Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 47


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Sampainya di depan ruang kerja Ibra, Dee dan Al bertemu dengan Naina. "Hai, Al," sapa Naina pada Al tanpa mempedulikan Dee yang berdiri di sebelah Al dengan bergandengan tangan.


"Iya, Aunty," jawab Al cuek kepada Naina.


Anak ini, semakin lama tingkahnya semakin menjadi-jadi. Ucap Naina kesal dalam hati melihat sikap cuek Al kepadanya.


"Ayo, Umi. Kita masuk ke ruangan Abi," ajak Al kepada Dee.


"Iya, Nak," jawab Dee. "Aku duluan, Nai," ucap Dee pada Naina. Setelah itu Dee mengikuti Al dari belakang.


"Silahkan," jawab Naina kepada Dee.


"Abi," teriak Al memanggil Ibra yang sedang fokus dengan kertas di depannya.


Senyum Ibra terbit melihat kedatang Al. "Assalamualaikum, Boy," ucap Ibra berdiri dari duduknya dan menggendong Al.


"Hehe, Waalaikumsalam, Abi," ucap Al cengengesan karena lupa mengucap salam terlebih dahulu.


"Mas."


Ibra membalikkan badan ketika mendengar suara pujaan hatinya.


"Sayang," ucap Ibra merangkul pinggang Dee dan menghadiahkan kecupan singkat di kening Dee.


"Apa Mas sudah makan siang?" tanya Dee.


Ibra menggeleng, "belum, Sayang. Aku baru saja selesai meeting," ucap Ibra.


"Adek bawain makan siang buat, Mas. Kita makan siang bareng, ya," ucap Dee melihatkan rantang yang ada di tangannya kepada Ibra.


"Iya, Abi. Kita makan siang bersama hari ini," ucap Al ikut mengajak Ibra.

__ADS_1


"Baiklah, apapun untuk anak dan istri kesayangan Abi," jawab Ibra mengecup dahi anak dan istrinya bergantian.


Mereka duduk bersama di sofa yang ada di ruangan Ibra. Tangan Dee tergerak membuka rantang dan menyajikan makanan. Dee dan Ibra duduk bersebelahan sedangkan Al duduk di pangkuan Ibra.


"Al, turun dulu, Nak. Biar Abi makan dulu, ya," ucap Dee setelah selesai menyajikan makanan.


"Mau disuapi Abi. Bolehkan, Abi?" ucap Al memohon kepada Ibra.


Ibra mengangguk, "kita makan sepiring berdua, ya, Boy," ucap Ibra mengusap lembut kepala Al.


Al tersenyum senang mendengar perkataan Abinya. Jarang sekali dia bisa bermanja-manja seperti ini kepada Abinya.


"Anak Umi manja banget, ya," ucap Dee gemes melihat wajah anaknya.


"Hehe," Al hanya tertawa pelan memperlihatkan deretan gigi susunya.


Saat sedang makan, Dee asik menikmati wajah senang anak dan suaminya yang makan dengan lahap. Ibra yang bergantian menyuapi dirinya dan Al dengan tangan. Pemandangan yang sangat indah bagi seorang istri melihat begitu dalam masih sayang anak dan ayah ini.


Apakah tepat jika aku menanyakan ini kepada Mas Ibra dan meminta untuk menyelidiki semuanya? Tanya Dee dalam hati.


Bukan hanya sekedar memberi kejutan kepada suaminya, tapi Dee memiliki maksud lain untuk mengantar makan siang ke kantor suaminya.


"Mas, Adek ke dapur dulu, ya," ucap Dee meminta izin kepada Ibra untuk pergi ke dapur yang ada di kantor Ibra.


"Adek mau buatin susu coklat dulu untuk Al. Sekalian nanti Adek buatin teh hangat untuk Mas," ucap Dee memberi alasan kepada Ibra.


"Suruh OB aja, Sayang," ucap Ibra. Tangannya masih asik menyuapi Al.


"Jangan, Mas. Ini jam istirahat. Mereka juga butuh istirahat dan makan siang."


"Ya sudah. Kamu hati-hati, ya," ucap Ibra mengizinkan Dee pergi.


Dee berdiri dan berjalan ke luar ruangan Ibra. Sampainya di luar, Dee menemui Naina yang duduk di meja kerjanya.


"Ada apa, Dee?" tanya Naina melihat Dee berdiri di hadapannya.


"Obat apa ini?" tanya Dee to the point kepada Naina. Dee mengangkat tangannya menunjukan sebuah obat kepada Naina.


"Obat?" tanya Naina tidak mengerti.


"Ini obat yang waktu itu kau paksa Al untuk memakannya, Naina. Jangan pura-pura tidak tahu. Kau beralibi memberi minum kepada Al padahal kau memaksanya memakan obat ini, kan?"

__ADS_1


"Jangan sembarangan menuduh, Dee," elak Naina.


"Aku tidak menuduh, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri bagaimana kau memaksa anakku memakan ini."


"Kau yakin? Apa kau lupa, Ibra juga melihatmu menusukkan pisau ke perut Tante Raina. Berarti itu benar jika kau yang menusuk Tante Raina?"


"Aku tidak menusuk mertuaku," ucap Dee tegas kepada Naina.


"Dan aku tidak memaksa Al memakan obat itu," jawab Naina tak kalah tegas.


"Ternyata kau tidak sebaik yang aku pikirkan, Naina. Sedikit saja kau melukai anakku, maka aku tidak akan segan-segan membalasmu."


"Silahkan saja, aku memiliki kepercayaan suamimu sebagai senjata untuk menghancurkanmu."


"Kau benar-benar licik, Naina. Apa mungkin kau juga yang melukai anakku?"


"Kau pikir saja sendiri. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan cintaku yang kau rebut, Dee," jawab Naina tegas tepat di wajah Dee. Dadanya naik turun menahan emosinya.


Dee terdiam mendengar ucapan Naina. "Kau mencintai suamiku?"


"Ya, aku mencintai suamimu. Apapun akan aku lakukan untuk merebut suamimu."


"Kau melukai anakku hanya untuk cinta suamiku? Kau benar-benar bukan manusia, Naina. Seratus kali kau melukai anakku, maka seribu kali aku akan melindunginya."


"Ya ya ya, kau lindungilah anakmu yang nakal itu."


"Dan ingat ini, Naina. Aku akan menjadi pahlawan untuk anak dan rumah tanggaku," ucap Dee dengan tegas memperingati Naina. Setelah itu Dee pergi ke dapur dan meninggalkan Naina dengan segala kemarahannya.


"Brengsek!" ucap Naina memukul keras meja kerjanya.


Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang menyaksikan segala pembicaraan Dee dan Naina. Dia berjalan ke dapur menyusul Dee.


"Dee."


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa

__ADS_1


Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2