
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian Polisi mendatangi rumah Ibra. Itu berarti sudah tiga hari pula Naina masih berada di tempat hukumannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah selesai melaksanakan sholat magrib, Ibra mengajak anak dan istrinya untuk ke rumah sakit menjenguk Mamanya.
"Udah siap, Sayang?" tanya Ibra yang duduk di kasur sambil bermain ponsel. Menunggu istrinya yang masih memasang hijab.
Tidak sampai tiga puluh detik, Dee selesai menggunakan hijabnya. "Udah, Mas," ucap Dee berbalik menghadap Ibra.
"Cantik banget sih. Istrinya siapa coba?" ucap Ibra menggoda istirnya.
"Istrinya Mas Ibra yang ganteng," balas Dee dengan nada centilnya.
"Istri aku udah bisa centil, ya," ucap Ibra memeluk erat pinggang Dee hingga tubuh mereka berdempetan.
Dee dengan berani mengalungkan tangannya di leher Ibra. Dia mendongak menatap Ibra yang lebih tinggi darinya. "Istri centil di depan suami itu pahala, tau," ucap Dee.
"Iya, iya. Apalagi kalau centil di ranjang, pasti tambah banyak pahalanya," goda Ibra.
Dee malu. Wajahnya merona mendengar godaan suaminya. "Mas, ih. Udah yuk, berangkat," ucap Dee mengalihkan pembicaraannya.
"Cie malu," ledek Ibra.
"Ih, Mas," rengek Dee manja sambil membenamkan kepalanya di dada Ibra.
Ibra memeluk erat tubuh Dee. Rasa cinta semakin besar kepada istrinya ini. Setelah itu Ibra melonggarkan pelukannya dan memandang lekat wajah istrinya. "Kayak gini terus sama aku, ya. Manjanya cuma boleh sama aku, jangan sama yang lain," ucap Ibra menatap dalam mata Dee.
Dee tersenyum dan mengangguk mendengar penuturan Ibra. "Hidup Adek udah untuk kamu, Mas," ucap Dee tulus.
"Jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi. Kamu adalah nadi dalam rumah tangga kita. Jika kamu nggak ada, aku dan Al harus hidup bagaimana? Kedua tanganku belum cukup merawat anak kita tanpa bantuan seribu tangan dari Ibunya," ucap Ibra lembut. Rasanya dia tak akan sanggup jika harus kehilangan wanita yang ada di dekatnya ini. Hidup dan nyawanya seakan dipegang oleh wanita yang mengisi hatinya ini.
Dee tersenyum senang. Matanya berkaca-kaca mendengar penuturan Ibra. "Aku nggak akan kemana-mana. Aku nggak akan pergi kecuali Allah yang berkehendak. Aku nggak akan berpaling dari kamu, kecuali jika kematian sudah meminang aku. Aku bisa apa?" ucap Dee.
Ibra menggeleng, "Aku akan meminta kepada Allah agar mencabut nyawa aku lebih dulu. Agar aku bisa menyambut kedatangan kamu dan anak-anak kita nanti di surga-Nya. Dan menggiring kalian masuk sebagai kepala keluarga," ucap Ibra menatap lekat Dee.
__ADS_1
Dee hanya tersenyum mendengar perkataan tulus Ibra. Dia merasa sangat dicintai sekarang. "Mas tahu, sekarang Adek merasa seperti Khadijah yang sangat dicintai oleh Rasulullah."
"Jangan samakan kita seperti Nabi dan Khadijah, sayang. Tidak ada yang menandingi cinta Rasulullah. Aku hanya pria akhir zaman yang mencintai istriku setulus hati. Jiwa dan ragaku taruhan cintaku untuk mu," ucap Ibra dengan memberikan ciuman manis yang cukup lama di dahi Dee.
Dee sudah tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Dia sangat senang, mendengar setiap ucapan romantis yang keluar dari mulut suaminya. Ternyata benar perkataan orang, bahwa wanita akan menjadi ratu jika berada ditangan pria yang tepat, pikir Dee.
"Ya sudah, kita ke bawah, ya. Kasihan Al udah nungguin," ucap Ibra setelahnya. Ibra bisa membayangkan bagaimana wajah kesal Al karena menunggunya dan juga Dee.
Dee mengangguk. Setelah itu mereka turun dengan jari tangan yang saling bertautan.
Sedangkan di ruang keluarga, Al menekan-nekan remote TV karena bosan menunggu Abi dan Uminya yang tengah bersiap-siap.
"Umi sama Abi kenapa lama, sih?" ucap Al dengan wajah bete nya melihat kedatang Ibra dan Dee.
Ibra mendekati Al dan menggendong anak itu. Ibra mendekatkan mulutnya ke telinga Al untuk membisikan sesuatu. Wajah Al yang tadinya kesal berubah cerah mendengar bisikan Abinya.
"Benalkah, Umi?" tanya Al kepada Dee setelah mendengar bisikan Ibra.
Dee bingung. "Benar apa, Nak?" tanya Dee heran.
"Al mau punya adik?" tanya Al senang.
Mata Dee melebar mendengar pertanyaan Al. Dia beralih menatap Ibra yang memasang wajah tersenyum penuh kemenangan.
"Let's go, Abi," teriak Al senang mengangkat tangannya ke atas dengan telapak tangan terkepal.
Tiga puluh menit cukup bagi Ibra mengendarai mobilnya ke rumah sakit. Kini mereka sudah turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit. Ibra merangkul pinggang Dee dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lain menahan tubuh Al di gendongannya.
Saat sampai di lorong ruang rawat Reina, Ibra melihat Papanya yang duduk di kursi tunggu.
"Pa, kenapa di luar?" tanya Ibra setelah sampai di dekat Wijaya.
Wijaya membuka matanya mendengar suara Ibra. Posisinya yang tadi bersandar di dinding kini sudah menjadi duduk dengan tegap.
"Mama sudah sadar," ucap Wijaya.
Senyum mengembang terbit di bibir Ibra, Dee dan Al.
"Nenek sudah bangun, Kek?" tanya Al.
Wijaya mengangguk. "Iya, Sayang. Nenek udah bangun," ucap Wijaya tersenyum kepada Al.
Al bersorak senang mendengar jawaban Kakeknya.
__ADS_1
Ibra diam memperhatikan wajah Wijaya. "Tapi kenapa Papa tidak kelihatan senang?" tanya Ibra memicingkan matanya.
Dee yang tadinya tersenyum senang melihat Al kini mengalihkan pandangan ke Papa mertuanya saat mendengar pertanyaan Ibra.
Wijaya menghela nafas sebentar. "Mama lumpuh karena terlalu lama terbaring koma," ucap Wijaya.
"Lumpuh?" tanya Ibra memastikan ucapan Wijaya.
Wijaya mengangguk. Dee juga ikut terkejut mendengar perkataan Wijaya. "Tapi Mama bisa sembuh lagi kan, Pa?" tanya Dee.
"Dokter bilang akan butuh waktu lama. Tapi selagi kita mau berusaha dan selalu support Mama, Mama akan bisa seperti sebelumnya," jawab Wijaya.
"Kita akan selalu dekat Mama, Pa," ucap Dee memberikan energi positif kepada Papa mertuanya.
"Iya, Nak. Kalian nggak masuk?" tanya Wijaya.
"Kamu masuk duluan sama Al, Sayang. Aku mau ngobrol dulu sama Papa," ucap Ibra menyuruh Dee untuk masuk lebih dulu melihat Mamanya.
Dee mengangguk dan mengambil Al dari gendongan Ibra. "Al jalan sendili, Umi," ucap Al menolak saat Dee akan menggendongnya.
"Aku masuk dulu ya, Mas, Pa," ucap Dee pamit pada Ibra dan Wijaya.
"Iya, Nak."
"Iya, Sayang."
Dee dan Al berjalan memasuki ruang inap Raina. Sampainya di dalam, Dee dapat melihat mertuanya yang hanya terbaring dengan mata terbuka memandangi langit-langit kamar.
"Ma," panggil Dee lembut.
Raina yang bisa mendengar seseorang memanggilnya hanya menggerakkan mata menatap Dee. Mata Reina berkaca-kaca melihat Dee yang memanggilnya.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya
Author sayang kalian 🌹🌹😘
__ADS_1