Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 140


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Kini di depan gundukan tanah itu, mereka semua sedang memanjatkan doa untuk seseorang yang sudah beristirahat untuk selamanya. Isak tangis memenuhi suasana pemakaman.


Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu pelayat meninggalkan makam. Wijaya, Adam dan Agam sudah kembali lebih dulu untuk mengurus yang lainnya. Sedangkan Raina tidak ikut kepemakaman. Ibra berjongkok di depan makam tersebut. Air matanya mengalir di balik kaca mata hitam yang dia gunakan. Al yang ikut berjongkok di sebelah Abinya tak hentinya menangis. Sedangkan seorang gadis kecil yang ada di pangkuan Ibra terus terisak memanggil-manggil seseorang yang ada didalam sana agar kembali hidup untuknya.


Tangan mungil Al terulur untuk mengusap Nisan yang masih sangat jelas tertera nama di sana.


Abudallah Rozak


Nama yang sedari tadi tak lepas dari pandangan Al. "Pak, terimakasih atas pengorbanannya. Terimakasih telah memberikan kehidupan yang baru untuk dunia Al, Pak. Al akan selalu mengingat nasehat Bapak untuk menjadi anak yang baik untuk Umi dan Abi. Jadi Abang yang baik untuk Zahra dan Kina," ucap Al dengan suara bergetar.


"Abah," ucap Sofia lirih yang duduk di kursi roda. Kevin yang berdiri memegangi kursi roda Sofia mengusap lembut bahu istrinya. Memberikan ketenangan untuk wanita tersebut.


"Sekarang Abang udah tenang di sana. Abah udah sama Allah sekarang. Abah jangan bosan-bosan buat liat Sofia sama Zahra dari atas sana, ya. Doa kami akan selalu untuk Abah," ucap Sofia dengan suara bergetar.


Saya akan menjaga Sofia dan Zahra dengan setulus hati saya, Bah. Doa terbaik saya selalu untuk Abah. Batin Kevin memandangi nisan tersebut.


"Sayang, Abang udah tenang di sana. Tugas Abah di dunia udah selesai. Kita ikhlasin dan kirim doa buat Abah, ya," ucap Kevin menenangkan Sofia.


Sofia hanya mengangguk lemah. Kondisi yang belum betul-berul pulih mengharuskan dia memakai kursi roda untuk sementara. Sedangkan Kevin sudah pulih dari cederanya. Hanya saja tangan sebelah kirinya harus di perban untuk menutupi luka akibat kecelakaan tersebut.


"Abi," panggil Zahra dalam tangisnya.


"Iya, Nak," ucap Ibra.


"Kakek Rozak pelgi jauh sekalang, Ala belajal ngajinya sama siapa lagi, Abi?" ucap Zahra sesegukan.


Al mendekat kepada Zahra. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Zahra yang tertutup hijab.


"Zahra bisa ngaji sama Abang dan Kina. Sekarang Abang yang akan ajari Zahra ngaji. Nanti kita belajar bareng sama Umi juga," bujuk Al lembut.


"Tapi nanti Ala halus ke Tulki, Abang," ucap Zahra sendu.


"Zahra, ada Bunda sama Ayah yang ajarin Zahra. Sekarang jangan sedih lagi, ya. Ikhlasin Kakek. Zahra nggak mau Kakek nangis kan?" ucap Kevin.


Sontak Zahra menggeleng cepat.


"Makanya Zahra harus ikhlas dan selalu doain Kakek," ucap Kevin.


Zahra mengangguk. Setelah itu dia kembali menatap nisan Kiyai Rozak. "Kakek, Ala akan ikhlas. Ala akan punya hati sabar seperti Umi, jadi anak yang dewasa seperti Abang dan jadi kakak yang baik buat Adek. Kakek jangan lupa bilang sama Allah, ya, kalau Kakek punya tiga cucu yang Sholeh dan Sholeha disini," ucap Zahra.

__ADS_1


Mereka semua yang mendengar itu tersenyum.


Ya Allah, terimakasih telah memberikan Zahra kepadaku. Semoga nanti dia mempunyai hati besar seperti Uminya, bukan keegoisan seperti aku, Ya Allah. Batin Sofia memandang Zahra.


"Ya sudah, sekarang kita balik, ya," ajak Kevin.


"Lo duluan aja, Vin. Gue nanti nyusul," ucap Ibra.


"Ara ikut Ayah atau Abi?" tanya Kevin pada Zahra.


"Ala mau ikut Ayah. Ala mau ketemu Adek," ucap Zahra.


Kevin mengangguk dan mengambil Zahra dari pangkuan Ibra. "Zahra nya disini aja, Mas," ucap Sofia menepuk pelan pahanya.


Kevin mengangguk. Zahra duduk dipangkuan Sofia dan Kevin mendorong kursi rodanya.


"Al ikut Uncle atau Abi?" tanya Kevin.


"Abi aja, Uncle," jawab Al.


"Yasudah, Ib, gue duluan," ucap Kevin pamit.


Ibra hanya mengangguk. Setelah itu Kevin mulai mendorong kursi roda Sofia dan berlaku dari makam Kiyai Rozak.


"Pak, terimakasih banyak telah memberikan kehidupan untuk istri saya. Terimakasih, Pak," ucap Ibra lirih. Sedangkan Al hanya memperhatikan Abinya.


Tangan mungil Al terulur mengusap air mata yang mengalir dibalik kaca mata hitam Ibra. Ibra membuka kaca matanya dan tersenyum kepada Al. "Abi, Bapak Rozak tetap ada bersama kita, dari atas sana pasti dia mendengar tangis kita untuknya. Bapak Rozak sudah bersama Allah dan Nabi-Nya, Abi," ucap Al.


Ibra mengangguk dan memeluk Al dengan erat.


Bapak, sampaikan rasa terimakasih Al sama Allah karena telah mengembalikan Umi. Sampaikan maaf Al pada Allah karena telah jadi anak nakal, Pak. Dan sampaikan juga rindu Al kepada Nabi kita, Pak. Pinta Nabi datang dalam mimpi Al, ya, Pak. Batin Al memandangi nisan Kiyai Rozak.


Sungguh, hati Al semakin damai setelah Al mengikhlaskan semua yang terjadi. Lanjut Al dalam hati.


"Kita pulang, Boy," ajak Ibra.


"Iya, Abi," jawab Al.


Setelah itu mereka berdiri dan berjalan meninggalkan makam Kiyai Rozak.


.....

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, Ibra dan Al sampai di rumah sakit. Abi dan Anak itu berjalan menuju ruangan tempat wanita yang sama-sama mereka cintai di rawat.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka. Ruangan sangat ramai karena mereka semua sedang berkumpul di sana.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibra dan Al.


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua yang ada di sana. Termasuk seorang wanita cantik yang sedang duduk di atas kasur bersama Kina dan Zahra.


"Mas," panggil wanita itu dengan suara bergetar.


Ibra segera berjalan ke arah ranjang dan memeluk tubuh yang siap bergetar karena menangis.


"Hei, kenapa, Sayang?" tanya Ibra lembut. Tangan Ibra terulur mengusap kepala Dee yang tertutup jilbab instannya.


Sedangkan yang lainnya kini menatap Dee yang menangis dipelukan Ibra. Kina dan Zahra yang ikut duduk di atas ranjang Dee hanya memandang dengan tatapan polos mereka.


"Mas, maafin Adek udah buat repot semuanya, ya," ucap Dee dalam tangisnya.


"Nggak ada yang repot, Sayang," jawab Ibra lembut.


"Tapi Bapak Rozak, Mas," ucap Dee tertahan karena tangisnya.


"Sayang dengerin aku, ya. Kiyai Rozak pergi memang sudah takdir Allah. Semua ini memang keinginannya dia untuk memberikan penglihatannya sama kamu, Sayang," ucap Ibra.


"Dee, kamu nggak ngerepotin kita. Semua ini sudah kehendak Allah. Abah memberikan penglihatannya sama kamu sebagai permintaan terakhirnya. Jaga penglihatan itu, Dee. Agar aku bisa selalu merasakan kehadiran Abah saat memandang mata kamu," ucap Sofia sendu. Mereka semua yang ada di sana mengangguk membenarkan perkataan Sofia.


"Terimakasih, Mbak. Dan maaf," ucap Dee menunduk.


"Hei, sayang, angkat kepalanya. Lihat aku," perintah Ibra.


Dee menurut dan mengangkat kepalanya. "Allah yang punya skenarionya, Sayang. Kita hanya bisa menerima, ini semua yang terbaik. Kita hanya perlu ikhlas menerima semuanya," ucap Ibra.


Dee mengangguk dan memeluk Ibra erat. Ibra membalas pelukan Dee dengan erat. Hampir saja dia kehilangan wanita yang sangat di cintainya itu. Dia berjanji, hidup dan matinya hanya di berikan untuk istri dan anak-anaknya. Bayang-banyang Dee kehilangan detak jantungnya dalam waktu satu menit memberikan pukulan yang sangat keras untuk Ibra.


*Flashback On*


......................


Kelanjutannya nanti malam ya teman-teman 🤭😍🌹

__ADS_1


Author sayang kalian. Jangan lupa like, komen dan vote nya.


Setelah kisah Al dan Ibra selesai, kita akan lihat kisah Al ya, jadi jangan bosan-bosan guys 😍🤭🌹


__ADS_2