Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Bab 54


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Setelah pertemuannya dengan Alan, Kevin dan Agam, kini Ibra menyibukkan diri dengan kertas-kertas didepannya. Tangannya dengan telaten membalikan kertas setiap helainya.


"Abi," teriak Al memasuki ruangan Ibra. Ibra mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat mendengar suara Al memanggilnya.


Ibra bangun dari duduknya dan mengangkat tubuh Al ke gendongannya. "Assalamu'alaikum, Anak Abi," ucap Ibra.


"Hehe, Waalaikumsalam, Abi," ucap Al cengengesan karena lupa mengucap salam.


"Umi kemana, Boy?" tanya Ibra karena tidak melihat Dee masuk bersama anaknya.


"Assalamu'alaikum, Mas," ucap Dee memasuki ruangan Ibra.


"Waalaikumsalam," jawab Ibra dan Al bersamaan.


Ibra menghampiri Dee dan memberikan kecupan singkat di dahi Dee. Setelah itu menuntun istrinya untuk duduk di sofa. "Kok nggak bareng Al, Sayang?" tanya Ibra setelah mereka duduk di sofa.


"Tadi Adek ke toilet dulu, Mas. Udah kebelet," jawab Dee jujur.


Ibra hanya mengangguk mendengar jawaban Dee.


"Oiya, Sayang, nanti pulangnya kamu sama sopir, ya. Mas ada pertemuan penting dengan rekan bisnis dari Jepang," ucap Ibra memberitahu Dee.


"Kenapa mendadak, Mas?" tanya Dee heran. Karena tadi sewaktu di rumah Ibra mengatakan tidak ada pertemuan penting hari ini.


"Mas lupa ngasih tahu," jawab Ibra santai.


Tidak biasanya Mas Ibra seperti ini. Batin Dee memandang lekat wajah suaminya.


Ibra mengalihkan pandangannya kepada Al yang asik memakan cemilannya di pangkuan Ibra. Maaf, Sayang. Jika aku mengatakan apa yang akan aku lakukan kamu pasti tidak akan setuju. Ucap Ibra dalam hati.


Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Ibra menggendong Al yang tertidur dan menggandeng tangan Dee dengan sebelah tangannya untuk mengantarnya ke lobi kantor. Saat keluar kamarnya, Ibra tidak melihat Naina duduk di kursinya. Kemana dia? tanya Ibra dalam hati.

__ADS_1


"Mas," panggilan Ibra mengalihkan pandangan Ibra.


"Iya, Sayang?"


"Kenapa ngelamun?"


"Oh, enggak. Ayo jalan lagi," ucap Ibra menggandeng tangan Dee dan melanjutkan langkahnya.


Sampainya di lobi, mobil sudah terparkir dan Ibra membukakan pintu agar Dee masuk lebih dulu. Setelah itu Ibra meletakkan tubuh Al yang tertidur dengan pelan ke pangkuan Dee.


"Pak, hati-hati, ya," ucap Ibra kepada Sopir sebelum menutup pintu.


"Siap, Tuan," jawab Pak Sopir dengan mengacungkan jempolnya.


"Mas masuk dulu, ya," ucap Ibra kepada Dee.


"Iya, jangan pulang kemalaman, Mas. Jangan terlalu dipaksain buat kerja. Jangan lupa istirahat," ucap Dee menasehati Ibra.


Ibra tersenyum dan mengangguk mengiyakan nasehat Dee. Sebelum pergi, tidak lupa Ibra mencium dahi Dee dan Al secara bergantian. Ini seolah sudah menjadi tradisi untuknya.


Setelah memastikan mobil Dee hilang dari pandangannya, Ibra kembali memasuki kantor. Sampainya didepan ruangan, Ibra sudah melihat Naina yang duduk dengan tenangnya di sana.


"Nai," Panggil Ibra.


"Setelah ini temani aku untuk bertemu dengan klien kita yang dari Jepang, karena Kevin ada keperluan lain ke perusahaan cabang untuk menyelesaikan beberapa masalah di sana," ucap Ibra memberitahu Naina.


"Baiklah, Ib. Akan aku siapkan berkasnya segera," jawab Naina. Ibra hanya mengangguk dan berlalu memasuki ruangannya.


Ini kesempatanku untuk memfitnah Dee. Selagi Kevin tidak ada di samping Ibra, aku bisa melancarkan semuanya. Mulai malam ini, Ibra harus menjadi milikku. Heh, kalian semua benar-benar bodoh. Batin Dee berteriak senang ketika Ibra mengatakan Kevin tidak ikut bersama mereka.


****************


Kini Ibra dan Naina sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sudah di siapkan Ibra.


"Ibra," panggil Naina memecah keheningan antara dia dan Ibra.


Ibra mengalihkan pandangannya kepada Naina, "Ya, Nai," jawab Ibra.


Tangan Naina, terulur mengusap lembut bahu Ibra. "Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu."


"Bisa lepaskan tanganmu, Nai," ucap Ibra risih dengan tangan Naina yang ada di bahunya.

__ADS_1


Naina tersenyum senang dan melepaskan tangannya dari bahu Ibra. Tapi sebelum itu dia mengusap lembut rahang Ibra. Wanita ini benar-benar berani dan tidak canggung sama sekali.


Dasar Ular. Umpat Ibra menahan kekesalannya.


Naina mengeluarkan ponsel dari tas yang ada di pangkuannya. Setelah itu dia memperlihatkan sebuah file yang berisi video kepada Ibra. Ibra menginjak rem mendadak melihat video yang disuguhkan oleh Naina.


Tangan Ibra terkepal kuat dan wajahnya memerah melihat rekaman video CCTV tersebut. Video itu menunjukkan Dee yang dengan sadisnya menusuk Raina di kamar hotel.


"Maafkan aku baru bisa mengatakan ini pada mu, Ib. Aku sudah lama mengetahui ini, tapi aku tidak mau melihat kekecewaan yang kedua kalinya di wajah mu dan Al. Oleh karena itu aku menahannya sendiri, Ib," ucap Naina dengan wajah menyesal memanas-manasi Ibra.


"Aku menyayangimu dan Al, Ib. Aku tersiksa jika terus-terusan menahan semua kebenaran ini. Sungguh, aku tidak sanggup," ucap Naina dengan air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.


"Maafkan aku jika menyembunyikan ini darimu. Aku tidak mau kau dan Al terus-terusan hidup dengan seorang pembunuh. Nyawa kalian bisa jadi ancamannya. Makanya aku sudah putuskan untuk memberitahumu mengenai kebenaran ini. Maafkan Aku," ucap Naina kembali menyeka air matanya.


Tangan Ibra semakin terkepal kuat, wajahnya memerah menahan segala marah, kecewa dan sakit hati karena melihat video CCTV tersebut.


Dia marah karena untuk kedua kalinya wanita di sebelahnya ini memfitnah istrinya sendiri. Ibra kecewa karena sialnya wanita disebelahnya ini adalah sahabat yang sangat dia percaya. Ibra sakit hati karena melihat kelakuan buruk sahabatnya ini terhadap keutuhan rumah tangganya. Dia benar-benar menyesal dengan semua sikap baiknya terhadap Naina.


Ibra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Bawa dia sekarang dan kita tuntaskan malam ini," ucap Ibra dan langsung memutus sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari seseorang di seberang sana.


"Kita akan kemana, Ib?" tanya Naina ketika melihat mobil mereka memasuki kawasan hutan.


"Menghukum orang yang sudah melakukan semua ini," jawab Ibra dengan tangan kuat menggenggam stir mobil melampiaskan emosinya.


"Ib, ingat jangan gegabah. Dee istrimu, dan untuk saat ini Al sangat menyayanginya. Pikirkan keadaan Al," ucap Naina dengan pura-pura membujuk Ibra.


"Sudah cukup, Naina. Aku sudah muak dengan semuanya. Orang yang melakukan semua ini harus diberi pelajaran!" ucap Ibra tegas menatap tajam Naina.


"Baiklah, apapun yang terjadi nanti jangan sampai melukai fisik istrimu dan juga bayi anakmu, Ib," ucap Naina pasrah melihat ketegasan Ibra.


Naina mengalihkan pandangannya ke luar mobil sambil tersenyum licik. Semuanya akan berakhir, Haidee Tsabina. Batin Naina tertawa menanti kemenangannya.


Semua gerakan Naina tidak lepas dari sudut mata Ibra. Aku rela berdosa untuk membunuhmu demi anak dan istriku. Ucap Ibra dalam hati. Dengan kecepatan penuh Ibra mengendari mobilnya ketempat yang sudah disiapkan untuk permainannya.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa

__ADS_1


Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya


Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2