Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 58


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Sepuluh menit kemudian, Ibra sampai dirumahnya. Jarak yang harusnya di tempuh tiga puluh menit putus menjadi sepuluh menit. Ibra benar-benar kesetanan membawa mobilnya. Sebelum pergi meninggalkan Naina, Ibra mengatakan semuanya kepada Kevin dan Agam. Ibra menyerahkan semua hukuman Naina kepada Kevin dan Agam. Saat ini yang ada di pikirannya adalah anak dan istri tercinta.


"Mas," ucap Dee berdiri dari duduknya dan langsung memeluk tubuh Ibra yang baru memasuki rumah.


Ibra membalas pelukannya Dee, dia tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sana. Hatinya sakit merasakan tubuh istrinya yang bergetar ketakutan karena kedatangan polisi sialan ini.


"Ayo, kita duduk dulu, ya. Ada Mas disini," ucap Ibra lembut membujuk Dee.


"Adek nggak nusuk Mama, Mas," ucap Dee menatap sendu Ibra. Mata indahnya sudah mulai berkaca-kaca.


"Mas percaya sama kamu," ucap Ibra memberi kecupan singkat di pucuk kepala Dee yang tertutup hijabnya.


Dee tidak melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Ibra. Mereka berjalan menuju sofa sambil terus saling merangkul.


"Al dimana, Pa?" tanya Ibra kepada Wijaya.


"Al bersama Alan di kamarnya," jawab Wijaya memberitahu. Ibra mengangguk lalu mengalihkan pandangannya kepada polisi yang ada dihadapannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Ibra tegas kepada polisi tersebut.


"Kami mendapat laporan, bahwa penusukan yang terjadi kepada Ibu Reina satu tahun yang lalu, memang benar dilakukan oleh saudari Haidee Tsabina," jawab salah satu polisi menjelaskan kepada Ibra.


"Apa kalian punya bukti?" tanya Ibra.


"Kami mendapatkan sebuah video rekaman CCTV tempat terjadinya penusukan itu. Untuk penjelasannya nanti, bisa kita bicarakan di Kantor Polisi. Sekarang kami harus membawa saudari Haidee ke Kantor Polisi."

__ADS_1


"Tidak ada yang akan pergi ke kantor polisi!" ucap Ibra tegas kepada polisi tersebut.


"Aku ingin semuanya diselesaikan di rumahku," lanjut Ibra.


"Tapi kami hanya menjalankan tugas untuk menangkap saudari Haidee," ucap salah satu polisi tersebut.


Dee gemetaran. Tangannya memeluk semakin erat pinggang Ibra. Wajahnya di sembunyikan ke dada bidang Ibra karena tidak mau melihat Polisi yang ada didepannya. Kepalanya terus menggeleng memberontak.


"Pa," panggil Ibra kepada Wijaya.


Wijaya mengangguk melihat Ibra. "Saya kenal atasan kalian!" ucapan tegas Wijaya mampu membuat ketiga Polisi tersebut terdiam.


"Apa pihak kepolisian sudah memeriksa keaslian video itu?" tanya Ibra setelahnya.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan dan video itu memang asli tanpa hasil rekayasa."


"Tapi saya punya bukti lain!" ucap Ibra tegas melepas rangkulannya kepada Dee.


Dee menatap lekat mata suaminya. Apakah suaminya juga memiliki bukti bahwa dia bersalah? pikir Dee. Ibra menatap sebentar Dee dan semua orang yang ada di ruang tamu. "Tunggu sebentar!" ucap Ibra sambil berlalu pergi ke ruang kerja untuk mengambil laptopnya.


Ya Allah, semoga kali ini Nyonya nggak di tangkap lagi. Bukan Nyonya pelakunya. Ucap Bi Nini yang sedari tadi memperhatikan dari dapur. Ingin sekali dia berteriak bahwa Nyonya nya tidak bersalah. Tapi sebuah janji mengikatnya.


Suasana tegang benar-benar terasa saat ini. Dee hanya bisa meremas jari-jarinya menyalurkan ketakutannya. Keringat dingin membasahi dahinya.


Tak berselang lama, Ibra kembali dengan sebuah laptop ditangannya. Ibra duduk di sebelah Dee dan mulai membuka laptopnya. Setelah mencari file yang dimaksud Ibra menunjukkannya kepada polisi.


"Lihat ini!" ucap Ibra tegas.


Ke tiga Polisi tersebut saling pandang melihat semua bukti yang di perlihatkan Ibra. Bukti ini lebih akurat daripada video yang mereka terima. Dee tidak ingin melihat bukti tersebut, dia hanya memejamkan mata, beristigfar mengusir kegundahannya. Ibra yang melihat kondisi Dee membawa kembali tubuh rapuh istrinya ke dalam dekapannya.


"Kami akan memeriksa semua bukti ini. Untuk sementara kami tidak akan melakukan penahanan terhadap saudari Dee. Tapi Saudari Dee tidak boleh melakukan perjalan jauh selama bukti ini di periksa dan diselidiki," ucap Polisi setelah melihat semua file tersebut.


"Baiklah, aku pastikan bukti yang aku miliki adalah benar!" ucap Ibra tegas.


Ibra memberikan salinan file tersebut kepada Polisi untuk di periksa. Setalah mendapatkannya, para Polisi pamit undur diri.

__ADS_1


"Kalau begitu maaf jika kami menganggu waktu istirahat kalian. Kami permisi," pamit salah satu Polisi mewakili yang lainnya.


"Sangat mengganggu!" jawab Ibra ketus tanpa memandang polisi tersebut.


Setelah Polisi tersebut pergi, Ibra merasakan baju bagian dadanya terasa basah. Ibra melepaskan rangkulannya kepada Dee dan melihat air mata sudah membasahi pipi istrinya.


"Sayang, tenang, ya. Polisinya udah pergi," ucap Ibra lembut membujuk Dee.


"Adek nggak nusuk Mama, Mas, Pa," ucap Dee sendu kepada Ibra dan Wijaya.


"Papa tahu. Papa dan Ibra akan melakukan yang terbaik untuk membuktikannya," ucap Wijaya mengusap lembut kepala menantunya.


"Bawa Dee ke kamarnya dan bujuk Al yang sedang bersama Alan. Papa harus kembali ke rumah sakit dulu," lanjut Wijaya kepada Ibra.


"Iya, Papa hati-hati," jawab Ibra.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Ibra dan Dee bersamaan.


"Kita ke kamar, ya, Sayang," ajak Ibra kepada Dee setelah Wijaya meninggalkan mereka.


Dee hanya mengangguk, tenaga hilang karena ketakutannya. Ibra yang melihat tubuh lemas Dee langsung menggendong Dee ala bridal style dan membawanya ke kamar. Dee hanya diam dalam dekapan Ibra menikmati kenyamanannya.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya


Author sayang kalian 🌹🌹😘

__ADS_1


__ADS_2