
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Ibra dan Kevin sampai di Rumah sakit untuk menjenguk Naina. Sebelum berangkat, Kevin sudah bertanya lebih dulu kepada Agam ruangan Naina dirawat. Saat sampai di Rumah Sakit, Ibra dan Kevin langsung saja pergi ke sana.
Ceklek
Ibra membuka pintu ruang rawat Naina. Di sana nampak Agam yang sedang duduk menunggu Naina yang masih tertidur karena pengaruh obat.
"Gimana Naina, Gam?" tanya Kevin khawatir. Karena bagaimanapun juga, Naina adalah sahabat sekaligus adik bagi mereka.
Baru Agam akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Kevin, Suara lirih Naina mengalihkan padangan mereka semua kepada gadis itu.
"Bram, Bram, Bram," gumam Naina dalam tidurnya. Dan hal itu masih bisa terdengar jelas oleh Ibra, Agam dan Kevin.
"Bram?" beo Ibra mengulangi gumaman Naina.
Agam mengangguk, "Dari tadi Naina terus sebut nama Om Bram, Ib," ucap Agam memberitahu.
"Kenapa nggak Lo bawa Om Bram kesini, Gam?" tanya Kevin heran dengan temannya itu.
"Gue udah bujuk Om Bram supaya mau lihat Naina kesini barang sebentar saja, tapi Om Bram seperti menutup hatinya untuk Naina," jawab Ibra menjelaskan kepada Ibra dan Kevin.
"Maksud Lo?" tanya Kevin tak mengerti. Lelaki tampan yang satu ini memang agak sedikit lelet jika berpikir.
Kevin mendengus, "Gini ceritanya," ucap Kevin memulai ceritanya.
*Flashback
Agam sedang fokus membaca sebuah laporan mengenai kasus yang ditanganinya. Saat fokus dengan bacaannya, seorang Polisi yang merupakan teman Agam yang bertugas menjaga bilik tahanan tempat Naina di tahan datang dengan tergesa-gesa.
"Gam," panggil Polisi tersebut dengan nafas yang tak beraturan.
"Lo kenapa, Di?" tanya Agam pada Ardi.
"Naina, Gam. Tahanan yang sahabat Lo itu pingsan di o
biliknya," ucap Ardi memberitahu Agam.
Agam kaget. Tanpa pikir panjang Agam berlari ke tempat Naina dan diikuti Ardi dibelakang. Sampainya di sana, Naina sudah tidak sadarkan diri. Tapi tangannya mencengkram kuat bagian perutnya. Agam langsung meminta Polisi yang menjaga untuk membawa Naina ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Kini Naina sedang di periksa di Rumah Sakit Kepolisian. Dokter mengatakan bahwa Naina terkena asam lambung. Dan untuk beberapa hari Naina akan dirawat di sana. Setelah keluar dari UGD, Naina di pindahkan ke ruang perawatan atas permintaan Agam. Agam menyuruh Polisi yang lainnya untuk kembali ke tahanan dan dia sendiri yang akan menjaga Naina.
Agam memasuki ruang rawat Naina. Agam dapat melihat tubuh kurus Naina. Wajahnya nampak gelisah. Satu hal yang membuat Agam termenung, Naina terus menggumamkan nama Bram dalam tidurnya.
"Eungh," lenguhan kecil keluar dari bibir Naina.
"Nai," ucap Agam ketika melihat Naina membuka matanya.
"Agam."
"Iya, Nai. Lo kenapa nggak makan?" tanya Agam lembut.
Naina menggeleng, "Rasanya gue nggak sanggup buat menelan makanan, Gam," ucap Naina dengan mata berkaca-kaca.
"Nai, Lo udah seperti adik bagi gue. Begitu juga dengan Ibra dan Kevin. Bagi gue Lo sama seperti Naura. Adik yang harus gue jaga dan gue sayangi. Kalau Lo seperti ini, kita semua akan sedih, Nai," ucap Agam lembut.
"Ini hukuman gue, Gam."
"Menjalani hukuman juga butuh tenaga, Nai," ucap Agam.
Naina hanya diam. Dia tidak berniat lagi menjawab pertanyaan Agam. Naina memandangi langit-langit kamar dengan pandangan yang menerawang jauh. Setelah itu Naina kembali memejamkan matanya.
Satu jam sudah Naina tertidur. Agam kembali mendengar Naina menggumamkan nama Bram. Tanpa pikir panjang, Agam segera keluar untuk mencari suster dan menitipkan Naina pada suster tersebut. Setelah itu, Agam pergi ke kantor Polisi untuk menemui seseorang.
Disinilah sekarang Agam berada, di bilik tahanan Bram. Agam ingin Bram datang untuk menjenguk Naina.
"Om," panggil Agam kepada Bram yang entah tertidur atau hanya memejamkan mata.
"Om, saya tahu Om tidak tidur!" ucap Agam tegas.
Bram membuka, menolehkan kepala kepada Agam. "Ada apa? Apa masa hukumanku bertambah?" tanya Bram.
"Tidak."
"Kalau tidak pergilah. Kau tidak ada kepentingan denganku, bukan?"
"Aku memang tidak memiliki kepentingan, Om. Tapi sahabatku membutuhkan mu," ucap Agam yang mampu menghentikan pergerakan Bram yang akan menutup kembali matanya.
"Sahabatmu?" tanya Bram memastikan sahabat mana yang dimaksud Agam.
"Wanita yang Om cintai," ucap Agam.
Bram mendudukkan tubuhnya setelah mengerti siap yang dia maksud. "Kenapa?"
"Naina masuk rumah sakit karena tidak sadarkan diri di bilik tahanannya," ucap Agam memberitahu Bram.
Hati Bram sakit. Tapi dia mencoba menyembunyikannya dengan ekspresi tenangnya. Ingin sekali dia melihat gadisnya, tapi kini dia sedang berusaha untuk menata hatinya kembali. Dia tidak boleh lemah.
__ADS_1
"Aku tidak ada urusan dengannya," ucap Bram mengelak.
"Tapi dia membutuhkan Om. Sebentar saja, tolong temui sahabat ku," ucap Agam memohon kepada Bram.
"Dia tidak membutuhkan aku, Agam. Dia membutuhkan orang yang dicintainya. Sedangkan aku hanya alat pancing yang dia gunakan untuk menangkap ikan yang dia inginkan. Sekarang alat pancing ini sudah tidak berguna. Dia membutuhkan ikan untuk mengobati laparnya," ucap Bram kepada Agam.
Agam diam, dia tahu ada kesedihan mendalam pada hati Bram. "Apa begitu mudah kau melepaskan cinta mu, Om?" tanya Agam. Dalam hatinya dia ingin Naina dan Bram bisa bahagia. Karena dari penglihatannya, Bram sangat tulus kepada Naina.
"Bukankah melepaskan bisa memberi kebahagian untuk cinta yang selalu kita paksakan? Dan aku memberikan itu kepada Naina."
"Kau terlalu cepat menyerah, Om."
Bram mengangguk membenarkan ucapan Agam. "Kau benar. Hatiku menyerah disaat pikiranku lelah untuk memikirkan berbagai cara menggapai cintanya."
"Jika memungkinkan sebentar saja, Om," ucap Agam berharap Bram akan luluh.
"Pergilah, Agam."
"Om," ucap Agam memohon.
Bram tidak mengindahkan Agam. Dia kembali merebahkan diri dan memejamkan mata. Mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kembali terganggu oleh satu nama, Naina.
*Flashback off
"Begitu ceritanya," ucap Agam mengakhiri ceritanya kepada Kevin dan Ibra.
"Tanpa sadar Naina memiliki cinta untuk Om Bram," ucap Ibra memandangi Naina yang tertidur.
"Dia terlalu labil untuk membedakan cinta dan obsesi," ucap Kevin memandang sendu Naina.
"ASTAGA!" pekik Ibra tiba-tiba.
"Anying!"
"Bang Sat!"
Umpat Kevin dan Agam kaget mendengar pekikan Ibra.
"Lo kenapa sih?" tanya Kevin kesal.
"Gue lupa jemput Al. Bisa di amuk gue sampai di rumah. Kalau gitu gue pergi dulu," ucap Ibra langsung berlari keluar ruangan tanpa menghiraukan panggilan Agam dan Kevin.
.....
Sedangkan di Sekolahnya, Al menggerutu kesal karena Abinya tidak kunjung datang untuk menjemput. "Abi kemana sih? Dari tadi di tungguin nggak datang-datang juga. Kan Al lapal," gerutu Al sambil memegang perutnya yang keroncongan.
"Abi jahat! Awas saja, nanti sampai di rumah Al bilangin sama Umi," monolog Al kesal. Anak itu duduk sendirian di bangku taman sambil melihat beberapa anak lainnya bermain. Sedangkan Kenzo dan Kinzi sudah dijemput oleh supirnya satu jam yang lalu.
__ADS_1
......................
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹