Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 107


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Tahukah Abi bagaimana Umi harus berjuang sendiri melahirkan Adik? Tahukah Abi bagaimana Umi sakit melahirkan Adik tanpa suami? Sedangkan disini Abi menemani istri muda Abi,"


DEG


Jantung Ibra serasa akan lepas dari tempatnya mendengar Al menyebutkan kata Adik. Adik?


"Adik?" gumam Ibra yang masih bisa di dengar oleh Al. Ibra tersenyum kecut dalam tangisnya. Betapa bodohnya dia karena telah di bohongi Dee.


"Tapi Umi mengatakan kalau waktu itu Umi keguguran, Sayang," ucap Ibra kepada Al.


"Itu karena Abi yang sudah jahat sama Umi!" ucap Al kepada Ibra. Air mata anak itu bahkan sudah membasahi bahu bagian atasnya.


"Al, maafkan Abi, Nak," ucap Ibra sendu.


"Maaf jika Al tidak menjadi anak Sholeh seperti keinginan Abi. Al sangat kecewa karena Abi. Abi yang Al jadikan panutan ternyata selalu menyakiti. Apa Abi tahu satu hal?" tanya Al kepada Ibra.


Ibra menggeleng pelan. Matanya terus menatap mata anaknya itu.


"Kami sangat bahagia hidup tanpa Abi!" ucap Al tegas.


Setelah mengucapkan itu, Al berlari keluar kantin meninggalkan mereka semua. Pak Anton yang melihat Al pergi langsung menyusul anak itu.


Sedangkan Ibra? Dia masih terpaku dengan apa yang dikatakan Al. Kami sangat bahagia hidup tanpa Abi. Kata-kata Al selalu terngiang di telinga Ibra.


"AAKKH!" teriak Ibra meninju lantai kantin berkali-kali. Tidak peduli dengan berapa banyaknya orang di sana, yang Ibra perlu saat ini dia mengeluarkan amarahnya pada dirinya sendiri.


Kevin dan Alan yang melihat itu langsung berjalan mendekati Ibra. "Ib, udah Ib. Lo bisa lukain diri Lo sendiri," ucap Kevin mencegah tindakan Ibra.


"Gue benar-benar gagal, Vin. Gue brengsek! Gue jahat! Gue bodoh! Gue hancur, Vin," ucap Ibra dengan tangisnya.


"Ib, Lo emang gagal, Lo emang brengsek, Lo emang jahat, Lo emang bodoh. Tapi nggak ada gunanya Lo menyakiti diri Lo seperti ini. Jangan menyerah, Ib. Ini saat nya buat Lo perjuangin semuanya. Ayo susul Al," ucap Alan menasehati Ibra. Sedangkan Kevin dan Agam hanya diam. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.


Ibra mengangguk. "Lo benar, gue harus perjuangin Al dan Dee lagi," ucap Ibra. Setelah itu Ibra berdiri dan berlari keluar kantin. Tujuannya saat ini adalah pusat kegiatan lomba. Karena sebentar lagi lomba pasti akan di lanjutkan.


Ibra sampai di tempat kegiatan. Dia melihat peserta lomba sudah duduk rapi bersama para guru pendampingnya di kursi yang telah di sediakan. Ibra mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Al. Dari banyaknya peserta lomba, Ibra sama sekali tidak melihat keberadaan anaknya. Ibra memutuskan untuk menunggu di sana sampai kegiatan selesai.


Sedangkan di dalam toilet laki-laki, Al menangis dalam pelukan Pak Anton.


"Hiks, Al tidak berdosa karena membentak Abi kan, Pak Kepala Sekolah?" tanya Al kepada Anton.


Pak Anton menggeleng. "Al hanya menyampaikan apa yang ada di hati Al. Itu tidak salah. Apa sekarang merasa lebih tenang?" tanya Pak Anton.


Al mengangguk mengiyakan perkataan Pak Anton. "Boleh Al pinjam ponsel Bapak?" tanya Al.

__ADS_1


"Untuk apa, Al?" tanya Pak Anton.


"Al ingin mendengar suara Umi," jawab Al. Pak Anton segera mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Tadi pagi Al juga menggunakan ponsel Anton untuk menelfon Umi nya, jadi nomor Dee sudah tersimpan di ponsel Anton.


"Bapak tunggu di luar, ya. Al bisa menelfon Umi disini saja," ucap Anton. Dia tidak ingin privasi anak itu terganggu karena keberadaannya.


Al mengangguk. Setelah itu Anton berjalan kelar dari toilet untuk menunggu Al.


.....


Di tempat lain, Dee kewalahan menenangkan Kina yang sejak tadi terus menangis menanyakan Abangnya. Padahal tadi pagi anak itu sudah berbicara panjang lebar dengan Al saat di telepon.


"Hiks, Umi, Ina mau Aban," rengek Kina kepada Dee.


"Iya besok Abang pulang ya, Sayang. Sekarang pasti Abang lagi lomba, Nak," ucap Dee menangkan Kina untuk kesekian kalinya.


"Tepon Aban, Umi, hiks," ucap Kina. Anak itu memeluk pinggang Dee yang duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.


"Pasti Abang lagi lomba sekarang, Nak. Nanti kita telepon Abang, ya," bujuk Dee.


"Cekalang, Umi," kekeuh Kina dalam tangisnya.


Dee pasrah. Hanya Al yang bisa menenangkan Kina sekarang. Dee mengambil ponselnya di atas meja dan mencari nomor Pak Anton. Saat akan menekan tombol panggilan, ponsel Dee sudah berbunyi duluan. Dan tertera nama Pak Anton di sana. Tanpa pikir panjang, Dee langsung menggeser layar ponselnya ke tombol hijau.


"Assalamu'alaikum," ucap Dee menjawab telepon.


"Apa adik menangis Umi?" tanya Al memastikan.


"Iya, Nak. Dari tadi dia nanyain Al terus," jawab Dee.


"Kalau gitu biar Al bicara sama Kina Umi," pinta Al.


Dee langsung memberikan ponselnya kepada Kina.


"Acalamualaikum, Abang, hiks," ucap Kina.


"Waalaikumsalam. Adek kenapa nangis?" tanya Al lembut dari seberang sana.


"Ina tangen Aban," rengek Kina manja.


"Besok Abang pulang, jadi Adek jangan sedih, ya. Kalau Adek nangis nanti Umi sedih," ucap Al.


"Iya, Aban. Ina Ndak angis lagi," ucap Kina patuh.


Dee melongo melihat Kina yang begitu patuh pada Al. Padahal dia sudah sejak tadi membujuk Kina, tapi anak itu tidak kunjung diam.

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Kina mengembalikan ponselnya kepada Dee. "Ini, Umi," ucap Kina.


Dee menerima dan melihat panggilan mereka masih terhubung. "Bagaimana lombanya, Nak?" tanya Dee lembut.


Al terdiam sebentar. "Baik, Umi. Semuanya lancar," ucap Al setelahnya.


"Tidak terjadi apa-apa kan, Nak?" tanya Dee hati-hati.


"Tidak Umi. Semuanya baik-baik saja," jawab Al pasti.


Dee bernafas lega. "Syukurlah. Sekarang Al lanjut acaranya, ya. Nanti terlambat," ucap Dee.


"Iya, Umi. Kalau begitu Al tutup dulu. Assalamu'alaikum," ucap Al.


"Waalaikumsalam," jawab Dee. Dan panggilan mereka.


Setelah mendengar suara Adik dan Uminya, perasaan menjadi lebih lega. Kina dan Dee benar-benar penawar untuk Al. Al berjalan keluar toilet dan menemui Pak Anton yang sudah menunggunya di sana bersama pendamping mereka. Setelah itu mereka berjalan ke tempat kegiatan.


.....


Sedangkan di tempat kegiatan, Ibra sudah menunggu Al dengan perasaan tidak karuan.


"Kamu dimana, Nak," ucap Ibra mengedarkan lagi pandangannya ke seluruh ruangan. Saat ini posisinya, Ibra berdiri di sebelah panggung. Dengan bantuan Agam dan juga kekuasaannya, Ibra bisa meminta kepada pihak panitia lomba untuk berdiri di sebelah panggung. Karena itu akan mempermudahkannya mencari Al.


Saat ini, Pembawa Acara akan membacakan para pemenang lomba. Kategori pemenang diantaranya yaitu lukisan dengan paduan warna terbaik, lukisan dengan komposisi gambar terbaik, lukisan dengan tingkat kerapian dan kebersihan yang terbaik, dan juara Umum (Lukisan dengan segala perpaduan unsurnya yang selaras, indah dan tertata).


MC sudah mengumumkan pemenang lukisan dengan paduan warna terbaik, lukisan dengan komposisi gambar terbaik dan lukisan dengan tingkat kerapian dan kebersihan terbaik. Sorak gembira dan riuhnya tepuk tangan mengiringi para pemenang ke atas panggung.


Al yang duduk di kursi paling belakang bersama Pak Anton mendesah kecewa. Karena namanya tidak disebutkan.


"Tenang, Nak. Setidaknya kita sudah berusaha. Kalah dan menang itu biasa," ucap Pak Anton menghibur Al.


Al hanya mengangguk.


"Kita masih memiliki satu pemenang lagi. Yaitu juara Umum dari perlombaan kita kali ini. Untuk mempersingkat waktu, kami akan segera mengumumkan peraih juara umum kita. Dan juara umum untuk perlombaan melukis tingkat SD Se-Indonesia kali ini adalah ... Albarra Gavino H, peserta kita dari Kota Padang," ucap Pembawa Acara dengan semangat.


Al dan Pak Anton yang mendengar itu saling pandang. Tidak lama kemudian merek berpelukan. "Al memang murid kebanggaan Bapak," ucap Pak Anton.


"Maju lah, Nak. Ini semua berkat usaha Al dan juga doa keluarga Al di rumah," lanjut Pak Anton.


Al mengangguk semangat. Dengan wajah sedikit sembab karena menangis tadi, Al melangkah kakinya menuju panggung.


Saat hampir sampai di atas panggung, mata Al bertemu dengan mata Ibra yang juga menatapnya dari samping panggung. Ada senyum bahagia di wajah Ibra ketika melihat Al. Ibra dan Al saling bertatapan hingga Al sampai di atas panggung, baru Al melepaskan pandangannya dari Ibra.


......................

__ADS_1


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2