
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Setelah aksi menegangkan di kantor Polisi, akhirnya Dee dinyatakan tidak bersalah. Naina di penjara bersama dengan tiga wanita yang dulu pernah menyiksa Dee. Sedangkan Bram yang berhenti dari pekerjaannya dan mendekam di penjara.
Saat ini, Ibra dan Dee sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjemput Al. Sedangkan Kevin pergi ke kantor menggantikan Ibra, Alan yang kembali ke perusahaannya dan Wijaya bersama Agam yang masih berada di kantor Polisi untuk mengurus Naina dan Bram.
Senyum tak hentinya merekah dari bibir mungil Dee. Ibra yang melihat kebahagiaan istrinya ikut tersenyum tampan. Ibra menggenggam salah satu tangan Dee dengan tangannya. "Bahagia banget," ucap Ibra tersenyum dan mengecup punggung tangan Dee.
Dee tersenyum menatap Ibra. "Adek bahagia sekali, Mas. Adek merasa benar-benar bebas. Udah nggak sabar mau ketemu Al. Terimakasih, ya, Mas," ucap Dee.
Ibra menggeleng, "tidak ada terimakasih dalam cinta, Sayang," ucap Ibra lembut. Dee sangat senang. Dee berhambur memeluk Ibra dari samping. "Adek beruntung punya Mas Ibra dalam hidup Adek," ucap Dee mencium lembut pipi Ibra. Ibra yang sedang menyetir mobil merasa senang mendapat perlakuan seperti ini dari Dee. "Karena itulah kita berjodoh. Jodoh bukan cerminan diri, Sayang. Tapi jodoh saling melengkapi hingga tercipta kata sempurna antara kita," ucap Ibra mengusap lembut tangan Dee yang bergelayut manja di lehernya.
Dee hanya mengangguk. Hatinya benar-benar berbunga sekarang. Kesabaran yang dia lakukan mendapat hasil yang sangat tidak terduga olehnya.
"Mas, Adek mau ke makam Ayah sama Bunda," pinta Dee kepada Ibra.
"Mau sekarang atau besok?" tanya Ibra.
Dee menggeleng, "Adek perginya sama sopir saja besok. Setelah jemput Al pulang sekolah. Mas besok harus kerja juga, kan," ucap Dee kepada Ibra. Dia tidak mau terus-terus mengganggu waktu kerja suaminya.
"Yakin mau sama sopir aja?" tanya Ibra memastikan.
"Iya, Mas," jawab Dee mengangguk pasti.
"Ya sudah," ucap Ibra mengizinkan Dee pergi bersama sopir. Dia juga tidak memaksa Dee harus pergi dengannya karena jadwal meeting yang padat.
.....
Mobil Ibra sudah sampai di parkiran Rumah Sakit. Ibra dan Dee turun dari mobil dan berjalan memasuki Rumah Sakit dengan tangan yang selalu bergandengan. Benar-benar pasangan yang sangat serasi.
Ceklek
__ADS_1
"Abi," seru Al senang melihat Abi dan Uminya datang. Al langsung turun dengan sembarang dari kasur Reina dan berlari ke arah Ibra dan Dee.
"Hati-hati, Boy!" ucap Ibra memperingati Al.
Al merentangkan tangannya kepada Ibra. Tanpa pikir panjang Ibra langsung membawa Al ke gendongannya.
"Abi sama Umi lama," ucap Al ketus kepada Ibra. Tapi dia tetap memeluk erat Abinya. Anak ini benar-benar ajaib.
"Tadi Abi sama Umi ada urusan sebentar, Sayang. Mulai sekarang Umi sama Abi nggak akan ninggalin Al lagi," ucap Dee membujuk putranya. Tangannya mengusap lembut kepala Al. Al langsung tersenyum bahagia mendengar perkataan Uminya. Ibra dan Dee yang gemas dengan Al langsung mencium kedua pipi Al dengan sisi yang berbeda.
"Al sayang Abi sama Umi," ucap Al kepada Ibra dan Dee.
"We love you, more," jawab Ibra dan Dee bersamaan. Benar-benar keluarga yang sangat bahagia. Umi yang cantik dan Sholeha, Abi yang tampan, dan anak yang sangat dewasa namun menggemaskan.
Alhamdulillah, tiada yang lebih membahagiakan daripada pemandangan yang indah ini Ya Allah. Ucap Reina dalam hati yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak-gerik keluarga kecil anaknya. Bi Nini yang berdiri di sebelah Reina ikut tersenyum senang melihat kebahagiaan majikannya.
Keluarga kecil itu selesai berpelukan. Ibra membawa Al duduk di sofa. Sedangkan Dee berjalan menghampiri mertuanya. "Assalamu'alaikum, Ma, Bi" ucap Dee memegang lembut tangan Reina.
"Waalaikumsalam," jawab Bi Nini tersenyum yang berdiri di sebelah Dee. Sedangkan Reina hanya menjawab dalam hati.
"Ma, kebahagiaan itu udah datang, Ma. Keluarga kecil Dee udah balik lagi. Setelah ini kita akan bahagia bersama," ucap Dee menatap lembut Reina.
Mata Reina berkaca-kaca. Dia ingin sekali berteriak senang menjawab perkataan menantunya, tapi tidak bisa. Reina mengedipkan matanya merespon perkataan Dee. Cairan bening itu keluar dari sudut mata Reina. Dee membungkuk dan mengecup kedua sudut mata Reina. "Air mata Mama terlalu berharga untuk jatuh, Ma," ucap Dee.
Dee menoleh kepada Bi Nini. "Terimakasih banyak, Bi. Terimakasih juga udah selalu mengingatkan Dee untuk sabar," ucap Dee tersenyum dan memegang tangan Bi Nini.
"Iya, Nyonya," balas Bi Nini sopan.
.....
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, Ibra dan Dee sedang duduk bersama di ranjangnya. Posisi Dee yang duduk di depan Ibra dan Ibra yang memeluk nya dari belakang, memperlihatkan keromantisan pasangan ini.
"Sayang."
"Iya, Mas."
"Buat adik untuk Al, yuk?" rengek Ibra manja melebihi manja Al kepada Dee.
"Tapi ini masih jam sembilan lho."
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau masih jam sembilan?" tanya Ibra heran.
Dee menggeleng. Dia merubah posisinya menghadap Ibra dan memandang lekat wajah Ibra. Secara perlahan Dee mendekatkan bibirnya ke bibir Ibra. Merasakan manisnya bibir suaminya itu. Ibra terkejut melihat inisiatif istrinya. Tapi tidak bisa dipungkiri dia senang karena itu. Ibra membalas perlakuan Dee dengan lembut. Tangan kanan Ibra menahan tengkuk Dee dan tangan kirinya melingkar pas di pinggang Dee. Sedangkan kedua tangan Dee sudah bergelayut manja di leher Ibra.
Lama-lama kegiatan mereka semakin dalam dan menuntut. Ibra mengangkat Dee kepangkuannya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan seorang anak lelaki yang melihat kedua orang taunya dengan pandangan polos.
"Umi sama Abi ngapain?" tanya Al polos kepada Abi dan Uminya.
Dee dan Ibra yang terkejut langsung menyudahi kegiatan mereka. Dee langsung turun dari pangkuan Ibra dan memperbaiki dirinya. Benar-benar memalukan, pikir Dee. Sedangkan Ibra memasang wajah kesal melihat anaknya.
Al berjalan mendekati Dee dan Ibra. Dia menaiki kasur orang tuanya dengan tergesa-gesa.
"Bibir Umi kenapa bengkak?" tanya Al memperhatikan wajah Dee.
Dee malu. Benar-benar malu. Tidak ada yang lebih memalukan dari ini. Sedangkan Ibra? dia hanya memasang wajah kesal karena terganggu oleh Al.
Saat teringat sesuatu, Al melebarkan matanya dan menatap garang kepada Ibra. "Abi pasti gigit-gigit bibir Umi, kan? Iya kan?" ucap Al menuduh Ibra.
"Ck, Umi duluan yang gigit Abi, Boy."
Mata Dee melotot sempurna mendengar jawaban Ibra. Benar-benar memalukan.
"Enggak, Abi bohong! Tadi Al lihat Abi gigit bibir Umi. Umi hanya diam aja. Abi jahat sama Umi. Kalau Umi beldalah gimana? Abi jahat! Jahat! Jahat!" teriak Al memukul mukul badan Ibra dengan tangan kecilnya.
"Aw, aw, sakit, Boy."
"Bialin! Bial Abi kapok," ucap Al tanpa menghiraukan Ibra.
Ibra tidak tinggal diam. Dia mengangkat badan Al dan menggelitik anak itu. Sekarang serangannya berbalik.
"Hahaha, geli. Hahaha ampun, Abi. Udah, nanti Al kencing. Hahaha Abi," tawa Al karena Ibra menggelitiknya. Ibra terus mengerjai Al dengan menggelitiknya. Mereka berdua tertawa lepas tanpa beban.
Dee yang menyaksikan itu sangat bahagia. Sekarang malunya sedikit hilang melihat tawa anak dan suaminya.
......................
__ADS_1
Ayok kita senang-senang dulu guys.
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹