
🌹HAPPY READING🌹
"Hiks, hiks, hiks, Aban Ndak oleh pelgi, hiks, hiks," tangis Kina pecah saat mengantar Al ke Bandara.
"Cup, cup, Sayang, Abang hanya pergi tiga hari, setelah itu Abang pasti pulang lagi. Kina jangan sedih, ya. Nanti Abang nggak tenang lombanya, Nak," ucap Dee menenangkan Kina yang memeluk erat tubuh Al.
"Hiks, hiks, Aban ndak oleh pelgi, Umi. Aban cini aja, ya, hiks, hiks," tangis Kina dengan mempererat pelukannya di badan Al.
Ini adalah pertama kalinya bagi Kina untuk berpisah dengan Al. Walaupun hanya tiga hari, tapi itu sangat lama bagi anak itu. Ditambah lagi Abang kesayangannya itu akan pergi dengan Pesawat. Setahunya, Pesawat itu untuk pergi jauh. Dan itu artinya Abang kesayangannya akan pergi jauh.
"Umi," rengek Al kepada Dee yang tidak tega melihat Adiknya sudah menangis sesegukan.
Pak Anton yang melihat kedekatan Abang dan Adik ini hanya bisa melihat tanpa menghentikan mereka.
Suara panggilan untuk keberangkatan Al sudah berbunyi. Tapi Kina terus saja memeluk erat Abangnya tanpa mau terlepas.
"Adek, udah ya, Nak. Abang pergi cuma sebentar. Nanti Abang pulang lagi kok," ucap Dee membujuk Kina.
"Hiks, hiks, talau Aban hiks pelgi, Ina ndak ada temenna di lumah, Umi, hiks," ucap Kina sesegukan dalam tangisnya.
"Kan ada Umi. Kina nggak mau kalau main sama Umi?" ucap Dee memasang wajah sedihnya.
Kina lantas menggeleng. Dia mulai melepaskan pelukannya pada Al. "Aban dicana hiks bait-bait, ya. Halus bawa piala buat Ina, hiks," ucap Kina sesegukan.
Al tersenyum senang. Tangannya terulur membenarkan jilbab di kepala mungil Kina yang sudah berantakan. "Abang akan bawa piala pulang untuk Adek dan Umi. Adik manis Abang jangan nangis lagi, ya. Jagain Umi untuk Abang. Nanti kalau Uda Joni gangguin Adek, lapor sama Umi biar dimarahi, ya," ucap Al.
Kina mengangguk. "Ina tayang Aban," ucap Kina.
"Abang juga sayang Adek," ucap Al memeluk adiknya. Setelah itu dia mencium kening dan kedua pipi gembul Kina secara bergantian.
"Umi, Al berangkat, ya. Restui Al, Umi" ucap Al kepada Dee.
"Iya, Nak. Restu Umi selalu bersama Al," jawab Dee. Al mencium wajah Uminya. Setelah itu menyalami Dee untuk berpamitan.
"Pak, saya titip Al, ya. Kalau dia nakal cubit saja," ucap Dee kepada Pak Anton.
Pak Anton tergelak kecil. "Iya. Saya akan menjaga Al," jawab Pak Anton.
"Ayo, Al. Kita sudah dipanggil lagi," ucap Pak Anton mengajak Al.
__ADS_1
Al mengangguk. "Abang pergi, Umi," ucapnya pada Dee. "Adek, Abang pergi, ya," ucap Al beralih kepada Kina.
Dee dan Kina mengangguk mengiyakan.
"Assalamu'alaikum," ucap Al dan Pak Anton bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Dee.
"Alaikumcalam," jawab Kina.
Setelah punggung Al dan Pak Anton sudah tak terlihat, Dee mengangkat tubuh Kina ke gendongannya dan menenangkan anaknya yang masih sesegukan itu. "Kina harus doain Abang biar menang," ucap Dee.
"Iya, Umi. Ina atan doain Aban," jawabnya semangat dengan senyum manis anak itu.
"Anak Umi emang pintar," ucap Dee mencolek hidung mungil anaknya. Setelah itu Dee dan Kina berjalan keluar dari Bandara dan menuju parkiran mobil Dee.
.....
Lebih kurang dua jam Al dan Pak Anton menempuh perjalanan menuju Jakarta. Kini mereka sudah melangkahkan kaki keluar dari Bandara Soekarno-Hatta dan akan segera menuju hotel ditemani oleh salah satu perwakilan dari Galeri Nasional Indonesia yang ditugaskan sebagai pendamping mereka. Karena dalam kegiatan lomba ini, masing-masing perwakilan daerah akan mendapatkan satu pendampingnya.
Kini mereka sudah sampai di hotel tempat menginap. Al turun dari mobil dan memandang bangunan di depannya dengan sorot mata penuh kerinduan. Buru-buru dia mengambil masker dari dalam tas kecilnya untuk menutupi wajahnya.
"Debu," jawab Al singkat. Pak Anton yang sudah biasa dengan sikap muridnya yang satu ini hanya bisa sabar dan pasrah.
"Mari, Pak. Saya antar ke dalam," ucap Pendamping kepada Pak Anton.
Pak Anton mengangguk dan menggandeng tangan Al memasuki hotel.
Dulu, ulang tahun Al dirayain disini. Dari sini juga semua kesakitan Al dan Umi dimulai. Umi, Al ingin pulang. Batin Al menjerit ketika kakinya mulai melangkah masuk hotel. Setitik air mata jatuh dari sudut mata anak itu. Dengan cepat Al segera menghapusnya karena takut Pak Anton akan melihatnya.
Ya, hotel yang disediakan oleh pihak yang mengadakan lomba adalah hotel milik Ibra. Hotel dimana dulu semua kesakitan dan perjuangan hidup Al dan Dee di mulai.
"Wah, hotelnya bagus ya, Al," ucap Pak Anton sedikit berbisik kepada Al. Karena jika ketahuan oleh pendamping mereka, bisa malu.
"Bapak tidak pernah ke hotel seperti ini?" tanya Al.
Pak Anton lantas menggeleng cepat.
"Hidup Bapak kurang menyenangkan," jawab Al.
__ADS_1
Pak Anton hanya bisa melongo mendengar jawaban siswanya yang satu ini.
Kalau bukan karena lomba, udah aku kembalikan ke Mak nya. Ucap Pak Anton dalam hati sambil mengusap dadanya, sabar.
.....
Sedangkan di tempat lomba, Agam sedang berdiri mengawasi tempat yang akan dijadikan pusat kegiatan. Walaupun lomba akan diadakan besok, tapi Agam hanya ingin memastikan tidak ada pihak lain yang melakukan sabotase terhadap kegiatan ini. Agar keamanan bisa terjamin selama perlombaan berlangsung.
"sepertinya Aman, Gam," ucap salah satu teman Polisi Agam yang bertugas bersamanya saat ini.
"Iya, sepertinya begitu. Oiya, pengikut lomba ini perwakilan dari seluruh Indonesia kan?" tanya Agam.
"Iya. Setau gue, setiap Provinsi di wakili oleh empat orang. Tapi ada juga yang hanya satu orang," jawab teman Polisi Agam.
Agam hanya mengangguk mendengar jawaban temannya tersebut. Dalam hatinya penuh harap, bahwa seseorang yang sangat ingin ia temui bisa ia temui di kegiatan perlombaan ini.
.....
Malam sudah menjelang. Al berdiri di jendela kamarnya memandangi Ibu Kota yang terlihat ramai dan penuh cahaya lampu. Dia berusaha tenang untuk perlombaan besok. Entah mengapa jantung Al berdegup kencang. Dia pernah mengikuti lomba sebelumnya, tapi dia tidak pernah se cemas ini.
Al menghirup udara banyak-banyak dan membuangnya secara perlahan. "Tenang Al, Jakarta luas. Ingat Umi dan Kina. Bukan yang lain!" tegas Al pada dirinya sendiri.
"Sudah siap untuk besok, Al?" tanya Pak Anton yang baru keluar dari kamar mandi. Al dan Pak Anton memang satu kamar. Karena panitia lomba hanya menanggung satu kamar untuk satu peserta dan guru pendampingnya.
Al menoleh ke samping melihat Pak Anton yang sudah berdiri di sebelahnya. "Al sangat siap, Pak," jawab Al.
"Tapi Bapak perhatikan dari saat sampai di hotel, kamu lebih banyak diam dan melamun, Nak. Apa ada yang menggangu pikiranmu?" tanya Pak Anton.
"Pak, bolehkah Al bertanya?" ucap Al serius menatap Pak Anton.
"Silahkan, Nak. Guru adalah tempat mu untuk bertanya," jawab Pak Anton.
"Bagaimana pendapat Bapak jika seorang anak membenci Ayahnya?"
......................
Hai teman-teman, jangan lupa lihat video kenangan Abi Ibra sama Umi Dee dan Al ya di Instagram aku @yus_kiz. Video ini merupakan gambaran untuk BAB saat Ibra dan Dee berpisah. Jangan lupa nonton ya 👌😘
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
__ADS_1
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹