Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 74


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Sekarang adalah hari Minggu. Ibra menggunakan waktu berdua dengan Al. Setelah kemarin dia mengajak anak dan istrinya untuk jalan-jalan, kini dia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Al. Di kolam renang, tampak Ibra dan Al yang sedang berenang bersama. Di umur yang masih empat tahun, Al sudah menguasai beberapa bidang olahraga, seperti berenang, memanah dan berkuda. Ibra mengajarkan olahraga yang dianjurkan nabi kepada anaknya itu.


Ibra ingin sekali mengajarkan Al bela diri, tapi apa daya jika istrinya sendiri yang belum memperbolehkan itu. "Kita istirahat dulu, Boy," ucap Ibra kepada Al yang masih asik berenang.


"Tanggung, Abi. lagi selu," ucap Al menolak ajakan Abinya.


"Kalau gitu Abi naik duluan," ucap Ibra.


Al mengangguk dan melanjutkan berenangnya. Ibra keluar dari kolam dan merebahkan diri di kursi santai yang ada di tepi kolam renangnya.


Ibra menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan di kepalanya. Ibra memejamkan mata menikmati udara pagi yang bagus untuk kulitnya. Saat sedang menikmati istirahatnya, Ibra dikejutkan dengan suara deburan air.


Byur


Alangkah kagetnya Ibra melihat kedua sahabatnya yang sudah menceburkan diri ke kolam berenang. Entah darimana kedua sahabatnya itu datang, mereka benar-benar seenaknya saja.


"Ayo kita belenang, Uncle. Abi payah!" ucap Al dengan mengeraskan sedikit suaranya untuk meledek Ibra. Ibra hanya cuek, dia tetap melanjutkan istirahatnya.


"Waah, sudah jago berenang, Boy?" ucap Agam kagum melihat Al yang sudah hebat dengan teknik renangnya.


"Nggak ada yang Al nggak bisa, Uncle," ucap anak itu sombong.


"Sombong banget nih bocah," gerutu Agam kesal karena kesombongan Al.


"Ayo kita lomba, Boy. Siapa yang paling duluan sampai ke ujung dia yang menang," ucap Kevin menantang Al.


"Hadiahnya?" tanya Al.


"Apapun yang kamu minta," jawab Kevin.


"Oke. Deal," ucap Al yakin dengan kemampuannya.


"Satu, dua, tiga!"


Byur

__ADS_1


Mereka bertiga berenang dengan sangat lincah ke ujung kolam dan kembali lagi ke tempat awal.


"Yeay, Al menang!" teriak Al senang karena sampai lebih dulu dari Agam dan Kevin.


"yeay, yeay, Al menang, Uncle kalah," nyanyian Al meledek Kevin dan Agam.


Kevin dan Agam tertawa senang melihat kebahagiaan Al. Jangan katakan mereka lemah karena kalah dari anak kecil. Mereka sengaja melambatkan gerakan berenangnya hanya untuk memberi melihat senyum anak sahabat mereka itu.


"Ya, ya, ya. Uncle akui Al memang hebat. Sekarang mau hadiah apa, Boy?" tanya Agam.


"Mmm ... nanti saja Uncle. Kalau Al sudah tau mau minta apa, Al akan bilang sama Uncle," jawab Al kepada Agam dan Kevin.


"Oke, Boy. Sekarang kita ke Abi mu," ucap Kevin mengangkat tubuh Al keluar dari kolam renang.


"Abi," panggil Al setelah ikut merebahkan diri di kursi santai yang digunakan Abinya. Agam dan Kevin juga merebahkan diri di kursi santai di sebelah Ibra.


Ibra membuka matanya, "iya, Boy," ucap Ibra menjawab panggilan Al.


"Umi kenapa belum tulun juga, Abi?" ucap Al menanyakan keberadaan Umi. Karena sejak tadi dia berenang, Umi tidak datang memberikan cemilan atau jus seperti biasanya.


"Umi masih tidur, Boy," jawab Ibra santai.


Mata bulat Al semakin membulat mendengar ucapan Abinya. "Umi masih tidul?" tanya Al bingung. waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan dan Dee masih tidur, Al tidak percaya ini.


"Kelja?" beo Al.


"Buat adik untuk mu, Boy," ucap Kevin santai memperjelas nya.


Plak


Ibra memukul lengan Kevin karena bicara sembarangan dengan anaknya.


Mata Al berbinar mendengar kata adik. "Benalkah, Abi? Kenapa Abi nggak ajakin Al? Al juga mau liat cala buat adik, Abi," ucap Al kepada Ibra.


Ibra membawa Al duduk ke pangkuannya. "Al masih kecil. Kalau sudah besar pasti ngerti," ucap Ibra meyakinkan Al.


Al hanya menganggukkan kepala mengerti tanpa banyak bertanya. Akan percuma bertanya pada Abinya, karena jawaban Ibra tidak pernah membuatnya puas. Nanti dia akan menanyakan pada Uminya jika sudah bangun.


"Kalau begitu kita masuk, ya. Nanti masuk angin kelamaan berenang," ucap Ibra.


"Iya, Abi," ucap Al patuh. Mereka berempat berjalan memasuki rumah hanya menggunakan celana pendek di atas lutut yang sudah basah karena berenang. Bayangkan bagaimana gagahnya, sangat sempurna. Wajah tampan yang sedikit basah karena air, roti sobek, kulit bersih dan tubuh yang proporsional. Apalagi anak kecil yang berada di gendongan Abinya itu, sangat menggemaskan.


Kevin dan Agam masuk ke kamar tamu yang ada di lantai satu untuk mengganti pakaian mereka. Sedangkan Ibra dan Al menaiki tangga menuju kamar Al terlebih dahulu.


"Al mandi sendiri atau Abi bantu?" tanya Ibra setelah mereka sampai di kamar Al. Ibra menurunkan Al dari gendongannya dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan anak itu.

__ADS_1


"Mandi sendiri aja, Abi," jawab Al.


"Ya sudah. Abi ke kamar dulu. Jangan lupa salep yang untuk tangan Al nanti di pakai, ya. Udah nggak sakit kan?" tanya Ibra melihat telapak tangan Al.


"Udah nggak sakit, Abi," jawab Al yakin.


"Ya sudah. Abi keluar, ya," ucap Ibra menegakkan lagi tubuhnya.


Al mengangguk patuh mengiyakan perkataan Abinya. Setelah Ibra keluar, Al langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ibra memasuki kamarnya. Saat masuk, Ibra masih melihat istrinya yang asik dengan dunia mimpinya. Ibra heran, apa dia terlalu kuat semalam sampai istrinya ini tak bangun-bangun? Senyanyak itukah tidurnya? Pikir Ibra.


Tidak ingin mengganggu tidur istrinya, Ibra berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, Ibra keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ibra pergi ke walk in closet untuk mengambil pakaian rumahnya.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Ibra keluar dari walk in closet dan berjalan mendekati ranjang untuk melihat istrinya. Dee masih tertidur pulas. Ibra membungkukkan badan mengecup kening, pipi dan bibir Dee. Ibra sangat candu dengan bibir itu.


"Aku buat sarapan dulu, Sayang, biar nanti kamu bangun kita langsung sarapan," ucap Ibra pada Dee yang tertidur. Ibra mengecup kembali dahi Dee dan kemudian berjalan meninggalkan Kamar.


Sampainya di bawah, Ibra melihat Al, Kevin dan Agam yang sudah duduk di ruang keluarga sambil bermain PlayStation.


"Lo berdua udah sarapan?" tanya Ibra pada ke dua sahabatnya.


Agam dan Kevin serentak menggeleng dengan mata yang tetap fokus pada layar televisi.


"Bantuin gue masak. Ayo, Boy," ucap Ibra menggendong Al dan langsung berjalan menuju dapur.


Bagaikan anak ayam yang patuh pada induknya, Kevin dan Agam mengikuti Ibra dari belakang. Dan akhirnya para lelaki tampan itu memasak di dapur.


Ibra yang memang bisa memasak melakukan semuanya, karena ke dua sahabatnya hanya menjadi tim hore bersama anaknya.


"Al, Abi bangunin Umi dulu, ya," ucap Ibra setelah masakan mereka selesai.


"Iya, Abi."


"Lo main berapa lama, Ib. Sampai Dee nggak bangun-bangun gitu?" tanya Agam heran.


Ibra tidak menghiraukan pertanyaan Agam, dia langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. "Astagfirullahalazim, SAYANG!"


......................


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2