Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 143


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Satu Minggu sejak kematian Kiyai Rozak, semua kembali seperti sedia kala. Hari ini Dee sudah di perbolehkan pulang. Di ruangan Dee hanya ada Kina dan Al, sedangkan yang lainnya melakukan kegiatan masing-masing.


Dee, Al dan Kina menunggu kedatangan Ibra yang masih berada di kantornya.


"Umi, Abi masih lama ya?" tanya Al.


Dee tersenyum, anak laki-lakinya itu sudah tidak sabar ingin segera membawanya ke rumah. Sedangkan Kina asik dengan video di ponsel Dee.


"Sabar, Sayang. Ini masih siang, Abi harus ke kantor dulu. Sudah lama Abi ninggalin kantornya. Mungkin selepas Ashar Abi udah balik, Nak," ucap Dee.


Al berjalan ke ranjang Dee dengan malas. Dengan hati-hati Al menaiki ranjang tersebut.


"Umi," ucap Al manja memeluk Dee yang sedang duduk.


"Anak Umi kenapa, Hem?" tanya Dee.


Al menengadah memandang lekat mata Dee. "Umi, jangan seperti kemaren lagi, ya," ucap Al sendu.


Dahi Dee berkerut, tapi sedetik kemudian dia mengerti apa yang dimaksud Al. "Al, rejeki, jodoh dan maut itu ditangan Tuhan, Nak. Kita hanya bisa menerima. Kalau sudah waktunya Umi pergi, maka itu pasti akan terjadi," ucap Dee.


"Al tahu, Umi. Tapi Al benar-benar tidak siap. Apa Umi mau Al mengutuk takdir karena telah menuliskan Umi untuk pergi?" tanya Al.


"Jangan seperti itu, Nak. Itu sama saja Al menghina Tuhan. Sabar dan ikhlas adalah kuncinya," ucap Dee.


"Al lebih memilih ikut Umi daripada harus tinggal di dunia tanpa Umi," ucap Al.


Dee tergelak, berusaha untuk menghibur Al yang sejak kejadian jantung Dee berhenti untuk sebentar, dia selalu memohon kepada Uminya untuk tetap hidup.


"Nak, selalu berdoa kepada Allah dan minta yang terbaik untuk kita semua," ucap Dee.


Al hanya mengangguk. Tanpa diminta pun, dia akan selalu mendoakan keluarga tercintanya.


"Umi, apa Umi tahu?" tanya Al.


"Tahu apa, Nak?"


"Al akan hancur jika Umi pergi. Seorang anak akan menjadi debu saat ditinggal Ibunya Umi. Dunianya akan hancur, karena bagi seorang anak, Ibu adalah segalanya. Dunia dan Surga seorang anak ada bersamanya, Umi. Jadi berjanji untuk selalu baik-baik saja, ya Umi," ucap Al dengan mata berkaca-kaca melihat Dee.


Dee tersenyum dan memeluk erat Al. Dee mengangguk mengiyakan perkataan Al. Sungguh, dia juga tidak ingin berpisah dengan anak dan keluarganya, tapi jika memang sudah kehendak Allah, tidak ada yang bisa mengelak kan. Tapi Dee akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya selama dia masih hidup.


Dee yang melihat Kina yang asik dengan video kartun di ponsel Dee pun memanggil Kina.


"Adek," panggil Dee dengan suara sedikit keras.


"Iya, Umi," jawab Kina tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel ditangannya.


"Adek sini dulu, duduk sama Umi sama Abang, Nak," ajak Dee.

__ADS_1


Kina menoleh. Tidak ingin membantah, anak itu langsung berdiri dan berjalan ke ranjang Dee. Dengan bantuan kursi, Kina bisa menaiki ranjang Dee.


"Kalian mau dengar suatu cerita nggak?" tanya Dee.


"Mau, Umi," jawab Al dan Kina antusias tanpa bertanya cerita apa.


Ditengah-tengan cerita mereka, pintu ruangan Dee terbuka.


"Abi," pekik Kina senang melihat kedatangan Abi nya.


Ibra tersenyum dan berjalan ke ranjang Dee. Setelah itu dia mencium ketiga orang yang sangat dia cintai secara bergantian.


"Anak Abi lagi apa sama Umi?" tanya Ibra.


"Nggak ada, Abi. Cuma cerita-cerita aja," jawab Al.


Ibra tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia menatap istrinya yang juga tersenyum. "Sudah siap untuk pulang, Sayang?" tanya Ibra.


Dengan antusias Dee mengangguk.


"Em ... Abi," panggil Al ragu.


Ibra langsung menoleh kepada Al. "Iya, Boy," ucap Ibra.


"Kita kapan kembali ke Padang, Abi?" tanya Al. Karena dia sudah rindu sekolah dan teman-temannya.


"Nak," ucap Dee.


"Iya, Umi," jawab Al.


"Kita akan kembali tinggal di Jakarta bersama dengan yang lainnya," ucap Dee.


Al terdiam sebentar, dia tidak langsung menjawab perkataan Dee. Setelah itu dia beralih menatap Ibra.


"Apa semua akan baik-baik saja jika kita tinggal disini Abi?" tanya Al.


Dengan pasti Ibra mengangguk. "Abi tidak akan mengulang kesalahan yang sama, Boy. Abi sudah tidak sanggup kehilangan," ucap Ibra.


Al mengangguk. "Baiklah, Abi. Al ikut Abi dan Umi," ucap Al.


Dee dan Ibra tersenyum mendengar penuturan Al. Anak nya ini memang sangat pengertian.


"Lalu Toko gimana, Umi?" tanya Al kepada Dee.


Belum Dee menjawab, Ibra sudah mengeluarkan suaranya. "Abi sudah mengurus semuanya, Boy. Joni yang akan mengurus toko dan rumah Umi di sana," jawab Ibra. Al hanya mengangguk mendengar perkataan Ibra.


"Yasudah, sekarang kita beres-beres untuk pulang, ya," ucap Ibra.


Mereka semua mengangguk dan mulai membereskan beberapa perlengkapan pribadi mereka. Selebihnya, anak buah Ibra yang akan mengurus.

__ADS_1


.....


Sedangkan di sisi lain Rumah Sakit, Sofia dan Kevin sedang berada dalam ruangan dokter yang kemarin memeriksa keadaan Sofia.


"Istri saya kenapa, Dokter?" tanya Kevin cemas setelah selesai memeriksa Sofia.


Siang ini Sofia mengantar makan siang untuk Kevin di kantornya, sedangkan Zahra tinggal bersama Wijaya dan Raina. Setelah selesai makan, Sofia merasakan sakit yang sangat hebat pada perutnya. Hingga akhirnya Kevin membawanya ke Rumah Sakit.


Sama halnya dengan Kevin, Sofia juga sangat cemas dengan kondisinya. Sejak kecelakaan terjadi, daya tahan tubuhnya memang menurun drastis.


Dokter menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Kevin.


"Maaf, Pak, Buk. Dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar ini," ucap Dokter.


"Kabar apa Dokter? Saya baik-baik saja kan Dok?" tanya Sofia cepat.


"Kecelakaan yang Ibu alami berakibat pada kesehatan rahim Ibu," jawab Dokter.


"Ma-maksud nya Dokter?" ucap Sofia menggenggam erat tangan Kevin. Sedangkan Kevin berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Ibu akan bisa mengandung lagi, tapi Ibu akan sulit untuk melahirkan," ucap Dokter tersebut.


"Katakan dengan jelas Dokter!" ucap Kevin tegas.


"Begini, Pak. Rahim Ibu Sofia mengalami kerusakan. Ibu Sofia bisa hamil, tapi akan sulit untuk kandungannya agar bertahan lama. Karena bisa berakibat fatal untuk Ibu Sofia sendiri," jawab Dokter.


Air mata Sofia jatuh mendengar penuturan Dokter. Sedangkan Kevin memejamkan mata sebentar mencoba menahan dan menerima apa yang terjadi.


"Jadi saya menjadi seorang wanita yang cacat Dokter?" ucap Sofia.


"Ini hanya hasil pemeriksaan kami, Bu. Tapi semua sudah diatur oleh Allah. Ibu harus sabar dan berusaha," ucap Dokter.


"Ini resep yang harus Bapak dan Ibu ambil di apotik," ucap Dokter menyerahkan kertas resep kepada Kevin.


"Kalau begitu kami permisi Dokter," ucap Kevin.


.....


"Mas," panggil Sofia lirih kepada Kevin. Kini mereka sudah berada di dalam mobil setelah mengambil obat.


"Iya, Sayang," jawab Kevin.


"Kalau kamu mau ceraikan aku, aku siap, Mas."


......................


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote nya yaa.


Jangan lupa baca juga novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO", TERIMAKASIH 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2