
🌹HAPPY READING🌹
"Anak saya tidak melukai wanita manapun," ucap Kiyai Rozak menjawab pertanyaan Dee yang diajukan kepada Sofia.
Dee mengalihkan pandangannya kepada Kiyai Rozak. "Tidak melukai Bapak bilang. Sofia melukai hati saya, Pak. Pernikahan anak Bapak terjadi di atas penderitaan saya!" ucap Dee tegas kepada Kiyai Rozak.
"Tapi saya dan anak saya sama sekali tidak mengetahui jika Ibra sudah memiliki istri saat dia menikahi anak saya!" jawab Kiyai Rozak.
Dee langsung menoleh kepada Ibra begitu mendengar jawaban Kiyai Rozak. Dee menggeleng tidak percaya mendengar semua ini.
"Apa tidak ada terlintas di pikiran anda saat akan menikahi anak anda, untuk menanyakan bagaimana status seseorang, Pak? tanya Dee heran.
"Yang saya pikirkan saat itu bagaimana anak saya tetap akan menikah!" jawab Kiyai Rozak.
"Tapi tindakan anda melukai saya dan anak saya, Pak!" jawab Dee tak kalah tegas. Die melupakan kesopanannya mendengar setiap jawaban Kiyai Rozak yang terdengar egois untuknya.
"Anda adalah seorang ahli agama, Pak. Anda menjadi pembimbing, anda menjadi tempat bertanya dan tempat meminta nasehat. Tapi kenapa anda tidak bisa menahati diri anda sendiri? Kenapa anda bersikap egois dengan hanya mementingkan anak anda, Pak?" tanya Dee.
"Saya hanya ingin anak saya menikah di hari pernikahannya," jawab Kiyai Rozak.
"Apa anda memikirkan harga diri anda? Apa anda memikirkan malu yang akan anda terima? kalau begitu bagaimana dengan perasaan saya dan anak saya, Pak? Bagaimana?" tanya Dee setengah berteriak.
__ADS_1
Semua orang kaget melihat Dee. Dee yang biasanya lembut, menurut dan selalu tersenyum. Kini menjadi sosok tegas. Dee benar-benar mengeluarkan sisi lain dari dirinya.
"Calon menantu anda meninggal, Pak. Irang-orang tidak akan mencemooh anda. Pernikahan anak anda gagal bukan karena sesuatu yang memalukan. Menantu anda meninggal karena sudah takdir Tuhan, Pak. Orang-orang tidak akan menertawai anda dan anak anda karena itu. Itu semua kehendak Tuhan. Tapi kenapa anda bersikap egois dengan meminta suami saya menikahi anak anda?" tanya Dee berubah sendu. Percayalah, hatinya saat ini benar sudah hancur berkeping-keping. Tidak berbentuk. Jika bisa mengeluarkan darah, mungkin apartemen Kevin sudah banjir karena darah sakit hati Dee.
"Ibra yang menawarkan untuk menikahi anak saya," jawab Kiyai Rozak.
Dee tertawa sumbang. Dia benar-benar kecewa. Rasanya dia ingin menghilang dari dunia saat ini.
Dee berjalan perlahan mendekati Ibra. "Mas," panggil Dee lirih kepada Ibra yang sedari tadi hanya diam. Saat ini Dee sudah berdiri tepat di depan Ibra.
Ibra menatap dalam mata Dee yang memancarkan luka dan kesedihan.
"Sayang, tidak begitu," ucap Ibra dengan suara bergetar menahan tangis.
"Lalu bagaimana, Mas? Apa aku harus menerima pernikahan mu? Apa aku harus kembali mengalah? Aku bukan wanita kuat untuk berbagi suami, Mas. Aku tidak sekuat para istri Nabi, Mas. Aku hanya wanita akhir zaman yang mengharap kasih sayang dan kesetiaan suamiku. Aku memang tidak sempurna, Mas. Tapi apa aku salah mengharap cinta dan kesetiaan suamiku, seperti cinta dan kesetiaan Nabi kepada Khadijah? Apa aku tidak pantas untuk itu, Mas? Bahkan kamu memiliki anak dengannya, Mas," ucap Dee mengeluarkan segala sakit hati, kecewa dan marahnya kepada Ibra.
"Tapi aku tidak pernah berhubungan badan dengan Sofia, Sayang," ucap Ibra.
Dee menggeleng. "Bagaimana pun caramu membuatnya hamil, tetap saja di rahimnya ada darah daging mu, Mas. ADA BENIH IBRAHIM RUBINO HEBI DI SANA!" teriak Dee menunjuk perut buncit Sofia.
"Maaf, Sayang. Maaf," ucap Ibra dengan air mata yang sudah mengalir.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega, Mas? Kenapa tega melukai aku sedalam ini? Kenapa tega merusak Ibadah yang sudah kita lakukan bersama, Mas? KENAPA?" bentak Dee meraih kerah kemeja Ibra.
Dee menumpahkan tangisnya dengan memukul-mukul kuat dada Ibra. Rasanya Dee ingin mati saat ini juga. Dia benar-benar sudah tidak sanggup menghadapi semuanya. Bagaimana nanti dia menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Hingga akhirnya kekuatannya melemah.
"SAYANG!"
"DEE!"
Teriak mereka semua ketika melihat Dee yang sudah tak sadarkan diri dan jatuh dalam pelukan Ibra.
"Ibra, Dee berdarah!" ucap Sofia yang melihat sedikit darah di kaki Dee. Karena gamis yang digunakan Dee sedikit terangkat ke betisnya.
Ibra langsung mengangkat tubuh Dee dan membawanya keluar dari apartemen Kevin. Tujuan Ibra saat ini adalah Rumah Sakit. Dia takut istri dan anak mereka yang belum lahir kenapa-napa. Mereka semua yang ada di sana mengikuti Ibra dari belakang.
"Sayang, bertahanlah. Aku mohon," ucap Ibra memandangi wajah Dee yang kini sudah ada di pangkuannya. Ibra membawa Dee ke Rumah Sakit dengan mobil yang di Kendari Wijaya. Sedangkan Kevin, satu mobil dengan Sofia dan Kiyai Rozak.
Lima menit kemudian, mobil mereka sampai di Rumah Sakit. Tidak tanggung-tanggung, Wijaya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli pengendara lain yang mengumpatinya, yang penting menantu bisa segera sampai di rumah sakit.
......................
Terimakasih Kiz ucapkan karena selalu mengikuti novel receh Kiz teman-teman. Like, vote dan komentar kalian sangat berguna bagi Kiz. Pasti indah banget kalo semua yang baca kasih Like. Semoga hati kalian terketuk untuk kasih Like ya teman-teman. Kiz doain murah rezeki dan cepat dapat jodoh bagi yang jomblo (kayak Kiz), bagi yang udah dapat jodoh biar makin kuat cintanya, Aamiin. Kiz sayang kalian 🌹🌹😍
__ADS_1