
🌹HAPPY READING🌹
Setelah memilih semuanya, Al menyusul Kina yang masih sibuk memilih Al-Qur'an lengkap dengan radionya.
"Udah dapat yang dicari, Dek?" tanya Al pada Kina.
Kina menoleh kepada Al. "Cudah, Aban," ucap Kina menunjukkan Al-Qur'an ditangannya.
"Tapi Mutena na belum" lanjut Kina.
Al mengangguk. "Ayok ikut Abang. Di sana mukena nya bagus-bagus," ucap Al.
Kina mengangguk dan mengikuti langkah Al. Sampainya di tempat Mukena tadi, Kina segera menentukan pilihannya. Mata anak itu nampak berbinar melihat banyaknya pilihan warna yang disuguhkan.
Setelah menentukan pilihannya, Al pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya bersama Kina.
"Aunty, total semuanya berapa?" tanya Al pada kasir.
Kedua anak itu nampak menengadah melihat kasirnya. Karena meja kasir yang cukup tinggi.
"Totalnya satu juta lima ratus dua puluh ribu, Dek," ucap Kasir tersebut.
Al mengangguk dan merogoh saku baju nya. "Bayar pakai ini bisa nggak Aunty?" ucap Al memberikan kartu miliknya yang kemarin diberikan Ibra.
Kasir tersebut tercengang melihat Al memberikan sebuah kartu kredit yang berwarna gold tersebut. Bagaimana bisa anak sekecil Al dan Kina sudah belanja menggunakan kartu tersebut? Pikir kasir.
"Aunty, kenapa bengong?" ucap Al.
"Eh, iya, Dek," jawab kasir itu linglung.
"Ck, bisa atau tidak bayar pakai ini Aunty?" tanya Al kesal karena kasir itu tak kunjung menjawab.
"Bisa, Dek," ucap kasir dan mengambil kartu tersebut dari Al.
Al dan Kina menunggu beberapa saat. Setelah itu kasir mengembalikan kartunya. "Ini, Dek," ucap kasir tersebut.
"Terimakasih, Aunty," ucap Al.
"Telimakaci, Aunty," ucap Kina dengan senyum mengembangnya.
Melihat Al dan Kina yang sudah pergi, kasir tersebut geleng-geleng kepala. "Gaji seumur hidupku saja mungkin belum cukup untuk buat kartu itu," ucap kasir tersebut memandangi punggung Al dan Kina yang sudah menjauh.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Dee dan Ibra masih asik dengan tidur mereka setelah puas menyalurkan kenikmatan masing-masing.
Dengan perlahan, kelopak mata Ibra mulai terbuka. Penampakan pertama yang dia lihat adalah istrinya yang tidur dengan memeluknya erat.
__ADS_1
"Aaahhss," desah Ibra merasakan miliknya masih tertanam di milik Dee.
Dengan perlahan Ibra mulai melepaskannya. Ibra memandangi wajah cantik Dee yang tertidur dengan sangat damai. Tidak ada tanda-tanda wanita itu akan bangun.
Senyum terbit di wajah Ibra membayangkan kegiatan panas yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. "Kamu memang yang terbaik dalam semua hal, Sayang. Nggak ada wanita yang lebih tepat dari kamu untuk aku," gumam Ibra mengusap lembut pipi Dee.
Ibra menghujani wajah Dee dengan ciumannya. Terakhir Ibra kembali mengecup bibir yang sedikit bengkak itu. Dee yang merasa terganggu dalam tidurnya pun mulai membuka mata. Senyum terbit di wajah cantiknya ketika pandangannya bertemu dengan Ibra.
"Sayang aku udah bangun?" tanya Ibra.
Dengan pelan Dee mengangguk. "Jam berapa, Mas?" tanya Dee dengan suara seraknya.
"Udah jam lima sore, Sayang," jawab Ibra setelah melihat jam ditangannya.
"Masih ngantuk," ucap Dee manja dan kembali membenarkan kepalanya dalam pelukan Ibra.
Ibra terkekeh. Istri manjanya telah kembali, dan Ibra sangat menyukai itu.
"Mau tidur lagi atau bangun? Katanya mau nyusul Al sama Kina, Sayang," ucap Ibra lembut mengusap punggung polos Dee.
Dee kembali membuka matanya dan menatap Ibra. "Adek masih ngantuk banget, capek juga," ucap Dee manja.
Ibra mengangguk dan tersenyum "Yasudah tidur lagi," ucap Ibra. Dengan segera Dee kembali tidur dalam pelukan Ibra.
Oh shit. Umpat Ibra dalam hati merasakan nafsunya yang kembali naik ketika merasakan miliknya sedikit bergesekan dengan milik Dee.
Ibra hanya bisa memejamkan mata menahan keinginannya. Mengingat Dee yang masih kelelahan karena ulahnya tadi.
.....
"Bi, anak-anak udah pulang, Bi?" tanya Dee pada Bi Nini.
Dengan ragu Bi Nini menggeleng.
"Jam segini anak-anak belum pulang, Bi?" tanya Dee memastikan.
"Iya, Nyonya. Tuan muda dan Nona belum pulang," jawab Bi Nini.
Dee menghembuskan nafas pelan mendengar perkataan Bi Nini. "Yasudah, Bibi istirahat aja lagi, Bi. Nanti kalau anak-anak mau makan biar Dee yang panaskan makannya," ucap Dee lembut.
"Baik, Nyonya," ucap Bi Nini mengangguk. Setelah itu Bi Nini pergi meninggalkan Dee.
Setelah kepergian Bi Nini, Dee segera berjalan menuju kamarnya untuk menemui Ibra yang sudah lebih dulu pergi ke kamar.
"Mas," panggil Dee saat memasuki kamar.
"Iya, Sayang," jawab Ibra lembut.
__ADS_1
"Kita susul anak-anak, yuk. Mereka belum pulang juga, Mas. Ini udah malam banget," ucap Dee cemas.
"Ini masih jam tujuh, Sayang," jawab Ibra.
"Nggak mau tahu pokoknya susul anak-anak!" ucap Dee tegas. Dia takut anak-anaknya akan kenapa-napa.
"Aku telepon bodyguard dulu, ya," ucap Ibra.
Ibra mengambil ponselnya dan menelepon salah satu bodyguard yang tadi menemani anak-anaknya.
"Halo, dimana?" ucap Ibra langsung saat telepon sudah tersambung.
"Kami dalam perjalanan pulang, Tuan," jawab bodyguard dari seberang sana.
Tanpa menjawab, Ibra langsung mematikan sambungan teleponnya. "Anak-anak udah dalam perjalan pulang, Sayang. Kita tunggu di rumah aja, ya. Bentar lagi pasti mereka sampai," ucap Ibra.
.....
Kini Al dan Kina sedang berdiri menunduk di depan Dee dan Ibra. Tadi kedua anak itu sampai di rumah dan mereka langsung membersihkan diri atas perintah Dee. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian menjadi pakaian tidur, saatnya Al dan Kina disidang oleh Dee. Bayangkan saja, mereka baru sampai di rumah pukul sembilan malam.
"Sekarang jawab pertanyaan Umi, kenapa sampai lupa waktu seperti itu?" tanya Dee tegas pada anak-anaknya.
Al dan Kina hanya menunduk. Tangan kedua anak itu saling berpegangan. Mereka tahu bahwa mereka salah karena pulang sudah sangat malam.
"Maaf, Umi," ucap Al dan Kina menunduk.
Ibra sebenarnya tidak tega melihat anak-anaknya, tapi kali ini mereka memang salah, dan Ibra percaya istrinya pasti bisa mengatasi.
"Beri umi alasan kenapa kalian pulang selarut ini?" tanya Dee lagi.
Al dan Kina hanya diam menunduk. Melihat anak-anaknya yang hanya diam, sebenarnya Dee tidak tega, tapi mereka harus dinasehati agar tidak lupa waktu seperti ini.
"Umi nggak marah Abang sama Adek jalan-jalan, tapi kalian harus ingat waktu. Lihat, kalian pulang jam sembilan malam, apa yang sudah kalian korbankan karena jalan-jalan?"
Dengan segenap keberaniannya Al mengangkat kepala menatap Dee dan Ibra. "Maaf, Umi. Al sama Adek salah karena udah korbankan waktu mengaji," jawab Al.
Tidak ingin Abangnya dimarahi sendiri, akhirnya Kina ikut mengangkat kepalanya. "Umi, Ina dan Aban calah, minta maaf, Umi," ucap Kina meminta maaf pada Dee.
Dee menghela nafas pelan melihat wajah bersalah anak-anaknya. "Umi nggak larang Abang sama Adek buat jalan-jalan, tapi kalian harus ingat waktu, Nak. Abi sama Umi juga cemas, karena takut kalian akan kenapa-napa. Maafin Umi udah tegas tadi, ya," ucap Dee berubah lembut.
Al dan Kina langsung memeluk tubuh Dee. "Al janji nggak bakal nakal lagi," ucap Al pada Dee.
"Ina dandi duga ndak atan natal lagi," ucap Kina mengikuti perkataan Al.
Ibra dan Dee tersenyum melihat kedua anak mereka yang nampak sangat patuh dan bisa dinasehati.
"Yasudah, sekarang istirahat, ya. Pasti Abang sama Adek capek seharian jalan-jalan," ucap Dee.
__ADS_1
Al dan Kina mengangguk. Mereka mencium pipi Dee dan Ibra secara bergantian, setelah itu mereka pamit kembali ke kamar masing-masing.
......................