
🌹HAPPY READING🌹
Kini mereka semua berlarian di lorong Rumah Sakit. Dee melihat sekretaris Ibra yang sedang duduk di kursi tunggu depan UGD langsung menghampirinya.
"Bagaimana suami saya?" tanya Dee khawatir tanpa mengucap salam atau apapun terlebih dahulu.
Bagas yang merupakan sekretaris Ibra hanya diam dan menggeleng. Al yang melihat itu langsung menghampiri Bagas.
"Bagaimana Abi saya?" tanya Al tegas.
"Pak Ibra masih ditangani Dokter di dalam," jawab Bagas dengan raut wajah yang sama panik.
Dee hanya bisa terduduk lemas di kursi tersebut. Baru kemarin malam dia berbicara mesra dengan sang suami, dan kini dia harus menerima berita yang tidak mengenakan ini. Sungguh, rasanya Dee tidak bisa hidup tanpa Ibra.
Kina yang melihat Uminya langsung mendekati dan memeluk Dee. "Umi," ucap Kina dengan suara bergetar. Sedangkan Zahra sudah menangis dipelukan Sofia. Naina dan Bram berdiri didepan jendela kaca UGD. Namun nihil, mereka tidak bisa melihat apa-apa karena kaca UGD yang kabur.
Tak berselang lama, pintu UGD terbuka. Seorang Dokter dengan menggunakan masker keluar dari sana.
"Apakah disini ada yang bernama Nyonya Haidee?" ucap Dokter tersebut tanpa melepas maskernya.
Dee langsung melepaskan pelukan Kina dan dengan kasar menghapus air matanya. "Saya. Saya Haidee, istrinya Ibra," ucap Dee cepat.
Dokter tersebut menghela nafas pelan sebelum membuka suaranya kembali. "Maaf, Bu. Dengan berat hati kami sampaikan-"
"Enggak!" jerit Dee dengan tangisnya.
"Suami saya masih hidup. Kemarin malam dia sudah berjanji kepada saya bahwa dia akan tetap hidup selagi saya masih hidup!" teriak Dee tak terima.
"Umi," ucap Kina memeluk Dee.
"Tapi inilah kenyataannya, Nyonya. Anda bisa masuk kedalam untuk memastikan apa yang saya ucapkan," ucap Dokter tersebut.
Dee langsung menerobos masuk dan sedikit mendorong badan Dokter tersebut. Dokter tersebut hanya bisa pasrah dan memandangi satu persatu anggota keluarga Dee yang masih tercengang dengan apa yang mereka dengar.
Dee berhenti di ambang pintu. Langkahnya terhenti ketika melihat tubuh yang sudah ditutupi kain putih itu.
Dee merosot kelantai melihat ini semua. Tangisnya semakin pecah melihat lelaki yang sangat dia cintai harus terbaring tanpa nyawa dibalik kami putih itu.
"Mari saya bantu, Nyonya," ucap salah satu suster yang ada di sana.
Dengan langkah gemetar Dee berjalan mendekat seorang diri.
"Suster, itu bukan suami saya, kan?" tanya Dee seperti orang linglung.
Suster tersebut hanya diam dengan langkah yang terus menuntun Dee untuk mendekat.
Langkah Dee terhenti ketika dia sudah berada di samping tubuh yang tertutup kain putih tersebut.
Tangan gemetar Dee terangkat untuk membuka penutup bagian kepala. Dengan perlahan, dahi pemilik tubuh itu mulai terlihat. Dee menajamkan matanya tak sanggup melihat kenyataan didepan matanya.
__ADS_1
"Hiks, hiks, Mas Ibra, hiks," tangis Dee pecah melihat wajah Ibra yang sangat tampan seperti orang tertidur.
"Mas, bangun! Kamu janji untuk tidak pergi selagi aku masih hidupkan, hiks. Mas Ibra!" tangis Dee memeluk erat tubuh Ibra.
Dee memandangi wajah tampan Ibra dengan penuh air mata. Bahkan air matanya sudah mengenai sebagian pipi Ibra. Dee mencium setiap inci wajah Ibra dengan penuh kasih dan cinta. "Kamu harus bangun," lirih Dee disela-sela kegiatannya.
Terakhir Dee mengecup bibir Ibra dengan sangat lama. "Mas, aku cinta kamu. Bangun yuk. Jangan kayak gini. Aku janji, kalau kamu bangun aku akan berikan apapun, Mas. Apa yang kamu minta pasti aku kasih. Kamu pernah bilang mau punya anak lagi kan? Ayo bangun, Mas. Kita buat anak kita, Mas. Ayo kita kasih anak-anak kita adik, Mas. Bangun Mas, Bangun," ucap Dee lirih.
Dee memeluk erat tubuh Ibra dan menempelkan pipinya dengan pipi Ibra. Rasanya dia ingin ikut saja dengan Ibra untuk meninggalkan dunia ini.
"Selamat hari pernikahan, Sayang."
DEG
Jantung Dee rasanya ingin keluar saat ini juga dari sarangnya. Dee mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ibra yang kini sedang tersenyum tanpa dosa kearahnya.
Dee menampar pipinya sekali. Sakit, ternyata ini nyata. Dee mengedarkan pandangannya. Dee menoleh kebelakang dan melihat semua keluarganya sedang berdiri disana dengan kue besar yang ada di sebuah troli yang di dorong oleh Bella. Termasuk Dokter tadi dan juga sekretaris Ibra.
"SELAMAT HATI PERNIKAHAN ABI, UMI," teriak mereka semua dengan sangat bahagia. Jangan lupakan senyum mengembang dibibir mereka semua.
Dee menganga tidak percaya dengan semua ini. Seperti orang linglung, Dee hampir terjatuh kelantai jika tangan Ibra tak menahan pinggangnya.
Tangis Dee semakin pecah. Entah itu karena malu atau kesal dan juga senang. Dee menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk meredam suara tangisnya.
"Hiks, jahat," ucap Dee dalam tangisnya.
Ibra tersenyum dan memeluk tubuh Dee yang bergetar karena menangis. Ibra memberi kode kepada semua keluarganya untuk mendekat.
"Sayang," panggil Ibra lembut kepada Dee.
Dee hanya diam dan tetap menangis. Ibra membuka tangan yang menutupi wajah Dee. Dan terlihatlah wajah Dee yang sudah sembab dan hidung yang sudah memerah karena menangis.
"Jahat, jahat, jahat!" ucap Dee kesal memukul-mukul Dada Ibra.
"Kejutan Sayang," jawab Ibra.
"Kamu jahat tahu nggak. Kalau tadi aku jantungan gimana? Kalau tadi aku beneran gila gimana? Kalau tadi aku hilang akal dan bunuh diri untuk menyusul kamu gimana, Mas?" ucap Dee kesal.
Setelah itu Dee menatap satu persatu keluarganya yang tersenyum tanpa dosa kepadanya. "Kalian juga. Jika tadi Umi ikut mati gimana? Kalian semua jahat sama Umi. Kak Kevin dan Om Bram juga keterlaluan ikut. Pokoknya kalian semua keterlaluan!" ucap Dee marah dan berjalan meninggalkan mereka.
Ibra dengan sigap mengejar Dee dan menahan pergelangan tangannya. "Sayang, aku tahu kamu nggak akan jantungan karena kamu nggak punya riwayat jantung. Kamu nggak akan gila karena kamu memiliki akal sehat yang selalu bersih dan murni. Kamu tidak akan bunuh diri karena aku percaya atas keyakinan kamu sama agama kita. Aku hanya ingin kasi kejutan, Sayang," ucap Ibra mencoba menjelaskan.
"Tapi nggak kayak gini juga. Aku takut banget tahu nggak," ucap Dee bergetar menahan tangisnya yang akan kembali keluar.
Ibra membawa tubuh Dee kedalam dekapannya dan memeluk istrinya itu erat tanpa memperdulikan keluarga dan beberapa suster yang ada disana. Mereka semua ikut terharu melihat bagaimana Dee dan Ibra yang begitu saling mencintai.
Saking cintanya, Ibra membayar satu rumah sakit ini agar memberinya izin untuk melaksanakan rencananya. Ibra sengaja tidak menggunakan rumah sakit milik keluarganya karena itu pasti akan membuat Dee heran. Arah rumah sakit keluarga Ibra dan kantornya sangat bertolak belakang.
Al dan Bella berjalan sambil mendorong troli mendekati Dee dan Ibra. "Selamat ulang tahun pernikahan, Umi, Abi," ucap Al dan diikuti senyuman oleh Bella.
__ADS_1
Dee dan Ibra melepas pelukannya dan melihat kue dengan angka 25 diatasnya. Dee mendekati Al dan Bella. "Kalian juga nakal," ucap Dee dengan nada merajuknya.
Dee dan Bella terkekeh melihat Dee. "Karena kami sayang Umi," ucap Al dan Bella.
Dee memeluk anak dan menantunya itu dan mengucapkan terimakasih. "Doakan Al dan Bella memiliki cinta sekuat Abi dan Umi," ucap Al.
Dee menggeleng. "Umi berharap kalian tidak melalui ujian seperti Abi dan Umi. Itu sangat menyakitkan. Hiasi hubungan kalian dengan tawa dan cinta, ya," ucap Dee.
Al dan Bella mengangguk dengan senyum manis mereka.
"Umi," panggil Kina dan Zahra.
Dee menoleh pada dua anak gadisnya itu. "Kalian benar-benar aktris yang sangat pandai. Padahal tadi diluar kalian ikut menangis kejar seperti Umi," ucap Dee pura-pura kesal pada Zahra dan Kina.
Zahra dan Kina saling pandang, hingga mereka menunjukkan kartu yang ada ditangannya kepada Dee. "Demi ini, Umi," ucap Zahra dan Kina.
"Kalian dibayar Black Card oleh Abi?" tanya Dee tak percaya.
Zahra dan Kina mengangguk dengan antusiasnya. "Benar-benar nakal," ucap Dee memeluk.mereka secara bergantian.
Selanjutnya Kevin, Sofia, Naina dan Bram ikut memberi selamat kepada Dee dan Ibra atas ulang tahun pernikahan mereka.
Jangan pernah menghilangkan sebuah kepercayaan dalam Rumah Tangga. Karena cinta kita akan terasa lebih indah dengan kepercayaan tersebut. Hargai istrimu dan jadikan dia ratu, kelak dia akan memperlakukanmu bagai dewa. Karena sekali kau memberi senyum, seumur hidup wanita memberimu cinta. Sekali kau memberinya luka, seumur hidup dia tak akan sama. Aku beruntung memiliki istriku, Demi Tuhan aku sangat mencintainya, Haidee Tsabina. (Ibrahim Rubino Hebi).
Jadilah wanita berakhlak. Jadilah istri yang mulia. Jadilah istri yang membuat suamimu beruntung memilikimu. Satu hati yang kau berikan padanya, akan membuatmu mendapat ketulusan seumur hidup. Jadikan dia raja dalam hidupmu, makan akan dia jadikan kau bidadari di dunianya. Hatiku telah terpaut pada suamiku. Aku mencintaimu, suamiku, Ibrahim Rubino Hebi. (Haidee Tsabina).
Jangan menilai manusia lebih baik darimu. Jangan mendahului Tuhan dalam melaksanakan tugasnya. Karena kamu bisa lebih hina dari hamba yang kau cela karena satu kesalahannya hingga melupakan seribu kebaikannya. Jangan seperti aku yang menghina wanita yang aku cintai. Bahkan jika aku berpikir jernih, derajatnya mungkin lebih tinggi daripadaku. (Albarra Gavino Hebi).
Apapun masalahmu, jangan pernah tinggalkan Sang Pencipta. Seberat apapun beban yang kau pikul, jadikan sajadah sebagai tempatmu bersandar, jadikan Bumi tempatmu berbisik, jadikan langit sebagai pendengar, dan biar Allah yang menjadi penyebab terkabulnya segala semogamu. Berharap lah hanya pada Allah, jangan seperti aku yang terlalu berharap kepada manusia, karena bukannya bahagia, kita akan mendapatkan rasa sakit dan luka. Dan satu hal yang pasti, Allah tidak mengizinkan aku menjadi Khadijah dan Fatimah dalam urusan cinta, tapi dia mengizinkan aku menjadi Zulaikha, mengejar cinta Sang Pencipta. (Arabella Aruna Azzahra).
......................
Sedikit Syair Hakikat Wanita
Kupikir wanita itu bodoh bila ia berlagak bahwa mereka setara pria.
Wanita harusnya jauh lebih hebat, sudah sejak dulu demikian. Apapun yang kau berikan pada wanita, ia akan memberimu lebih besar.
Kau beri ia setetes mani, ia akan memberimu bayi.
Kau beri ia bangunan, ia akan memberimu rumah tangga.
kau beri dia belanjaan, ia memberimu makanan.
Kau beri dia senyuman, ia akan memberikanmu hatinya.
Ia akan melipat gandakan apa yang kau berikan. Jadi, jika kau memberinya sampah, maka bersiaplah menerima satu ton Kotoran.
~William Golding~
__ADS_1
......................
...E N D...