Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 87


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


DEG


DEG


DEG


Jantung ketiga pria dewasa itu serasa ingin lepas dari raganya saat melihat siapa tamu yang datang. Mereka semua mematung. Habis sudah harapan Wijaya untuk menemui Kiyai Rozak. Bukannya mengunjungi, tapi malah mereka yang dikunjungi.


Ibra berusaha menetralkan kegelisahannya. Dia menoleh kepada Al yang berada di gendongan Wijaya.


"Al, pergi sekolahnya bareng Kakek, ya," ucap Ibra kepada Al yang ada di gendongan Wijaya.


"Kenapa Abi? Abi tidak ke kantol?" tanya Al heran.


"Abi ke kantor, Nak. Tapi nanti dengan Uncle Kevin," ucap Ibra.


"Iya, Abi," jawab Al tanpa banyak bicara lagi.


"Pa, tolong antar Al sekolah dulu, ya, Pa," ucap Ibra pada Papanya.


Wijaya mengangguk, dia hanya bisa menuruti perkataan anaknya untuk saat ini. "Kalau begitu Papa berangkat dulu. Assalamu'alaikum," pamit Wijaya kepada semuanya membawa Al keluar dari rumah.


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.


Setelah Wijaya dan Al pergi, tanpa diduga wanita itu mengambil tangan Al untuk menyalami dan mencium punggung tangan Ibra. Ibra yang kaget hanya menerima perlakuan tersebut tanpa menolak. Kevin dibuat melongo dengan pemandangan didepannya. Sedangkan Dee? Dia bingung, heran dan tidak mengerti dengan apa yang dilakukan wanita ini.


"Mari kita masuk dulu, Mbak," ajak Dee pada wanita tersebut. Mereka semua berjalan memasuki rumah dan duduk bersama di ruang tamu.


"Maaf, mbak ini siapa ya? Dan kenapa bisa kenal dengan suami saya?" ucap Dee menunjuk Ibra yang duduk di sebelahnya.


Wanita itu terkejut mendengar bahwa Dee adalah istri dari Ibra, tapi dia berusaha tenang dan tersenyum.


"Saya-"


"Dia saudara ku dari pesantren, Dee. Mungkin dia kesini ingin mencari ku," potong Kevin cepat sebelum wanita tersebut menyelesaikan perkataannya.


"Saudara?" beo Dee bingung. Karena setahunya Kevin tidak mempunyai saudara lain.


"Iya saudara. Dia mengajar di Pesantren, dan sekarang mau liburan disini," jawab Kevin.


Dahi Dee berkerut mendengar jawaban Kevin. "Tapi kenapa tadi Mbaknya menanyakan Mas Ibra?" tanya Dee.

__ADS_1


"Kemaren aku memberikan alamat Ibra kepadanya jika aku tidak di apartemen. Mungkin dia sudah dari apartemen ku, karena aku tidak di sana makanya dia mencari ku kesini," jawab Kevin tenang.


Ibra hanya diam menyaksikan semuanya. Dalam hal ini dia lebih memilih diam daripada salah berbicara.


Dee hanya mengangguk mempercayai perkataan s


Kevin. Dee beralih menatap wanita yang duduk di depannya. "Nama mbak siapa?" tanya Dee.


Wanita itu mengulurkan tangannya kepada Dee untuk berkenalan. "Saya Sofia Werleam," jawab wanita bernama Sofia tersebut.


"Saya Haidee, istrinya Mas Ibra. Mas Ibra ini sahabatnya Kak Kevin," jawab Dee ikut memperkenalkan dirinya dan Ibra. Setelah itu mereka melepaskan jabatan tangan mereka.


"Em, suami Mbak kemana? Maaf jika sayang lancang, tapi dari tadi saya tidak melihatnya?" tanya Dee ragu. Dia melihat perut Sofia yang menonjol dari balik gamisnya, itu menandakan wanita ini telah mempunyai suami.


Sofia beralih menatap Ibra dan Kevin bergantian, setelah itu dia menjawab pertanyaan Dee. "Suami saya sudah meninggal, Dee," ucap Sofia sendu memandangi wajah Ibra.


Ibra yang ditatap oleh Sofia mengalihkan pandangannya.


"Maaf jika pertanyaan ku membuat Mbak tidak nyaman. Saya tidak bermaksud menyinggung sama sekali," ucap Dee tak enak kepada Sofia.


"Tidak apa-apa, Dee," jawab Sofia tersenyum kepada Dee.


"Ya sudah, Dee, Ib, gue mau pulang dulu buat antar Sofia. Biar dia bisa istirahat juga," ucap Kevin segera mengakhiri pertemuan yang menegangkan ini.


Dee mengangguk. "Iya, Kak Kevin. Kasian Mbak Sofia nanti kecapean," jawab Dee.


Sofia menurut, dia mengikuti langkah Kevin yang berjalan keluar rumah. Diikuti Dee dan Ibra dari belakang.


"Kalau begitu saya permisi, Dee," pamit Sofia setelah sampai di depan rumah. Dee mengangguk dan tersenyum mengiyakan perkataan Sofia.


Sebelum masuk mobil, Sofia memandang sendu kepada Ibra sambil mengusap perutnya yang sudah menonjol. Setelah itu dia segera menaiki mobil yang sudah ada Kevin didalamnya.


"Kasihan ya, Mas. Padahal Mbak Sofia lagi hamil gitu," ucap Dee setelah mereka kembali masuk ke rumah.


Maaf, Sayang. Batin Ibra memandang lekat wajah Dee.


"Eh, Mas nggak ke kantor?" tanya Dee kepada Ibra.


"Nanti, Sayang. Aku masih mau bermanja dengan istriku," ucap Ibra memeluk Dee dari samping.


Dee hanya geleng kepala melihat suaminya. Mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Saat ini Ibra dan Dee duduk bersama dengan badan yang disandarkan di kepala ranjang. Ibra merangkul bahu istrinya dan Dee yang memeluk pinggang Ibra dan meletakkan wajahnya di dada bidang Ibra.

__ADS_1


"Sayang," panggil Ibra.


Dee mendongak melihat Ibra. "Iya, Mas," jawab Dee.


Ibra menunduk memandang lekat wajah Dee. "Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah meninggalkan pria brengsek ini. Aku tidak tahu akan jadi apa jika kamu pergi," ucap Ibra sendu.


"Mas ngomong apa sih? Adek nggak akan pergi ninggalin Mas. Adek nggak akan kemana-mana kok. Jadi jangan ngomong gitu lagi," ucap Dee mengusap lembut rahang Ibra.


"Aku hanya takut," ucap Ibra memeluk erat Dee.


"Ketakutan kamu nggak beralasan, Mas," ucap Dee lembut.


Aku sangat memiliki alasan sayang. Ucap Ibra dalam hati. Badannya benar-benar terasa panas dingin menghadapi semuanya. Baru saja dia bahagia dengan istrinya, kini dia harus melalui badai yang dia ciptakan sendiri. Karena terlalu menikmati waktunya dengan Dee, dia melupakan seseorang yang sudah dia bawa dalam kehidupannya.


Saat asik dengan kegiatannya, ponsel Ibra berdering menandakan ada sebuah pesan masuk. Ibra melepaskan pelukannya dari Dee dan mengambil ponsel dari saku celananya.


Ke apartemen gue sekarang!


Bunyi pesan yang di terima oleh Ibra. Tertulis nama Kevin yang mengirim pesan tersebut.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya. Ingat! Jangan capek dan nggak boleh keluar kamar kalau nggak ada yang penting. Kamu dan bayi kita harus sehat!" ucap Ibra setelah membaca pesan Kevin.


"Iya. Mas hati-hati, ya," ucap Dee menyalami tangan suaminya.


Ibra membalas dengan mencium pucuk kepala Dee. "Assalamu'alaikum," salam Ibra sebelum pergi.


"Waalaikumsalam," jawab Dee.


.....


"Mengapa kamu datang, Sofia?" tanya Ibra.


Kini Ibra sudah duduk bersama dengan Kevin dan Sofia di ruang tamu apartemen Kevin.


"Mengapa kamu berbohong pada ku?" tanya Sofia balik tanpa menghiraukan pertanyaan Ibra.


Ibra hanya diam. Begitu juga dengan Kevin. Kevin ingin sekali beranjak meninggalkan mereka berdua, tapi Ibra menahannya.


"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau sudah memiliki seorang istri, Ibra?"


......................


Maaf jika cerita aku tidak sesuai dengan harapan kalian. Disini aku hanya ingin memperlihatkan berbagai macam ujian yang akan timbul dalam setiap rumah tangga.

__ADS_1


Jika kalian tidak suka, aku tidak memaksa untuk tetap membaca. Tapi semoga tulisanku di BAB sebelumnya berkesan untuk kalian.


Bagi yang suka, aku ucapkan banyak terimakasih, karena selalu mengikuti alur ceritaku. Kebaikan kalian sangat berharga untukku. 🌹🌹🌹 Salam dari si penulis receh yang mengais rezeki dari kalian para pembaca, YusKiz 😘


__ADS_2