
🌹HAPPY READING🌹
Saat ini keluarga kecil Ibra ditambah Zahra sudah berada di Kebun Binatang. Mereka sedang berjalan-jalan mengelilingi setiap kandang binatang yang ada di sana.
Melihat anak-anaknya yang sangat riang dan saling berceloteh, Ibra tersenyum senang. Begitu juga dengan Dee. Ibra kembali teringat kenangannya bersama Al saat semua masih baik-baik saja. Mereka juga pernah bermain seperti ini di Kebun Binatang sebelumnya. Andai kesalahan itu tidak terjadi, pasti sudah sejak dulu mereka bahagia. Andai, hanya kata andai yang saat ini bisa Ibra ucapkan. Kini saatnya dia mengganti semua waktu yang telah dia sia-siakan.
Kini mereka duduk di bawah pohon untuk berteduh. Mengelilingi Kebun Binatang membuat mereka Al, Kina dan Zahra merasa kelelahan.
"Tati Ina cape, Abi," ucap Kina mengadu kepada Ibra.
"Capek apanya, kamu cuma duduk di kursi roda sama Zahra ngeluh capek. Abang aja yang jalan nggak capek," ucap Al meledek Kina.
"Dudut itu duga lelah, tahu!" ucap Kina ketus.
Zahra hanya ikut tersenyum melihat saudaranya yang saling meledek. Sedangkan Dee dan Ibra hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya.
Setelah setengah jam beristirahat, mereka kembali melanjutkan jalan-jalannya. Mereka benar-benar berjalan kaki mengelilingi dan menikmati keindahan sekitar kota Bukittinggi.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Ibra mengajak Al, Dee, Kina dan Zahra untuk sholat di mesjid. Al dan Ibra masuk ke tempat sholat lelaki, sedangkan Dee bersama dengan Kina san Zahra.
Setelah selesai sholat, Dee bersama Kina dan Zahra selesai terlebih dahulu daripada Al dan Ibra. Entah apa yang kedua lelaki berbeda usia itu lakukan hingga mereka bisa lebih lambat daripada wanita.
Dee duduk bersama Kina dan Zahra di teras mesjid yang sangat ramai karena para wisatawan.
"Umi," ucap Zahra memanggil Dee dengan sedikit meringis.
"Adek kenapa, Nak?" tanya Dee melihat Zahra yang merapat-rapatkan kedua kakinya.
"Adek mau pup," ucap Kina.
"Kita tunggu Abi dulu, ya. Biar nanti Kakak Zahra sama Abi," ucap Dee.
"Ina udah ndak tuat, Umi," ucap Kina. Wajah anak itu sudah memerah menahan pup nya.
Dee yang tidak tega melihat Kina pun mengangguk. Dia mendorong kursi roda Zahra dan Kina mengikutinya.
"Zahra, Zahra tunggu disini, ya. Jangan kemana-mana sampai Umi sama Adek datang, ya," ucap Dee kepada Zahra. Dee membawa Zahra ke sudut mesjid yang dekat dengan toilet. Karena tidak mungkin membawa Zahra ke toilet. Toilet pasti sangat ramai melihat banyaknya para wisatawan yang sholat di masjid ini.
Dengan patuh Zahra mengangguk. "Iya, Umi. Ala tunggu Umi sama Adek disini," ucap Zahra.
Dee tersenyum dan mengangguk. Setelah itu dia pergi ke toilet bersama Zahra.
Toilet sangat ramai, harus antri dan bergantian untuk bisa ke closet.
"Umi, Ina udah ndak tahan," ucap Kina kepada Dee.
Dee yang tidak tega melihat anaknya langsung berjalan ke depan dan meminta kepada pengunjung yang lain agar Kina duluan yang masuk. Beruntung pengunjung wanita itu baik dan mau mengalah. Setelah mengucapkan terimakasih, Dee membawa Kina masuk.
Lima belas menit, Dee dan Zahra belum juga kembali. Zahra hanya duduk diam sambil melihat sekelilingnya yang ramai oleh orang yang berlalu lalang. Hingga tanpa Zahra ketahui, kursi rodanya terdorong oleh beberapa anak-anak yang berlari dari arah belakang Zahra.
__ADS_1
BRUK
Zahra terjatuh dari kursi rodanya dan berguling dari tangga mesjid yang hanya berjumlah empat anak tangga.
"Zahra!" Pekik Ibra dan Al yang melihat Zahra terjatuh.
Al dan Ibra yang baru kembali dari kedai untuk membeli minum langsung berlari kencang ketika melihat Zahra terjatuh.
"Hiks, Abi," ucap Zahra menangis kepada Ibra.
"Astagfirullahalazim, Nak," ucap Ibra menggendong Zahra. Sedangkan Al menegakkan kursi roda Zahra yang rebah.
Orang-orang sudah berkerumunan melihat kejadian itu. Anak-anak yang tadi menabrak Zahra lari begitu melihat Zahra jatuh. Mungkin mereka takut akan dimarahi makanya mereka memilih untuk lari.
"Ya Allah, Nak. Umi Sama Kina dimana, Sayang?" tanya Ibra khawatir.
"Hiks, Umi lagi ke toilet sama Adek, Abi, hiks. Kepala Ala sakit, Abi," ucap Zahra menunjuk kepalanya.
Ibra membuka jilbab Zahra dan melihat dahi Zahra yang sedikit bengkak dan memerah. Tangan anak itu juga nampak biru karena terjatuh.
"Mana yang sakit, Zahra?" tanya Al ikut khawatir.
"Kepala sama tangan Ala sakit, hiks," ucap Zahra menangis.
"Ya Allah Zahra!" teriak Sofia melihat anaknya yang menangis di gendongan Ibra.
Sofia dan Kevin juga sholat di mesjid yang sama. Karena pengunjung yang ramai, menyebabkan mereka tidak bertemu saat sholat tadi. Ketika melihat kerumunan, Kevin dan Sofia langsung menghampiri. Alangkah terkejutnya mereka melihat Zahra yang menjadi objek kerumunan itu.
"Jatuh dari kursi rodanya. Nggak sengaja di dorong sama anak-anak sini," ucap Ibra mengusap.lembut kepala Zahra.
"Sini sama Bunda, Nak," ucap Sofia mengambil alih Zahra dari gendongan Ibra.
Ditengah kecemasan mereka, Dee datang bersama Kina.
"Loh Zahra kenapa, Nak?" tanya Dee cemas melihat Zahra yang menangis sesegukan.
"Tatak tenapa?" tanya Kina yang juga ikut cemas.
"Kamu kemana saja Dee. Tega-teganya kamu membiarkan anakku sendiri di tempat keramaian seperti ini. Kalau Zahra semakin kenapa-napa bagaimana?" ucap Sofia dengan suara sedikit tinggi kepada Dee.
Dee menggeleng menyanggah perkataan Sofia. "Bukan begitu, Mbak. Tadi aku sama Kina ke toilet sebentar ka-"
"Jika kamu memang tidak bisa menerima anakku katakan saja Dee. Jangan kamu buat dia celaka!" bentak Sofia memotong perkataan Dee.
"JAGA UCAPANMU SOFIA!" ucap Ibra tidak terima ketika Sofia menyalahkan istrinya.
"Mbak bukan begitu, Mbak," ucap Dee.
Sedangkan Al sudah mengepalkan tangannya melihat Uminya di bentak seperti itu. "Jangan membentak Umi ku!" ucap Al marah.
__ADS_1
"Sudah sayang, yang penting sekarang Zahra nggak kenapa-napa. Semuanya juga sudah terjadi, nggak ada yang salah disini," ucap Kevin membujuk Sofia.
"Tapi Zahra terluka, Mas," ucap Sofia.
"Yasudah, kita kembali ke mobil. Kita obati luka Zahra," ucap Kevin.
"Tidak apa-apa Dee. Jangan di pikirkan perkataan Sofia. Dia hanya cemas melihat kondisi Zahra," ucap Kevin tak enak kepada Dee.
Dee hanya mengangguk. Matanya sudah berkaca-kaca melihat kondisi Zahra.
"Ib, gue duluan. Kita ketemu di mobil aja," ucap Kevin mendorong kursi roda Zahra.
"Mas, demi apapun Adek nggak bermaksud buat Zahra celaka, Mas," ucap Dee menunduk takut. Dia takut Ibra tidak akan mempercayainya seperti sebelumnya.
"Maaf, Mas. Tadi Adek nemenin Kina ke toilet karena dia udah nggak tahan mau pup. Jadi Adek minta sama Zahra buat nunggu disini, Mas. Toiletnya antri makanya Adek sama Kina sedikit lama. Adek berani sumpah, Mas, Adek nggak ada niatan buat ninggalin Zahra," ucap Dee menjelaskan dengan kepala menunduk dan suara yang bergetar. Tangannya memilih ujung jilbabnya.
Ibra tidak tahan melihat istrinya seperti ini. Direngkuhnya tubuh bergetar Dee ke dalam dekapannya.
"Aku percaya kamu, Sayang. Kamu nggak salah, jadi jangan takut lagi ya," ucap Ibra.
Dee hanya mengangguk sambil menunduk. Dia masih tidak berani melihat wajah Ibra.
"Sayang, lihat aku," ucap Ibra melihat Dee yang hanya menunduk.
Dengan perlahan Dee mengangkat kepalanya. "Jangan dengerin omongan Sofia. Aku percaya sama istri aku," ucap Ibra lembut kepada Dee.
Dee mengangguk dan memeluk Ibra. Hingga suara isakan kecil mengurai pelukan mereka.
"Hiks."
"Adek kenapa nangis?" tanya Al melihat Kina yang menangis.
"Ina yan calah, Abi. Talau tadi Ina ndak pup, pasti tatak ndak luta, hiks," ucap Kina menangis.
Ibra mengangkat tubuh Kina kegendongannya. "Bukan salah Adek, Sayang. Kakak nggak apa-apa kok. Cuma sedikit terkejut aja. Adek jangan sedih, ya," ucap Ibra menghapus air mata Kina.
"Maaf, Abi," ucap Kina.
"Kina nggak salah, Nak," ucap Ibra.
Kina mengangguk dan mulai berhenti menangis. Menyisakan isakan kecil dari bibir mungilnya.
Al nggak salah percaya sama Abi. Batin Al melihat bagaimana tindakan Ibra.
Kamu benar-benar tidak ada rasa terimakasih kepada keluargaku, Sofia. Batin Ibra kesal mengingat bagaimana Sofia membentak istrinya.
......................
Terimakasih untuk kesetiaan kalian mengikuti novel ini. Jangan bosan dan selalu ikuti cerita keluarga kecil Ibra ya teman-teman.
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram author @yus_kiz
Jangan lupa ikuti kisah novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO"