Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 125


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Jika aku pergi untuk selamanya, berjanjilah untuk bahagia, Sayang," ucap Ibra dengan tangisnya.


Belum sempat Dee menjawab, suara serak Al menghentikannya.


"Umi, Abi," ucap Al sendu.


Ibra dan Dee menoleh. Di ambang pintu ada Al yang tengah berdiri dengan menggandeng tangan Kina.


"Al, Kina," ucap Ibra dan Dee bersamaan dengan ekspresi terkejut mereka.


Al berjalan menggandeng Kina mendekati Dee dan Ibra.


"Apa sudah selesai bertengkar nya Abi, Umi?" tanya Al sendu.


DEG


Dee menggeleng lemah, air matanya mengalir melihat wajah sendu anaknya.


"Al."


"Boy."


Ucap Ibra dan Dee lirih melihat Kina dan Al.


"Al, ke kamar sama Adek ya, Nak," ucap Dee lembut.


Al menggeleng. Dia tetap berdiri di depan Dee dan Ibra. Al melepas gandengan tangannya dari Kina dan mendudukkan Kina di sofa. Dengan patuh Kina menurut tanpa banyak bertanya. Anak itu nampak tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia hanya menatap polos Abi dan Uminya. Berbeda dengan Al, anak itu sudah sangat mengerti keadaan.


"Abi, Umi, tidak bisakah berhenti bersikap egois?" ucap Al dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nak, bukan seperti itu," ucap Dee lembut.


"Lalu bagaimana Umi?" tanya Al cepat.


"Boy, bicara yang lembut sama Umi, Boy," ucap Ibra lembut.


Al mengalihkan pandangannya kepada Ibra. "Apa selama ini Al selalu berbicara kasar, Abi?" ucap Al tanpa menjawab pertanyaan Ibra.


Ibra dan Dee bungkam. Sungguh, Ibra dan Dee tidak ingin berada di posisi seperti ini. Mereka tidak ingin Al mengetahui semuanya.


"Umi, Abi, bolehkah Al mengatakan bahwa Al sudah lelah dan ingin menyerah?" tanya Al dengan suara bergetar memandang Ibra dan Dee secara bergantian.

__ADS_1


"Al, dengarkan Umi, Nak," ucap Dee berusaha membujuk Al.


Sedangkan Kina, anak itu hanya menunduk sedari tadi. Dia tidak berani bersuara sedikitpun melihat mata Abi, Umi dan Abangnya yang sudah berair.


"Dengar apa Umi? Mendengar pertengkaran Umi dan Abi lagi? Mendengar setiap isi hati kalian tanpa memikirkan perasaan Al dan Adek, iya Umi?" ucap Al.


"Boy, bukan seperti itu. Ini salah Abi, Nak," ucap Ibra berusaha memegang tangan Al. Tapi dengan cepat Al menghindar.


Al menatap Ibra dengan tatapan sendu. "Ini memang salah Abi. Semua berawal dari kesalahan Abi. Jika sedikit saja Abi percaya dan memikirkan perasaan keluarga Abi, maka cerita kita tidak akan seperti ini, Abi," ucap Al dengan suara bergetar karena menangis.


Air mata Ibra mengalir deras mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Al. Ada kepedihan yang mendalam di mata anaknya saat Ibra menatap mata indah itu.


Al mengalihkan pandangannya kepada Dee. "Umi, Al selalu berusaha untuk menjadi anak yang Sholeh untuk Umi. Al berusaha menjadi pengganti Abi untuk Umi dan Kina. Al menahan segala air mata Al karena tidak ingin Umi sedih. Al menahan segala egois Al, Umi," ucap Al mengeluarkan isi hatinya.


"Untuk sekali ini bolehkan Al egois dengan meminta maaf dari Umi untuk Abi?" lanjut Al dengan suara bergetar.


Tangis Dee pecah mendengar perkataan anaknya. Mengapa harus seperti ini jadinya. Mengapa harus anak-anaknya yang menjadi korban semuanya.


"Umi, bolehkan Al egois dengan meminta kita semua untuk hidup bersama lagi? Bolehkah Umi?" tanya Al memandang Dee sendu.


"Al," ucap Dee. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya sakit mendengar semua perkataan Al. Begitu juga dengan Ibra.


Al berjalan mendekati Kina yang sedari tadi menunduk memilih ujung jilbabnya.


Al berdiri dan berjalan ke arah meja televisi. Tangan Al terulur mengambil buku gambar Kina yang selalu di letakkan nya di dalam laci meja. Al membawa buku gambar tersebut ke depan Ibra dan Dee.


"Abi dan Umi lihat ini," ucap Al memperlihatkan setiap gambar yang dibuat Kina di bukunya.


Dengan hati sakit dan air mata penyesalan Dee dan Ibra melihat gambar tersebut.


"Disini Adek selalu menumpahkan setiap mimpinya, Umi, Abi. Adek selalu membuat gambar keluarga sempurna disini. Dan apa Umi tahu itu? Tidak kan, Umi. Umi juga tidak pernah bertanya apa Adek merindukan Abi atau tidak. Al yang meminta Adek untuk tidak menanyakan Abi sama Umi. Apa Umi tahu, mata Adek selalu berkaca-kaca saat menggambar ini Umi, Abi," ucap Al dengan tangisnya.


Dee memeluk erat tubuh Kina yang duduk di sofa. Tangis Kina pecah dipelukkan Dee. "Dangan malah talna dambal Ina, Umi, hiks," ucap Kina takut. Anak itu sangat takut kalau Uminya marah melihat gambarnya.


"Maafin Umi, Nak," ucap Dee memeluk Kina erat.


Tatapan Al beralih kepada Ibra. "Dan untuk Abi, berhentilah bertindak sebelum berpikir Abi. Kenapa Abi tidak belajar dari masa lalu? Kenapa Abi selalu ceroboh seperti ini. Jika memang kedatangan Abi hanya untuk kembali pergi, lebih baik tidak pernah datang Abi," ucap Al kepada Ibra.


GREP


Ibra memeluk erat Al yang ada di depannya. "Maafin Abi, Nak. Maaf atas keegoisan Abi," ucap Ibra.


"Kalau hanya datang untuk pergi, lebih baik nggak usah datang, Abi, hiks. Jangan memberi harapan kepada Al dan Adek kalau memang tidak akan pernah terjadi, Abi, hiks," ucap Al menangis dalam pelukan Ibra.

__ADS_1


"Kita akan bersama, Nak. Kita akan bahagia bersama," ucap Ibra.


Al melepaskan pelukan Ibra. Dia menatap Dee dan Kina setelah itu berganti menatap Ibra. "Umi, Abi," panggil Al dengan suara seraknya.


Dee dan Ibra sama-sama menatap Al.


"Berikan Al dan Adek kebahagiaan, Umi, Abi," ucap Al dengan suara bergetar.


Ibra sudah tidak sanggup lagi. Dia kembali memeluk erat tubuh Al. Al yang sangat ingin memeluk Ibra sejak saat mereka bertemu membalas pelukan Ibra. Dengan erat Al memeluk badan Ibra.


Dee yang mendengar permintaan memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras. Haruskah dia kembali dan melupakan egoisnya? Haruskah dia menerima semuanya? Batin dan pikirannya bertanya-tanya. Hingga usapan dari tangan mungil terasa di pipinya.


Dee membuka mata dan melihat Kina menghapus air mata di pipinya. Mata anak itu juga berair sama dengan nya. "Adek, maafin Umi," ucap Dee. Dee kembali memeluk erat Kina menyalurkan segala kasih sayangnya.


Tidak berapa lama, Dee melapaskan pelukannya pada Kina dan mengangkat tubuh anak itu ke pangkuannya. Dee mengalihkan pandanganya kepada Al dan Ibra.


"Al," panggil Dee.


Al menoleh. "Kemari, Nak," ucap Dee merentangkan tangannya kepada Al.


Dengan perlahan Al melepaskan lilitan tangannya dari badan Ibra dan berjalan ke arah Dee.


Dee memeluk erat Al dan Kina dalam dekapannya. Dee menatap Ibra yang tengah menatapnya juga.


Ibra menangkupkan kedua tangannya di dada memohon kepada Dee untuk mengabulkan permintaan Al dan memaafkan kesalahannya. Air mata Dee kembali keluar melihat Ibra yang seperti itu dengan tangisnya. Perlahan Dee mengangguk menjawab isyarat dari Ibra.


"Al, Umi dan Abi akan memberikan kebahagiaan itu, Nak," ucap Dee sambil terus memandang Ibra.


Al yang mendengar penuturan Dee mengangguk sambil menangis dalam dekapan Dee.


Ibra tersenyum mendengar perkataan Dee. Begitu juga Dee kepada Ibra. Ingin sekali Ibra ikut memeluk tiga orang yang di cintainya itu, tapi apa daya dia dan Dee yang masih belum sah dalam ikatan pernikahan.


Sedangkan dari balik tangga, Adam melihat dan menyaksikan semuanya.


Terimakasih telah mengirimkan Al hadir di tengah-tengah kami, Ya Allah. Batin Adam ikut senang melihat Al yang bersikap sangat dewasa terhadap adik dan orang tuanya.


......................


Maafkan tulisan receh ku teman-teman online


Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


__ADS_2