Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 111


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Pesawat yang di tumpangi Ibra mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dengan lancar. Sampainya di sana, Ibra sudah di sambut oleh salah satu karyawan yang bekerja di cabang perusahaan Alan. Karena di Kota ini, Ibra sama sekali tidak memiliki kenalan. Dan cabang perusahaannya pun tidak ada di sini.


Lelaki tampan dengan kaca mata hitam yang bertengger indah di hidungnya itu berjalan tegap menuju pintu kedatangan. Banyak pandang mata yang melihat Ibra. Bayangkan saja, celana jeans selutut dengan kaos oblong berwarna hitam dan tas kecil di dadanya. Sepatu snekers putih dengan merk ternama melekat indah di kakinya. Serta tangan kirinya yang menyeret koper kecilnya. Seseorang yang tidak mengetahui kebodohannya akan berdecak kagum dan tergila-gila dengan lelaki ini.


"Selamat malam, Pak. Selamat datang di Kota Padang," ucap seorang lelaki paruh baya dengan name tag Sofyan di kemejanya.


Ibra membuka kaca matanya dan tersenyum kepada Pak Sofyan. "Selamat malam, Pak," ucap Ibra.


"Apa Bapak yang di minta oleh Alan untuk membantuku selama disini?" tanya Ibra sambil mengaitkan kaca matanya pada leher kaos oblong nya.


Pak Sofyan mengangguk dan membungkukkan sedikit badannya kepada Ibra. "Iya, Pak," ucap Pak Sofyan ramah.


"Panggil Ibra saja, Pak. Bapak seumuran dengan Papa saya, jadi tidak sopan rasanya jika Bapak memanggil saya seperti itu," ucap Ibra.


"Baiklah," ucap Pak Sofyan tersenyum.


"Kalau begitu mari kita langsung ke mobil, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan.


Ibra mengangguk dan mengikuti langkah Pak Sofyan dari belakang. Sampainya di mobil, Ibra duduk di kursi belakang bagian penumpang. Sebelum mobil berjalan, Ibra lebih dulu bertanya kepada Pak Sofyan.


"Pak, apa hotel jauh dari alamat ini?" tanya Ibra memberikan sebuah kertas kepada Pak Sofyan. Di kertas itu tertulis alamat Sekolah Al. Alamat ini Ibra dapat dari pihak yang mengadakan lomba. Dengan menggunakan kekuasaannya, Ibra dengan mudah mendapatkan data sekolah Al.


"Wah, ini tempatnya sedikit jauh dari kota, Nak. Jauh dari hotel tempat Nak Ibra menginap. Sekita satu jam dari hotel," ucap Pak Sofyan memberitahu Ibra.


"Apa tidak ada hotel di dekat alamat itu, Pak?" tanya Ibra lagi.


Pak Sofyan tergelak kecil. "Maaf, Nak Ibra. Tidak ada hotel di alamat yang Nak Ibra perlihatkan tadi. Karena alamat ini terletak di pinggiran kota, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan.


"Baiklah, Pak. Untuk sekarang kita ke Hotel saja. Besok tolong cariin saya penginapan di dekat alamat itu, Pak," ucap Ibra.


"Baik, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan mengangguk patuh. Setelah itu Pak Sofyan melajukan mobilnya ke salah satu hotel yang ada di Kota Padang tempat Ibra menginap.


Ibra memandangi jalanan Kota Padang yang tampak ramai saat malam hari dari jendela mobil. Ada harapan yang sangat besar dalam hatinya, bahwa dia akan di terima oleh anak dan istrinya. Eh ralat, mantan istrinya.


Semoga Kota ini menjadi saksi untuk kita kembali bersama, Sayang. Semoga Kota ini merestui ku untuk mengambil hati salah satu penduduknya. Ucap Ibra dalam hati sambil memandang jauh ke luar jendela mobil.


.....


Sedangkan di kediaman Dee, Al memasuki kamar Adik kesayangannya.


Ceklek.


Pintu terbuka. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah Kina yang tidur dengan posisi menelungkup. Tampak jari-jarinya bergerak indah di atas buku gambarnya. Anak itu tampak semakin lucu dengan baju tidur bermotif kepala Upin dan Ipin. Rambut indah Kina nampak diikat asal, karena sekarang anak itu tidak menggunakan kerudungnya.

__ADS_1


"Adek," panggil Al ketika sudah mendidikan tubuhnya di kasur Kina.


Kina menoleh ketika mendengar suara memanggilnya. Mata anak itu mengerjap polos melihat siapa yang ada di depannya. Sedetik kemudian dia tersenyum lebar melihat Al yang duduk dihadapannya.


"Aban!" pekik Kina senang berhambur kepelukan Al.


Al membalas pelukan adik kesayangannya. "Abang rindu Adek," ucap Al.


"Ina duga lindu Aban. Tata Umi Aban pulangna nanti, tenapa cekalang udah di lumah?" tanya Kina heran dengan bahasa kebangsaan anak seusianya.


"Abang mau kasih kejutan buat Adek kesayangan Abang," ucap Al mencium lembut dahi Kina.


"Adek gambar apa?" tanya Al melihat sedikit buku gambar Kina.


Mata Kina berkaca-kaca. Anak itu menjauhi Al dan menutup cepat buku gambarnya.


"Adek," panggil Al lembut. "Adek gambar apa? Abang mau lihat," lanjut Al.


Kina menggeleng kuat. "Nanti Aban malahin Ina," ucap Kina menunduk.


"Abang nggak akan marah, Dek," ucap Al lembut.


"Janji?" tanya Kina memberikan jari kelingkingnya kepada Al.


Kina mengambil buku gambarnya tadi dan memberikan kepada Al.


Al membuka buku gambar Kina. Di sana Al melihat Kina menggambar seorang pria dewasa menggendongnya seorang anak perempuan. Dan seorang anak laki-laki yang bertengger di leher pria dewasa tersebut. Sedangkan di sebelah pria dewasa itu ada seorang wanita cantik menggunakan jilbab sambil mencium pipi anak perempuan kecil tersebut.


"Adek," panggil Al lirih.


Ina mengangkat kepalanya. Mata anak itu sudah berkaca-kaca.


"Adek pengen tahu satu hal tentang Abi?" ucap Al. Al sangat mengerti maksud gambar Adiknya. Itu adalah sebuah mimpin yang sangat ingin Kina dapatkan di dunia nyata, yaitu digendong oleh Abinya. Meskipun gambarnya nampak berantakan, tapi Al mengerti maksudnya.


Walaupun di lingkungan tempat tinggal mereka tidak ada yang mengejek mereka tidak memiliki Ayah, tapi Kina sering merasa iri melihat anak kecil yang bermain bersama Ayah mereka di Taman Komplek.


"Walaupun Abi tidak ada bersama kita, tapi Adek harus percaya, Abi selalu dekat dengan kita. Abi ada disini, Dek," ucap Al menunjuk dada bagian kiri Kina.


"Benalkah?" tanya Kina.


Al mengangguk yakin. "Iya, Dek," ucap Al.


Kina berhambur memeluk Al karena merasa senang mendengar ucapan Abangnya itu.


Semoga Abi berjuang untuk kita, Dek. Batin Al dalam hati.

__ADS_1


.....


Matahari telah menjelang. Langit malam telah hilang digantikan dengan langit cerah. Secerah hati seorang pria yang saat ini sedang mematut penampilannya di depan cermin kamar Hotel tempat dia menginap.


"Jantung gue dag dig dug banget, gila," ucap Ibra memegang dadanya.


Ibra mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Ini pasti nggak akan mudah. Seberapapun sulitnya, semuanya harus gue lewati," ucap Ibra pada dirinya sendiri.


Setelah itu, Ibra berjalan keluar kamar hotel dan menyusul Pak Sofyan yang sudah menunggunya di Lobi hotel. Selang beberapa menit, Ibra sampai di Lobi dan mereka segara menuju mobil.


"Pak, kita ke alamat Sekolah yang saya kasih kemaren, ya, Pak," ucap Al pada Pak Sofyan yang sudah duduk di kursi kemudi. Sedangkan dia duduk di kursi belakang.


"Baik, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan ramah. Mobil yang dinaiki Ibra melesat pergi meninggalkan hotel.


Kemacetan di pagi hari membuat lajur mobil lambat. Kepadatan kendaraan membuat jalanan menjadi sempit. Pak Sofyan sedikit menepikan mobilnya untuk mencari akses jalan yang lebih mudah. Tapi saat mobilnya sudah di pinggir, tidak sengaja kepala mobil menabrak sebuah motor Scoopy yang berdiri di pinggir jalan.


Bruk.


"Ada apa, Pak?" tanya Ibra kaget.


"Maaf, Nak Ibra. Saya nggak sengaja menabrak motor yang ada di parkir di pinggir jalan," ucap Pak Sofyan.


"Kalau gitu ayo turun, Pak. Saya takut ada yang terkena motor itu," ucap Ibra.


Pak Sofyan mengangguk. Mereka berdua turun dari mobil dan melihat seorang pemuda dan seorang anak kecil yang berdiri di sebelah motor Scoopy tersebut.


"Maafkan saya, Nak. Saya tidak sengaja menabrak motor kamu," ucap Pak Sofyan tak enak.


"Eh, tidak apa-apa, Pak. Saya yang salah karena sembarangan meletakkan motor," ucap Pemuda tersebut ramah sambil menegakkan motornya kembali.


"Uda Joni," panggil suara mungil kepada pemuda tersebut yang membuat mereka semua mengalihkan pandangan.


Ibra mengalihkan pandanganya ke bawah dan melihat seorang anak kecil berdiri di sebelah pemuda tersebut.


"Iya, Kina," jawab Joni.


"Badu Ina totol," ucap Kina polos menunjuk baju bagian bawahnya yang kotor karena terkena cipratan air.


Ibra memandang lekat wajah anak kecil tersebut. Wajah yang sangat mirip dengan wanita yang selalu mengisi hati dan pikirannya.


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


__ADS_2