Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 158


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Al mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Tangannya menggenggam erat stir mobil, meluapkan segala emosi yang dia tahan.


Sepuluh menit di perjalanan, Al sampai di rumah. Dengan tergesa-gesa, Al memasuki rumah.


"Abang," panggil Kina yang melihat Al masuk rumah dengan berlari kearah kamar tamu.


Al menoleh. Dia melihat Kina dan Bella yang sedang duduk bersama di depan televisi. Dengan langkah pasti Al menghampiri mereka.


"Adek, Abang pinjam Kak Belanya sebentar, ya. Ada hal penting yang harus Abang bicarakan," ucap Al.


Kina mengangguk patuh. Dia tidak berani membantah melihat wajah serius Abangnya.


"Ikut aku, Bella," ucap Al dan langsung berjalan keluar rumah.


"Kakak bicara sama Al dulu, ya," pamit Bella pada Kina.


Kina mengangguk disertai senyum manisnya. Bella bangun dari duduknya dan mengikuti langkah panjang Al.


Al memasuki mobil dan diikuti Bella.


"Kita akan kemana, Al?" tanya Bella. Al hanya diam tidak menjawab perkataan Bella.


Hingga dirasa mobilnya sudah cukup jauh dari rumah, Al menepikan mobilnya.


"Bacalah," ucap Al memberikan map yang tadi dia terima dari Ibra kepada Bella.


Dengan ragu Bella menerima map tersebut. "Apa ini Al?" tanya Bella.


"Buka dan Bacalah," ucap Al.


Bella dengan perlahan membuka map tersebut. Dengan serius Bella membaca setiap kata yang ada di kertas tersebut.


"Al," panggil Bella lirih.


"Kenapa tidak bersabar menungguku, Runa?" tanya Al.


"Maafkan Aku, Al," ucap Bella.


"Mengapa menyembunyikan semua ini?" tanya Al lagi.


"Maaf, Al. Aku hanya tidak ingin kau melihatku dalam keadaan seperti ini, Al," ucap Bella sendu.


"Andai kamu jujur dari dulu, mungkin tidak akan seperti ini, Runa. Kamu memilih mengikuti manusia daripada Tuhanmu sendiri," ucap Al.


"Maaf, Al," ucap Bella menunduk tidak berani melihat Al.


"Semakin sulit untuk kita bersama, Runa. Ternyata penantianku selama ini sia-sia. Kesabaranku mencarimu kini telah usai. Tapi apa, aku kecewa, Runa," ucap Al.

__ADS_1


"Al, aku melakukan ini karena aku mengharapkan kasih sayang Papaku, Al," ucap Bella.


"Kamu mengharapkan kasih sayang Papamu dengan membuat Allah membenci perbuatanmu, Runa? Bukannya bahagia tapi hidup kita tidak akan pernah tenang, Runa," ucap Al.


"Aku tahu aku salah, Al. Aku tahu aku berbohong mengenai kepercayaanku. Tapi aku punya alasan, Al," ucap Bella dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Tidak ada pembenaran untuk seorang muslim yang murtad, Runa," ucap Al tegas.


Al memejamkan mata sebentar, mencoba untuk menenangkan emosinya.


"Aku tidak berhak menghakimi. Kepercayaan itu adalah hak dari setiap manusia. Jika itu pilihanmu, aku tidak memaksa. Karena dalam agamaku, damai itu lebih diutamakan," ucap Al.


Bella mencoba meraih tangan Al yang masih mencengkram erat stir mobil.


"Jaga batasan, Runa!" ucap Al tegas menghentikan pergerakan Bella.


"Tidak adakah kesempatan untuk aku meraih hatimu kembali, Al?" tanya Bella sendu.


"Aku bukan siapa-siapa yang berhak memberimu kesempatan," ucap Al.


"Aku bisa kembali pada agama ku dulu, Al," ucap Bella.


"Kepercayaan bukan untuk dipermainkan, Runa!" ucap Al tegas.


"Hiks, sekeras ini hatimu Al," ucap Bella pilu.


"Bersiaplah, besok aku akan mengantarmu kembali ke Inggris. Kau lebih baik di sana dengan kehidupanmu," ucap Al.


Bella menggeleng kuat. "Kamu boleh membuangku kemanapun, Al. Tapi jangan bawa aku kembali ke Inggris," ucap Bella memohon dengan pilu.


Al menulikan pendengarannya. Rasa kecewanya membuat dia tidak bisa berpikir jernih. Dengan segera Al kembali menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah.


Lima menit, mobil Al kembali ke rumahnya. Tanpa menghiraukan Bella, Al turun dari mobil dan masuk rumah dengan sedikit berlari. Bella hanya memandangi Al yang menghilang dengan tatapan sendu. Dengan kasar Bella menghapus air matanya agar tidak terlihat. Dirasa cukup, Bella turun dari mobil dan menyusul masuk rumah.


.....


Waktu magrib telah selesai. Al melipat sajadah yang dia gunakan dan meletakkannya di gantungan sajadah dan sarungnya.


Al berjalan ke arah balkon. Memandangi taman belakang rumah yang sangat terawat oleh Uminya.


"Andai kamu tidak berbohong, Runa. Sudah sejak lama kita bersama," gumam Al pelan.


Saat asik dengan lamunannya, Dee datang memasuki kamar Al.


"Abang," panggil Dee.


"Al di balkon, Umi," ucap Al setengah berteriak.


Dee berjalan menuju balkon untuk menemui Al.

__ADS_1


"Al, siap-siap, gih. Nanti ada tamu yang datang," ucap Dee.


"Siapa, Umi?" tanya Al.


"Keluarganya Kinzi dan Kenzo. Sekalian merayakan kerja sama perusahaan Abi sama perusahaan keluarga mereka," ucap Dee.


Al mengangguk mengiyakan perkataan Uminya.


"Yasudah, sana siap-siap. Sebentar lagi mereka datang," ucap Dee.


"Iya, Umi," ucap Al segera pergi untuk bersiap-siap.


.....


Kini ruang tamu kediaman Ibra nampak sangat ramai. Dua keluarga itu nampak bercengkrama. Bella yang merasa tak enak akhirnya pamit kepada Dee untuk membuatkan minum.


"Umi, Biar Bella buatkan minum dulu, ya," ucap Bella.


"Sudah ada pelayan, Nak," ucap Dee.


"Tidak Apa, Umi. Bella permisi, Umi," ucap Bella segera pergi ke dapur.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Al. Dia memang ngobrol dengan Kenzo, Kinzi dan Kina, tapi matanya tak lepas dari Bella.


Bella memegang dadanya yang terasa sesak melihat Al yang sangat dekat dengan gadis berhijab yang sangat cantik tadi. Yang Bella ketahui namanya adalah Kinzi.


"Dia lebih segalanya dari aku. Haruskah aku tahu diri dan mulai melupakan harapanku?" gumam Bella pelan.


"Keluarganya lengkap, harmonis, dia juga berhijab dan menutup auratnya. Sedangkan Aku?" gumam Bella melihat dirinya sendiri.


Tidak ingin ketahuan dengan kesedihannya, Bella segera membantu pelayan membuat minuman. Sepuluh menit, minuman sesudah selesai. Bella memegang salah satu nampan berisi beberapa gelas jus dan cemilan. Sedangkan sisanya dibawa oleh pelayan.


Dengan hati-hati, Bella berjalan menuju ruang tamu. Badan Bella rasanya tidak bertenaga mendengar pembicaraan mereka di ruang tamu. Dengan sekuat tenaga Bella berjalan mendekat.


Saat memindahkan jus dari nampan ke meja, air mata Bella jatuh sudah ketika mendengar pembicaraan orang tua Kinzi.


"Bagaimana dengan perjodohan Kinzi dan Al, Pak Ibra?" tanya Anggara, Papa Kinzi dan Kenzo.


Dengan cepat Bella menghapus air matanya. Dengan tangan sedikit gemetar Bella meletakkan gelas berisi jus tersebut.


"Hati-hati, Nak," ucap Dee ketika gelas tersebut hampir jatuh dari tangan Bella.


"Maaf, Umi," ucap Bella pelan tanpa melihat Dee. dia takut Dee akan melihat matanya yang merah.


"Saya menyerahkan urusan perjodohan itu sama anak saya sendiri, Pak Anggara. Itu mengenai masa depan mereka. Hanya dia yang berhak menentukan," ucap Ibra menjawab.


"Bagaimana menurutmu, Al?"


......................

__ADS_1


__ADS_2