
🌹HAPPY READING🌹
Ibra memandang lekat wajah anak kecil tersebut. Wajah yang sangat mirip dengan wanita yang selalu mengisi hati dan pikirannya.
Tanpa sadar Ibra berjongkok di depan Kina untuk mensejajarkan tinggi badannya. Sedangkan Kina yang melihat Ibra berjongkok di depannya langsung mundur dan bersembunyi di belakang badan Joni.
"Jangan takut, Nak. Om bukan orang jahat," ucap Ibra.
"Ina ndak boleh detat cama Olang yan Ndak di tenal," cicit Kina takut.
"Tenang saja, Om hanya ingin melihat baju kamu yang kotor," ucap Ibra membujuk Kina.
Kina menengadahkan kepalanya menatap Joni. Joni yang mengerti tatapan Kina hanya mengangguk memperbolehkan Kina mendekat pada Ibra.
Kina keluar dari persembunyiannya dan berdiri kembali di tempat semula. Tepatnya di depan Ibra.
"Nama kamu siapa?" tanya Ibra lembut.
"Ina," cicit Kina sambil menunduk.
"Boleh Om lihat bajunya yang kotor? Biar Om bantu bersihkan," ucap Ibra mengangkat sedikit baju Kina bagian bawah.
Kina reflek mundur ketika Ibra akan menyentuh bajunya. Ibra yang melihat reaksi Kina mengernyit heran.
"Kenapa, Kina?" tanya Ibra.
"Aulat," ucap Kina sambil memegangi baju bagian bawahnya agar tidak di buka Ibra.
Ibra tersenyum mendengar perkataan Kina. Anak ini masih kecil, bahkan sangat kecil sudah mengerti aurat.
"Kina mau bajunya Om ganti?" tanya Ibra. Entah mengapa dia ingin berlama-lama berbicara dengan anak di depannya ini.
Kina menggeleng. "Ndak ucah, Om. Badu Ina macih banak di lumah," ucap Kina polos.
Lagi-lagi Ibra tersenyum. Mata lelaki itu menyipit karena senyumnya. "Baiklah, Nak," ucap Ibra membenarkan jilbab Kina yang sedikit berantakan.
Setelah itu Ibra mengalihkan pandanganya kepada Joni. "Apa kau ada yang terluka? Atau motor mu ada yang lecet?" tanya Ibra tak enak.
Joni tersenyum sambil menggeleng. "Tidak, Pak. Hanya tergores sedikit. Ini tidak apa-apa," ucap Joni.
Ibra mengangguk. "Anak mu sangat lucu," ucap Ibra memandang Kina.
"Dia anak bos saya, Pak. Kina memang sangat menggemaskan," ucap Joni.
"Kalau begitu sampaikan pada bos mu, kalau aku menginginkan anaknya," ucap Ibra dengan gaya bercandanya.
Joni dan Pak Sofyan tergelak kecil mendengar candaan Ibra. Sedangkan Kina hanya menatap polos orang-orang dewasa di sekitarnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak," ucap Joni.
__ADS_1
Ibra mengangguk, begitu juga dengan Pak Sofyan. "Sekali lagi saya mohon maaf," ucap Pak Sofyan.
"Tidak apa-apa, Pak. Ayo Kina, kita pulang," ucap Joni mengajak Kina naik motor. Kina mengangguk patuh dan mengikuti Joni menaiki motor. Kina berbonceng berdiri di depan Joni. Karena kalau bonceng di belakang, anak itu bisa jatuh.
"Kalau begitu saya duluan, Pak," ucap Joni pamit.
Pak Sofyan mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Ibra hanya diam. Dia terus memandangi Kina yang menatap lurus ke depan. Anak itu memiliki mata yang sangat polos. Sangat menggemaskan, pikir Ibra.
Jika anakku bersama Dee juga perempuan, pasti dia lebih imut dan menggemaskan dari Kina. Batin Ibra memandangi motor Joni yang sudah menjauh.
Pak Sofyan yang melihat Ibra diam segera mengajak Ibra untuk kembali masuk ke mobil. "Nak Ibra, mari kita lanjutkan perjalanannya," ucap Pak Sofyan.
Ibra tersenyum dan mengangguk. Setelah itu mereka kembali masuk mobil dan melanjutkan perjalanan.
.....
Joni dan Kina sampai di depan toko Dee. Tadi pagi Kina merengek minta ikut kepada Joni untuk memperbaiki peralatan kerajinan mereka yang rusak. Karena tidak tega melihat Kina yang akan menangis, akhirnya Joni membawa Kina.
Dee yang melihat kedatangan Joni dan Kina langsung keluar dari toko.
"Joni, bagaimana dengan peralatannya? Apakah rusaknya parah?" tanya Dee.
"Tidak, buk. Nanti sore sudah bisa di ambil," jawab Joni sambil membantu Kina turun dari motor.
Dee melebarkan matanya melihat baju Kina yang kotor. "Astagfirullah, Nak, baju Kina kenapa?" tanya Dee.
"Kena ail jalan, Umi," jawab Kina.
Joni yang di tatap seperti itu oleh bos nya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Anu, Buk. Tadi motor tidak sengaja di senggol mobil, jadi air yang menggenang di jalan sedikit mengenai baju Kina, Buk. Soalnya motor jatuhnya ke arah becek," ucap Joni.
"Ya Allah, tapi kalian nggak apa-apa, kan? Kina nggak ada yang luka kan, Nak?" tanya Dee cemas.
"Tidak, Buk. Kami baik-baik saja," ucap Joni.
Dee bernafas lega. "Ya sudah, Joni, kamu bisa lanjutkan pekerjaan kembali," ucap Dee.
Joni mengangguk. Tapi langkah kakinya berhenti kala mengingat sesuatu. "O iya, Buk. Tadi Bapak yang punya mobil itu ingin punya anak seperti Kina, Buk. Katanya Kina sangat menggemaskan," ucap Joni.
Dee tergelak mendengar perkataan Joni. "Jangan mengada-ngada Joni," ucap Dee.
"Tapi serius loh, Buk. Mana tahu Bapak yang bilang seperti itu masih jomblo. Ibuk kan juga jomblo, jadi bisa tuh, Buk. Mana Bapaknya ganteng lagi, Buk," ucap Joni menggoda Dee.
"Lanjutkan pekerjaan kamu, Joni!" ucap Dee tegas.
"Hehe, becanda Buk," ucap Joni sambil memasuki toko.
Dee hanya geleng-geleng kepala melihat Joni.
"Ya sudah, yuk Sayang. Kita ganti baju Kina dulu," ucap Dee menggendong Kina. Dengan patuh Kina mengangguk. Setelah itu Dee pergi ke rumahnya untuk membantu Kina mengganti pakaiannya.
__ADS_1
.....
Kini Ibra sudah memasuki kawasan Sungai Lareh. Tempat tinggal Dee serta tempat sekolah Al. Ibra melihat sekitar, di sana masih banyak pepohonan dan bukit-bukit yang menambah keasrian tempat ini.
"Pak, Apa benar ini daerahnya, Pak?" ucap Ibra bertanya pada Pak Sofyan.
Pak Sofyan mengangguk yakin. "Iya, Nak Ibra. Saya pernah kesini untuk meninjau pembangunan perumahan yang dinaungi oleh perusahaan Pak Alan, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan.
Ibra hanya mengangguk. "Anak Sekolah Dasar disini pulangnya jam berapa, ya, Pak," tanya Ibra.
"Biasanya jam satu siang, Nak Ibra," jawab Pak Sofyan.
Ibra melihat jam tangan mewah yang melingkar indah di pergelangan tangan sebelah kirinya. Waktu masih menunjukan pukul sembilan pagi. "Kalau gitu kita cari kontrakan atau penginapan dulu dekat sini, Pak. Nanti malam saya ingin tidur di daerah sini," ucap Ibra.
"Baik, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan patuh.
Setelah itu Pak Sofyan membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan untuk mencari kontrakan. Karena di tempat ini sangat jarang ada kos dan penginapan.
Setelah dua jam berputar-putar mencari kontrakan, Ibra akhirnya mendapatkan sebuah rumah yang sederhana tapi nyaman untuk dia tempati. Walaupun sangat jauh dengan perkiraan Ibra, setidaknya rumah ini memiliki fasilitas yang baik menurut Ibra. AC di kamar tidur, kamar mandi di dalam, satu ruang tamu, ruang keluarga dan dapur, serta toilet di dekat dapur.
Setelah deal dengan pemilik kontrakan, Ibra meminta Pak Sofyan untuk meminta salah satu karyawan Alan yang ada disini mencari peralatan rumahnya. Dan Ibra juga meminta Pak Sofyan untuk membantu membelikannya motor selama dia disini.
"Apa tidak mobil saja, Nak Ibra?" tanya Pak Sofyan. Karena di cukup terkejut mendengar Ibra yang meminta motor kepadanya.
Ibra menggeleng. "Tidak, Pak, Motor saja. Mobil terlalu ribet untuk disini," ucap Ibra.
Pak Sofyan mengangguk. Setelah itu Ibra mengajak Pak Sofyan untuk segera ke sekolah Al.
Hanya berselang lima menit, Ibra sudah sampai di pinggir jalan Sekolah Al.
Kamu mengajarkan anak kita untuk hidup sederhana, Sayang. Ucap Ibra dalam hati ketika memandangi sekolah Al yang tampak sepi. Karena proses pembelajaran masih berlanjut. Ibra memandangi Sekolah Al yang sangat sederhana. Tidak bertingkat, hanya memiliki satu lapangan di depan Sekolah, tapi arenanya cukup luas.
.....
Tidak terasa waktu pulang Sekolah telah tiba. Ibra yang sejak tadi hanya duduk di dalam mobil dapat melihat para murid sudah berhamburan keluar dari pekarangan Sekolah.
"Pak, kenapa sedikit sekali orang tua yang menjemput anak-anaknya?" tanya Ibra ketika melihat hanya ada beberapa orang tua yang menjemput anaknya pulang Sekolah.
"Disini memang seperti itu, Nak Ibra. Yang bersekolah disini umumnya anak-anak komplek dekat sini, jadi mereka pulang sekolah hanya berjalan kaki bersama teman-teman mereka. Hanya beberapa yang di jemput orang tua merek. Kalau dilihat itu lebih indah, Nak Ibra," jawab Pak Sofyan.
Ibra mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban Pak Sofyan. Sampai matanya melihat seorang anak kecil laki-laki yang sedang berjalan sambil tertawa dengan teman-temannya.
Itu anakku. Batin Ibra tersenyum senang.
......................
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹
Jangan lupa kasih semangat buat Abi Ibra ya teman-teman.
__ADS_1
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"