
🌹HAPPY READING🌹
Sesuai janjinya, Wijaya saat ini tengah bersiap untuk pergi ke Hotel menemui Kiyai Rozak. Wijaya dan Raina menginap di rumah Dee, sedangkan yang lainnya kembali ke hotel. Dee sudah menawarkan kepada Zahra agar menginap disini, tapi Ibra yang meminta agar Zahra tetap kembali ke hotel. Dia tidak ingin semakin memperburuk keadaan dengan keberadaan Zahra.
Sungguh anak yang malang. Zahra harus menjadi korban karena egois orang tuanya. Nasib anak itu tidak jauh beda dengan Kina dan Al. Orang dewasa terkadang memang suka berbuat apa yang menurut mereka baik, tapi tidak tahu akibat besar yang akan mereka korbankan.
Saat ini Ibra sedang berada di ruang keluarga bersama Wijaya.
"Ibra, nanti malam bawa Al ke Hotel tempat Kevin dan yang lainnya menginap. Kita akan ceritakan semua yang terjadi agar Al bisa menerima semuanya dengan baik. Papa sudah tidak sanggup menanggung beban yang sangat besar ini, Ibra," ucap Wijaya.
"Hanya Al, Pa?" tanya Ibra.
Wijaya mengangguk. "Hanya kita lelaki yang akan menyelesaikannya," ucap Wijaya.
"Baiklah," ucap Ibra patuh.
"Susul Papa selepas magrib ke hotel bersama Al, Ibra," ucap Wijaya.
Ibra mengangguk. "Kalau begitu Papa pergi dulu, Gala sudah menunggu di luar," ucap Wijaya dan berlalu pergi meninggalkan Ibra.
Huft, semoga setelah ini semuanya selesai. Batin Ibra menghembuskan nafas beratnya.
.....
Magrib telah usai, saat ini Ibra dan Al sedang dalam perjalanan menuju Hotel menyusul Wijaya dan yang lainnya. Dengan alasan ingin membawa Al jalan-jalan, akhirnya Dee mengizinkan mereka pergi berdua. Sedangkan di rumah, kini hanya ada Raina, Dee dan Kina. Sedangkan Adam sudah pergi lebih dulu bersama Wijaya.
Kali ini Ibra membawa motornya. Tentu itu atas permintaan Al. Dee sebenarnya tidak mengizinkan Ibra untuk naik motor, tapi atas bujukan Al akhirnya Dee mengalah.
Al boncengan di belakang Ibra, tangan anak itu melingkar erat di pinggang Ibra. Anak dan Ayah itu nampak sangat tampan dengan jaket kulit yang mereka gunakan. Al dan Ibra tampak seperti anak geng motor. Al bersorak senang, karena ini yang dia inginkan sejak dulu.
Tidak berapa lama, motor Ibra sampai di hotel.
"Kita ke Hotel, Abi?" tanya Al kepada Ibra.
"Iya, Boy," jawab Ibra sambil membantu Al membuka helm kecilnya.
"Boy, siapapun yang akan kita temui nanti, semua ini untuk kebaikan kita. Jadi Abi mohon, selalu dengar kata hati mu jika nanti kau ragu dengan semuanya," ucap Ibra.
Al bingung, tapi dia hanya mengangguk mengiyakan perkataan Abinya.
"Kalau begitu ayo kita masuk, Boy," ucap Ibra menggandeng tangan Al.
"Ayo, Abi," jawab Al.
Ibra dan Al memasuki hotel dan berjalan menuju kamar yang sudah di pesan oleh Wijaya. Selang beberapa menit, Al dan Ibra sampai di kamar tersebut.
"Kakek, Uncle Agam, Uncle Kevin, Ayah" ucap Al mengabsen satu persatu orang yang dia lihat ketika memasuki kamar. Namun pandangan Al tertuju pada sosok lelaki paruh baya yang menggunakan pakaian gamis laki-laki.
"Dia siapa, Abi?" tanya Al menengadah melihat Ibra.
"Kita masuk dulu, Boy," ucap Ibra menuntun Al masuk dan menutup pintu kamar.
Kini mereka semua duduk di sofa. Al duduk di tengah-tengah antara Adam dan Ibra, sedangkan Wijaya duduk di sofa single. Kevin, Agam dan Kiyai Rozak duduk bersama di depan Ibra dan Al.
"Boy," panggil Ibra lembut.
"Iya, Abi," ucap Al.
__ADS_1
"Yang duduk di depan Al sekarang adalah Ayahnya Sofia," ucap Ibra hati-hati.
Al langsung mengalihkan pandangannya kepada Kiyai Rozak. Kiyai Rozak tersenyum ketika Al melihatnya. Tapi Al hanya diam memasang wajah datarnya.
"Hubungannya sama Al apa, Abi?" tanya Al menatap Ibra lekat.
"Maafkan kesalahan saya, Nak," ucap Kiyai Rozak.
Al menoleh dan menatap Kiyai Rozak. "Kesalahan apa?" tanya Al.
"Maafkan kesalahan saya karena sudah membuat kamu terluka. Maafkan keegoisan saya karena membuat kamu harus mendapat masa lalu yang tidak mengenakan," ucap Kiyai Rozak menyesal kepada Al.
"Al," giliran Wijaya yang membuka suaranya.
Al mengalihkan pandangannya kepada Wijaya. "Iya, Kakek," jawab Al.
"Nak, semua yang terjadi kepada Al, Umi, Kina, Abi dan juga Zahra, semuanya berawal dari kesalahan Kakek, Nak," ucap Wijaya sendu.
Dada Al terasa sesak mendengar perkataan Wijaya. Jadi ini semua kembali berhubungan dengan luka lamanya. Matanya memerah melihat wajah sendu Kakeknya.
"Abi," panggil Al lirih kepada Ibra.
Ibra yang mengerti langsung membawa Al ke dalam dekapannya.
"Sebenarnya ada apa, Abi?" tanya Al kepada Ibra.
"Begini, Al ... " ucap Wijaya menceritakan semuanya mengenai bagaimana Ibra bisa menikah dengan Sofia. Ibra yang menceraikan Sofia dan Zahra yang terlahir dalam keadaan cacat serta Sofi yang kini sudah menjadi istri Kevin.
Al dengan seksama mendengar penuturan Wijaya.
"Karena kamu harus mengetahui semuanya, Boy," jawab Agam yang sedari tadi hanya diam.
Al hanya mengangguk. Setelah itu dia berjalan mendekati Kiyai Rozak.
"Bapak," panggil Al.
Kiyai Rozak menatap Al ketika Al memanggilnya.
"Kenapa bersikap egois untuk Anak Bapak sendiri?" tanya Al.
"Maaf, Al. Saya saat itu hilang akal melihat kondisi anak saya," ucap Kiyai Rozak.
"Al mengerti, kalian mengatakan semua ini agar Al bisa menerima Zahra dan memaafkan Anak Bapak kan?" tanya Al.
"Bukan seperti itu, Boy," ucap Kevin. Sedangkan Ibra hanya diam, Dia percaya anaknya akan melakukan yang terbaik.
"Lalu bagaimana, Uncle?" tanya Al.
"Kalian berbicara mengatakan semua ini agar Al tidak salah paham kan?" tanya Al lagi.
Mereka semua yang ada di sana mengangguk.
"Sebelum kalian menjelaskan, Al sudah tahu semuanya," ucap Al yang membuat mereka semua melongo.
DEG
"Bagaimana bisa, Nak?" tanya Ibra.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, Al?" tanya Adam. Karena dia juga baru mengetahui semuanya tadi. Sebelum kedatangan Ibra dan Al, Wijaya sudah menjelaskannya lebih dulu kepada Adam.
"Abi, Ayah, saat Al pergi bersama Umi, Umi hanya mengatakan bahwa Abi pergi untuk bekerja dan akan menyusul kami. Setiap hari Al selalu menunggu kedatangan Abi. Sampai akhirnya Al marah kepada Umi, Abi. Apa Abi tahu? Bahkan Al mendiamkan Umi selama satu Minggu hanya karena perbuatan kalian. Umi Al tidak salah, tapi Al malah mendiamkannya. Hingga akhirnya Al meminta Umi untuk menceritakan semuanya," ucap Al.
Mereka semua diam. Ibra hanya bisa memandang sendu anaknya. Sedangkan Kiyai Rozak hanya bisa mengucapkan ketakjubannya dalam hati melihat Al yang sangat dewasa.
"Apa kalian semua tahu, bahkan Umi tetap meminta Al untuk selalu memaafkan. Al melakukannya, tapi Al belum bisa untuk melupakannya," ucap Al.
"Dan untuk Bapak, maaf jika Al belum melupakan kesalahan Bapak dan Anak Bapak," ucap Al.
"Saya tahu saya sangat salah, Al. Saya egois, tapi saya mohon jangan buat Zahra menanggung semuanya," ucap Kiyai Rozak lirih.
"Lalu bagaimana dengan adikku, Pak? Bahkan saat itu dia masih berada dalam perut Ibuku," ucap Al telak kepada Kiyai Rozak.
"Maaf jika Al tidak bicara sopan, tapi demi Umi dan Adikku, Al akan melakukan apapun," ucap Al kepada Kiyai Rozak.
"Uncle Kevin, Uncle Agam. Kalian masih ingat saat kita lomba berenang ketika Al masih di Jakarta?" tanya Al kepada Agam dan Kevin.
Agam dan Kevin mengangguk menjawab perkataan Al. Saat itu mereka berjanji akan memenuhi apapun yang diminta oleh Al.
"Al ingin menagih janji kalian sekarang," ucap Al.
"Silahkan, Boy," ucap Kevin dan Agam bersamaan.
"Hilangkan luka Al dan adik Al," ucap Al memandang sendu Kevin dan Agam.
Kevin dan Agam bungkam. Sedangkan Ibra hanya terus memandang Al. Melihat bagaimana anaknya terlihat sangat dewasa melewati semuanya.
"Al tahu, Zahra memang tidak bersalah, dia sama seperti Al dan Kina yang menjadi korban dari semuanya."
"Bapak, Bapak seorang pemuka Agama. Bapak paham Agama tapi kenapa mengorbankan kebahagiaan Umi Al demi kebahagiaan Anak Bapak? Dan sekarang Bapak meminta maaf. Jika Zahra tidak cacat apa Bapak akan tetap minta maaf?" tanya Al kepada Kiyai Rozak.
"Tidak bisa menjawab kan, Pak," lanjut Al melihat Kiyai Rozak yang hanya bungkam dengan tatapan sendu ya.
Kemudian Al beralih menatap Wijaya yang menunduk menyembunyikan tangisnya.
"Jangan menangis Kakek, jangan buat Al menjadi cucu durhaka karena membuat Kakek mengeluarkan air mata," ucap Al menatap sendu Wijaya.
Wijaya mengangkat kepalanya. "Maafkan Kakek, Nak," ucap Wijaya menangkup kedua tangannya di dada.
Al mengalihkan pandangannya dari Wijaya, dia tidak kuat melihat Kakek yang sangat dia sayangi menjadi cengeng seperti ini. Sedangkan Ibra hanya bisa bungkam tanpa berbicara sepatah katapun.
"Nak, jangan siksa saya dengan penyesalan yang sangat dalam ini. Karma itu sudah datang lewat Zahra, Nak. Saya mohon, di akhir hidup saya, maaf dan keikhlasan mu sangat melapangkan jalan saya untuk menggapai keridhoan Allah, Nak," ucap Kiyai Rozak memandang sendu Al.
Mata Al sudah memanas melihat lelaki yang usianya tidak beda jauh dengan Kakeknya itu. Al menatap mereka semua sebelum membuka suaranya. Hingga terakhir, Al menatap Ibra dalam. Dia teringat perkataan Abinya tadi saat di parkiran, agar dia selalu percaya kata hatinya.
Ibra yang mengerti tatapan anaknya hanya mengangguk membiarkan Al menyampaikan apa yang hatinya katakan.
"Cium kaki kedua adikku atas segala kesalahan kalian."
......................
Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz
Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote nya ya. Kalau ada rejeki lebih, tips dari kalian juga sangat berharga.
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
__ADS_1