Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 138


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Kini Ibra dan yang lainnya sudah berada di rumah sakit keluarga Hebi. Sedangkan Agam akan menyusul ke Jakarta jika urusannya dengan kepolisian sudah selesai. Tim Dokter terbaik di kerahkan oleh Ibra untuk menyelamatkan keluarganya. Terutama nyawa Sang Istri tercinta yang sedang berjuang di ruang operasi.


Ya, saat sampai di Jakarta, Dee, Kiyai Rozak, Sofia dan Kevin langsung mendapatkan penanganan intensif. Kini mereka semua duduk di depan ruang operasi dengan harapan yang sangat besar atas keselamatan Dee. Sedangkan Kevin dan Sofia sudah di pindahkan ke ruangan perawatan setelah operasi mereka selesai. Kini tinggal Kiyai Rozak dan Dee yang masih harus berjuang untuk hidup mereka.


"Al, Adek, kalian pulang ke rumah sama Kakek dan Nenek, ya. Biar Abi sama Ayah Adam yang disini. Kalian harus istirahat, Nak," ucap Ibra lembut kepada anak-anaknya. Bahkan mereka belum berganti pakaian. Baju Ibra masih terdapat noda darah yang sudah mulai mengering. Begitu juga dengan baju Al.


Al dengan cepat menggeleng. "Al mau nungguin Ini, Abi," ucap Al lirih.


"Al, ganti baju dulu, ya. Ajak Adek istirahat," ucap Ibra membujuk Dee.


"Kalau nanti Umi bangun dan Al nggak ada gimana Abi? Umi pasti cari-cari Al nanti. Biar Al disini ya, Abi," ucap Al memohon kepada Ibra dengan mata yang berkaca.


Ibra tidak tega melihat anaknya yg rapuh seperti ini. Akhirnya dia mengangguk dan mengizinkan Al tegap disini. Setelah itu Ibra menoleh kepada Wijaya yang sedang menggendong Kina.


"Pa, bawa Kina ke rumah, ya Pa. Biar dia istirahat, pasti Kina kelelahan. Ibra titip anak Ibra, Pa," ucap Ibra mengusap kepala Wijaya yang tertidur di pelukan Wijaya.


Wijaya mengangguk. "Kau harus sabar, Nak. Kuatlah untuk anak-anakmu," ucap Wijaya mengusap lembut bahu Ibra.


Ibra mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih, Pa," ucap Ibra lembut.


Setelah itu Ibra bersimpuh di depan kursi roda Raina. "Ma, doakan istri Ibra ya, Ma," ucap Ibra sendu kepada Raina.


Air mata Raina kembali jatuh melihat anaknya yang begitu terpuruk. "Doa Mama selalu bersama kalian, Nak. Apapun yang terjadi, jadilah penyemangat untuk cucu-cucu Mama," ucap Raina.


Ibra mengangguk. Setelah pamit, Wijaya mengajak Raina kembali ke rumahnya untuk beristirahat dan berganti pakaian.


Selang beberapa jam, seorang Dokter keluar dari ruang operasi. "Bagaimana Dokter?" tanya Ibra cepat.


"Operasinya berhasil. Pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Untuk saat ini kondisinya masih sangat lemah," ucap Dokter.


Ibra mengangguk. Mengucap syukur karena Dee dan Kiyai Rozak dapat di selamatkan. Begitu juga dengan Al dan Adan yang ikut senang.


.....


Kini Ibra sedang berada di ruang perawatan Dee. Hati Ibra sakit melihat wanita yang sangat dia cintai terbaring lemah dengan kepala yang masih berbalut perban.

__ADS_1


Tangan Ibra terulur menggenggam tangan Dee yang terbebas dari infus. "Sayang, bangun ya. Disini ada aku dan anak-anak kita yang menunggu kamu, Sayang. Jangan hanya diam, Sayang. Ayo jawab perkataan ku, Sayang," ucap Ibra memandang sendu wajah istrinya.


Ibra mencium punggung tangan Dee. Setitik air mata Ibra mengenai tangan Dee yang terasa dingin. "Sayang, ayo kita gantian, biar aku yang terbaring lemah disini. Kamu harus hidup buat anak-anak kita. Kamu harus bangun, ya," ucap Ibra dengan suara bergetar.


Ibra bangun dari duduknya dan sedikit membungkukkan badan. Bibir Ibra menyentuh dahi Dee yang terbalut perban. Setelah itu Ibra mengecup setiap wajah istrinya. Tidak ingin Dee terganggu, Ibra keluar dari ruangan untuk menemui Al dan Adam.


"Abi," panggil Al ketika melihat Ibra keluar.


"Iya, Nak," ucap Ibra berusaha tersenyum.


"Al mau lihat Umi," ucap Al.


Ibra mengangguk. "Mau Abi temani?" tanya Ibra.


Al menggeleng. "Al mau sendiri, Abi," ucap Al.


Ibra mengangguk. Setelah itu Al berjalan memasuki ruangan Dee.


"Kau tidak masuk Gala?" tanya Ibra kepada Adam.


Ibra mengangguk dan ikut mendudukkan tubuhnya di sebelah Adam. Tadi mereka sudah memasuki ruangan Kevin, Sofia, Zahra dan Kiyai Rozak. Ibra sengaja meminta agar ruang perawatan mereka bersebelahan, agar lebih mudah untuk mengunjunginya.


.....


Al berdiri di sebelah ranjang Dee. Mata Al memanas melihat Umi yang selalu rewel, Umi yang selalu menyemangati, Umi yang selalu memberinya perhatian kini terbaring lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Tangan mungil Al menggenggam tangan Dee. "Umi," panggil Al dengan suara bergetar.


"Kenapa Allah selalu memberi ujian kepada kita, Umi? Kenapa selalu kita yang menerima kesedihan? Umi selalu bilang Allah sayang sama kita kan. Tapi kenapa Allah malah membuat Umi sakit? Apa kebaikan dan kesabaran kita masih kurang, Umi? Apa Allah menghukum Umi karena Al nakal, Umi?" ucap Al menangis.


"Umi, apa ini hukuman karena Al telah meminta mereka semua mencium kaki adik-adik Al, Umi. Apa permintaan Al itu tidak sopan, Umi? Apa Al salah Umi? Tolong jawab Al Umi. Kalau Al salah, harusnya Allah menghukum Al kan. Kenapa Umi yang harus merasakannya. Bangun, Umi, hiks," tangis Al kepada Dee.


Tanpa Al sadari, Ibra mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya dari ambang pintu. Tadinya Ibra hendak mengambil ponsel yang tertinggal di ruangan Dee, namun langkahnya terhenti karena mendengar segala perkataan Al.


"Boy," panggil Ibra lirih.


Al berbalik badan dan menghapus air matanya. "Iya, Abi," jawab Al.

__ADS_1


"Jangan menyalahkan Allah, Boy. Jangan pernah mempertanyakan takdirnya, karena Allah tahu mana yang terbaik untuk setiap hambanya, Boy," ucap Ibra.


"Termasuk keadaan Umi, Abi?" tanya Al sendu.


Ibra hanya mengangguk dan membawa tubuh Al ke dalam dekapannya.


"Abi, Al mau ke ruangannya Pak Rozak," ucap Al.


"Abi antar?" tanya Ibra.


Al menggeleng. "Al bisa sendiri, Abi," jawab Al.


Ibra mengangguk. Setelah itu Al memasuki ruangan Kiyai Rozak melalui pintu yang yang menghubungkan ruangan Dee dan Kiyai Rozak.


Dengan perlahan Al berjalan mendekati ranjang Kiyai Rozak. Di sana, Al dapat melihat tubuh tua itu terbaring lemah tak berdaya, sama seperti Uminya.


"Bapak, bangun lah. Al disini ingin berbicara dengan Bapak," ucap Al.


Al memandang lekat wajah Kiyai Rozak. "Pak, bangunlah. Al ingin minta maaf atas kesalahan Al yang sudah berani meminta Bapak mencium kaki adik-adik, Al. Bangun lah dan katakan Bapak memaafkan Al. Maafkan Al, jika memang Al salah, bangun lah dan katakan kalau Al salah. Al tidak mau karena kenakalan Al, Umi harus membayar semuanya," ucap Al sendu.


Air mata anak itu kembali menetes. Dia akan melakukan apapun untuk Uminya.


Al mengusap kasar air matanya, setelah itu kembali memandangi Kiyai Rozak. "Bapak, ayo bangunlah. Al, Al akan mencoba mengikhlaskan semuanya, Pak. Tapi bangunlah, setidaknya untuk Umi Al, Pak," ucap Al menangis dengan kepala yang dia sandarkan di ranjang Kiyai Rozak.


Saat Al menangis dengan menelungkup kan wajahnya di kedua lipatan tangannya, dia merasakan usapan lembut di kepalanya. Al mengangkat kepalanya. "Ba-Bapak."


......................


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman 🙏🤗


Hai teman-teman, aku ada rekomendasi novel yang bisa jadi bacaan yang sangat menarik buat kalian.




Jangan lupa mampir di sana, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak juga. TERIMAKASIH 😍🤗🌹

__ADS_1


__ADS_2