Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 190


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


*Flashback Off*


Bella langsung melepaskan pelukannya pada sang suami ketika Al sudah selesai menceritakan semuanya.


Bella duduk menghadap Al dan menatap pria itu dengan mata yang berkaca-kaca. Bella meraba-raba tubuh suaminya memastikan bahwa Al sudah tidak kesakitan lagi.


"Apa masih sakit?" tanya Bella dengan suara bergetar.


Al tersenyum dan menggeleng. "Aku sudah tidak kesakitan. Kalau aku masih sakit, aku tidak akan mampu olahraga ranjang subuh tadikan," ucap Al dengan wajah jahilnya.


Bella memukul pelan dada Al dengan wajah cemberutnya. "Aku serius, Al," ucap Bella manja.


Al merangkul tubuh Bella dan kembali memeluknya erat. "Aku tidak masalah jika harus terluka seribu kali lebih parah, asalkan kamu adalah obat yang aku dapatkan dari luka itu. Kamu tahu, Sayang?" ucap Al.


Bella mendongak. "Apa?" tanya Bella.


"Selain Umi, kamu adalah wanita yang dianugerahkan Tuhan dalam hidupku. Aku bersyukur, memiliki wanita-wanita hebat seperti kalian. Karena tanpa kalian, aku tidak akan hidup sebahagia ini," ucap Al tulus memandang dalam mata Bella.


Senyum indah terbit di wajah cantik Bella. "Aku lebih bersyukur daripada kamu, Al. Rasanya aku sudah menggenggam surga dalam hidupku," ucap Bella.


Mereka berdua berpandangan dengan saling melempar senyum indah. "I love you," ucap Al tulus.


"I love you too," jawab Bella dengan senyum manisnya.


.....


Sedangkan di kamar lain, Dee dan Ibra masih berdiri di balkon kamar mereka memandangi bulan malam yang tampak sangat indah. Ibra menoleh kesamping dan melihat wajah cantik Dee.


Rasa syukur begitu dia sampaikan karena masih diberi kesempatan untuk menjadi pendamping hidup wanita terbaik dalam hidupmu. Jika saja dulu dia menyerah memperjuangkan Dee, mungkin dia tak akan sebahagia ini sekarang.


Ibra berpindah posisi ke belakang Dee dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tangan Ibra melingkar indah di perut Dee.


"Mas," ucap Dee mengusap lembut tangan Ibra yang ada diperutnya.


Ibra meletakkan dagunya di bahu Dee. Sungguh, dia sangat cinta wanita ini. Tidak terasa setetes air mata Ibra jatuh mengenai bahu Dee yang sedikit terbuka itu. Karena saat ini dia tidak menggunakan hijabnya.


Dee menoleh kesamping. "Kenapa?" tanya Dee lembut mengusap rahang Ibra.


Ibra menggeleng dengan pelukannya yang semakin erat.


"Ada apa, Mas?" tanya Dee lagi.


Ibra terdiam sejenak. Setelah itu dia memandang wajah Dee dari samping. "Terimakasih, Sayang," ucap Ibra tulus. Buliran kristal itu tidak berhenti keluar dari matanya.

__ADS_1


"Terimakasih?" tanya Dee heran.


"Terimakasih karena sudah setia berada disampingku, Sayang. Terimakasih sudah ingin kembali menerima pria bodoh ini," ucap Ibra dengan suara bergetar. Dia tidak tahu bagaimana hidupnya jika Dee dan anak-anaknya tidak menerimanya kembali. Bahkan membayangkannya saja Ibra serasa ingin mati.


Dee tersenyum lembut dan memutar badannya menghadap Ibra. Dengan lembut dia mengusap air mata di pipi Ibra.


"Mas, kita adalah takdir yang sudah digariskan oleh Allah. Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu. Bagaimanapun cobaannya, takdir kita adalah untuk bersama. Dan apa kamu tahu, Mas, kamu adalah lelaki terbaik yang membimbing aku menuju Jannah," ucap Dee menunjuk dada Ibra.


"Disini hanya ada aku, aku dan aku," lanjut Dee dengan senyum indahnya.


Ibra tersenyum mendengar perkataan lembut istrinya. "Sekarang pria bodoh ini sudah tua, Sayang. Tapi percayalah, cinta kita akan tetap sama seperti saat pertama kali aku jatuh cinta padamu," ucap Ibra membayangkan bagimana pertemuan pertamanya dulu dengan Dee.


"Mas boleh aku minta sesuatu?" tanya Dee.


Ibra mengangguk. "Minta apa?" tanya Ibra.


"Aku mau egois, Mas," ucap Dee.


Alis Ibra terangkat karena bingung dengan perkataan istrinya. "Maksudnya?" tanya Ibra.


Dee menatap dalam mata Ibra. "Mas, jika nanti aku menghadap Pencipta kita lebih dulu darimu, bolehkah aku memintamu untuk tidak kembali menikah dengan wanita lain?" ucap Dee.


"Sayang-"


"Tidak akan ada wanita lain yang pantas menjadi Ibu dari Anak-anakku selain kamu, Sayang," ucap Ibra lembut.


"Kenapa bertanya seperti itu?" lanjut Ibra mengusap lembut pipi istrinya.


Mata Dee berkaca-kaca menatap Ibra. "Karena aku ingin berkumpul di surga bersamamu, Mas. Aku ingin kamu tetap menjadi suamiku di Surga nanti," ucap Dee.


Ibra tersenyum dan mengangguk. "Sampai kapanpun, baik di Surga atau di Dunia, Haidee Tsabina akan tetap bergelar sebagai bidadari Ibrahim Rubini Hebi, tidak akan ada yang lain," ucap Ibra dengan sejuta keyakinannya.


"Terimakasih, Mas," ucap Dee langsung memeluk Ibra.


Ibra membalas pelukan Dee dengan sangat erat. "Bagaimana jika aku yang pergi kepangkuan Pencipta lebih dulu darimu, Sayang?" tanya Ibra melempar pertanyaan yang sama pada Dee.


"Tidak pernah ada lelaki yang pantas untuk seorang Haidee selain Ibrahim," jawab Dee yakin.


Ibra tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Badan mereka sampai bergerak ke kiri dan ke kanan karena pelukan hangat itu.


Umur boleh semakin tua, tapi cinta mereka masih sama seperti saat mereka pertama merasakan cinta itu. Perasaan mereka bahkan jatuh lebih dalam daripada saat dulu mereka saling jatuh cinta.


.....


Pagi telah menjelang. Jam berputar begitu cepat. Kini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mereka semua, kecuali Ibra kini berada dirumah baru Al yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Ibra. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk jarak rumah Ibra dan Al.

__ADS_1


Mereka nampak saling bertukar cerita. Rumah yang ditempati Al dan Bella memang sudah sangat siap huni. Al memang mempersiapkan semuanya dengan begitu mudah. Sekali tekan panggilan, maka perkataannya akan langsung terlaksana.


Saat sedang asik bercerita, dering ponsel Dee membuat mereka mengalihkan pandangan kepada Dee.


"Angkat saja, Umi," ucap Al.


"Nomor tidak dikenal, Nak," ucap Dee. Dia memang sangat jarang mengangkat nomor yang tidak dikenal.


"Angkat saja, Dee. Siapa tahu penting," ucap Naina.


Dee mengangguk dan mengangkat panggilannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Dee saat panggilan tersambung.


"Apa benar ini istri dari Bapak Ibrahim?" tanya seseorang dari seberang sana.


Dee memandang semua anggota keluarganya. "Iya, saya istrinya Ibra. Ini dengan siapa ya?" tanya Dee hati-hati. Perasaannya sudah mengatakan sesuatu yang tak enak.


"Maaf Nyonya. Kami dari Rumah Sakit Medika ingin menyampaikan bahwa Bapak Ibrahim saat ini sedang ditangani dan kondisi beliau sangat buruk," ucap orang tersebut.


Tangan Dee bergetar mendengar perkataan di ponselnya. Air matanya jatuh begitu saja tanpa dia minta. Mereka semua yang melihat itu heran dan bingung.


"Kenapa Umi?" tanya Kina khawatir.


"Su-suami saya kenapa?" tanya Dee tanpa menghiraukan pertanyaan Kina.


"Suami Nyonya mengalami kecelakaan tunggal. Dan saat ini sedang ditangani beberapa dokter di UGD," jawab orang diseberang telepon.


"Jangan bercanda, tadi suami saya masih baik-baik saja," ucap Dee tak percaya. Dee segara menjauhkan ponselnya dan terduduk dengan tangis yang tak terbendung.


"Dimana Abi saya?" tanya Al setelah mengambil ponsel Dee yang masih tersambung.


"Rumah Sakit Medika, Pak," jawab orang diseberang sana.


Al langsung memutus panggilannya dan memeluk Dee yang sudah menangis.


"Al, ada apa?" tanya Kevin.


"Abi, Abi kecelakaan Uncle."


"Apa?"


......................


Menuju Ending 🤗🤗. Jangan lupa buat tetap like, komen dan kasih vote ya. Aku sayang kalian 😘🌹

__ADS_1


__ADS_2