Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2~167


__ADS_3

"Bunda, Nak. Orang yang dipercaya memberi kasih sayang menggantikan Uminya," ucap Naina jujur kepada Bella.


Bella bangun dan duduk menatap Naina serius. Bella beringsut mundur dari posisi duduknya. Jelas raut ketakutan diwajahnya ketika mendengar perkataan Naina. Jelas saja, Bella kecil juga mendapatkan latihan mental dari Sang Papa saat Bunda kandungnya telah meninggal dunia.


"Nak, sekarang Bunda sudah tidak seperti itu," ucap Naina sendu. Dia sedih, tapi memaklumi sikap Bella.


"Maaf, Bunda. Bella tidak bermaksud," ucap Bella tak enak.


"Tidak apa, Nak. Bunda paham. Tidak mau memeluk Bunda?" tanya Naina merentangkan tangannya.


Bella dengan perlahan mendekat dan memeluk Naina erat. "Maaf, Bunda. Bella nggak bermaksud buat menghakimi Bunda," ucap Bella.


Naina mengusap lembut rambut Bella. "Sekarang Bella menerima Bunda jadi Bundanya Bella kan?" tanya Naina.


Bella mengangguk. "Bella yang berterimakasih karena mau menerima Bella dengan tulus, Bunda," ucap Bella.


"Sama-sama, Nak," jawab Naina.


"Bella mau dengar kelanjutannya Bunda," ucap Bella meminta Naina untuk melanjutkan ceritanya mengenai Al.


Naina mengangguk. Naina menceritakan semua yang telah dia lakukan kepada Keluarga Ibra. Semua kejahatan yang pernah dia lakukan hingga akhirnya dia masuk penjara atas segala perbuatannya. Dengan air mata di pipinya, Naina bercerita dengan jujur tanpa ada lebih dan kurang kepada Bella. Bahkan Bella yang mendengar cerita Naina ikut menitikkan air matanya.


Bella mengusap air mata Naina dengan kedua tangannya. Naina tersenyum melihat setiap perlakuan Bella. Sungguh, kehadiran Bella mengurangi kesepian yang selama ini dia pendam sendiri.


"Bunda, perbuatan Bunda memang jahat dulu. Jahat banget malah. Tapi kita harus tetap bersyukur, Bunda. Kita adalah hamba Allah yang beruntung. Karena masih diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang benar," ucap Bella menghibur Naina.


Naina mengangguk mengiyakan perkataan Bella. "Bagaimana hubungan kamu dengan Al, Nak?" tanya Naina.


Bella tersenyum. "Bella nyaman dengan keadaan yang seperti ini, Bunda. Biar Allah yang menentukan mana yang baik untuk Bella," ucap Bella.


Naina tersenyum. Ternyata gadis yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri memiliki sikap yang sangat dewasa. "Kejar cinta Allah, Nak. Maka Allah akan berikan cinta yang kita inginkan," ucap Naina.


"Iya, Bunda. Bella sayang Bunda," ucap Bella memeluk Naina erat.


"Bunda juga sayang Bella," jawab Naina mengusap lembut punggung Bella.


.....


Sedangkan ditempat lain, Dee dan Ibra sudah berada di kamar mereka. Dee duduk mesra dipangkuan Ibra dengan tangan Ibra yang memeluk pinggang istrinya. Sedangkan Ibra bersandar di kepala ranjang.


"Mas," panggil Dee lembut.


"Iya Sayang," jawab Ibra.


"Tadi waktu ke pesantren, aku dan Al ketemu sama Bella, Mas," ucap Dee memulai ceritanya.


"Secepat itu Sayang?" tanya Ibra tak percaya.


Dahi Dee berkerut mendengar tanggapan Ibra. "Maksud kamu, Mas?" tanya Ibra.


"Maksud aku kenapa cepat banget Al ketemu sama Bella. Aku aja dulu ketemu kamu bertahun-tahun. Ini baru beberapa hari udah ketemu lagi," ucap Ibra menjelaskan.


Plak.


Satu pukulan mendarat di dada Ibra yang tertutup oleh baju tidurnya.


"Itu karena Allah lebih sayang Al daripada kamu," jawab Dee.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ibra.


"Kesalahannya nggak sebesar kamu," jawab Dee sedikit ketus.


Aduh, salah lagi salah lagi. Batin Ibra.


"Maaf, Sayang," ucap Ibra memeluk Dee dan meletakkan kepalanya di bahu Dee.


Dee tersenyum dan mengusap lembut rahang Ibra. "Iya, Mas," jawab Dee lembut.


"Em ... Mas," panggil Dee ragu.


"Kenapa Sayang?" tanya Ibra.


"Aku mau tanya tentang Om Bram," ucap Dee takut. Dia takut Ibra akan marah padanya jika dia bertanya mengenai Bram.


Ibra menghela nafas berat mendengar pertanyaan istrinya. "Kenapa tanya Om Bram, Sayang?" ucap Ibra.


"Mas, sebenarnya waktu ke pesantren tadi, aku nggak ketemu Bella aja, Mas. Ada yang lain," ujar Dee.


"Siapa?"


"Naina," jawab Dee pelan.


Pelukan Ibra mengendur mendengar perkataan Ibra. Tanpa aba-aba, Ibra langsung menurunkan Dee dari pangkuannya. Ibra berdiri dan keluar kamar begitu saja tanpa menghiraukan Dee yang terus memanggilnya.


Ini yang Dee takutkan. Suaminya itu akan selalu seperti ini jika membahas masa lalu mereka. Tapi Dee harus mengatakannya karena Ibra berhak tahu.


Dee segara turun dari kasur dan berlari menyusul Ibra ke ruang kerjanya.


"Mas," panggil Dee lembut.


"Mas, maaf. Tapi aku nggak bermaksud apa-apa. Aku nunggu Mas di kamar," ucap Dee dan berlalu pergi meninggalkan Ibra.


Ibra memandangi punggung Dee yang sudah menghilang. "Maaf, Sayang. Aku hanya marah pada diri aku sendiri. Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri," gumam Ibra pelan. Rasa bersalah Ibra karena sudah memasukkan istrinya sendiri ke penjara, hingga membuat istri dan anaknya terluka tidak pernah hilang dari ingatannya. Penyesalan itu masih selalu hinggap di hati Ibra.


Satu jam Ibra menenangkan dirinya. Berusaha berdamai dengan diri sendiri, Ibra kembali ke kamarnya.


Sampainya dikamar, Ibra melihat Dee yang masih duduk menunggunya di atas kasur.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ibra.


"Nungguin suami dulu," jawab Dee.


Ibra tersenyum mendengar perkataan Dee. "Maaf, Sayang," ucap Ibra menyesal.


"Mas, kita harus berdamai dengan masa lalu. Aku aja udah maafin kamu, masa kamu belum," ucap Dee.


Ibra hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu mau tahu mengenai Om Bram kan, Sayang?" tanya Ibra.


"Kalau kamu nggak bisa bilang juga nggak apa, Mas," jawab Dee yang tidak ingin memaksa Ibra.


Ibra menggeleng. "Kamu harus tahu juga, Sayang. Besok kita akan bertemu dengan Om Bram," ucap Ibra.


.....

__ADS_1


Pagi ini suasana sarapan di kediaman Ibra ditemani keheningan. Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Al memandangi keluarganya satu persatu. Hingga akhirnya dia membuka suaranya.


"Abi, Umi," panggil Al.


Dee dan Ibra langsung menoleh begitu mendengar Al memanggil mereka. Kina dan Bi Nini juga memandang kearahnya.


"Ada apa, Boy?"


"Ada apa, Nak?" ucap Ibra dan Dee bersamaan.


"Al mau kembali ke Inggris," ucap Al pasti.


Ibra langsung tersedak makannya begitu mendengar perkataan Al.


"Minum, Mas," ucap Dee memberi segelas air kepada Ibra.


"Kenapa Boy? Perusahaan bagaimana?" tanya Ibra.


"Al masih belum resmi menggantikan Abi, jadi Abi masih bisa melanjutkan jabatan Abi," jawab Al sekenanya.


Ibra memasang wajah kesalnya mendengar perkataan Al. "Kau menganggu waktu Abi dan Umi," ucap Ibra ketus.


Dee dan yang lainnya hanya geleng kepala melihat Al dan Ibra yang sudah sering bertengkar seperti itu.


"Abang, kenapa pergi lagi?" giliran Kina yang penasaran dengan Abangnya.


"Ada sesuatu yang harus Abang kerjakan, Dek," ucap Al.


"Ada apa, Nak?" tanya Dee yang tidak mendapat jawaban pasti dari anaknya.


"Al ingin menemui Papa Runa, Umi," jawab Al.


"Untuk apa?" tanya Dee.


"Untuk menikahinya, kita harus mendapat restu orang tuanya kan, Umi," jawab Al.


"Kau yakin Bella mau denganmu? Bukankah dia menolakmu?" tanya Ibra meledek Al.


"Mulut Bella memang menolak, Abi. Tapi mata dan hatinya tidak berkata demikian," ucap Al.


"Ya, terserah kau saja, Boy," ucap Ibra.


"Apa kamu yakin, Al?" tanya Dee khawatir. Karena yang dia tahu, Papa Bella merupakan orang yang keras.


"Al yakin, Umi. Selain meminta kepada Allah, kita harus meminta kepada orang tuanya juga Umi. Karena restu orang tua akan mendatangkan restu Allah juga, Umi," jawab Al.


Dee mengangguk dan tersenyum. "Doa Umi selalu untukmu, Nak," ucap Dee.


"Terimakasih, Umi," ucap Al.


Aku memang tidak berusaha untuk mencuri hatimu lagi Runa. Karena aku tahu, hatimu hanya untukku. Aku akan berjuang mendapatkan restu Papa dan Tuhan kita. Batin Al yakin dengan keputusannya.


......................


Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku


Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2