
🌹HAPPY READING🌹
Kini Dee sedang duduk di kasurnya menunggu Ibra yang sedang melaksanakan ritualnya di kamar mandi sebelum tidur.
Dee memegang dadanya yang terasa bergetar. "Duh, kok aku gugup gini sih. Ini bukan yang pertama kenapa harus takut. Lagi pula Mas Ibra sudah menjadi suami aku lagi. Huft, tenang Dee," gumam Dee pada dirinya sendiri.
Lima belas menit kemudian, Ibra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dia gunakan untuk me lap wajahnya. Ibra berjalan mendekati Dee yang sedang duduk di kasur sambil memainkan ponselnya.
"Sayang," panggil Ibra lembut.
"Hem," jawab Dee tanpa mengalihkan pandanganya dari ponsel. Percayalah, saat ini Dee sedang menyembunyikan rasa gugupnya dengan bermain ponsel.
"Ck, Sayang," panggil Ibra lagi.
"Hem," jawab Dee tanpa melihat Ibra.
Ibra kesal. Dia mengambil ponsel yang ada ditangan Dee dan meletakkannya di atas meja sebelah ranjang.
"Mas, ponselnya," ucap Dee kepada Ibra.
Ibra menggeleng. "Sekarang waktu kamu cuma buat aku," jawab Ibra memandang lekat wajah Dee.
Dee menunduk, dia malu dan gugup.
Tangan Ibra bergerak mengangkat wajah Dee. "Jangan menunduk, Sayang. Nanti mahkota kamu jatuh," ucap Ibra lembut menatap Dee.
Dee tersenyum lembut menatap Ibra. "Aku percaya, rajaku tidak akan membiarkan mahkota ratunya jatuh," ucap Dee.
Kini giliran Ibra yang tersipu. Sungguh, beribu kupu-kupu dan bunga mengelilingi mereka sekarang.
"Sayang, buka jilbabnya, ya," ucap Ibra.
Dee mengangguk. Dengan perlahan tangan Ibra terulur membuka jilbab Dee.
Ibra melongo. Lidahnya tercekat melihat rambut Dee yang tergerai indah sebatas pinggang. Ikatan rambut Dee terlepas bersama jilbab Dee yang terbuka.
"Mas, aku jelek, ya," ucap Dee menunduk. Dia tidak berani menunjukkan wajahnya kepada Ibra.
Ibra menangkup kedua pipi Dee dengan tangannya. "Sangat cantik," ucap Ibra tersenyum.
Telinga Dee memerah hingga lehernya ketika mendengar perkataan Ibra. Senyum mengembang di bibir mungil pink nya.
"Sayang, boleh aku buka puasa?" tanya Ibra.
__ADS_1
Dengan perlahan Dee mengangguk. Dengan perlahan, Ibra mendekatkan wajahnya ke wajah Dee.
Dua benda kenyal itu bersentuhan dengan sangat lembut. Air mata Dee jatuh ketika bibir Ibra menyentuh bibirnya. Ibra menghentikan aksinya ketika merasakan pipi Dee yang basah karena air mata.
"Kenapa menangis, Sayang?" ucap Ibra lembut dengan suara seraknya.
"Hiks, hiks," bukannya diam, tangis Dee semakin pecah. Ibra membawa tubuh Dee yang bergetar kedalam pelukannya.
"Kenapa Sayang?" tanya Ibra lembut. Tangannya mengusap punggung Dee.
"Adek rindu, hiks," jawab Dee dalam tangisnya.
Ibra memejamkan mata mendengar perkataan Dee. Ini adalah tamparan baginya, tapi ada kehangatan dalam hatinya mendengar Dee menyebut dirinya 'Adek'. Panggilan yang Ibra rindukan.
"Sekarang kita udah sama-sama lagi, Sayang. Kapanpun kita bisa melepas rindu," ucap Ibra menghapus air mata Dee.
Dee hanya mengangguk. Tangannya semakin erat melilit di badan Ibra.
"Sayang, kita buka puasa sekarang, yuk," bujuk Ibra.
Dengan malu-malu Dee mengangguk. Perlahan pelukan mereka terlepas. Ibra mendekatkan wajahnya kepada Dee dan kembali meraup bibir yang sangat lama dia rindukan. Mereka saling melepaskan rindu yang sudah sangat lama terpendam.
Suara-suara merdu itu memenuhi kamar Dee. Entah siapa yang memulai, kini mereka berdua sudah tidak dilapisi apapun. Ibra takjub dengan tubuh istrinya yang sangat terawat. "Kamu menjaganya dengan sangat baik, Sayang," ucap Ibra dengan suara seraknya.
Rambut lelaki itu sudah acak-acakan karena kegiatan mereka. Bibirnya yang sedikit bengkak dan memerah karena pertemuan dua benda kenyal itu. Begitu juga dengan Dee. Rambut panjangnya tampak berantakan, badannya penuh dengan tanda cinta dari Ibra, bibir mungil yang pink itu tampak semakin seksi karena perbuatan Ibra.
Dee mengangguk pasrah, badannya lemas karena perlakuan Ibra yang sangat lembut dan manis.
Dengan sekali hentakan, akhirnya mereka menyatu dengan kenikmatan yang sangat menyenangkan. "Jangan teriak, Sayang," ucap Ibra langsung meraup bibir mungil Dee agar tidak berteriak karena ulahnya. karena kalau Dee berteriak, seisi rumah bisa terbangun.
Ini memang tidak yang pertama kalinya. Tapi karena telah lama tidak melakukannya, ini terasa sakit bagi Dee.
Dee pasrah, badannya tak berdaya untuk menolak. Tubuh mereka menari indah di atas kasur yang menjadi saksi persatuan cinta mereka. Kamar Dee dipenuhi oleh suara indah yang tertahan.
Dosa-dosa seakan luntur dari tubuh mereka karena melakukan kegiatan yang memberikan pahala sangat besar bagi keduanya. Ada beban yang terlepas dari benak mereka setelah meraup kenikmatan yang tiada Tara ini.
"I love you, Sayang," ucap Ibra ambruk di atas tubuh Dee.
Dee tersenyum dan mengangguk. "I love you to," ucap Dee dengan berbisik sensual di telinga Ibra.
"Jangan di lepas, biar seperti ini, Mas," ucap Dee kepada Ibra yang hendak bangkit dari tubuhnya.
Ibra tersenyum senang dan mengangguk. Mereka beristirahat dengan saling berpelukan satu sama lain tanpa melepas penyatuan mereka.
__ADS_1
Ibra benar-benar mengeluarkan tenaganya malam ini. Hingga pukul empat pagi, mereka baru tidur karena Dee yang sudah merasakan mual.
.....
"Dor, dor, dor,"
Terdengar suara pintu yang di gedor dengan sangat kencang. Ibra terbangun dari tidurnya karena mendengar suara gaduh dari pintunya.
Dia melihat jam yang ada di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. "Astagfirullah, gue ketiduran," gumam Ibra dengan suara seraknya.
Ibra melihat kesamping. Istri cantiknya masih tidur dengan tubuh yang terbalut selimut. Setelah bekerja keras tadi malam, Ibra dan Dee ketiduran sampai mereka tidak mendengar suara adzan subuh. Ck, sungguh tidak baik untuk di tiru.
"Dor, dor, dor."
Suara gedoran pintu kembali terdengar. Dengan perlahan Ibra bangkit dari tidurnya. Memungut pakaian yang berceceran di lantai dan memasangnya kembali.
Ceklek
Pintu terbuka. Pemandangan pertama yang Ibra lihat adalah gadis kecilnya yang berdiri dengan wajah yang cemberut. Sakina berdiri di depan pintu kamar Ibra dengan piyama tidur dan boneka Doraemon di pelukannya.
Ibra bersimpuh dan mensejajarkan tinggi badannya dengan Kina. "Anak Abi kenapa?" tanya Ibra lembut.
"Abi dahat, Ina di tinal cendili di tamal. Ina mau cama Abi. Aban udah pelgi cetolah," ucap Kina cemberut.
Ibra tersenyum melihat wajah cemberut Kina. Sangat menggemaskan. Ada rasa bersalah dalam hati Ibra karena sudah bangun terlambat dan tidak bisa mengantar Al ke sekolah.
"Ina mau macuk, Abi," ucap Kina.
"Eeits jangan Sayang. Kina mandi dulu sama Abi baru boleh masuk," ucap Ibra cepat langsung mengangkat tubuh Kina kegendongannya.
"Mandi cama Abi?" ucap Kina dengan mata berbinar.
Ibra mengangguk pasti.
"Yeay, mandi cama Abi, mandi cama Abi," ucap Kina girang dalam gendongan Ibra.
Untung mudah di bujuk, kalau enggak bisa berabe. Batin Ibra membayangkan Kina masuk kamarnya dan melihat Dee yang tidur dalam keadaan yang sangat kelelahan.
......................
Maafin aku yang kurang berpengalaman teman-teman
Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote dari kalian ya.
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz
Terimakasih