Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 141


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


*Flashback On*


ASTAGFIRULLAHALAZIIM, NYONYA!" pekik Bi Nini melihat Dee yang kejang-kejang.


Ibra, Al dan Kina yang mendengar pekikan Bi Nini menoleh. Dengan cepat Ibra menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.


"Ya Allah, Sayang. Bertahan Sayang," ucap Ibra dengan suara bergetar nya.


Sedangkan Dee berlari ke sisi lain tempat tidur Dee untuk melihat keadaan Uminya dengan tangis yang tak kunjung berhenti. Sedangkan Kina kini sudah menangis di gendongan Bi Nini.


Tidak berapa lama, Tim Dokter datang untuk memeriksa Dee.


"Dokter, selamatkan istri saya," ucap Ibra kepada Dokter.


Dokter hanya mengangguk dan segera memeriksa Dee.


"Pasang oksigen, pasien kesulitan bernafas," ucap Dokter.


"Detak jantung pasien melemah, Dokter," ucap salah satu suster.


Ibra menggeleng kuat mendengar perkataan suster tersebut. "Dokter, tolong lakukan apapun untuk istriku!" teriak Ibra.


"Hiks, Umi," tangis Al dan Kina pecah melihat bagaimana kondisi Umi mereka.


Mereka semua yang ada di ruang rawat sebelah segara keruang rawat Dee begitu mendengar keributan. Adam, Wijaya dan Agam terkejut melihat Dokter dan beberapa pasien yang sudah ramai di ruangan Dee. Tanpa perlu dijelaskan, mereka tahu apa yang terjadi, semua mata memanas melihat apa yang terjadi.


"Siapkan defibrilator," ucap Dokter.


Suster dengan sigap memasang segala macam kabel di tubuh Dee. Terdengar suara detak jantung Dee yang mulai melemah dari monitor pendeteksi.


Dengan peluh bercucuran Dokter menekan dada Dee dengan alah tersebut. Beberapa kali percobaan hingga terdengar bunyi nyaring yang membuat dunia Ibra runtuh dalam sekejap.


Tiiiiiiiiittttttt ............


"Enggak, enggak, ini nggak mungkin," Ibra berjalan cepat dan memeluk erat tubuh Dee yang sudah pucat dan dingin.

__ADS_1


"HIKS, UMI!" pekik Al melihat Uminya yang sudah tidak berdaya.


"HIKS, Umi Ina, Bi," ucap Kina menangis menunjuk-nunjuk Dee.


Bi Nini hanya bisa menangis memeluk erat tubuh Kina yang sudah.


"Ayang, Ayang bangun Yang. Ini Adam, Yang. Bangun, Yang. AYANG BANGUN!" teriak Adam mengguncang tubuh Dee. Tangis sudah tak bisa dia tahan melihat tubuh Kakak yang sangat dia sayangi sudah tidak berdaya.


Sedangkan Agam berjalan dengan air mata yang sudah mengalir mendekati Al.


"Al, tenang Al," ucap Agam memeluk tubuh Al.


"Hiks, Umi Al, Uncle. Umi nggak boleh pergi, Uncle, nanti Al sama siapa. Hiks, Umi bangun Umi. Umi bangun untuk Al dan Adek, Umi, hiks," ucap Al dalam tangisnya.


"Hiks, Sayang jangan seperti ini, bangun Sayang," ucap Ibra menepuk-nepuk pipi Dee.


"Pak, Dengan berat hati kami mengatakan bahwa Ibu Dee sudah berpulang ke tempat yang sesungguhnya, Pak," ucap Dokter.


"TIDAK, ISTRIKU TIDAK AKAN PERGI SEBELUM IZIN DARIKU. DIA MASIH HIDUP, DAN JANGAN ADA YANG BERANI MELEPAS ALAT-ALAT INI DARI TUBUHNYA!" bentak Ibra kepada Dokter.


Dokter tersebut hanya diam dan memberi kode kepada para timnya untuk tidak melepaskan alat di tubuh Dee.


Al yang melihat Kiyai Rozak menangis di kursi rodanya langsung menghampiri. Al bersimpuh di hadapan kursi roda Kiyai Rozak. "Pak, Bapak udah maafin Al, kan. Bapak iklhas memaafkan Al kan, Pak. Tapi kenapa Umi harus seperti ini, Pak? Apa permintaan Al waktu itu sangat menyakiti Bapak? Al mohon maafkan Al dan jangan hukum Umi, hiks," ucap Al menangkup kedua tangannya di dada.


Kiyai Rozak yang melihat itu tidak sanggup menahan tangisnya. "Nak, ini semua kehendak Allah. Bukan kepada saya kamu memohon seperti ini, Nak. Memohon kepada Allah," ucap Kiyai Rozak.


"Kenapa Allah jahat dan ambil Umi Al, Pak?," ucap Al menangis.


Kiyai Rozak diam. Dia tidak tahu harus bagaimana memberikan penjelasan kepada Al. Saat ini mereka semua sedang terpukul.


Al beralih kepada Kevin. "Uncle, hiks, ayo penuhi janji Uncle untuk memberi Al kebahagiaan, Uncle. Umi adalah kebahagiaan Al, hiks. Ayo beri sekarang Uncle, hiks," ucap Al memohon kepada Kevin.


"Boy," ucap Kevin serak. Tenggorokannya terasa tercekat dan sakit melihat Al seperti ini.


Sedangkan Zahra sudah menangis sesegukan memangil-manggil Dee, begitu juga dengan Sofia. Wijaya mencoba menenangkan Zahra yang sudah terbatuk-batuk dalam tangisnya. Sedangkan Raina sudah sesegukan dengan kedua tangannya yang saling menggenggam.


Merasa tidak mendapat jawaban, Al kembali berdiri dan mendekati ranjang Umi nya.

__ADS_1


"Abi," ucap Al memanggil Ibra dengan suara bergetar.


Ibra langsung memeluk erat tubuh anaknya yang kini sangat rapuh.


"Abi, ayo kita susul Umi, Abi, hiks," ucap Al menangis dipelukan Ibra. Semua yang ada di sana terkejut mendengar penuturan Al.


Ibra menggeleng mendengar perkataan Al. "Jangan bicara seperti itu, Nak," ucap Ibra lirih.


Kina yang melihat Abang dan Abinya seperti itu meronta turun dari gendongan Bi Nini. Bukannya berjalan mendekati Ibra dan Al, Kina berjalan mendekati ranjang Uminya.


Kina tampak sangat tegar. Tangis anak itu sudah berkurang tapi sesegukan nya terdengar begitu pilu.


"Ina mau naik kasul Umi," ucap Kina kepada Adam yang ada di dekat ranjang Dee.


Adam menurut. Mengangkat Kina dan mendudukkan anak itu di sebelah Dee. Anak itu merebahkan tubuhnya di atas sang Umi dengan posisi menelungkup. Menenggelamkan kepalanya di dada Dee. Mereka semua yang melihat itu seakan tersayat dan hati mereka begitu sakit.


Tangis kina kembali pecah saat memeluk badan Uminya. Dengan air mata yang mengalir, Kina mengangkat kepalanya dan mendekatkan mulutnya ke telinga Dee.


"Bangun, Umi. Adet tatut," ucap Kina berbisik dengan tangisnya. Air mata anak itu keluar membasahi pipi Dee yang bersentuhan dengan pipinya.


BIP ... BIP ... BIP


AJAIB! Keajaiban itu ada. Monitor kembali berbunyi menandakan detak jantung Dee telah kembali. Semua orang yang ada di sana tercengang dan mengucap syukur.


"Kuasa Allah memang tidak bisa diragukan," ucap Dokter.


"Kami akan memeriksa Ibu Dee, Pak," ucap Dokter kepada Ibra.


Ibra mengangguk dan segera menggendong Kina yang masih berada di atas badan Dee.


"Ini benar-benar keajaiban, Pak. Ikatan yang sangat kental antara Ibu dan anak. Bahkan sekarang kondisi Ibu Dee sudah lebih Daik dari sebelumnya," ucap Dokter setelah selesai memeriksa keadaan Dee.


ALHAMDULILLAAH. Satu kata yang keluar dari mulut mereka yang ada di sana.


Senyum terbit dari mulut semuanya.


Ibra menggendong kedua buah hatinya dan mencium seluruh wajah mereka secara bergantian. Anak dan Abi itu saling berpelukan erat. Berbagi rasa syukur dan kebahagiaan mereka.

__ADS_1


......................


Kelanjutannya masih bagian Flashback ya, tapi tunggu esok hari, ya. Author sayang kalian, jangan marahin Author, ya 🌹🌹😍😘


__ADS_2