
DEG
DEG
Jantung Kevin dan Agam berdetak tak karuan mendengar teriakan Ibra.
"Lo tahu itu?" tanya Agam dan Kevin bersamaan.
"KENAPA LO BERDUA SEMBUNYIIN MASALAH SEBESAR INI SAMA GUE?" teriak Ibra sekali lagi kepada Agam dan Kevin.
"Ib, maksud gue sama Agam bukan gitu," ucap Kevin mencoba menjelaskan kepada Ibra.
"Apa gue sebegitu buruknya sampai Lo berdua nggak libatin gue dalam masalah ini." ucap Ibra dengan suara lirihnya.
"Ib-"
"Apa gue bukan ayah dan suami yang baik buat anak istri gue?"
"Ib, Lo tenang dulu. Kita bukannya nggak mau ngasih tahu Lo, tapi-"
"Masalah ini menyangkut orang tua gue, anak gue, istri gue dan sahabat gue sendiri. Dan Lo berdua nggak ngasih tau gue sama sekali mengenai masalah ini. Lo tau, gue benar-benar merasa gagal menjadi seorang suami, gue gagal jadi Abi buat Al, bahkan gue gagal jadi anak," ucap Ibra memotong penjelasan Agam.
"Ib, kita nggak sembunyiin ini semua dari Lo. Kita hanya sedang mengumpulkan bukti dan setelah itu baru kita ngasih tahu Lo semuanya," ucap Kevin mencoba memberi pengertian kepada Ibra.
"Dan gue hanya diam saja, begitu? gue diam sedangkan semua orang sibuk mencari bukti. APA GUE BEGITU NGGAK BERGUNANYA? IYA, VIN?" teriak Agam kepada Kevin.
"BUKAN BEGITU, IB!" teriak Kevin menjawab ucapan Ibra. Lama-lama emosi Kevin ikut terpancing.
"Vin, Ib, kalian tenang dulu. Kalau kita sama-sama emosi kayak gini semuanya nggak akan selesai. Tenang, oke," ucap Agam mencoba meredam kemarahan Ibra dan Kevin.
"Gue sama Kevin nggak bermaksud buat nutupin ini semua dari Lo, Ib. Kita hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk ngasih tahu ini semua sama Lo. Karena kita tahu, Lo nggak akan mudah percaya jika Naina yang melakukan semua ini. Kita tahu bagaimana Lo sangat percaya sama Naina. Makanya kita berusaha untuk mengumpulkan buktinya, Ib," ucap Agam tenang menjelaskan kepada Ibra.
Ibra membuang nafas kasar mencoba meredakan emosinya. "Maafin, gue," ucap Ibra meminta maaf karena tidak bisa mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Hal yang wajar kalau lo marah kayak gini," jawab Kevin menepuk pelan bahu Ibra.
"Sekarang gue yang tanya sama Lo, Ib. Lo tahu darimana semua ini?" tanya Agam penasaran.
"Gue sebenarnya udah curiga sejak kalian nginap di rumah gue. Kalian nginap di rumah dengan mendadak dan itu bertepatan dengan kejadian Naina dan Al di sumur. Dan gue lihat setiap gerak gerik Lo yang memperhatikan Naina dan Al, Vin. Tapi gue menepis semua pikiran buruk gue. Gue mencoba untuk tetap berfikir positif. Sampai saat dimana gue tanya perkembangan kasus ini sama Kevin, Lo menjawab gue dengan santai, tapi mata Lo nggak bisa bohong Vin. Dan gue mulai curiga, gue menunggu Lo untuk cerita semuanya sama gue, Vin. Tapi Lo selalu mengatakan tidak ada perkembangan apa-apa, hingga akhirnya gue minta bantuan Alan untuk menyelidiki semuanya," ucap Ibra menjelaskan kepada Kevin dan Agam.
"Alan?" tanya Kevin dan Agam lagi-lagi secara bersamaan.
"Iya, Alan Bratajaya. CEO Brata Group," jawab Ibra memberitahu Kevin dan Agam.
"Gimana bisa dia membuktikan semuanya, Ib? sedangkan dia benar-benar tidak tahu menahu mengenai masalah ini?" tanya Kevin.
"Dia detektif hebat. Tidak banyak yang tahu mengenai itu. Jabatannya sebagai CEO perusahaan besar mendukung hobinya sebagai detektif hebat," jawab Ibra.
"Kalau gue tahu bakal semudah itu, udah dari dulu gue minta bantuan dia," ucap Agam gemes mengingat kelemotan mereka dalam menyelidiki semuanya. Padahal dia seorang polisi, tapi masih sulit untuk mencaritahu semuanya.
"Kalian lihat disini!" ucap Ibra meletakkan laptopnya di meja.
Kevin dengan gerakan cepatnya langsung menyambar laptop Ibra dan meletakkan di pangkuannya. Agam yang semakin penasaran berpindah duduk di sebelah Kevin. Jadilah posisi Kevin ditengah-tengah.
"Brengsek!"
"Bangsat!" umpat Kevin dan Agam geram melihat file tersebut.
"Gue nggak nyangka Naina akan bertindak sejauh ini," ucap Kevin setelah selesai melihat file tersebut.
"Gue nggak tau apa motifnya bisa sejahat itu," ucap Ibra menimpali ucapan Kevin.
"Karena Naina mencintai Lo sebagai seorang laki-laki dewasa, Ib," ucap Agam memberitahu Ibra.
Ibra menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ternyata perlakuan baik gue selama ini salah, dan bahkan sangat salah," ucap Ibra menyesali kebaikannya kepada Naina.
"Gue benar-benar salut sama Alan bisa mendapatkan rahasia sebesar ini," ucap Agam.
__ADS_1
"Besok saat makan siang datang keruangan gue, Vin. Dan Lo datang juga, Gam. Gue bakal minta Alan buat jelasin gimana caranya dia berhasil dapat ini semua," ucap Ibra kepada Agam dan Kevin.
Agam dan Kevin sama-sama mengangguk mengiyakan permintaan Ibra.
"Gue benar-benar bodoh, gue tinggal dengan Al tapi gue nggak pernah tahu gimana Naina menyiksanya? Harusnya gue peka kenapa Al nggak pernah mau mandi bareng sama gue. Harusnya gue peka kenapa Al selalu tidak mau kalau gue yang bantu dia buat siap-siap kesekolahnya. Gue menyesal kenapa Al harus mandiri sebelum umurnya. Harusnya gue peka sebagai Abinya. Dan Gue juga dengan bodohnya tidak peduli keadaan istri yang udah gue masukin ke penjara ulah perkataan yang keluar dari mulut gue sendiri. Gue benar-benar bodoh, bodoh, bodoh" ucap Ibra menunduk memukul kepalanya sendiri merutuki kebodohannya.
"Gue setuju, Lo emang bodoh, Ib. Bahkan Lo sangat bodoh dan tidak peka. Tapi sekarang bukan saatnya Lo nyalahin diri Lo. Al meminta gue dan Kevin untuk menyembunyikan semuanya karena tidak mau melihat Abinya kecewa karena kelakuan sahabatnya sendiri. Dia sangat memikirkan bagaimana ketenangan hati Lo, Ib. Kalau Lo terus bodoh kayak gini, Lo nyia-nyiain pengorbanan Al, Ib. Jadi berhenti nyalahin diri Lo sendiri," ucap Agam menenangkan Ibra.
"Setelah Lo tahu semua ini, apa yang bakal Lo lakuin sama Naina?" tanya Kevin memandang lekat Ibra.
Agam yang penasaran tak kalah serius memandangi Ibra.
Ibra menegakkan kepalanya. Seringai jahat terbit di bibir seksi Ibra. "Seribu kali lebih pedih dari apa yang didapat mama, istri dan anak gue," ucap Ibra tegas. Tangannya terkepal kuat mengingat kejahatan Naina terhadap keluarganya.
Sebentar lagi kita akan hidup tenang, Sayang. Batin Ibra mengingat Dee dan Al.
Sedangkan Naina, saat ini gadis itu menyusun rencana jahatnya untuk kembali memfitnah Dee. Dia benar-benar terobsesi akan kepercayaan Ibra.
Karena dengan begitu dia akan dengan mudah mendapatkan cintanya.
"Gue harus segera bertindak. Kalau enggak, Kevin bisa kapan saja membuka semua yang sudah gue lakuin," ucap Naina memandang lurus ke depan.
"Dengan ini, riwayat Lo sebagai Nyonya Ibra akan segera berakhir, HAIDEE TSABINA," ucap Naina dengan tawa jahatnya. Tangannya menggenggam sebuah memory card yang akan digunakan untuk senjatanya.
Tidak tahukah Naina bahwa tiga sahabat itu sedang mempersiapkan kejutan untuknya. Sebentar lagi hidupnya mungkin akan lebih sulit dan mengenaskan.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
__ADS_1
Author sayang kalian 🌹🌹😘