pernah patah semangat. Ingat dulu bagaimana perjuangan Al dan Dee. Saatnya Lo obati luka mereka," ucap Alan memberi semangat.


Ibra mengangguk pasti. "Thanks, Lan," ucap Ibra.


"Kalau gitu gue pulang sebentar. Lo pesan tiket sekarang juga, Vin. Gue pergi dulu," ucap Ibra


Mereka semua mengangguk. Ibra berlari meninggalkan mereka semua dan segera memasuki mobil yang sudah ada di lobi.


.....


Kini mobil Ibra sudah sampai di depan rumahnya. Ibra turun dari mobil dan berjalan cepat memasuki rumah.


"Pa! Ma!" ucap Ibra berteriak memanggil Wijaya dan Reina.


Reina dan Wijaya yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh begitu mendengar suara Ibra.


"Kami disini, Ibra," ucap Wijaya.


Ibra berjalan mendekati Wijaya dan Reina. Saat sampai di depan orang tuanya, Ibra bersimpuh didepan kursi roda Reina. Ibra memeluk erat pinggang Reina. Reina dan Wijaya yang melihat Al tidak seperti biasanya mengernyit heran.


"Kamu kenapa, Ibra?" tanya Reina lembut mengusap rambut Ibra.


"Hiks," tangis Ibra pecah di atas paha Reina. Kesal, sesak, sakit yang sejak tadi dia tahan tumpah di depan Reina.


"Ibra, kamu kenapa?" ucap Reina sekali lagi.


"Al Ma. Al membenci Ibra, hiks," ucap Ibra dengan suara gemetarnya.


"Kamu jangan bercanda Ibra," kali ini Wijaya yang menanggapi.


"Ibra nggak becanda, Pa. Ibra bertemu Al dan mendengar semua rasa kecewanya kepada Ibra," ucap Ibra kepada Wijaya.

__ADS_1


"Coba cerita sama kami, Nak. Apa yang terjadi," ucap Reina lembut.


Ibra mengangkat kepalanya. Dia menceritakan semua yang terjadi hati ini tanpa ada yang terlewat. Mulai dari Al yang mengikuti lomba, Al menang lomba, dan juga bagaimana Al menyampaikan rasa kecewanya kepada Ibra.


"Pergilah, Nak. Mama selalu mendoakan kamu agar bertemu Dee dan Al. Cepat bawa cucu Mama kembali," ucap Reina Yanga sudah mendirikan air mata setelah Ibra menceritakan semuanya. Dan juga niat Ibra untuk menyusul Al ke Padang.


"Papa doakan yang terbaik buat kamu, Ibra. Tolong bawa Dee dan cucu Papa kesini," ucap Wijaya dengan mata memerahnya.


Ibra mengangguk pasti. "Ibra akan berangkat hari ini, Pa. Kevin sudah memesan tiket," ucap Ibra.


"Kalau begitu bersiaplah, Nak," ucap Reina.


"Iya, Ma. Ibra ke kamar dulu," ucap Ibra.


Wijaya dan Reina mengangguk mengiyakan perkataan Ibra.


"Semoga semuanya segera membaik, Pa. Mama rindu cucu dan menantu Mama," ucap Reina menatap sendu punggung Ibra yang sudah menghilang dari balik tangga.


"Amin, Ma," jawab Wijaya memeluk Reina dari samping.


.....


Sedangkan di dalam Pesawat, Al memandangi awan yang kini menjadi objek penglihatannya. Tadi setelah sampai di hotel, Al langsung meminta kepada Pak Anton untuk segera kembali ke Padang. Dengan sedikit perdebatan, akhirnya Pak Anton setuju dan meminta bantuan pendamping mereka untuk mengurus segalanya.


Al langsung meminta pulang karena takut akan bertemu Ibra lagi. Dia yakin Ibra pasti akan mencarinya ke hotel tempat menginap. Dia tidak sanggup lagi melihat Abinya yang menatapnya dengan pandangan Iba dan memohon. Hatinya sakit melukai Ibra dengan kata-katanya, tapi Al ingin Abinya mengetahui apa isi hatinya.


"Pak Kepala Sekolah," panggil Al kepada Anton.


Anton menengok ke arah Al. "Iya, Al," ucap Pak Anton.


"Apa Al salah berbicara kasar seperti tadi?" tanya Al kepada Pak Anton.


"Bapak hanya ingin bilang satu hal Al. Jangan sampai ada dendam di hatimu, Nak," ucap Pan Anton. Tanpa banyak bertanya kepada Al, dia sudah mengerti keadaannya.


Al mengangguk, dendam itu adalah salah satu hal yang di benci Allah. Dia tidak akan menyimpan dendam, dia hanya sedang kecewa.


"Bapak seorang Ayah, kan?" tanya Al.


Pak Anton mengangguk.


"Apa yang akan Bapak lakukan jika anak Bapak merasakan kecewa terhadap Bapak?" tanya Al.


"Bapak akan berjuang memperbaiki semuanya, Al," jawab Pak Anton.


"Apa semua Ayah akan melakukan itu, Pak?" tanya Al lagi.


Pak Anton bungkam. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana.


"Tidak perlu di jawab, Pak," ucap Al. Setelah itu dia kembali menoleh ke jendela menikmati gumpalan awan yang kini memenuhi pandangannya.


Di hati Al ada harapan untuk Abi berjuang. Ucap Al memandang jauh ke depan.


......................


Maaf aku lama ya teman-teman. I LOVE YOU

__ADS_1


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2