Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 134


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Gue mau Lo ke Turki, Vin," ucap Ibra yang mampu membuat semua mata memandangnya.


Dengan mantap Kevin mengangguk. "Ini udah gue pikirin dari semalam, Ib. Gue akan ke Turki bersama Sofia dan Zahra," ucap Kevin mantap.


"Kevin, Saya titip anak dan cucu saya, Nak," ucap Kiyai Rozak memandangi Kevin.


"Iya, Abah. Abah bisa mengunjungi kami jika Abah rindu Zahra dan Sofia," ucap Kevin.


Kiyai Rozak mengangguk dan tersenyum. Dia beruntung memiliki Kevin sebagai seorang menantu. Allah masih begitu baik padanya setelah apa yang telah dia lakukan.


"Gue kehilangan sahabat lagi?" ucap Agam dengan sendu.


Ibra dan Kevin menatap Agam. "Ck, duit Lo banyak buat nyusul gue ke sana, Gam," ucap Kevin.


"Lo masih punya gue disini. Kita cuma beda negara aja, bukan beda dunia, Gam," ucap Ibra.


Agam hanya menghela nafas pelan. Sungguh banyak pengorbanan atas segala kesalahan ini. Lagi-lagi perpisahan harus menjadi akhirnya.


"Vin, makasih udah jaga Zahra, Vin," ucap Ibra.


Kevin menggeleng. "Zahra anak gue, Ib. Sampai kapanpun gue bakal jaga Zahra," ucap Kevin.


"Untuk kesekian kalinya, gue titip Zahra, Vin," ucap Ibra sendu. Dia juga sangat menyayangi Zahra, tapi dia harus melakukan ini demi kebaikan semuanya.


"Gue akan berikan yang terbaik untuk Zahra, Ib," ucap Kevin.


"Bang Kevin bisa tinggal di rumah ku untuk sementara, Bang," ucap Adam.


Kevin mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih adik kecil, tapi rumahku sudah ada di sana," ucap Kevin.


"Ck, aku bukan adik kecil lagi, Bang," ucap Adam Kesal.


Mereka semua tertawa melihat wajah kesal Adam. Ibra menepuk pelan bahu Adam. "Kamu memang adik kecil kami, Gala," ucap Ibra.


Adam hanya memasang wajah kesalnya melihat semua orang di sana menertawainya.


Disela pembicaraan mereka, Dee datang dengan nampan yang cukup besar ditangannya. Setelah itu dia ikut duduk di sebelah Ibra.

__ADS_1


Setelah berbicara banyak, mereka semua pamit untuk kembali ke hotel.


Kini Ibra dan Dee sudah ada di kamar mereka. Dee duduk dengan bersandar di kepala ranjang menunggu Ibra yang masih di kamar mandi. Sepuluh menit, Ibra keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana boxer nya.


Ibra berjalan ke ranjang dan ikut duduk bersama Dee. Ibra mengangkat Dee dan mendudukkan tubuh mungil itu di pangkuannya. Tangannya melingkar indah di perut Dee.


"Sayang," ucap Ibra lembut.


"Iya, Mas," jawab Dee.


"Terimakasih."


Dahi Dee berkerut, "terimakasih untuk apa, Mas?" tanya Dee bingung.


"Terimakasih karena sudah ingin kembali, Sayang," ucap Ibra dengan suara seraknya.


"Mas, Allah yang mentakdirkan untuk kembali bersama. Demi anak-anak kita, Mas," ucap Dee lembut.


Ibra hanya mengangguk. Dee dapat merasakan bahunya basah. "Mas, kamu menangis?" tanya Dee menoleh melihat wajah Ibra yang bersandar di bahunya.


Ibra malah semakin mengeratkan pelukannya di perut Dee. "Aku selalu cengeng kalau mengingat segala kesalahanku, Sayang. Aku selalu cengeng melihat bagaimana dewasanya sikap anak-anakku. Terimakasih telah mendidik dan menjaga mereka, Sayang," ucap Ibra tulus menatap mata Dee.


Ibra tersenyum senang. Dengan perlahan Ibra mendekatkan wajahnya dan wajah Dee, hingga kedua benda kenyal nan pink itu bertemu. Mereka saling melahap menyalurkan cinta yang ada di hati mereka.


Dee teringat sesuatu di sela kegiatan mereka. Dee melepaskan pautan bibir mereka. "Kenapa Sayang?" tanya Ibra.


"Mas, apa tidak keterlaluan jika Kak Kevin harus ke Turki bersama Sofia dan Zahra?" tanya Dee.


"Sudah saatnya kami yang berkorban, Sayang," jawab Ibra.


"Tapi bagaimana dengan Zahra, Mas? Dia harus jauh dari Abinya," ucap Dee tidak tega melihat anak malang itu.


"Sayang, Zahra itu sama dengan Al. Dia anak yang mengerti, Sayang. Kevin mendidik Zahra dengan baik. Sejak dia lahir, kami sudah mengenalkan kamu dan Al kepada Zahra. Aku yakin, Kevin bisa memberikan kasih sayang yang sangat besar kepada Zahra, Sayang," ucap Ibra.


Dee dengan hanya mendengar setiap perkataan Ibra dengan baik.


"Kamu tahu Sayang, Zahra dan aku memang mempunyai ikatan darah, tapi Zahra dan Kevin mempunyai ikatan hati yang sangat kuat, Sayang. Cinta dan kasih sayang Kevin kepada Zahra sangat besar, Sayang. Apa kamu ingin tahu sesuatu?" ucap Ibra bertanya kepada Dee.


Dengan antusias Dee mengangguk.

__ADS_1


Ibra tersenyum melihat wajah Dee yang nampak sangat menggemaskan. "Saat Zahra pertama kali lahir ke dunia, Kevin lah orang pertama yang menggendongnya selain Dokter, Sayang. Aku juga tidak menyangka bahwa Kevin begitu menyayangi Zahra. Tapi aku bersyukur untuk itu. Zahra berada di tangan yang tepat. Jika dia bersamaku, aku tidak tahu apakah aku bisa membagi kasih sayang dengan baik. Jadi aku mohon, semua ini kami lakukan demi kebaikan kita," ucap Ibra.


Dee mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Ibra yang melihat itu langsung memeluk erat Dee. "Jangan keluarkan air mata lagi, Sayang. Aku mohon," ucap Ibra.


Dee hanya mengangguk dalam pelukan Ibra. Ibra mengusap lembut punggung Ibra untuk memberi ketenangan kepada Dee.


"Sayang, buat adik untuk Kina dan Al, yuk," ucap Ibra.


Dengan malu-malu Dee mengangguk. Ibra melepaskan pelukannya dan memulai kegiatan suami istri yang mampu melunturkan dosa-dosa mereka. Entah siapa yang memulai, tubuh mereka berdua sudah tidak terlapisi apapun. Jerit tertahan Dee langsung di bungkam oleh Ibra dengan mulutnya secara lembut.


Suara decitan ranjang dan racauan indah itu memenuhi kamar tersebut. Hingga mereka mereguk kenikmatan yang tiada Tara. Seakan tidak ada bosannya, Ibra dan Dee melakukannya hingga pukul tiga pagi.


.....


Sedangkan di kamar Hotel, Kevin memandangi wajah Zahra yang tidur dengan pulas.


"Tidak tidur, Mas?" tanya Sofia yang baru keluar dari kamar mandi.


Kevin menggeleng. "Sini, Sayang," ucap Kevin menepuk kasur bagian sebelahnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Sofia.


"Sayang, Minggu depan kita berangkat ke Turki, ya," ucap Kevin lembut sambil mengusap rambut Sofia yang terurai indah.


Sofia menatap Zahra sebentar, setelah itu dia kembali menatap Kevin. "Mas, apa ini yang terbaik untuk semuanya?" tanya Sofia dengan mata yang berkaca-kaca.


Kevin mengangguk dan membawa Sofia ke pelukannya.


"Ini semua terbaik untuk kita, Sayang. Dan untuk Abah, Abah bisa mengunjungi kita kapan pun dia mau,". ucap Kevin.


Sofia mengangguk dalam pelukan Kevin. Setelah itu dia melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata Kevin. "Mas, terimakasih telah menerima aku dan Zahra. Terimakasih, Mas," ucap Sofia tulus.


"Sayang, Zahra anakku dan kamu istriku, sudah harusnya aku memberikan apapun untuk kalian," ucap Kevin mengusap kedua pipi Sofia.


......................


Waaah, tidak terasa novel ini sudah 132 BAB, terimakasih untuk kesetiaan kalian mengikuti novel ini. Jangan bosan dan selalu ikuti cerita keluarga kecil Ibra ya teman-teman.


Jangan lupa follow Instagram author @yus_kiz

__ADS_1


Jangan lupa ikuti kisah novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2