
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Ceklek
Pintu ruang rawat Naina terbuka. Naina yang sudah bangun dari tidurnya langsung mengalihkan pandangan untuk melihat siapa yang datang. Mata Naina membulat melihat sosok tegap dengan pakaian tahanan memasuki ruangannya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Naina berusaha untuk menghilangkan kegugupannya.
Bram berjalan mendekati ranjang Naina. Hatinya sakit, melihat wanita yang mengisi hatinya itu terbaring lemah dengan selang infus ditangannya. Tapi Bram berusaha untuk bersikap cuek dan dingin.
Agam dan Kevin yang berada dalam ruangan, berinisiatif untuk meninggalkan ruangan. Mereka memberikan waktu kepada Naina dan Bram untuk berbicara berdua. Agam mengajak Polisi yang tadi menemani Bram untuk ikut menunggu di luar.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bram saat dia sudah berdiri di samping ranjang Naina.
"Kau datang?" tanya Naina lirih tanpa menjawab pertanyaan Bram.
Bram hanya diam. Tangan Naina yang bebas dari infus bergerak ingin mengambil sebelah tangan Bram, berniat untuk menggenggamnya. Tapi sebelum itu berhasil, Bram sudah lebih dulu menjauhkan tangannya.
Naina tersenyum getir. Dadanya sesak menerima penolakan dari pria yang bahkan selalu memanjakannya.
"Kabarku sangat baik setelah kau datang," ucap Naina memandang lekat wajah Bram.
"Baguslah," ucap Bram dan hendak berbalik pergi meninggalkan Naina. Tapi Naina berhasil menghentikan pergerakan Bram dengan memegang tangannya. Hati Naina sakit, melihat Bram yang biasanya hangat dan manja kini berubah dingin dam pendiam.
"Tidak adakah kata maaf untuk wanita murahan seperti ku?" ucap Makna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bram mengedarkan pandangannya ke segala arah. Berniat agar dia tidak melihat mata sendu Naina saat memandang dirinya.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Bram sambil melepaskan tangan Naina dari tangannya.
"Atas kebodohan ku padamu, Bram," jawab Naina.
Bram tertawa sumbang. "Aku melakukannya karena keinginanku. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah," jawab Bram menertawakan dirinya sendiri.
Naina menggeleng, "jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang bersalah," ucap Naina.
__ADS_1
"Lupakan segalanya. Setelah ini anggap kita tidak pernah saling mengenal. Mari hidup dengan menikmati hukuman masing-masing," ucap Bram.
"Apa kau membenci ku?" tanya Naina.
"Aku tidak punya hak untuk membencimu."
Naina menggeleng tidak menyetujui perkataan Bram. "Bahkan kau layak untuk membunuhku, Bram," ucap Naina.
Bram memandang tajam Naina mendengar perkataan wanita itu. "Aku tidak ingin menambah gelar pembunuh pada diriku. Dan aku tidak mungkin melakukan itu pada mu. Aku mencintaimu," lanjut Bram dalam hati menyembunyikan perasaannya.
"Apa tidak ada kesempatan untukku membalas cintamu?" tanya Naina.
"Jangan pernah memaksakan perasaan, Naina."
"Aku tidak memaksakannya."
"Tapi kau membalas perasaanku hanya karena rasa bersalah mu. Kau mungkin pernah mendengar cinta bisa tumbuh karena rasa bersalah dan rasa Iba. Tapi aku tidak percaya. Cintaku padamu berawal dari rasa kasihan hingga aku melakukan kesalahan besar seperti ini. Aku hanya menginginkan cinta tulus dari seorang wanita yang menerima aku apa adanya," ucap Bram menjelaskan.
"Kau tidak mengerti isi hatiku, Bram, jadi kau tidak berhak menilai ketulusan cintaku," ucap Naina bergetar menahan tangisnya.
Bram terkekeh kecil mendengar perkataan Naina. "Mulai sekarang, jalani hukuman mu dan lupakan bahwa kita pernah berbagi kasih. Mari hidup dengan penyesalan masing-masing, Naina. Dan cobalah lupakan perasaan mu pada ponakan ku. Keluarganya terlalu harmonis untuk harus kau ganggu," ucap Bram.
Naina menggeleng, hatinya kini dipenuhi oleh lelaki ini. "Tidak adakah kesempatan kedua untukku?"
"Aku mencintaimu, Bram. Sangat, sungguh!" ucap Makna menangis menghentikan langkah kaki Bram.
Bram memejamkan matanya sebentar, tangannya mengepal menahan segala sesak di dadanya. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Tapi hatiku tidak mengizinkan untuk itu. Batin Bram sedih mendengar tangis Naina.
Tanpa menoleh, Bram membuka pintu ruangan Naina dan segera pergi tanpa menghiraukan keberadaan Kevin dan Agam di sana. Kedua Polisi yang mengawal Bram langsung saja mengikuti langkah panjang Bram.
.....
Waktu sudah menunjukkan saatnya untuk makan malam. Ibra dan keluarganya sedang menikmati makan malam bersama. Kali ini ada yang berbeda. Reina ikut makan malam dengan duduk di kursi rodanya yang berada di sebelah Wijaya. Dengan telaten Wijaya menyuapi Reina bergantian dengan dirinya.
"Kakek sama Nenek lomantis, ya," celetuk Al melihat berbinar ke arah Wijaya dan Reina. Semua orang mengalihkan pandangannya kepada Al.
"Makan dulu, Boy!" ucap Ibra tegas menegur Al.
Al menyengir polos kepada Ibra dan kembali melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, mereka masih duduk di meja makan. Ibra memandang anaknya yang selalu melihat kearah Mama dan Papanya. Bibirnya sudah gatal ingin bertanya kepada Al. "Tahu darimana kata romantis, Boy?" tanya Ibra heran.
__ADS_1
"Dali Kinzi," jawab Al santai.
"Kinzi?" tanya Dee dan Ibra serentak.
Al mengangguk. "Kinzi itu teman balu Al di sekolah, Umi. Dia itu kembal dengan Kenzo,"
"Lalu? Apa hubungannya dengan romantis?" tanya Ibra.
Al berdecak kesal kepada Abinya. "Abi benal-benal nolep."
"Nolep apa lagi, Nak?"
"Nolep itu olang yang mikilnya lelet, Umi. Uncle Kevin seling bilang gitu sama Abi," jawab Al.
Ibra tersedak liurnya sendiri mendengar perkataan anaknya. Benar-benar teman nggak guna. Ucap Ibra dalam hati mengumpati Kevin. Sedangkan Dee tertawa renyah mendengar anaknya yang mengusili suaminya. Dia sangat senang melihat suaminya menderita. Bawaan bayi, katanya. Wijaya dan Reina hanya tersenyum melihat tingkah cucunya.
"Kinzi itu cantik banget, Umi," ucap Al melanjutkan ceritanya.
"Benarkah?" tanya Dee ikut antusias.
Al mengangguk. "Benal, Umi. Kinzi memakai jilbab juga sepelti Umi. Jilbabnya lapi, tidak seplti alania yang belantakan," ucap Al mengingat temannya yang cerewet itu.
"Wah, anak Abi jatuh cinta?" ucap Ibra meledek anaknya.
Al malu, telinganya akan merah karena menahan malu. "Tidak," jawab Al mengelak.
"Telinga mu merah, Boy," ucap Ibra semakin meledek Al.
Sontak Al langsung menggunakan kedua tangan untuk menutupi kedua telinganya. Semua orang tertawa melihat tingkah Al. Sudah seperti orang dewasa saja.
"Umi," rengek Al meminta bantuan kepada Dee.
Dee langsung menyembunyikan wajah anaknya kedalam dekapannya.
"Al dengar Umi. Jika kita mengagumi seseorang yang berlawanan jenis, jangan sampai mengaguminya melebihi kagum kita terhadap Allah dan Nabi, ya," ucap Dee menasehati Al dengan lembut.
Al mengangguk mengerti. "Iya, Umi," ucap Al.
"Anak Abi emang pintar," ucap Ibra senang melihat kepatuhan dan kedewasaan anaknya. Wijaya dan Reina bersyukur bahwa anaknya mendapat anak dan istri yang begitu sempurna melengkapi hidup Ibra.
......................
__ADS_1
Terimakasih Kiz ucapkan karena selalu mengikuti novel receh Kiz teman-teman. Like, vote dan komentar kalian sangat berguna bagi Kiz. Pasti indah banget kalo semua yang baca kasih Like. Semoga hati kalian terketuk untuk kasih Like ya teman-teman. Kiz doain murah rezeki dan cepat dapat jodoh bagi yang jomblo (kayak Kiz), bagi yang udah dapat jodoh biar makin kuat cintanya, Aamiin. Kiz sayang kalian 🌹🌹😍