Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 156


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, kini Al dan Bella sudah berada di dalam taksi menuju rumah Al. Al sengaja tidak memberitahu keluarganya karena dia ingin memberi kejutan untuk Ibra, Dee dan Kina.


Tiga puluh menit perjalanan dari Bandara ke rumah, kini Al dan Bella sudah sampai di pekarangan rumah Al.


"Ayo, Bel," ajak Al.


Bella mengangguk dan segera melepas seat beltnya. Mereka turun dan dibantu oleh supir taksi mengeluarkan koper mereka. Al memberikan beberapa lembar yang kepada supir taksi untuk bayarannya.


"Ini kebanyakan, Tuan," ucap supir taksi tersebut ketika menerima lima lembar uang merah pemberian Al.


"Itu rejeki anak-anak Bapak," ucap Al tersenyum. Bella ikut tersenyum melihat kebaikan Al.


"Terimakasih banyak, Tuan," ucap supir taksi tersebut.


Al hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ayo, Bel," ucap Al mengajak Bella masuk.


Bella mengangguk dan mengikuti langkah Al dari belakang. Sejenak Bella menatap atap rumah yang nampak dari rumah Al.


Runa kangen masa kecil Runa sebelum Bunda pergi. Ucap Bella dalam hati.


"Ya Allah, Tuan Muda," pekik Bi Nini senang melihat kedatangan Al. Bi Nini sudah nampak tua, seluruh rambutnya sudah memutih dengan wajah yang sudah keriput. Bi Nini sudah meminta untuk berhenti bekerja dan keluar dari rumah Dee, tapi Dee melarang karena dia tahu bahwa Bi Nini tidak memiliki siapapun. Dee sudah menganggap Bi Nini sebagai keluarganya sendiri. Disini, Bi Nini sudah bukan lagi pembantu di rumah Dee, melainkan Nenek dari anak-anaknya Dee dan Ibra. Dia hanya akan membantu seperlunya saja.


Al tersenyum dan memeluk erat tubuh Bi Nini. "Apa kabar Nenek?" tanya Al senang. Al dan Kina memang sudah memanggil Bi Nini Nenek. Menggantikan Wijaya dan Raina yang sudah lebih dulu berpulang ke tempat yang lebih abadi lima tahun yang lalu.


"Baik, Tuan Muda. Kenapa nggak bilang kalau mau pulang? Biar supir bisa menjemput Tuan Muda," ucap Bi Nini.


Al tersenyum senang. "Al mau kasih kejutan sama yang lain, Nek," ucap Al senang.


Bi Nini mengangguk senang. Setelah itu pandangannya beralih kepada Bella yang berdiri dibelakang Al.


"Ini Bella, Nek. Temannya Al," ucap Al menjawab wajah bingung Bi Nini.


"Cantiknya teman Tuan Muda," ucap Bi Nini memuji kecantikan Bella.


Bella tersenyum kikuk dan mengangguk. "Terimakasih," ucap Bella.


"Abi sama Umi dimana, Bi?" tanya Al.


"Tuan sama Nyonya di kamar Nona Muda. Nona Muda nggak mau ke rumah sakit. Katanya cuma mau ketemu Abangnya," ucap Bi Nini.

__ADS_1


"Al keatas dulu, Nek. Al titip teman Al bentar ya, Nek. Bella, kamu sama Bi Nini dulu," ucap Al.


Bi Nini dan Bella mengangguk mengiyakan perkataan Al. Bi Nini mengajak Bella untuk duduk di ruang keluarga, sedangkan Al berjalan menapaki tangga menuju kamar Adik kesayangannya.


.....


Al dengan perlahan memasuki kamar Kina. Di sana dia hanya melihat Uminya yang tidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya terus mengusap lembut kepala Kina yang tidur di paha Dee.


Al memandang dengan lekat wajah Dee. Ini adalah wajah wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta. Wanita yang selalu memiliki tempat spesial di hatinya. Wanita yang sudah memberinya kehidupan di dunia ini. Wanita yang sudah menemaninya mengobati luka dan air mata.


Tangan Al terulur mengusap pipi Dee dengan lembut. Dee yang merasakan sesuatu menyentuh pipinya mulai membuka mata.


"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Al sambil tersenyum.


"Ya Allah, anak Umi udah pulang," ucap Dee senang memeluk Al.


Dee melepaskan pelukannya dan mencium seluruh sudut wajah anaknya. "Dasar anak nakal. Entah apa yang kamu cari di sana sampai tidak mau pulang," ucap Dee memukul pelan bahu anaknya.


Al mencari jodoh Al, Umi. Batin Al.


Al tersenyum lembut dan mengecup punggung tangan Dee. Kina yang merasa terganggu karena pergerakan di paha Dee membuka mata.


Mata Kina membola melihat lelaki yang sangat dia rindukan.


Dee dan Al tersenyum melihat tingkah Kina. "Adek Abang kenapa sakit, hem?" tanya Al lembut.


"Hiks, Adek kangen Abang tau. Kenapa nggak pulang-pulang? Apa Adek harus sakit dulu baru Abang pulang?" ucap Kina menangis di pelukan Al.


"Tapi sekarang Abang udah disini sama Adek. Senyum, dong. Jangan nangis, nanti Abang ikut sedih," ucap Al.


"Umi ke kamar dulu panggil Abi, ya. Abang temenin Adek," ucap Dee.


Al dan Kina mengangguk mengiyakan perkataan Dee. Dengan manja Kina merebahkan kepalanya di paha Al. "Usap-usap kepala Adek," ucap Kina.


"Kepala Adek sakit?" tanya Al khawatir.


Kina mengangguk. "Sedikit nyut-nyutan," ucap Kina.


Al dengan lembut mengusap rambut Kina dengan lembut. Perlahan mata Kina mulai meredup karena sentuhan lembut di kepalanya.


.....


Dee memasuki kamarnya. Dilihatnya Ibra yang tengah bersandar di kepala ranjang dengan laptop dipangkuannya. Lelaki dengan rambut yang sudah sedikit memutih itu nampak sangat tampan dengan kaca mata yang bertengger indah di hidungnya.

__ADS_1


"Mas," panggil Dee lembut.


Ibra mengalihkan pandangannya kepada Dee. "Kenapa Sayang?" ucap Ibra tersenyum.


"Ada anak laki-lakimu di kamar Kina," ucap Dee.


"Anak itu sudah pulang?" tanya Ibra.


Dee mengangguk. Ibra meletakkan laptopnya di kasur dan menarik Dee duduk di pangkuannya. Dee dengan senang hati menerima setiap perlakuan lembut suaminya.


"Anak kamu semakin tampan, Mas. Mengalahkan Abinya," ucap Dee.


"Itu hasil kerja keras kita saat malam pertama dulu, Sayang," jawab Ibra ngawur.


Plak.


Dee menepuk lengan Ibra cukup keras. "Makin tua bukannya taubat, kamu malah makin menjadi, Mas," ucap Dee.


Ibra tersenyum senang memperlihatkan deretan giginya yang masih nampak sehat. "Cuma sama kamu aku kayak gini," ucap Ibra.


"Mas," panggil Dee serius. Wajahnya nampak sendu sekarang.


"Iya, Sayang," jawab Ibra.


"Zahra apa kabar, ya Mas. Udah satu bulan kita nggak ada kontak sama Zahra," ucap Dee.


"Zahra baik, Sayang. Aku tiap hari nanya keadaan Zahra sama Kevin. Dia hanya sibuk dengan kegiatan musiknya. Kamu kan tahu anak itu sangat mendalami permainan pianonya," ucap Ibra.


"Kita punya anak-anak yang sangat berbakat, Mas. Al dan Kina dengan bakat melukisnya dan Zahra dengan permainan pianonya. Aku beruntung memiliki mereka," ucap Dee.


"Kami lebih beruntung memiliki kamu, Sayang," ucap Ibra menghirup dalam aroma leher Dee yang tidak tertutup hijab.


Dee tersenyum senang. "Ayo kita ke kamar Kina, Mas," ucap Dee.


Ibra mengangguk. Dee turun dari pangkuan Ibra. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju kamar Kina. Saat akan berjalan menuju kamar Kina, Dee tidak sengaja melihat seorang wanita duduk di ruang keluarga bersama Bi Nini.


"Mas, itu siapa?" tanya Dee.


Ibra mengikuti arah tunjuk Dee. Mata Ibra membola melihat gadis yang ada di sana. Dia adalah gadis yang diminta Al untuk di selidiki.


Astagfirullahalazim, apa Al benar-benar berbuat macam-macam sampai membawa gadis itu pulang? Batin Ibra dengan pikiran yang sudah kemana-mana.


......................

__ADS_1


__ADS_2