Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 53


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Al sangat senang hari ini. Hati anak itu sedang berbunga-bunga, karena bisa menggandeng tangan Abi dan Uminya untuk ke sekolah dengan berjalan kaki. Senyuman tampan tidak luntur dari wajahnya.


Ibra tampak gagak dengan pakaian rumahan yang dikenakannya. Celana jeans selutut dan baju kaos polos hitam. Sedangkan Dee nampak cantik dengan gamis dan jilbab instan sepinggangnya. Dan jangan lupakan si mungil Al dengan seragam yang agak kedodoran di tubuhnya.


"Telimakasih, Abi, Umi," ucap Al ketika mereka sudah sampai di depan sekolah Al.


Ibra berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan tubuh Al. Tangannya terulur mengusap lembut kepala anak itu. "Abi berterimakasih, karena sudah menjadi anak baik untuk Abi dan Umi," ucap Ibra tersenyum.lembut kepada Al.


"Al bangga menjadi anak Umi dan Abi," ucap Al memeluk Ibra.


Dee tersenyum senang melihat interaksi anak dan suaminya. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan, pikir Dee.


"Ya sudah, sekarang Al masuk, ya," ucap Ibra merapikan sedikit seragam Al.


Al mengangguk. Dia meraih tangan Abi dan Uminya secara bergantian dan mencium punggung tangan orang tuanya. "Assalamualaikum, Abi. Assalamualaikum, Umi," ucap Al bergantian kepada Dee dan Ibra.


"Waalaikumsalam," jawab Ibra dan Dee bersamaan.


"Belajar yang rajin, Boy," teriak Ibra saat Al sudah mulai menjauh.


Al yang mendengar sedikit perkataan Abinya membalikkan badan, dan mengacungkan jempol menjawab perkataan Ibra.


Setelah memastikan Al benar-benar masuk ke kelasnya, Ibra dan Dee membalikan badan untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan tangan Ibra tidak hentinya menggandeng tangan Dee. Dee hanya diam saja. Dia sangat menikmati perlakuan suaminya ini. Sudah sangat lama sekali dia tidak mendapatkan kebahagiaan seperti ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Ibra dan Dee yang sedang menikmati waktu berdua di kamar harus mengakhirinya, karena Ibra yang harus pergi ke kantor.


"Kamu yakin, Sayang, nggak mau bareng aja?" tanya Ibra kepada Dee.


"Enggak, Mas. Nanti biar Adek jalan kaki lagi, hitung-hitung olahraga," tolak Dee lembut kepada Ibra.


"Terlalu banyak jalan kaki nanti kecapean, Sayang," ucap Ibra memperingati Dee.


"Enggak, Mas. Mas duluan aja," kekeuh Dee menolak ajakan Ibra. Masih ada satu jam lagi jadwal pulang sekolah Al, dan Dee tidak ingin datang terlalu cepat. Karena dia tidak mau bergabung dengan ibu-ibu sosialita yang menurutnya hanya buang waktu saja.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pergi dulu, ya, Sayang. Hati-hati nanti kalau jemput Al, dan jangan kecapean!" ucap Ibra tegas memperingati Dee.


"Iya, Suamiku," jawab Dee dengan suara manjanya.


"Kamu mau goda aku, Sayang?"


"Enggak, Mas ih. Udah sana berangkat nanti makin telat," ucap Dee mendorong tubuh Ibra keluar kamar.


"Iya-iya aku pergi, ya. Cup, cup," ucap Ibra memberikan kecupan jangan di dahi Dee dan sedikit ******* bibir mungil Dee.


"Assalamu'alaikum," ucap Ibra setelah mencium wajah Dee.


Dee meraih tangan Ibra dan mencium punggung tangan tersebut. "Waalaikumsalam," ucap Dee menjawab salam Ibra.


Tidak butuh banyak waktu, kini Ibra sudah sampai di kantornya. Ibra menghentikan mobilnya dan memberikan kunci kepada satpam agar memarkirkan mobilnya. Dengan langkah panjang dan wajah dinginnya Ibra berjalan penuh wibawa menuju ruangannya. Karyawan yang tadinya berkerja mendongak melihat kedatangan Ibra.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Ibra tegas melihat karyawannya yang asik memandanginya. Abi tampan ini memang sangat mempesona.


Ting


Pintu lift terbuka. Ibra keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Sampai di depan ruangannya Ibra melihat Naina yang asik dengan ketikannya.


Memuakkan. Batin Ibra menggerutu melihat wajah Naina.


"Hai, Ib," sapa Naina terlebih dahulu melihat kedatangan Ibra.


Tak berapa lama Ibra memasuki ruangannya, pintu kembali terbuka dan memperlihat Kevin yang gagah memasuki ruangan Ibra.


Ibra mengangkat alisnya sebelah melihat kedatangan Kevin. "Lo ngapain disini?" tanya Ibra.


"Udah dari tadi gue nungguin Lo datang buat dengerin penjelasannya Alan. Pas gue lihat Lo, ya gue langsung kemari lah." jawab Kevin enteng.


"Udah gue bilang jam makan siang, bego. Lagian Alan sama Agam belum datang juga," jawab Ibra.


"Gue udah datang dari tadi," celetuk Agam yang datang tiba-tiba dari kamar pribadi yang ada di ruangan Ibra.


Ibra melongo melihat keberadaan Agam. "Lo datang dari jam berapa?" tanya Ibra.


"Dari tadi pagi. Karena kalau gue keseringan kesini, nanti sahabat Lo yang jadi sekretaris Lo itu curiga sama kita," ucap Agam sedikit menyindir Ibra.


Ibra hanya memutar bola mata malas mendengar celetuk Agam. Hal biasa baginya mendapat sindiran dari Agam.


Sambil menunggu jam istirahat, Ibra, Kevin dan Agam hanya duduk santai di sofa sambil berbicara ringan. Tidak ada pekerjaan yang begitu penting sehingga Ibra memiliki waktu luang.

__ADS_1


Kring, kring, kring. Bunyi telepon ruangan Ibra menghentikan pembicaraan mereka. Ibra berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.


"Ya, suruh dia masuk!" jawab Ibra dan langsung memutus telfonnya.


Ceklek


Pintu ruangan Ibra terbuka. Alan memasuki ruangan Ibra dengan gaya gagahnya. Ibra, Kevin dan Agam menyambut kedatangan Alan dengan pelukan ala lelaki. Ibra dan Kevin memang sudah kenal dengan Alan. Dan hanya Agam saja yang baru berkenalan dengan Alan.


"Duduk, Lan," ucap Ibra mempersilahkan Alan duduk di sofa.


"Jadi, ada apa, Ib, Lo manggil gue kesini?" tanya Alan setelah dia duduk.


Ibra tidak langsung menjawab pertanyaan Alan. Dia meraih remote yang tergeletak di atas meja dan menekan tombol yang ada di sana untuk mengunci pintu secara otomatis dan mengaktifkan peredam suara ruangannya.


"Gue mau Lo ceritain gimana bisa lo dapatin semua bukti itu," ucap Ibra setelah meletakkan kembali remote nya.


"Iya, Lan. Bukannya apa-apa nih ya, gue aja yang sebagai polisi, yang udah biasa menyelidiki berbagai kasus, sulit untuk mendapat buktinya. Tapi Lo, hanya dalam tiga hari Lo bisa dapat buktinya," ucap Agam yang sudah penasaran.


Kevin hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Agam.


"Itu mudah. Dia pelacur!" jawab Alan santai.


"WHAT?" pekik Agam, Ibra dan Kevin bersamaan mendengar kata-kata yang sangat santai keluar dari mulut Alan.


"Maksud, Lo?" tanya Ibra tidak mengerti.


"Pertama kali Lo minta tolong sama gue, gue cuma menyelidiki sekretaris Lo. Karena dari foto yang Lo kirim, feeling gue udah kuat mengatakan bahwa ada yang salah sama sekretaris Lo. Dan setelah gue selidiki, ternyata dia secara diam-diam adalah baby nya para pebisnis dan pejabat negara. Dan dari itu gue jebak dia," ucap Alan dengan tenang menjelaskan kepada ketiga lelaki di dekatnya.


"Lo nggak tidur sama dia juga, kan?" tanya Ibra kepada Alan.


"Heh, gue nggak bego, ya. Gue masih cinta istri gue. Gue suruh anak buah gue yang kerja," ucap Alan.


Ibra, Agam dan Kevin hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Alan. Sahabat yang mereka lindungi selama ini ternyata ular yang sangat licin dan liar.


"kali ini apa yang bakal Lo lakuin, Ib? Nggak mungkin lo hanya diam setelah mengetahui semua ini," ucap Kevin kepada Ibra.


Seringai kecil muncul di bibir Ibra. "Gue kembali ke masa SMA. Nggak perlu basa-basi, besok kita jalanin semuanya," ucap Ibra dengan pandangan tajam lurus ke depan. Sudah cukup dia membiarkan Naina hidup tenang. Kini tidak akan ada lagi toleransi.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2