
🌹HAPPY READING🌹
Kini Ibra berada di ruang kerjanya bersama Wijaya. Mereka berdua duduk berhadapan di sofa ruang kerja Ibra. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ini adalah waktu yang tepat untuk mereka berbicara berdua.
"Ini, Pa," ucap Ibra menyodorkan selembar foto yang tadi dia dapatkan dari Kevin.
Wijaya menatap foto itu lekat. Di dalam foto, dia dapat melihat seorang wanita cantik dengan hijab syar'i nya.
"Darimana kamu mendapatkan foto ini, Ibra?" tanya Wijaya.
Ibra pun menceritakan bagaimana Kevin bisa bertemu dengan Kiyai Rozak di rumah sakit. Hingga akhirnya Kiyai Rozak memberikan foto itu kepada Kevin untuk disampaikan kepada Ibra.
"Maafkan, Papa. Andai Papa tidak ceroboh, maka semua ini tidak akan terjadi, Nak," ucap Wijaya menyesali perbuatannya.
"Aku harus bagaimana, Pa?" ucap Ibra mengusap kasar wajahnya.
"Dee sedang hamil, dan kandungannya masih lemah. Tidak mungkin baginya untuk mendengar semua ini. Aku tidak sanggup jika harus kembali menyakiti hati istriku," ucap Ibra sendu.
Wijaya diam mendengar semua keluh kesah anaknya. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Semua terjadi dengan begitu mengejutkan. Ini semua kelalaian mereka yang melupakan keadaan wanita tersebut.
"Besok Papa akan ke Pesantren untuk menemui Kiyai Rozak. Beliau pasti akan mengerti jika Papa yang berbicara," ucap Wijaya memberi solusi.
"Apa Kiyai Rozak akan menerima semuanya, Pa?" tanya Ibra ragu.
"Kita tidak akan tahu jika kita belum mencoba, Ibra. Minta Kevin untuk datang pagi-pagi, biar dia bisa sarapan disini dan ikut Papa untuk pergi ke pesantren," ucap Wijaya.
Ibra mengangguk, dia hanya menuruti apa yang dikatakan Papanya. Sungguh, pikirannya kini tidak bisa berfikir jernih. Bayangan air mata Dee dan anaknya memenuhi benak Ibra. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan Abi, Nak," ucap Ibra menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Wijaya yang melihat anaknya seperti itu dapat merasakan bagaimana kegelisahan Ibra.
"Mas," panggil Dee yang sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Ibra.
Ibra dan Wijaya menoleh kaget ke arah pintu ketika mendengar suara Dee.
"Sayang," ucap Ibra seraya berdiri mendekati Dee. "Sejak kapan kamu disini?" lanjut Ibra setelah sampai didepan Dee.
"Baru, Mas. Adek tadi habis dari dapur ambil minum," ucap Dee mengangkat gelas yang ada di genggamannya.
"Kenapa nggak tunggu aku dulu?" tanya Ibra.
Dee menggeleng. "Tadi waktu Adek bangun, Mas nggak ada. Jadi Adek ke dapur sendiri. Waktu mau balik ke kamar Adek lihat lampu ruang kerja Mas menyala. Makanya Adek samperin," ucap Dee menjelaskan kronologi bagaimana dia sampai di ruang kerja Ibra.
"Maaf, ya. Tadi aku sedikit kerjaan sama Papa," ucap Ibra menoleh kepada Wijaya yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Mama sudah tidur, Pa?" tanya Dee melihat kepada Wijaya.
Wijaya tersenyum kepada menantunya. "Sudah, Nak," jawab Wijaya.
"Yuk, Sayang, kita ke kamar. Pa, aku sama Dee duluan," ucap Ibra pamit kepada Wijaya.
Wijaya tersenyum dan mengangguk kepada Ibra. Setelah itu Ibra merangkul istrinya dan membawanya kembali ke kamar.
"Lindungi rumah tangga anakku, Ya Allah," gumam Wijaya menatap kepergian anak dan menantunya.
.....
Sesuai perintah Ibra kemaren malam, Kevin datang pagi-pagi ke rumah Ibra untuk pergi ke Pesantren menemani Wijaya menemui Kiyai Rozak.
"Udah datang Lo, Vin?" tanya Ibra yang baru turun bersama Dee ketika melihat Kevin yang sudah duduk di meja makan bersama Wijaya, Reina dan Al.
"Uncle Kevin ngapain pagi-pagi udah kesini?" tanya Al yang heran dengan kedatangan Kevin.
"Numpang sarapan, Boy," jawab Kevin.
"Makanya nikah, Om. Biar kayak Umi sama Abi, ada yang ngulusin," celetuk Al menasehati Kevin bagaikan orang dewasa.
Ibra dan Al bertos ria setelah mengejek Kevin. "Jodoh Om lagi on the way, Al," ucap Kevin membela diri.
"Emang Al tahu pedang apa?" tanya Kevin. Dia berharap Dee akan memarahi Ibra.
"Entah. Coba tanya Abi. Kan Abi yang bilang," jawab Al polos.
Sedangkan Ibra yang sudah mendapatkan tatapan mengerikan dari istrinya hanya mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengah ya membentuk huruf V. "Hehe, itu namanya ilmu, Sayang," ucap Ibra.
"Ngomong sama anak itu yang benar, Mas. Karena dia meniru dari orang tuanya," ucap Dee menasehati Ibra.
"Iya maaf, Sayang," ucap Ibra. Kevin tersenyum mengejek melihat Ibra yang diomeli oleh Dee. Setelah itu mereka melanjutkan sarapan bersama. Wijaya selalu setia menyuapi Reina bergantian dengan dirinya. Terapi yang dijalani Reina berdampak baik untuk perkembangan saraf motoriknya.
Saat sedang asik menikmati sarapannya, suara bel berbunyi. Mereka semua menghentikan kegiatan sarapannya.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" tanya Wijaya ketika mendengar suara bel.
"Bial Al yang buka Kakek," ucap Al.
"Biar Umi, Nak. Al lanjut sarapan, ya. Nanti sarapannya tambah lama," ucap Dee menahan Al yang hendak beranjak dari kursi.
__ADS_1
"Iya, Umi," ucap Al mengangguk patuh dan melanjutkan sarapannya.
Dee beranjak dari meja makan dan berjalan untuk membuka pintu depan.
Saat pintu terbuka, Dee melihat seorang wanita cantik lengkap dengan jilbab syar'i nya yang berdiri dengan sebuah tas besar di sebelahnya. Dee sempat terdiam sebentar mengagumi wajah wanita di depannya ini.
"Assalamu'alaikum," ucap lembut Wanita tersebut membuyarkan lamunan Dee.
"Eh, waalaikumsalam," jawab Dee.
"Maaf, mencari siapa, ya?" lanjut Dee pada seorang wanita cantik yang ada didepannya. Karena dia belum pernah melihat wanita ini sebelumnya.
"Apa benar ini kediaman Ibrahim Rubino Hebi?" tanya wanita tersebut dengan lembut.
Dahi Dee berkerut mendengar wanita tersebut menyebut nama suaminya. "Ya, benar. Ini rumahnya Ibrahim Rubino Hebi," jawab Dee.
"Syukurlah," ucap wanita itu senang.
"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu ada keperluan apa dengan Ibrahim?" tanya Dee penasaran.
Wanita tersebut tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri kepada Dee.
"Maaf menganggu waktunya. Perkenalkan, saya-"
"Siapa, Sayang?" tanya Ibra memotong ucapan wanita tersebut yang datang dari meja makan bersama Kevin, Wijaya dan Al yang berada di gendongan Wijaya.
"Ini, Mas," ucap Dee menunjuk wanita di depannya.
DEG
DEG
DEG
Jantung tiga orang pria dewasa itu seakan ingin keluar dari raganya saat melihat wanita yang ada di di sana.
......................
Author deg-degan sumpaaaah!!!!!
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk baca Novel aku "MEMAKSA CINTA" terimakasih 😍😍🌹