
🌹HAPPY READING🌹
"Izinkan Abi berjuang, Boy?" ucap Ibra memandang Al dengan tatapan sendu.
Al memandang lekat wajah Ibra. Boy. Panggilan yang sangat dirindukan Al. Karena hanya Abi dan teman-teman Abinya yang memanggil dengan sebutan Boy. Demi apapun Al sangat merindukan itu.
"Berjuang untuk apa?" tanya Al menatap Ibra lekat.
Ibra berdiri dari duduknya dan berjongkok di depan Al yang masih duduk di kursi. Ibra memegang kedua tangan Al lalu menciumnya sebentar.
"Izinkan Abi berjuang untuk menyatukan kembali keluarga kita. Abi mohon," ucap Ibra. Air matanya sudah tidak sanggup lagi untuk di tahan.
Al mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak bisa melihat air mata yang keluar dari mata Ibra. "Lalu jika Al mengizinkan Abi untuk berjuang? Apa yang akan Abi lakukan? Dan bagaimana dengan keluarga baru Abi? Anak Abi yang lain?" tanya Al lagi.
"Apapun Abi lakukan untuk kebahagiaan kita kembali. Demi apapun Al, Abi hanya mencintai Umi, tidak pernah ada wanita lain. Semua terjadi karena kecerobohan Abi. Maafkan Abi, Nak," ucap Ibra pasti.
"Apa Abi akan menyerah jika nanti Abi berjuang, tapi Umi sudah memiliki pilihan lain?" tanya Al.
DEG
Jantung Ibra berdetak lebih kencang. Benarkah istrinya memiliki laki-laki lain? Benarkah istrinya sudah memiliki cinta yang lain? Pikiran Ibra bertanya-tanya.
Sadar dari keterdiamannya, Ibra kembali menatap Al. "Apapun pilihan Umi, itu yang terbaik untuk kita, Boy. Abi yakin, Umi tidak akan memilih sesuatu yang menyakiti kita semua," ucap Ibra.
"Kenapa Umi tidak bisa melakukan pilihan yang menyakitkan kita?" tanya Al lagi.
"Karena Umi akan lebih mementingkan anak-anaknya daripada kebahagiaannya sendiri, Boy," jawab Ibra.
"Bagaimana jika kebahagian anak-anak Umi bukan bersama Abi? Apa Abi siap?" tanya Al lagi. Bohong Abi.
Ibra terdiam. Al benar-benar mengintimidasi Ibra. Padahal ini baru awal dari perjuangan Ibra, tapi pertanyaan seakan sudah mempersulitnya.
Ibra mencoba tersenyum kepada Al walau hatinya sakit. Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Ibra memandang lekat mata Al.
"Abi akan ikhlas jika itu yang membuat anak-anak Abi bahagia. Tapi untuk sekarang izinkan Abi memperjuangkan kebahagiaan kita. Izinkan Abi membayar semua kebodohan Abi, Boy. Abi mohon," ucap Ibra menenggelamkan kepalanya di paha Al.
Air mata Al mengalir. Dia tidak sanggup melihat Abinya seperti ini. Dengan cepat Al menghapusnya agar tidak diketahui Ibra. Walaupun mata anak itu sudah merah sekalipun.
"Apa kepergian kami membuat Abi cengeng seperti ini? Kemana keberanian Abi sewaktu melukai kami? Kemana hilangnya percaya diri Abi sewaktu mengkhianati Umi? Kemana Abi?" tanya Al lirih.
Ibra hanya menggeleng sambil tegap menenggelamkan kepalanya di paha Al. Lidah kelu tidak tahu harus bagaimana berbicara kepada anaknya sendiri. Al benar-benar memiliki kekecewaan yang dalam kepada Ibra.
"Bangun lah, Abi. Duduk lagi di sebelah Al. Al tidak mau jadi anak berdosa karena membiarkan orang tua sendiri memohon kepada anaknya," ucap Al.
Ibra mendongak melihat Al. Setelah itu dia menghapus air matanya dan duduk di sebelah Al.
Al memutar tubuhnya menghadap Ibra. Memandang lekat mata itu. "Abi ingin berjuang kan?" tanya Al.
Ibra mengangguk yakin.
"Kalau begitu menangkan hati Umi. Kami sangat bahagia jika Umi bahagia Abi. Abi tahu, banyak orang yang datang kepada Umi, tapi Umi menolak. Apa Abi tahu karena apa?" tanya Al memandang lekat Al.
__ADS_1
Ibra diam dan menggeleng menjawab pertanyaan Al.
"Karena masih ada luka yang sangat dalam di hati Umi," setetes air mata Al jatuh ketika mengucapkan itu.
"Al ingin Abi kembali mengobati luka Umi. Berani berbuat, maka Abi berani bertanggung jawab. Jangan sampai ada orang lain yang mengobatinya, Abi," ucap Al.
Ibra mengangguk yakin. "Abi akan mempertanggung jawabkan semuanya, Boy," ucap Ibra tersenyum senang.
Al mengangguk. "Temui Umi nanti sore di rumah selepas Ashar, Abi," ucap Al.
Ibra tersenyum senang lalu mengangguk. "Boleh Abi memeluk mu, Boy?" ucap Al dengan wajah sendunya.
Al terdiam sebentar. Tidak lama setelah itu dia mengangguk mengiyakan permintaan Abinya.
Tanpa pikir panjang, Ibra langsung memeluk Al dengan erat. Bahkan Ibra membawa Al duduk di pangkuannya. Air mata Ibra kembali keluar merasakan pelukan hangat sang anak yang sangat lama dia rindukan.
Sedangkan Al membalas pelukan Abinya tak kalah erat. Tidak bisa dipungkiri dia sangat merindukan lelaki yang menyandang status sebagai Abinya ini.
"Abi sangat menyayangi Al," ucap Ibra dalam pelukan mereka.
Al hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ibra. Bukan dia tidak menyayangi Abinya, tapi dia ingin menyampaikan segala rasa sayangnya saat perjuangan Abinya benar-benar berhasil.
.....
Al pulang ke rumah dengan sedikit terlambat dari biasanya. Ibra sudah menawarinya untuk pulang bersama, tapi Al menolak. Sampai di rumah, Al langsung masuk ke rumah tanpa ke Toko terlebih dahulu untuk menemui Dee dan Kina. Dee yang melihat Al masuk rumah dari Toko ingin menyusulnya.
"Adek, Umi lihat Abang dulu, ya?" ucap Dee kepada Kina.
Dee memasuki rumah dan langsung menuju lantai dua untuk masuk ke kamar Al.
Ceklek.
Pintu terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah Al yang menelungkup kan wajahnya di meja belajar.
Dee tahu, ada sesuatu yang menggangu pikiran anaknya. Dee langsung berjalan menemui Al. Dengan lembut Dee mengusap rambut Al.
Al yang merasakan sesuatu menyentuh rambutnya langsung mengangkat kepala dan melihat wajah Uminya yang tersenyum.
"Umi," ucap Al dengan suara seraknya.
"Al menangis?" tanya Dee melihat air mata Al.
Al langsung memeluk pinggang Dee dan menumpahkan tangis yang dari tadi dia tahan.
"Maafin Al, Umi," ucap Al.
"Al kenapa, Nak?" tanya Dee lembut.
Al melepaskan tangannya dari pinggang Dee. Setelah itu dia mendongak melihat Dee.
"Umi, maafin Al sudah bertemu Abi, Umi," ucap Al.
__ADS_1
DEG
Jantung Dee berdetak cepat. Ibra datang? Kapan? Kenapa dia tidak tahu sama sekali? Pikiran Dee bertanya-tanya.
Dee mencoba untuk tenang demi Al. Dee berjongkok di depan kursi belajar Al. "Lalu kenapa Al menangis? Bukankah Al juga sangat merindukan Abi? Al tidak bisa berbohong sama Umi, Nak," ucap Dee.
"Umi, sebenarnya waktu lomba di Jakarta, Al bertemu Abi," ucap Al menunduk takut.
"Lalu?" tanya Dee lembut dan tenang.
Al pun menceritakan semua yang dia lalui di Jakarta. Segala ucapannya kepada Ibra tanpa ada yang tertinggal.
"Apa Al kasar kepada Abi, Umi?" tanya Al.
Dee menggeleng. "Al hanya menyampaikan rasa kecewa Al kepada Abi. Al tidak salah, Nak," ucap Dee.
"Umi, bolehkah Al berharap kita untuk bersama kembali?" tanya Al menunduk takut. Karena dia takut Uminya akan marah. Permintaan yang sudah sangat lama ia pendam akhirnya keluar dari mulut anak berusia tujuh tahun itu. Bagaimanapun dewasanya dia, dia hanya ingin keluarganya utuh seperti teman-temannya yang lain. Dia diam hanya untuk mencoba mengerti keadaan Umi dan Abinya. Bolehkah sekarang dia menyampaikan apa yang dia inginkan? Dia hanya ingin bahagia dan demi terpenuhinya setiap mimpi yang selalu di gambar oleh Adiknya. Salahkah dia mengharapkan semuanya kembali?
"Apa itu akan membuat anak Umi bahagia?" tanya Dee balik.
Al mengangguk ragu. Dia masih tetap menunduk tidak berani melihat wajah Dee.
Dee yang melihat anaknya hanya menunduk lantas mengangkat dagu Al dan menatap mata yang masih berair itu.
"Jika anak-anak Umi bahagia, Umi akan melakukan apapun, Nak," ucap Dee.
"Tapi kalau Umi terpaksa tidak usah, Umi. Kebahagiaan Umi lebih penting," jawab Al.
"Apapun akan Umi lakukan untuk anak Umi. Umi ikhlas dunia akhirat," ucap Dee menatap lembut anaknya.
Umi akan berusaha untuk menyembuhkan luka Umi dan kembali menerima masa lalu untuk kebahagian kalian, Nak. Cukup sudah keegoisan ini melukai Al dan Kina. Maafkan Umi. Batin Dee.
"Bolehkah Al meminta satu hal lagi, Umi?" ucap Al hati-hati.
"Tolong berikan Abi sedikit pelajaran dan berikan Abi sedikit perjuangan untuk mendapatkan kita kembali, Umi. Agar luka kita benar-benar terobati saat sudah kembali bersama Abi" ucap Al menatap Dee.
Subhanallah. Satu kata yang terucap di hati Dee mendengar ucapan anaknya. Al benar-benar dewasa untuk anak seumurannya.
Dee mengangguk yakin mengiyakan perkataan Al. Dia tidak akan langsung menerima Ibra tanpa ada kesulitan yang di lalui lelaki tersebut.
"Umi, selepas Ashar, Abi akan datang kesini?"
DEG
"Se-secepat itu, Nak?"
......................
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹
Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz
__ADS_1
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"