
🌹HAPPY READING🌹
"Saya akan beritahu, tapi jangan libatkan keluarga saya," ucap lelaki tersebut memohon kepada Al.
Al dan Aska tersenyum miring mendengar perkataan lelaki tersebut. Ternyata tidak sulit membuat lelaki ini bicara.
"Dimana?" tanya Al dingin dengan ekspresi yang seketika berubah datar.
"Lantai paling atas gedung ini," ucap lelaki tersebut.
"Apa?" ucap Al dan Aska secara bersamaan. Seolah mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut.
"Iya, Bos tidak pernah meninggalkan gedung ini. Selama ini dia selalu berada di ruangan pribadi miliknya di lantai paling atas. Gedung ini adalah miliknya," ucap Lelaki tersebut.
"Benar-benar sulit dipercaya," ucap Al.
"Antar kami ke sana," ucap Al.
Lelaki tersebut menggeleng. "Saya tidak bisa. Jangan beritahu jika sayang yang mengatakan semuanya pada kalian. Nyawa saya dan keluarga saya bisa terancam jika Bos tahu," ucap Lelaki tersebut memohon.
Al dan Aska saling pandang. Setelah itu mereka saling mengangguk seolah berbicara lewat tatapan.
"Lo bakal bebas setelah gue memastikan semuanya," ucap Al.
Setelah itu Al dan Aska pergi meninggalkan Lelaki tersebut sendirian. Al kembali menutup dan mengunci pintu tersebut. Tidak lupa meletakkan kembali bingkai foto besar untuk menutupinya.
"Kita langsung pergi dengan keadaan seperti ini, Al?" tanya Aska melihat penampilan mereka yang hanya menggunakan pakaian rumahan.
Al mengangguk. "Gue yakin, Papa Runa tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, As," ucap Al.
"Tapi, Al-"
"Lo boleh bawa satu senjata," ucap Al memotong perkataan Aska.
Aska mengangguk. Dia berjongkok tepat di lantai dimana dia berdiri. Setelah itu menekan sebuah tombol yang ada dilantai tersebut. Hingga lantai tersebut terbuka dan memperlihatkan senjata tajam koleksi Al dan Aska. Aska mengambil salah satunya dan menyimpan dibalik bajunya.
Inilah rahasia Al dan Aska yang tidak banyak orang tau. Bahkan Ibra dan Dee tidak tahu bahwa putra yang mereka anggap seperti anak kalem dan tenang merupakan salah satu orang yang suka mengkoleksi senjata berbahaya tersebut. Sama seperti Ibra, Al juga lelaki yang akan sulit menahan emosinya jika menyangkut orang yang dia sayangi.
Beladiri merupakan salah satu keahlian Al yang tidak diketahui Uminya. Sejak masuk SMP, Ibra sudah mengajarkan Al berbagai beladiri, tentu tanpa sepengatahuan istrinya. Karena jika Dee tahu, maka tentu dia akan melarangnya. Berkat Ibra, Alan, Agam dan Adam, Al bisa menguasai berbagai macam teknik beladiri.
"Ayo, As," ucap Al mengajak Aska.
Aska mengangguk dan mereka segera keluar dari apartemen untuk menemui Papa Bella.
Al dan Aska memasuki lift untuk menuju lantai paling atas.
"Ini benar-benar ruangan pribadi, Al," ucap Aska begitu mereka sampai di tempat tersebut.
__ADS_1
Al mengangguk menyetujui perkataan Aska. Hingga langkah mereka terhenti saat seorang pelayan laki-laki datang menghampiri.
"Anda sudah ditunggu oleh Bos kami, Tuan," ucap Pelayan tersebut.
Dahi Al dan Aska berkerut mendengar perkataan Pelayan tersebut. Padahal mereka baru pertama kesini dan Papa Runa Bella sudah mengenal mereka. Bahkan bertemu saja mereka belum pernah.
"Dimana Bosmu?" tanya Al melupakan kebingungannya.
"Mari ikut saya, Tuan," ucap Pelayan tersebut ramah.
Al dan Aska saling pandang. Al mengangguk menatap Aska. Mereka berjalan mengikuti langkah Pelayan tersebut menuju sebuah ruangan.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan, banyak penjaga dengan jaket seragam berwarna putih. Mereka membungkuk ketika Al dan Aska melewati mereka.
Ini sangat aneh. Batin Al merasakan bahwa kedatangan mereka seperti sangat dihormati.
"Silahkan, Tuan," ucap Pelayan tersebut saat mereka sampai didepan sebuah pintu berwarna merah pekat. Dan di foto itu ada lukisan seorang wanita cantik dengan hijab yang melekat indah di kepalanya.
Al dan Aska memandangi lukisan tersebut. Sekilas wajah dilukisan mirip dengan Bella.
Tidak ingin berlama-lama, dengan perlahan Al membuka pintu ruangan tersebut. Al dan Aska memasuki ruangan mewah tersebut dengan nuansa hitam abu-abu.
DOR.
Satu peluru melesat tepat di dinding sebelah kepala Al.
"Pahlawan putriku telah datang ternyata," ucap seorang lelaki paruh baya yang muncul dari sudut ruangan dengan pistol ditangannya.
Al dan Aska menoleh begitu mendengar suara tersebut.
"Halo, Albarra," sapa Lelaki tersebut berjalan mendekati Al dan Aska.
"Kau Ayah dari gadisku?" tanya Al datar.
Lelaki tersebut tersenyum dan mengangguk. "Gadis yang kau cintai itu berasal dari benihku," jawab Bima, Papa Bella.
Sedangkan Aska hanya diam menunggu perintah Al.
Al menatap sekeliling ruangan tersebut. Ruangan itu dipenuhi foto dan lukisan wanita yang tadi mereka lihat di pintu ruangan.
"Tapi sayangnya, Runa lebih baik dari Ayahnya sendiri," ucap Al.
Bima tergelak mendengar perkataan Al. Dia mengangguk menyetujui. "Kau benar sekali," ucap Bima.
"Sekarang katakan dimana kau menyembunyikan Putriku?" ucap Bima menatap Al nyalang.
Al terkekeh pelan. "Putrimu? Kau menganggapnya putrimu?" tanya Al.
__ADS_1
"Bagaimanapun juga dia adalah darah dagingku," jawab Bima.
"Heh, darah daging yang selalu kau siksa!" ucap Al tegas.
"Itu bukan urusanmu!"
"Jangan buat aku melawan perkataanmu, Bapak tua!" ucap Al sarkas.
"Kembalikan putriku atau aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan," ucap Bima menarik pelatuk pistolnya.
Dibelakang Al dan Aska sudah banyak bodyguard yang mengepung mereka.
"Aku percaya kau tidak akan sekejam itu," ucap Al tenang.
"Kau lihat wanita di foto itu?" ucap Al menunjuk salah satu foto di dinding belakangnya.
Bima menurut. Pandanganya berubah sendu melihat foto istri yang sangat dia cintai.
"Dia akan sedih melihat lelaki yang hidup bersamanya di dunia melakukan hal mengerikan didepan matanya," ucap Al sambil terus menunjuk foto tersebut.
"Istriku akan selalu mendukung setiap tindakanku."
"Tapi bukan tindakan yang menjijikan seperti ini."
Bima membalikkan badannya menghindari pandangan Al. Dia tidak ingin Al dan Aska mengetahui pandangan sendunya.
"Sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Bima. Dia akan lemah jika sudah menyangkut wanita tercintanya.
"Beri restumu untuk aku menikahi putrimu," ucap Al tegas tanpa ragu. Keberanian anak ini benar-benar sangat diluar dugaan. Aska bahkan sampai menganga mendengar perkataan Al yang tanpa ragu dia ucapkan.
"Aku sudah memiliki calon sendiri untuk anakku," ucap Bima.
"Jangan semakin menambah luka anakmu jika kau tidak memberinya kebahagiaan sama sekali. Memaksa dia menikahi pilihanmu, akan membuatmu menjadi Ayah terburuk di dunia," ucap Al.
"Aku yakin, saat ini wanita yang kau cintai, wanita yang sudah ada di alam yang berbeda itu sedang mengutuk segala perbuatan jahatmu!" ucap Al tegas.
"Jaga mulutmu, Sialan!" ucap Bima marah.
Al tersenyum miring. Dia berhasil mempermainkan emosi Bima.
"Kalau begitu beri restumu," ucap Al.
"Tinggalkan Tuhanmu, maka aku akan menuruti keinginanmu!"
......................
Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku
__ADS_1
Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹