Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 106


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


DEG


Mata Al bersitatap dengan manik mata seseorang yang sangat di kenalnya di masa lalu.


"Alania, Om Alan," gumam Al melihat Alan dan anaknya memasuki kantin.


Al langsung menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Pak Anton agar Alan dan Alania tidak melihat keberadaannya.


Sedangkan Alan mematung di pintu melihat Al. Berbeda dengan Nia yang nampak senang. Alan ingat betul, itu adalah Al, anak Ibra sahabatnya. Walaupun sudah tiga tahun berlalu, tapi wajah Al tidak banyak berubah. Hanya tinggi badan anak itu yang sedikit bertambah.


"Papa, itu Al," tunjuk Nia ke meja tempat duduk Al.


Astaga, ini benar-benar keajaiban. Gumam Alan dalam hati.


"Ayo, Sayang kita ke sana," ucap Alan berjalan menggandeng Alania menuju meja dimana Al duduk.


Sedangkan Al hanya bisa pasrah menyembunyikan dirinya. Keringat dingin sudah keluar dari kulitnya.


"Al, kamu kenapa?" tanya Pak Anton yang melihat seperti ketakutan.


"Bisa kita pergi dari sini, Pak Kepala Sekolah?" tanya Al.


Pak Anton langsung mengangguk. Mereka berdiri dari duduknya dan melangkah pergi dari kantin. Pak Anton berpikir mungkin Al kurang enak badan.


Tapi langkah mereka terhenti karena mendengar suara seseorang.


"Al,"


DEG


Al berhenti. Ini bukan suara om Alan. Dengan pelan Al membalik badan melihat siapa yang memanggilnya. Pak Anton dan pendamping mereka juga ikut berbalik ketika mendengar seseorang memanggil Al.


"Uncle Agam," gumam Al saat melihat Agam yang lengkap dengan seragam Polisinya sudah berdiri tepat di hadapannya. Sedangkan di belakang Agam Adan Alan dan Alania yang juga tengah menatap Al.


"Al," panggil Agam dengan suara bergetar. Matanya memerah menahan air mata rindu yang siap untuk menetes. Ada rindu yang sangat besar dalam dirinya kepada anak yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


Al hanya diam mematung. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Haruskah dia memeluk Agam atau lari meninggalkan tempat ini. Lama Al terdiam hingga dia tidak menyadari, bahwa Agam sudah bersimpuh dengan kedua lutut sebagai tumpuan tepat dihadapannya.


Tangan Agam terulur menyentuh wajah Al yang tidak berubah seperti tiga tahun lalu. Al mundur selangkah saat menyadari Agam akan menyentuh wajahnya.


"Uncle Agam," panggil Al dengan suara tercekat.


Agam mengangguk. "Iya, ini Uncle, Al," jawab Agam. Runtuh sudah wibawanya sebagai Polisi yang menangis didepan seorang anak kecil.


"Pergi Uncle!" tegas Al kepada Agam.


Agam terkejut. Begitu juga Alan yang mendengarnya.


"Al tidak merindukan Uncle?" tanya Agam.


Al menggeleng. "Al benci masa lalu!" jawab Al tegas.


"Tapi kami semua merindukan Al," ucap Agam.


Al menggeleng kuat. "Kalian semua jahat," ucap Al pelan. Dia menunduk tidak ingin menatap mata Agam yang terus memandanginya.


Tidak kuat lagi, Agam membawa tubuh Al ke dalam pelukannya. Al memberontak. Dia memukul-mukul dada Agam tidak ingin di peluk.


"Al ini Uncle Agam, Al. Uncle rindu sama Al," ucap Agam dengan suara gemetar.


"Uncle jahat! Kalian semua jahat!!" teriak Al memukul mukul dada Agam.


"Hiks, Uncle jahat. Kalian semua jahat," ucap Al. Tangis yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya tumpah dalam pelukan Agam.

__ADS_1


"Kami semua sayang sama Al," ucap Agam mencoba menenangkan Al.


Al menggeleng kuat. Anak itu terus saja memukul-mukul badan Agama. Sesekali dia menggunakan kakinya untuk lepas dari pelukan Agam.


"Maaf, Pak Polisi. Anda bisa melukai murid saya," ucap Pak Anton yang tidak tega melihat Al.


"Saya tidak akan melukai ponakan saya sendiri," ucap Agam. Pak Anton hanya diam mendengar jawaban Agam. Dia bingung tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.


"Hiks, hiks, Uncle sama Abi sama-sama jahat. Kenapa buat Umi menderita? Kenapa buat Umi nangis tiap malam? Hiks," ucap Al kepada Agam.


Agam melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Al. Agam menggeleng memandangi Al. "Bukan seperti itu Al," ucap Agam dengan suara gemetar. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana kebodohan mereka melukai anak ini begitu dalam.


Alan yang melihat semua ini hanya bisa menjadi pendengar. Pikirannya kini sudah tidak karuan. Begitu besar kesalahan mereka hingga anak ini membenci masa lalunya sendiri? Pikir Alan.


"Papa, Al kenapa?" tanya Alania polos. Sedari tadi dia hanya mengerjap polos melihat semuanya.


"Tidak apa-apa, Sayang," jawab Alan.


"Sekarang kita ke Mama, ya," ucap Alan pergi menggendong Nia.


.....


Setelah mengantarkan Alania kepada istrinya, Alan bergegas meninggalkan tempat lomba dan segera menuju kantor Ibra. Pikirannya benar-benar kacau. Padahal ada ponsel yang sangat bisa membantunya saat sekarang ini.


Sepuluh menit Alan sudah sampai di kantor Ibra. Alan langsung berlari menuju lift.


Ting


Lift berbunyi. Alan berjalan cepat menuju ruangan Ibra.


Brak


Pintu ruangan Ibra terbuka kasar. Ibra dan Kevin yang sedang duduk di sofa menoleh dan mendapati Alan yang membungkukkan badan menormalkan nafasnya.


"Ib, ketempat lomba sekarang Ib," ucap Alan ngos-ngosan.


"Tempat lomba?" tanya Ibra bingung.


"Iya," ucap Alan.


"Ngapain?" kali ini Kevin yang menimpali.


"Al ikut lomba itu, bodoh!" ucap Alan kesal dengan kedua temannya.


Ibra mematung. "Lo nggak becanda kan, Lan?" tanya Ibra.


"Agam saat ini sedang bersama Al. Lo ke sana sekarang sebelum Al pergi lagi," ucap Alan.


Tanpa pikir panjang, Ibra langsung berlari keluar ruangannya.


.....


Sedangkan di kantin tempat penyelanggaraan lomba, Agam masih berusaha membujuk Al.


"Al, tidak ada yang mau menyakiti Al dan Umi," ucap Agam.


"Uncle bohong, hiks. Kalian semua jahat sama Al dan Umi, hiks. Kalian jahat Uncle, hiks," ucap Al menangis kepada Agam. Pak Anton yang tidak tahu apa-apa ikut menitikkan air mata melihat betapa Al dan Agam menangis bersama.


"Ada alasan untuk semua ini, Al," ucap Agam.


"Alasan apa yang Uncle punya, sampai Abi harus mengorbankan Al dan Umi? Alasan apa Uncle?" tanya Al dengan suara kerasnya. Wajah anak itu sudah memerah karena menangis. Air mata tidak berhenti keluar dari matanya.


"Maafkan kami, Al. Kami sangat menyayangi Al dan Umi. Tidak ada niat sama sekali untuk menyakiti kalian,* ucap Agam.


"Al benci semuanya. Kenapa tidak ada yang mencegah Abi untuk tidak menyakiti Umi? Kenapa kalian membiarkan semuanya terjadi? Kenapa Uncle?" tanya Al dengan suara sendu dalam tangisnya.

__ADS_1


"Abi Al akan menjelaskan semuanya, Sayang. Sekarang ikut Uncle ketemu Abi, ya," ucap Agam membujuk Al.


"AL BENCI ABI!"


DEG


Tiga kata dari mulut Al membuat semuanya terdiam. Seorang lelaki yang sedari tadi mencari keberadaan anaknya kini melihat anaknya berbicara lantang dengan sahabatnya. Hatinya berdenyut sakit mendengar ungkapan benci dari anaknya sendiri. Apa seperti ini yang di rasakan istrinya dulu, saat Ayah dan Bundanya tidak mempercayainya? Bahkan Ayah dan Bunda Dee dulu menyesal memiliki anak seperti Dee. Apa ini karma untuknya?


"Al," panggil nya lirih.


Al yang tadi menangis, kini terdiam mendengar suara berat tersebut. Itu adalah suara orang yang sangat dia hindari. Dengan sekuat tenaga, Al membalikkan badan.


Matanya beradu dengan mata sendu Ibra. Bahkan bisa Al lihat mata Ibra yang sudah memerah. Dia sudah tidak bisa mengelak lagi sekarang. Al harus menghadapi situasi ini.


"Ini Abi, Nak," ucap Ibra sendu. Ibra bersimpuh di depan Al untuk menatap lekat wajah anaknya.


Al menggeleng kuat. "Bapak bukan Abi ku!" ucap Al tegas kepada Ibra.


Sakit, sesak, nyeri. Itulah yang dirasakan Ibra saat mendengar perkataan anaknya. Jadi ini yang mengakibatkan hatinya tidak tenang sedari tadi?


"Maafkan Abi, Nak. Jangan benci Abi," ucap Ibra.


"Jangan menyebut bahwa bapak ini adalah Abi ku. Abi ku tidak akan mungkin menyakiti Umi. Abi ku tidak akan mengkhianati Umi. Abi ku tidak akan mungkin menikahi wanita lain selain Umi. Abi ku tidak seperti itu!" ucap Al sendu.


"Al, jangan bicara seperti itu sama Abi, Nak," ucap Ibra. Air matanya jatuh mendengar pengakuan anaknya. Tidak peduli siapa dia dan apa jabatannya, untuk saat ini Ibra hanya seorang lelaki yang gagal menjalani tugas sebagai seorang Ayah.


Kevin dan Alan yang baru sampai juga ikut terkejut mendengar perkataan tegas Al.


Al berbalik menghadap Agam yang masih bersimpuh seperti Ibra. "Mengapa harus Al yang merasakan semua ini Uncle? Mengapa harus Al Uncle?" ucap Al sendu.


Agam hanya diam. Lidah nya tercekat tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata apapun.


Melihat Agam yang hanya diam, kini Al membalikkan badannya dan berjalan mendekati Kevin dan Alan yang berada di belakang Ibra.


"Uncle Kevin, Uncle Alan," panggil Al.


Kevin dan Alan hanya mengangguk mengiyakan. "Uncle berdua kemana saat Abi menyakiti Umi? Kenapa Uncle berdua tidak mencegah perbuatan jahat Abi, ha?" tanya Al kepada Kevin dan Alan.


"Boy," suara Kevin tercekat. Dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya melihat Al yang menatapnya dengan tatapan terluka. begitu juga dengan Alan.


Tidak mendapat satu jawaban pun atas pertanyaannya, Al beralih kepada Ibra.


"Hiks, Apa Abi tahu bagaimana susahnya Al dan Umi untuk bangkit? Apa Abi tahu kalau Umi sering menangis? Apa Abi tahu kalau hati anak Abi ini sangat sakit dan terluka? Apa Al sama sekali tidak ada di hati Abi? JAWAB ABI!" teriak Al kepada Ibra.


Anak umur tujuh tahun itu mengeluarkan segala sakit dan luka yang selama ini dia tahan, kepada seseorang yang sudah menyebabkan luka untuknya dan juga Uminya.


"Abi tidak berniat menyakiti Al dan Abi. Abi tahu Abi salah. Maafkan Abi, Nak," ucap Ibra sendu.


"Kalau tidak berniat kenapa Abi menikah lagi? Kenapa Abi memiliki anak lain? Hiks," tangis Al kembali pecah kepada Ibra.


"Apa Abi tahu? Walaupun Abi jahat, tapi Umi tidak pernah mengajarkan Al untuk membenci Abi. Umi selalu mengingatkan bahwa Al adalah anak Abi. Tapi kenapa Abi harus menyakiti Al sangat dalam? Hiks," ucap Al menumpahkan segala luka dan pedihnya.


"Tahukah Abi bagaimana Umi harus berjuang sendiri melahirkan Adik? Tahukah Abi bagaimana Umi sakit melahirkan Adik tanpa suami? Sedangkan disini Abi menemani istri muda Abi,"


DEG


Jantung Ibra serasa akan lepas dari tempatnya mendengar Al menyebutkan kata Adik. Adik?


......................


Aku nangis nulis BAB ini. Seriius!!!


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹

__ADS_1


__ADS_2