Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 159


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Seorang gadis tengah memegang dadanya yang terasa sesak meratapi setiap kesedihan yang dia alami. Ingin rasanya dia mengumpati seluruh kehidupannya, tapi itu tidak akan merubah semuanya. Tangisnya terdengar begitu pilu.


"Bunda jemput Runa. Runa udah nggak sanggup. Harapan Runa satu-satunya udah hilang, Bunda. Tolong jemput Runa pergi, Bunda, hiks," ucap Bella menangisi kemalangannya.


Runa memukul-mukul dadanya berharap sesak itu akan segera hilang.


Waktu sudah menunjukan pukul satu malam. Bella menangis dalam gelapnya kamar yang di tempati. Pikirannya terdengar sangat sakit mengingat setiap yang terjadi hari ini.


*Flashback On*


"Bagaimana menurutmu, Al?" tanya Ibra menanyakan pendapatnya mengenai perjodohan bersama Kinzi.


Al hanya diam. Sejenak Al memandang Bella yang masih menundukkan kepalanya.


"Biar kami saling mengenal dulu, Abi. Sudah cukup lama Al dan Kinzi tidak bertemu, alangkah lebih baik kami saling mengenal dulu," ucap Al. Al menjawab pertanyaan Ibra, tapi pandangannya tidak lepas dari Bella. Al tahu bahwa Bella menangis dalam diamnya.


Hati Bella sakit. Secara tidak langsung Al mengiyakan perjodohan tersebut. Tidak kuat lagi, Bella permisi untuk kembali ke kamarnya. Setelah itu Bella hanya berdiam diri di kamarnya.


*Flashback Off*


"Hiks, Bundaaa. Jemput Runa, Bunda," ucap Runa sendu.


Dee yang merasakan haus dalam tidurnya terbangun dan segera pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat akan kembali ke kamar, samar-samar Dee mendengar suara tangis dari arah kamar dekat ruang keluarga. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Dee berjalan menuju kamar tamu, asal suara tangis tersebut.


Dee mendekatkan telinganya ke pintu untuk mempertajam pendengarannya. Benar saja, tangis itu berasal dari dalam kamar tersebut.


"Apa itu Bella?" tanya Dee pada dirinya sendiri.


Dee mencoba untuk membuka pintu dengan pelan.


Berhasil, pintu tidak terkunci. Walaupun remang, Dee bisa melihat Bella yang terduduk dilantai sambil menangis.


Perlahan Dee berjalan mendekati Bella. Bella masih belum sadar dengan kehadiran Dee. Dee meletakkan gelas yang berisi air itu di atas meja. Dia ikut duduk dan memegang pundak Bella yang bergetar.


Bella mendongak merasakan sentuhan di pundaknya. "U-Umi," ucap Bella sesegukan dan dengan segera dia menghapus air matanya.


"Bella kenapa, Nak?" tanya Dee lembut.


Bella menggeleng. "Aku hanya merindukan Bunda, Umi," ucap Bella.


Dee tersenyum lembut melihat Bella. "Bella bisa menganggap Umi sebagai Bunda Bella," ucap Dee.


Bella menatap Dee dengan lekat. Dee sama seperti Bundanya dulu, lembut dan cantik. Bahkan Bundanya dulu juga berpakaian syar'i seperti Dee.


"Boleh aku peluk Umi?" ucap Bella hati-hati.


Dee tersenyum dan mengangguk. Dengan segera Bella memeluk erat tubuh Dee. Tangis Bella kembali pecah dalam dekapan Dee.


Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nak. Tangismu terdengar begitu pilu. Batin Dee tak tega mendengar tangis Bella. Apalagi ini sudah sangat malam.


Dee membiarkan Bella menangis di pelukannya. Dengan lembut Dee mengusap punggung Bella yang bergetar.


"Bella, jika ingin cerita, Umi siap menjadi pendengar yang baik untuk Bella," ucap Dee lembut.


"Hiks, Umi, apakah gadis seperti Bella tidak layak mendapatkan cinta, Umi?" ucap Bella kepada Dee.


"Semua orang berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang, Nak," jawab Dee.

__ADS_1


"Apa orang seperti Bella masih diinginkan di dunia ini, Umi?" tanya Bella lagi.


"Tidak ada manusia yang hidup sia-sia diatas dunia ini, Nak," jawab Dee.


"Tapi Bella hamba yang jahat, Umi. Bella mengkhianati Allah demi mendapat kasih sayang Papa Bella, Umi, hiks," ucap Bella mengadu kepada Dee.


"Nak, Allah selalu menerima maaf setiap hambanya yang bersungguh-sungguh," ucap Dee.


"Apa Allah masih akan menerima taubat Bella, Umi? Bella sudah sangat menghina agama-Nya, Umi," ucap Bella.


"Nak, dengarkan Umi. Allah maha pemaaf. Allah tidak mungkin melarang hambanya yang ingin bertaubat," ucap Dee memberi pengertian kepada Bella.


"Tapi Bella sudah sangat keterlaluan, Umi, hiks," ucap Bella.


Dee diam. Dia tidak tahu lagi harus berbicara bagaimana. Dia membiarkan Bella mengeluarkan segala isi hatinya.


"Umi, apa Bella tidak pantas mendapatkan cinta dari seorang pria yang Bella cintai Umi?" ucap Bella menatap Dee.


"Bella sangat pantas, Nak," ucap Dee.


Bella menatap lekat mata Dee. "Umi, izinkan Bella menjadi makmum untuk anak Umi," ucap Bella dengan tatapan yang sangat sendu.


Dee tercengang mendengar penuturan Bella. "Bella mencintai Al?" tanya Dee.


Bella mengangguk. Setelah itu dia mengambil sesuatu dari atas kasur dan memberikannya kepada Dee.


"Kalung ini ..." ucap Dee berpikir.


Bella mengangguk. "Ini adalah kalung pasangan Bella bersama Bunda, Umi. Yang satunya ada sama Al," ucap Bella lirih di ujung kalimatnya.


"Jadi, Bella gadis kecil itu?" tanya Dee.


Dengan air mata berderai Bella mengangguk. Dee langsung membawa Bella kedalam dekapannya kembali. Dia memang mengetahui mengenai ini, karena saat kecil dulu, Al menceritakan tentang Bella kepada Dee.


"Bella menyakiti Allah untuk meraih kasih sayang Papa Bella, Umi, hiks," ucap Bella.


"Bella tahu ini salah, Umi. Apa Bella tidak punya hak untuk kembali ke jalan yang benar, Umi?" tanya Bella sendu.


"Bella berhak untuk menjadi lebih baik, Nak," ucap Dee.


"Umi, bisakah Bella menjadi makmum dalam hidup Al, Umi?" tanya Bella sendu.


Dee mengangguk. "Jodoh ditangan Allah, Nak. Jika Bella yakin dan bertaubat, Allah akan memberi yang terbaik untuk Bella," ucap Dee lembut.


Bella hanya mengangguk didalam dekapan Dee.


Apa yang kamu lakukan hingga Bella sesedih ini, Al? Batin Dee bertanya-tanya.


Karena kelelahan menangis, Bella tertidur dalam pelukan Dee. Dengan sedikit usaha keras, Dee berhasil memindahkan Bella ke kasurnya. Dee memandangi wajah Bella dengan lekat.


"Kamu anak baik, Nak. Pasti ada alasan yang membuatmu seperti ini," gumam Dee mengusap lembut dahi Bella.


Dee menaikkan selimut hingga leher Bella. Setelah memastikan Bella tidur nyenyak, Dee segera keluar dari kamar Bella dan menutup pintu kamarnya.


Tidak ke kamarnya, Dee berjalan ke kamar Al. Dia tahu ini sudah malam, tapi dia percaya anaknya itu pasti belum tidur. Dan benar saja, saat Dee memasuki kamar Al, terlihat Al masih duduk di kasur dengan sebuah kalung ditangannya.


"Al," panggil Dee.


"Umi," ucap Al kaget dan segera menyembunyikan kalung tersebut.

__ADS_1


"Umi belum tidur?" lanjut Al bertanya.


"Umi mau bicara!" ucap Dee tegas.


"Ada apa, Umi?" tanya Al yang kini sudah berdiri di depan Dee.


"Apa Umi pernah mengajari anak Umi untuk menyakiti hati seorang wanita?" tanya Dee.


Al menatap Uminya. "Maksud Umi?" tanya Al bingung.


"Bella," jawab Dee.


Al mengalihkan pasangannya ke segala arah, menghindari tatapan Dee. "Al hanya berhenti berharap, Umi. Al tidak menyakitinya," ucap Al.


"Kenapa berhenti berharap, Nak?" tanya Dee berusaha lembut.


"Apa Umi tahu siapa Bella?" tanya Al.


Dee mengangguk. "Dia adalah gadis kecil yang berhasil membuat Al kecil Umi memberinya hadiah layaknya mas kawin, seperangkat alat sholat," jawab Dee pasti.


"Dia sekarang sudah berbeda, Umi," ucap Al.


"Dia punya alasan untuk setiap tindakannya, Al," ucap Dee.


"Tidak ada kebenaran untuk hamba yang mengkhianati Allah Umi," ucap Al.


"Tapi tidak ada manusia yang berhak menilai baik dan buruknya manusia lain, Al!" ucap Dee tegas.


"Al tidak bisa hidup dengan seorang yang murtad, Umi."


Plak


"Sayang!" pekik Ibra melihat Dee yang melayangkan tamparannya di pipi Al. Ibra yang terbangun karena tidak melihat keberadaan istrinya, akhirnya bangun dan mencari Dee keluar kamar. Saat melewati kamar Al, tidak sengaja Ibra mendengar suara perdebatan Dee dan Al. Alangkah terkejutnya Ibra melihat Dee yang mengangkat tangannya kepada Al.


Air mata Dee jatuh mendengar perkataan yang keluar dari mulut Al.


"Apa Umi pernah mengajarimu untuk merasa lebih baik dari orang lain, Al? Jangan mendahului Tuhan untuk menilai hambanya, Al!" ucap Dee tegas.


"Menyakiti hati seorang wanita, berarti kamu menyakiti Umi dan Adikmu. Tidak seharusnya kamu menghakiminya, Al. Sebagai lelaki yang baik, bimbing dia kejalan yang benar. Bukan bertindak seolah-olah kamu adalah orang yang memiliki ketaqwaan yang tinggi!" lanjut Dee tanpa menghiraukan Ibra sama sekali.


"Ternyata benar, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kamu yang dulu membela Umi karena perbuatan Abimu, kini juga melakukan hal yang sama kepada gadis lain. Kamu memang tidak jauh beda dengan Abimu, Al. Kalau nanti kamu menyesal, jangan salahkan siapapun jika dia sudah pergi dan mendapatkan yang lebih baik darimu," ucap Dee dan keluar meninggalkan Al dan Ibra.


"Ada apa ini, Boy? Tidak biasanya Umi marah seperti itu," ucap Ibra berusaha tenang. Meskipun dia juga kesal. Karena anaknya, kesalahan lamanya jadi terungkit kembali.


Badan Al luruh ke lantai. Ini pertama kali sang Umi menamparnya. Berarti dia sudah sangat mengecewakan Uminya.


"Abi," panggil Al sendu.


Ibra ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Al. "Abi mohon, jangan ulangi kesalahan Abi, Boy. Atau kamu akan menyesal seumur hidup," ucap Ibra.


"Maaf, Abi," ucap Al dengan mata memerah.


"Perbaiki kesalahanmu sebelum semua terlambat. Tidak semua bisa seberuntung Abi yang mendapat kesempatan kedua dari Umimu, Boy," ucap Ibra.


Al mengangguk mendengar perkataan Ibra. "Sekarang istirahatlah. Besok bujuk Umi dan perbaiki semuanya," ucap Ibra.


"Apa Al bajingan, Abi?" tanya Al saat Ibra membalikkan badannya hendak pergi keluar kamar Al.


Ibra menggeleng menatap Al. "Kamu tidak bajingan, Nak. Hanya saja kamu memilih cara yang salah. Dan satu lagi, karena ulahmu, Abi harus berusaha keras membujuk Umi," ucap Ibra dan segera pergi untuk membujuk istrinya.

__ADS_1


Maafkan Al, Umi. Maaf, Runa. Maaf, Tuhan. Batin Al menyesali kesalahannya.


......................


__ADS_2