Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 110


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah mengantar Ibra ke Bandara, Kevin kembali ke rumahnya. Setelah menikahi Sofia, Kevin memilih untuk tinggal di rumah yang sudah lama dia persiapkan. Karena itu akan lebih baik untuk perkembangan Zahra.


Mobil Ibra berhenti di depan rumah mewah yang tak kalah mewah dari rumah Ibra. Kevin turun dari mobil dan berjalan ke rumah dengan langkah gontai. Lelah tubuh dan pikiran menghadangnya saat ini. Apalagi pertemuan mereka dengan Al yang menguras banyak emosi.


Saat memasuki rumah, Kevin melihat Sofia yang duduk di ruang tamu menunggunya pulang.


"Assalamu'alaikum," ucap Kevin.


Sofia yang tadi fokus pada ponselnya mendongak saat melihat Kevin di depannya. "Waalaikumsalam," Sofia berdiri dan menyalami tangan Kevin. Dibalas dengan kecupan singkat di dahi Sofia oleh Kevin.


"Kenapa nunggu disini? Nanti dingin," ucap Kevin.


Sofia menggeleng. "Nggak dingin, Mas," ucap Sofia.


Kevin mengedarkan pandanganya mencari keberadaan bidadari kecilnya. "Zahra kemana?" tanya Kevin.


"Udah tidur dia. Dari tadi nungguin kamu pulang sampe ngantuk. Akhirnya ketiduran sendiri," jawab Sofia.


Kevin hanya mengangguk. Dia merebahkan dirinya di sofa dan memijat pelan pangkal hidungnya.


Sofia yang melihat Kevin kelelahan seperti itu mendekat dan mengusap pelan lengan Kevin.


"Kenapa, Mas? Kelihatannya banyak pikiran banget," ucap Sofia bertanya.


Kevin menegakkan tubuhnya dan memandang lekat Sofia yang duduk di sebelahnya. Setelah itu Kevin memeluk erat Sofia.


"Mas kenapa?" tanya Sofia.


Bukannya menjawab, Kevin malah makin mengeratkan pelukannya. Sofia yang melihat itu mengusap lembut punggung Kevin mencoba memberi kenyamanan bagi lelaki tersebut.


Lima menit Kevin memeluk Sofia. Setelah itu dia melepaskan pelukannya dan memandang Sofia yang ada di sebelahnya.


"Al membenci kami semua," ucap Kevin lirih.


"Ma-maksud kamu, Mas?" tanya Sofia gugup.


"Tadi kami ketemu Al, Sayang. Dia mengatakan segala isi hatinya. Segala rasa kecewanya," ucap Kevin kepada Sofia.


"Mas, maaf," ucap Sofia dengan mata yang berkaca-kaca.


Kevin menggeleng. Dia membawa Sofia ke dalam dekapannya. "Bukan salah kamu saja, kita semua salah disini. Karena keegoisan kita semuanya terjadi," ucap Kevin menenangkan Sofia yang bahunya sudah bergetar.


"Kalau aku dan Abah nggak egois, kita nggak akan tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan ini Mas. Kalau aku dan Abah nggak egois, Ibra pasti sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Al dan Dee tidak akan menderita karenanya, Mas. Maaf," ucap Sofia menyesali semuanya kepada Kevin.

__ADS_1


"Harusnya dulu aku yang menikahi kamu, bukan Ibra. Aku bodoh karena nggak bisa menghentikan semuanya," ucap Kevin mengingat bagaimana Al menyampaikan segala rasa kecewanya kepada Kevin.


"Maaf, Mas. Maaf," ucap Sofia. Sekarang hanya itu yang bisa dia ucapkan. Andai, hanya kata andai yang mampu mereka ucapkan tanpa bisa merubah apapun.


Kevin mengangguk, dia terus mengusap punggung Sofia yang bergetar. "Aku bilang ini semua bukan maksud aku mengingat kamu akan kesalahan kita dulu, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa bukan hanya kamu yang terluka bersama Zahra. Al dan Dee jauh lebih sakit, Sayang," ucap Kevin.


Sofia hanya mengangguk dalam pelukan Kevin. Dia tahu dia salah. Kevin menyampaikan ini bukan untuk menyinggung Sofia, dia hanya ingin Sofia tahu bahwa mereka semua terluka karena itu.


"Terus sekarang Al dimana, Mas?" tanya Sofia mendongak melihat Kevin.


"Dee dan Al selama ini tinggal di Kota Padang, Sayang. Tempat yang sangat jauh, bahkan aku dan Ibra tidak pernah ke sana bahkan untuk pekerjaan sekalipun," jawab Kevin.


"Apa kita bisa bertemu mereka, Mas?" tanya Sofia lagi.


"Sekarang Ibra sedang menyusul Al dan Dee. Ibra melarang kita semua untuk ikut, dia ingin menyelesaikan masalahnya dulu. Udah saat Ibra yang berjuang sekarang. Kita disini selalu membantu Ibra dengan doa, ya," ucap Kevin lembut.


Sofia mengangguk. "Aku selalu berdoa semuanya lancar, Mas," ucap Sofia.


"Amiin. Sekarang kita ke kamar, ya," ajak Kevin.


Sofia mengangguk. Kevin berdiri dan menggandeng Sofia menaiki tangga untuk pergi ke kamar mereka di lantai dua.


.....


Sedangkan di tempat lain, Al baru saja sampai di depan pagar rumahnya diantar Pak Anton.


Al menggeleng. "Nggak usah, Pak. Al sendiri saja. Lagian ini sudah di depan pagar rumah Al," ucap Al menolak dengan halus.


"Baiklah," jawab Pak Anton pasrah.


"Al pulang dulu, Pak. Assalamu'alaikum," ucap Al sambil menyalami tangan Pak Anton.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Anton.


Setelah itu Al keluar dari mobil dan sedikit berlari kecil. Al berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Toko sudah tutup dan pintu rumahnya juga sudah tertutup. Dia ingin memberi kejutan kepada Umi dan Adiknya bahwa dia pulang malam ini. Al menurunkan Tas yang ada di punggungnya dan mengeluarkan piala yang dia simpan.


Al mengetuk pintu rumah tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya. Ketukan pintu yang ketiga, pintu rumah terbuka.


"AL!" pekik Dee yang kaget melihat anaknya sudah berada di depan pintu rumah.


Dee memeluk tubuh anaknya erat menyalurkan kerinduannya. Padahal mereka baru dua hari tidak bertemu.


"Al sudah pulang, Nak. Tidak ada yang kurang kan. Tidak ada yang lecet kan," ucap Dee sambil memutar-mutar tubuh Al memeriksa setiap inci tubuh anaknya.


Al hanya tertawa melihat Uminya. "Al itu pergi lomba, Umi. Bukan pergi perang, jadi Al baik-baik aja," ucap Al menenangkan Uminya.

__ADS_1


"Ini Umi," ucap Al menunjukkan piala tepat di depan wajah Dee.


"Piala?" tanya Dee bingung.


Al berdecak kesal karena ekspresi Uminya yang bingung. Tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Ck, Al menang lomba, Umi," ucap Al cemberut.


Dee terdiam sebentar. Setelah dia langsung memeluk erat tubuh anaknya. "Wah, maaf Umi nggak lihat pialanya tadi, Nak. Umi bangga sama Al," ucap Dee memeluk erat tubuh anaknya.


"Semuanya berkat restu dan doa Umi," jawab Al.


Al melepaskan pelukannya dan memandang Uminya. "Adek dimana Umi?" tanya Al.


"Adek ada di kamarnya. Tadi dia lagi gambar apa Umi nggak tahu. Katanya nggak boleh lihat," ucap Dee memberi tahu Al.


Al hanya mengangguk mendengar perkataan Uminya. "Al nggak disuruh masuk, Umi?" tanya Al. Karena sejak datang mereka hanya berdiri di depan pintu.


Dee menyengir polos memperlihatkan deretan gigi rapinya kepada Al. "Hehe Umi lupa. Ayo Pangeran Umi, silahkan masuk," ucap Dee.


"Terimakasih Umi Ratu," jawab Al sambil masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas nya.


"Al, kemarin buat lukisan apa? Umi mau lihat," ucap Dee setelah mereka duduk di ruang keluarga.


"Al hanya melukis apa yang ada di pikiran Al, Umi," ucap Al.


"Iya mana, Nak. Umi mau lihat," ucap Dee sedikit memaksa Al.


"Nggak ada, Umi. Lukisan Al di ambil untuk dijadikan pajangan di sana. Karena lukisan Al kan mendapat juara umum," jawab Al.


"Emang tadi anak Umi ini lukis apa sampai bisa dapat juara umum?" tanya Al mengusap lembut rambut Al yang kini sedang memeluknya.


"Al menggambar seorang Putri, seorang Ratu dan seorang Pangeran," jawab Al senang.


Dee mengerti maksud anaknya. Putri adalah untuk Kina, Ratu adalah untuk dirinya, dan Pangeran adalah untuk Al sendiri. Demi apapun, Dee sangat bangga dan bersyukur di karunia anak-anak yang sangat menyayanginya.


"Umi sangat menyayangi Al dan Kina," ucap Dee mencium lembut dahi Al.


"Al juga sayang Umi dan Kina," jawab Al. Anak itu melepas pelukannya dan mencium kedua pipi Uminya secara bergantian.


Betapa ruginya Ibra karena tidak melihat pemandangan yang indah ini. Sangat rugi!


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹

__ADS_1


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2