Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 55


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Ibra dan Naina sampai di tempat yang sudah menjadi tujuan Ibra. Dari luar tempat ini seperti rumah besar yang sudah lama tidak di tempati. Naina bergidik ngeri melihat rumah tersebut.


"Ib, kenapa kita kesini?" tanya Naina setelah mereka turun dari mobil.


"Melakukan pembalasan terhadap orang yang menyebabkan semua masalah ini terjadi, Nai," jawab Ibra santai. Sangat mudah baginya membawa Naina ke dalam jebakannya.


"Kenapa harus disini? bukankah Dee masih di rumah?" tanya Naina heran dengan terus mengikuti langkah Ibra memasuki rumah tersebut.


"Pelakunya sudah disini, Nai," ucap Ibra memandang lekat wajah Naina.


Naina merinding melihat pandangan Ibra. Aura kemarahan sangat terlihat pada dirinya meskipun Ibra sudah mencoba untuk tenang.


"Wah, ternyata rumah ini sangat mewah, Ib," ucap Naina takjub kepada Ibra setelah melihat setiap sudut keadaan yang ada di rumah tersebut.


Rumah ini merupakan tempat rahasia Ibra untuk melakukan pembalasan kepada rekan bisnis yang dengan berani mengkhianatinya. Rumah ini sangat jarang iya kunjungi setelah menikah dengan Dee. Tapi sekarang dia harus menginjakkan kaki kembali untuk istrinya.


Tidak ada yang tahu tentang rumah ini kecuali Kevin dan Agam. Rumah ini sudah mereka gunakan untuk tempat persembunyian sejak masa SMA.


"Ya, ini adalah surga untukku dan neraka bagi orang yang berani mengusikku," jawab Ibra santai.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Naina.


"Yang harusnya sejak dulu kita lakukan," jawab Ibra singkat namun tajam.


Ibra terus melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. Di ujung tangga ada beberapa anak buah Ibra yang membungkukkan badan melihat kedatangan bos mereka. Ibra hanya diam dan tetap berjalan menuju sebuah ruangan yang ada di ujung lantai dua sebelah kanan. Di sepanjang lorong banyak anak buah Ibra dengan pakaian serba hitam membungkuk hormat kepadanya. Naina yang sejak tadi mengikuti Ibra bergidik ngeri. Dia baru mengetahui sisi lain Ibra yang seperti ini. Tapi di satu sisi Naina senang. Karena menurutnya, niat jahat yang sudah dia pikirkan sejak lama terlaksanakan.


Ibra menghentikan langkahnya saat sampai di pintu paling ujung.

__ADS_1


"Kau yakin ingin melihat aku membalaskan semuanya?" tanya Ibra berbalik menghadap Naina yang berdiri di belakangnya.


Naina mengangguk pasti, "aku ingin melihat orang yang menghancurkan kebahagiaanmu tersiksa, Ib," ucap Naina tersenyum lembut kepada Ibra.


"Baiklah, jika itu pilihanmu," jawab Ibra. Tangannya membuka handle pintu dan menyuruh Naina untuk masuk terlebih dahulu. "Masuklah!" ucap Ibra.


Naina mengangguk dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.


DEG


Jantung Naina berdetak kencang melihat keberadaan Kevin dan Agam diruangan tersebut. Terdengar suara pintu terkunci, Naina membalikkan badannya dan melihat Ibra yang sudah memutar kunci dengan jari telunjuknya.


"Terkejut? Bukankah tadi aku sudah memberikan pilihanmu untuk masuk atau tidak? Dan kau sendiri yang memilih untuk masuk, Naina," ucal Ibra santai kepada Naina.


Naina berusaha tenang menghilangkan kecemasannya. "Dimana, Dee?" tanya Naina.


"Istriku?" ucap Ibra.


"Ya, karena dia yang sudah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Tante Raina," ucap Dee.


"Istriku sedang menonton sambil menemani anakku mengerjakan PR di rumah kami," jawab Ibra.


"Ibra, ada apa ini?" tanya Naina kepada Ibra.


"Apa apa? bukankah kita akan melakukan pembalasan kepada orang yang sudah menghancurkan kebahagiaan keluargaku?"


"Tapi Dee tidak disini. Pembunuh itu tidak disini Ibra," ucap Naina mencoba mempengaruhi Ibra.


"DIAM!" bentak Ibra tepat di depan wajah Naina.


Naina mematung mendengar suara menggelegar Ibra. Jantung serasa ingin keluar karena tidak sanggup menghadapi ketakutannya.


"Berani kau menyebut istriku pembunuh, jangan harap kau bisa kembali bicara. Jalang sialan," ucap Ibra dengan tegas menekankan kata terakhirnya.


"Pasti kau sudah dipengaruhi oleh dua teman ku itu, kan," ucap Naina menunjuk Kevin dan Agam. "Mereka bersekongkol dengan istrimu untuk menghancurkan mu, Ibra. Percaya padaku!" lanjut Naina meyakinkan Ibra.


Ibra tergelak mendengar ucapan Naina. "Aku tidak akan pernah percaya setiap sampah yang keluar dari mulutmu. Kau menghancurkan masa kecil anakku. Kau mencoba membunuh ibuku dan kau juga memfitnah istriku, NAINA," bentak Al mengeluarkan. segala kebenciannya.

__ADS_1


Naina berjalan mundur karena takut melihat kemarahan Al.


"Tidak ada bukti yang menunjukkan aku bersalah," ucap Naina membela diri.


"Kevin!" panggil Ibra keras terhadap Kevin. Kevin yang mengerti langsung menekan tombol yang remote yang ada di tangannya dan munculah video segala bukti kejahatan Naina di layar proyektor yang sudah disiapkan.


Naina menegang melihat video tersebut, kakinya gemetar ketakutan. Tapi sepersekian detik Naina tertawa keras. "Ya, memang aku yang melakukannya. Aku yang menjadi dalang di balik semua kehancuran rumah tanggamu. Aku yang menciptakan setiap air mata yang keluar dari mata anak dan istrimu. Aku yang membuat setiap kata sakit keluar dari mulut anak dan istri sialanmu itu," ucap Naina lantang kepada Ibra.


Tangan Ibra terkepal kuat. Wajah Kevin memerah menahan amarahnya. Agam yang akan melangkahkan kakinya untuk menghukum Naina terhenti karena perkataan Ibra. "Kenapa kau melakukannya?" ucap Ibra lirih kepada Naina.


"Karena aku mencintaimu. Karena wanita itu sudah berani merebut cinta yang lebih dulu aku miliki untukmu. Dan karena anak sialanmu itu selalu menghalangi setiap usahaku untuk merebut mu dari Umi sialannya itu!" ucap Naina tegas didepan wajah Ibra.


PLAK


PLAK


Wajah Naina berbalik ke kiri dan ke kanan karena tamparan kerasa yang diberikan oleh Ibra. Dia jatuh tersungkur karena tidak sanggup menahan tamparan Ibra. Sudut bibirnya nampak mengeluarkan darah.


"Ikat dia!" perintah Ibra. Beberapa anak buah Ibra maju dan mengikat kedua tangan Naina ke tiang besi yang ada diruangan tersebut. Naina diikat dalam posisi berdiri dengan kedua tangannya merentang lebar.


"Tidak ada kata persahabatan lagi untukmu. Aku salah karena harus bersikap baik kepadamu. Bahkan anjing saja lebih baik daripada mu, Naina!" ucap Ibra.


Plak


"AHH," jerit Naina ketika cambuk itu mengenai tubuhnya dengan sangat keras.


Plak


"Ini untuk setiap luka anakku."


Plak


"Ini untuk setiap luka istriku."


Plak


"Ini untuk setiap air mata anakku."

__ADS_1


......................


__ADS_2