Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 145


__ADS_3

Setelah selesai melaksanakan Sholat Isya berjemaah bersama Abi, Umi dan Adiknya, kini Al duduk di meja belajarnya. Tangannya memegang sebuah kalung dengan mainan nama Allah menggunakan tulisan Arab. "Kalung yang indah. Tapi kenapa dia nggak pake kerudung kayak Umi sama Adek?" gumam Al pada dirinya sendiri.


Mata Al terus memandang lekat kalung tersebut. Itu adalah kalung anak kecil yang tadi siang dia tabrak saat di kedai Es Krim. Saat gadis itu berlari meninggalkan Al, Al melihat sebuah kalung tergelatak di lantai.



Kalung yang sangat indah. Sudut bibir Al melengkung ketika mengingat lucu dan imutnya gadis yang dia temui. "Dia sangat lucu," ucap Al.


Saat sedang asik dengan lamunannya, pintu kamar Al terbuka. Dengan buru-buru anak itu memasukkan kalung tersebut ke dalam kantong celananya.


"Belum tidur, Nak," ucap Dee berjalan memasuki kamar Al.


Al menggeleng. "Al belum ngantuk, Umi," jawab Al.


Al berjalan mendekati Uminya yang duduk di sisi ranjang. Setelah itu Al merebahkan kepalanya di paha Dee. Anak itu sangat rindu ingin bermanjaan dengan Umi nya.


"Adek dimana, Umi?" ucap Al menanyakan keberadaan Kina.


"Adek lagi sama Abi di bawah, Nak," jawab Dee.


"Usap kepala Al, Umi," pinta Al.


Dengan senyum mengembang Dee menuruti permintaan Al. "Anak Umi kenapa manja banget sekarang?" tanya Dee.


"Al hanya rindu waktu berdua sama Umi," jawab Al memandang Dee.


"Waktu Umi selalu ada untuk anak Umi," jawab Dee.


Setelah itu Al dan Dee sama-sama terdiam asik dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Al membuka suara dan bertanya kepada Dee.


"Em ... Umi," panggil Al ragu.


"Iya, Nak," jawab Dee. Tangan Dee dengan lembut terus mengusap rambut tebal Al.


"Umi, apa seorang wanita muslim itu harus menggunakan jilbab seperti Umi dan Adek?" tanya Al.


"Kenapa tanya seperti itu, Nak?" tanya Dee heran.


"Al hanya ingin tahu saja, Umi," jawab Al.

__ADS_1


"Al, dengar Umi ya, Nak. Bagi seorang wanita muslim yang sudah baligh, diwajibkan bagi mereka untuk menutup aurat. Karena sehelai rambut mereka terlihat oleh yang bukan muhrim, selangkah pula mereka mendorong Ayahnya untuk mendekat ke Neraka," jawab Dee menjelaskan.


"Adek masih kecil kenapa sudah pakai hijab, Umi?" tanya Al.


Dee tersenyum senang. "Umi hanya ingin membiasakan Adek. Lagi pula Adek nggak keberatan pakai hijab, malahan dia senang," jawab Dee.


Al hanya mengangguk mengiyakan perkataan Umi nya.


Apa Al cerita saja sama Umi, ya. Al sangat ingin bertemu lagi dengan gadis itu. Batin Al ragu.


"Em ... Umi," panggil Al hati-hati.


"Kenapa, Nak? Kenapa anak Umi kayak gelisah gitu?" ucap Dee.


"Umi, kalau misalnya Al sudah dewasa dan menikah dengan wanita yang tidak menggunakan hijab sepeti Umi dan Adek, bagaimana?" tanya Al.


Dee terkejut mendengar pertanyaan Al. Pasalnya anak itu masih sangat kecil untuk bertanya seperti itu.


"Apa anak Umi ini sudah semakin besar?" tanya Dee menggoda Al.


Al bangun dari rebahan nya dan menghadap Dee. Tangan Al merogoh saku celananya dan mengeluarkan kalung yang tadi dia simpan di sana.


"Ini, Umi," ucap Al melihatkan kalung tersebut kepada Al.


Al mengangguk menyetujui perkataan Uminya. "Ini memang sangat indah, Umi," ucap Al. Tanpa Dee minta, akhirnya anak itu menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan kalung tersebut.


"Em ... Anak Umi masih kecil sudah memikirkan wanita?" tanya Dee menggoda Al.


Al tersenyum malu. "Lalu Kinzi dan Alania bagaimana, Nak?" tanya Dee mengingat kedua teman Al itu.


"Kinzi sama Alania itu teman Al, Umi. Al sayang mereka bagaikan saudara," jawab Al.


Dee tersenyum mendengar perkataan Al yang sudah layaknya orang dewasa. "Al, boleh Umi ngomong sesuatu?" ucap Dee.


Al mengangguk. "Boleh Umi," ucap Al.


"Al, kita sebagai lelaki boleh memikirkan lawan jenis, tapi jangan sampai membuat kita berdosa dengan menodai pikiran kita, Nak. Pikirkan saja sewajarnya, Al masih terlalu kecil untuk memikirkan hal ini. Kalau Al sudah dewasa, Al pasti mengerti akan semuanya, Nak. Kita boleh tertarik pada lawan jenis, tapi jangan sampai melebihi ketertarikan sama Nabi dan Sang Pencipta," ucap Dee memberi pengertian kepada Al.


Dengan senyum mengembang Al mengangguk. "Iya, Umi. Allah dan Nabi tetap yang utama," ucap Al senang.

__ADS_1


Seketika Al ingat akan pertanyaan yang belum dijawab oleh Dee tadi. "Jadi bagaimana, Umi. Apa Al boleh menikah dengan wanita yang tidak berjilbab?" tanya Al lagi.


Dee terkekeh kecil sambil menggeleng. Anaknya ini benar-benar gigih akan penasarannya.


"Al, lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, Nak. Jika Al ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka Al harus memantaskan diri untuk itu. Jadilah versi terbaik dari diri Al sendiri, Nak," ucap Dee.


Al tersenyum senang, dia mengerti apa yang dikatakan Uminya. "Terimakasih banyak, Umi," ucap Al tersenyum tulus kepada Dee.


Dee tersenyum dan mengangguk. Dibawanya tubuh Al kepelukannya menyalurkan kasih sayangnya. "Umi sangat sayang Al dan Kina," ucap Dee.


"Al lebih sayang Umi sama Adek," ucap Al tersenyum dalam pelukan Dee.


Mereka benar-benar berjodoh sebagai seorang Ibu dan Anak. Kasih sayang yang sangat besar memberikan mereka ikatan yang sangat erat.


.....


Sedangkan di ruang keluarga, Kina sedang bercerita ruang dengan Ibra. Kina duduk di pangkuan Ibra dengan ponsel Ibra dipangkuan nya. Anak itu sangat gemar mendengar lantunan sholawat yang ada di YouTube.


"Abi," panggil Kina.


"Iya, Nak," ucap Ibra.


"Ina cenang deh," ucap Kina.


"Senang kenapa, Nak?" tanya Ibra.


"Talna ada Abi dicampin Ina," jawab Kina senang.


Ibra terdiam. Sungguh dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan waktunya. Kesalahan dan Kebodohannya di masa lalu benar-benar memberikan tekanan pada dirinya sendiri. Setiap waktu dia selalu mengutuk dirinya.


Beribu syukur Ibra ucapkan karena masih diberi kesempatan untuk bersama kembali dengan keluarga kecilnya. Menjadi suami kembali dari wanita yang sangat dia cintai, dan selalu menjadi Ayah untuk buah hatinya.


Jika nanti Kina sudah besar dan mengetahui semua perbuatan Abi, Abi mohon jangan benci Abi, Nak. Batin Ibra memandangi Kina.


"Adek tahu, Abi lebih beruntung karena memiliki anak seperti Adek dan Abang," ucap Ibra.


Ibra merengkuh erat tubuh Kina seakan tidak ingin terpisah. Untuk sesaat, Ibra merasa dia adalah lelaki paling beruntung dia dunia karena diamanahi anak sebaik Al dan Kina.


......................

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman. Sebentar lagi kita masuk kisah hidup dan kisah cinta Al yang sudah dewasa. Akankah Al tetap menjadi anak yang dewasa dan bijaksana atau malah sebaliknya? Jangan bosan-bosan buat ikuti cerita aku ya..


Aku sayang kalian semua 🌹🤗😘


__ADS_2