Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 102


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Ina atan besal dong Ban?" tanya Ina antusias.


Al mengangguk semangat dan memeluk adiknya itu. Sumpah demi apapun, Al sangat menyayangi Adiknya ini.


Dee yang sudah selesai membuat susu untuk Al berhenti di balik dinding karena mendengar perkataan anaknya. Maafkan Umi, Sayang. Harusnya ada Abi kalian yang membujuk di saat sedih. Umi harap kalian bisa saling menyayangi seperti ini selamanya. Umi sangat menyayangi kalian. Batin Dee sendu mengintip kedua anaknya uang kini sedang berpelukan. Tak terasa ada setitik air mata di sudut mata Dee. Dengan kasar Dee menghapus air matanya dan langsung berjalan menemui kedua anaknya.


"Jadi Umi nggak diajak pelukan nih," ucap Dee dengan suara merajuknya.


Dengan semangat Kina dan Al langsung memeluk Dee. Jadilah mereka berpelukan ala teletabis.


"Kami sayang Umi," ucap Al dan Kina. Al dengan bicaranya yang lurus, dan Kina dengan logat cadelnya.


"Umi lebih sayang sama kalian," jawab Dee. Setelah itu Dee melepaskan pelukan mereka dan menyuruh Kina untuk meminum susu yang sudah ia buatkan.


"Abang, ganti baju dulu gih," ucap Dee menyuruh Al mengganti seragam sekolah yang masih melekat di badannya.


"Iya, Umi," ucap Al. Setelah itu Al mengambil tas sekolah yang di letakkan di sofa. Kemudian berjalan menuju kamarnya.


Atas usaha dan kerja kerasnya, Dee bisa memberikan kenyamanan kepada kedua anaknya. Awalnya memang sulit, tapi berkat semangat dan dukungan dari Al, Dee bisa bangkit dan merubah kehidupan mereka.


.....


Malam ini Al sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di depan Televisi. Ditemani Kina yang entah menggambar apa di buku gambar miliknya.


"Adek buat gambar apa?" tanya Al kepada Kina yang duduk menelungkup di sebelahnya.


"dambal," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku gambar di depannya.


Al menghela nafas pelan, dia juga tahu adiknya itu sedang menggambar. Dengan sabar di kembali bertanya kepada Kina. "Gambar apa?" tanya Al.


Tapi Kina hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Al dan terus melanjutkan kegiatannya. Al yang penasaran dengan gambar adiknya pun menggeser tubuhnya lebih dekat ke Kina.


"Kok ada empat, Dek?" tanya Al saat melihat gambar Kina.


"Iya ada empad Aban. Ini Abi, Ini Aban, Ini Ina, Ini Umi. Jadi empad," ucap Kina menunjuk satu persatu gambarnya dan menunjukkannya kepada Al.


"Adek," panggil Al pelan.


Kina yang mendengar Al memanggilnya langsung melihat Al dengan mengerjap lucu.


"Adek jangan lihatin gambar ini sama Umi, ya. Nanti Umi sedih," ucap Al membujuk adiknya.

__ADS_1


"Apa kalna Ina bitin dambal Abi?" tanya Kina lada Al.


Al menganggukkan kepalanya. Mata kina berkaca-kaca menatap Abangnya. Dia langsung menutup buku gambarnya dan menyimpannya di meja Televisi.


"Ina Ndak mau Umi cedih," ucap Kina setelah kembali duduk di dekat Al.


"Sekarang kita nonton video, ya. Abang udah selesai belajar," ucap Al menghibur Kina.


Kina mengangguk antusias. Setelah itu, Al mengambil ponsel yang ada di atas meja dan membuka aplikasi YouTube. Dan mereka menonton video sholawat yang selalu menjadi tontonan favorit mereka. Karena ini yang selalu diajarkan oleh Uminya.


Saat sedang asik dengan tontonan nya, Dee datang membawa dua gelas susu dan cemilan untuk anaknya.


"Abang udah selesai belajarnya?" tanya Dee yang kini sudah ikut duduk di disebelah Kina.


"Sudah, Umi," jawab Al. Setelah itu dia kembali melihat video di ponselnya.


Dee memeriksa kembali pekerjaan rumah Al. Senyum terbit di bibir seksi Dee. Anaknya ini memang pintar. Setiap Dee memeriksa pekerjaan rumahnya, tidak ada kesalahan yang ditemukan Dee. Setelah memeriksanya, Dee membereskan buku-buku Al kedalam tas nya.


Saat memasukan buku Al, Dee menemukan sebuah amplop. "Al, ini apa, Nak?" tanya Dee mengangkat amplop tersebut.


Al membulatkan matanya. Dia langsung mengambil amplop itu dari tangan Dee dan memasukkan ke dalam tasnya kembali. "Bukan apa-apa, Umi," ucap Al.


"Al," suara Dee berubah tegas melihat perubahan sikap Al.


"Aban napa, Umi?" tanya Kina polos.


"Abang mungkin udah ngantuk, Sayang. Kina nonton sendiri dulu, ya. Umi mau nyusul Abang sebentar," ucap Dee.


Kina mengangguk patuh dan kembali melanjutkan kegiatannya menonton Video.


Dee pergi menyusul Al ke kamarnya. Sampainya di dalam kamar Al, Dee melihat anak itu sudah tidur dengan memeluk tas nya.


"Al," panggil Dee lembut.


Al hanya diam. Anak itu tidak marah, tapi di belum siap mengatakan perihal surat itu kepada Uminya.


"Al maaf, Umi nggak bermaksud meninggikan suara Umi sama Al," ucap Dee lembut mengusap lembut rambut Al.


"Al jangan marah sama Umi," ucap Dee dengan suara bergetar. Dia tidak sanggup jika harus didiamkan oleh anaknya. Dia akan menjadi cengeng dalam keadaan seperti ini.


Mendengar suara Dee yang sudah bergetar, Al membalikkan badannya. Kemudian mendudukkan tubuhnya di sebelah Dee.


"Maaf, Umi," jawab Al memeluk pinggang Dee.

__ADS_1


"Maafin Umi juga, ya, Nak," ucap Dee.


Al melepaskan pelukannya dan mengambil amplop tadi dari tasnya.


"Ini, Umi," ucap Al menyodorkan amplop tersebut kepada Dee.


Dee menerima amplop tersebut dan membukanya. Matanya berbinar ketika membaca tulisan di surat tersebut. "Umi pasti akan setuju kalau Al ikut ini, Nak," ucap Dee senang.


"Tapi Al ragu, Umi," ucap Al menunduk sedih.


"Anak Umi ragu kenapa?" tanya Al.


"Lombanya itu di Jakarta. Jakarta itu tempat tinggal Abi. Al belum siap jika nanti di sana ketemu Abi," ucap Al dengan mata uang berkaca-kaca.


Dee yang mendengar perkataan Al langsung membawa tubuh Al kedalam dekapannya. "Al dengerin Umi, ya. Jakarta itu luas, Sayang. Jadi nggak mungkin hanya dalam satu hari Al akan ketemu Abi," ucap Dee.


"Kalau iya gimana, Umi? Al nggak mau ketemu Abi," ucap Al. Suaranya sudah bergetar menahan tangis.


"Al dengar Umi. Bagaimanapun juga, Abi tetap Abinya Al. Kalau Al ketemu Abi, berarti itu sudah takdir. Al percaya sama takdir Allah, kan?" ucap Dee.


Al mengangguk dalam dekapan Uminya.


"Kalau gitu, Al nggak usah mikirin hal itu. Yang penting sekarang Al ikut lombanya. Al mau buat Umi dan sekolah bangga kan?" tanya Dee.


Lagi-lagi Al hanya mengangguk.


"Kalau gitu Al ikuti lombanya. Al hanya perlu fokus pada lombanya tanpa memikirkan hal lain lagi. Kalau Al menolak, pasti Kepala Sekolah dan Guru di Sekolah kecewa. Jadi Al harus membuat bangga mereka," ucap Dee membujuk Al.


"Apa Umi merestui Al?" tanya Al mendongak melihat Dee.


"Umi selalu merestui apapun yang Al lakukan. Setiap doa Umi selalu ada nama anak-anak Umi. Jadi jangan takut, ya Nak," ucap Dee.


"Iya, Umi. Al akan ikut lombanya," ucap Al mantap. Setelah itu dia memeluk erat pinggang Dee.


Dalam hati Dee sangat takut jika Al bertemu abinya, tapi dia tidak boleh egois. Melukis adalah mimpi Al. Dan Dee tidak mau merenggut mimpi anaknya hanya karena keegoisannya.


......................


Hai teman-teman, jangan lupa lihat video kenangan Abi Ibra sama Umi Dee dan Al ya di Instagram aku @yus_kiz. Video ini merupakan gambaran untuk BAB saat Ibra dan Dee berpisah. Jangan lupa nonton ya 👌😘


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹

__ADS_1


__ADS_2