Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 189


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Semua berawal dari penolakan kamu, Sayang," ucap Al memandang lekat wajah Bella.


Dahi Bella berkerut heran mendengar perkataan Al. "Maksudnya Al?" tanya Bella.


"Penolakan yang kamu berikan saat kita bertemu di Pesantren membuat aku sadar. Dan itu merupakan sebuah pukulan untuk aku, Sayang," jawab Al.


"Apa saat itu terbesit menyerah di hati kamu, Al?" tanya Bella.


"Awalnya iya. Tapi aku berpikir sepanjang malam. Aku tidak ingin menyia-nyiakan perjuangan cintaku yang sejak dulu.Hingga akhirnya aku mengatakan kepada Umi dan Abi untuk pergi ke Inggris," jawab Al.


"Lalu Papa?" tanya Bella semakin penasaran.


"Aku dan Aska sudah menyelidikinya terlebih dahulu sebelum aku ke Inggris, Sayang," ucap Al.


*Flashback On*


Setelah satu hari Al dan Aska kembali dari ruangan Bima yang ada di gedung apartemen tersebut, tanpa diduga Bima datang menemui Al dan Aska di apartemen Al.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini, Al?" tanya Aska.


Saat mereka sedang melaksanakan sarapan, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar yang cukup keras.


"Padahal ada bel. Ngapain nyakitin tangan sendiri coba," gerutu Al sambil melangkah menuju pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka. Mata Al membulat melihat Bima yang datang bersama dua bodyguardnya.


"Calon Mertua," ucap Al tidak ada takutnya pada Bima.


Tanpa menghiraukan Al, Bima dan dua bodyguardnya menerobos masuk dan langsung duduk di ruang tamu. Sedangkan dua bodyguardnya berdiri di belakang sofa yang di duduki Bima.


Al mengusap dadanya sabar menghadapi Bima. jika bukan calon mertuanya, mungkin Al sudah mengajak Bima baku hantam.


Aska yang tadinya minum tersedak ketika matanya tak sengaja menangkap Bima yang duduk dengan tenang di sofa. Aska langsung menyudahi sarapannya dan menyusul Al.


"Kau sudah memberiku restu?" tanya Al. Kini mereka sudah duduk dengan posisi berhadapan. Hanya dihalangi meja kaca yang ada disana.


Bima terkekeh pelan. Dia cukup salut dengan Al yang tidak ada takutnya. "Keyakinanmu sangat besar rupanya," ucap Bima.


"Aku yakin karena cintaku yang tulus untuk seorang gadis. Dan sialnya, gadis itu adalah darah dagingmu," ucap Al. Aska hanya diam menyaksikan Al dan Bima. Sesekali dia melirik dan melototkan matanya kepada bodyguard Bima yang juga menatapnya datar.


"Hari ini kau akan mendapatkan restu itu," ucap Bima.


"Tapi setelah melewati perjalanan panjang hari ini," ucap Bima melunturkan senyum di bibir Al dan Aska.


"Kau mengujiku?" tanya Al datar.


Bima terkekeh. Dia berdiri dari duduknya. "Datang ke tempatku satu jam dari sekarang," ucap Bima dan langsung keluar begitu saja diikuti bodyguardnya.


Al dan Aska saling pandang. "Gua akan akan pergi sendiri, As," ucap Al.


"Bahaya Al," jawab Aska.


"Ini urusan gue, As. Biar gue sendiri," ucap Al tak ingin dibantah.


Aska menghela nafas berat dan mengangguk pasrah. "Langsung kode gue kalau ada sesuatu, Al," ucap Aska.


Al mengangguk. Setelah itu dia berjalan kearah lantai tempat menyembunyikan senjatanya. Al mengambil sebuah pistol dan pisau kecil. Dia menyelipkan pisau tersebut di saku celananya dan pistol yang diapit di pinggang celananya.

__ADS_1


Setelah selesai, tanpa membuang waktu, Al segera keluar dari apartemen. Dengan langkah tegas, Al berjalan yakin menuju lift.


Ting.


Pintu lift terbuka. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah ruang pribadi Bima yang kini dipenuhi banyak bodyguard. Al tidak bisa memprediksi jumlah bodyguard itu karena saking banyaknya.


"Kau datang dengan sangat cepat," suara Bima tiba-tiba mengalihkan pandangan Al ke sudut ruangan.


Di sana Bima duduk dengan kursi goyang kayu mahal miliknya.


DORR


Satu tembakan keluar begitu saja. Untung Al bisa menghindarinya dengan cepat. Nyalinya benar-benar sangat diuji ditempat ini.


"Meleset, Calon Mertua," ucap Al meledek Bima.


Bima menyeringai mendengar ledekan Al. "Serang dia. Tapi jangan pukul wajahnya," perintah Bima pada lima orang bodyguard yang berdiri di belakangnya.


Para bodyguard itu maju dan mereka menyerang Al dengan sangat brutal. Al melawan dan menangkis serangan para suruhan Bima.


Al benar-benar mengeluarkan skill bela dirinya. Ajaran para Uncle dan Abinya sangat-sangat berguna untuk saat ini. Dan dia benar-benar memanfaatkan itu.


Tangan Bima mengepal melihat para bodyguardnya yang tumbang oleh Al.


Al tersenyum remeh menatap Bima dengan baju kaosnya yang sudah koyak di segala sisi.


Tidak ingin kalah, Bima menyuruh sepuluh bodyguard yang ada di sebelah kanannya untuk maju. Mereka semua mengangguk dan menyerang Al dengan brutal.


Sama seperti tadi, Bima menyuruh mereka untuk tidak melukai wajah Al. Dengan sisa kekuatan dan nafas yang sudah tak beraturan, Al dengan sekuat tenaga melawan. Menangkis, menendang, memukul dilakukannya.


Al tersungkur di lantai saat salah seorang bodyguard itu menendang punggungnya dari belakang. Darah segar keluar dari mulut Al saat perutnya diinjak dengan sangat keras.


Tawa puas keluar dari mulut Bima memenuhi ruangan itu. "Masih mau restu?" tanya Bima remeh.


"Cara apapun aku lakukan untuk menghalangimu," jawab Bima.


"Kau tidak hanya brengsek. Dengan ini, kau menunjukkan bahwa kau adalah seorang pengecut. Kau seorang bajingan terkutuk dan bahkan kau lebih buruk dari seekor anjing," ucap Al kasar menyeka darah di mulutnya.


Al meludahkan sisa darah di mulutnya tepat di wajah salah satu bodyguard Bima yang terkulai tak berdaya dilantai depan Al.


Bima hanya tertawa sumbang. Dalam hatinya sudah bergemuruh hendak membalas Al. Tapi dia sebisa mungkin mencoba tenang. Dia tidak ingin Al mempermainkan emosinya seperti kemarin.


"Satu kesempatan terakhir untukmu," ucap Bima menyeringai.


"Katakan. Dengan segala keyakinanku, aku akan melakukan apapun demi gadisku. Membebaskannya dari pasungmu adalah tujuanku," jawab Al.


Bima melempar sebuah pistol ke depan Al. Al memandang Bima seolah bertanya.


"Jika kau bisa menembak kepalaku dengan pistol itu, maka restuku akan untukmu," ucap Bima.


"Nyawamu menjadi taruhan?" tanya Al.


"Lakukan jika kau bisa. Aku akan berdiri disini. Jika kau bisa menembak kepalaku, maka kau bisa menikah dengan putriku. Tapi jika tidak, Nyawamu melayang saat itu juga," ucap Bima.


Al mengangguk yakin. Meskipun hatinya sangat ragu untuk melakukannya. Al mengambil pistol yang tergelatak dilantai itu.


Pistol ini kosong tanpa peluru. Batin Al ketika mengangkat pistol tersebut. Kelihaian Al memainkan senjata membuat dia tahu mana pistol yang kosong dan yang tidak.


Al memandang sekitarnya. Semua mata bodyguard itu kini tertuju padanya. Seolah akan mengulitinya hidup-hidup.


Baiklah. Kita lihat siapa yang menang. Batin Al.

__ADS_1


"Sebelum mengambil nyawamu, aku ingin satu permintaan," ucap Al.


"Katakan!"


"Tutup mata semua bodyguardmu," ucap Al.


"Heh, kau mencoba menipuku?"


"Aku hanya tidak ingin mereka semua menyaksikan kematian Bos tercinta mereka," jawab Al tegas.


"Tutup mata kalian!" ucap Bima menahan kesalnya karena tingkah Al.


Para Bodyguard itu dengan patuh menutup mata mereka dengan sapu tangan hitam yang selalu mereka bawa kemana-mana. Sapu tangan itu merupakan identitas mereka sebagai bodyguard Bima.


"Apa kau siap menghadapi kematian, Calon Mertua?" tanya Al. Dia mencoba mengajak Bima berbicara untuk mengalihkan pandangan lelaki tersebut dari tangannya.


"Kau yang akan mati!"


"Apa kau sudah bertobat?"


"Bukan urusanmu!"


"Baiklah. Neraka akan menyambut kedatangan pemimpinnya," ucap Al. Saat Al berbicara dan adu mulut dengan Bima, tangan Al bekerja mengganti pistol yang tadi dia bawa dengan pistol yang diberikan Bima.


Berhasil. Bima terkecoh oleh pergerakan Al.


Al mulai mengangkat pistol dan mengarahkan pada Bima, sasarannya.


"Bersiap Calon Mertua," ucap Al.


Bima tersenyum remeh. "Cobalah jika kau bisa," ucap Bima dengan percaya dirinya.


Al memfokuskan pandangannya pada sasarannya.


Satu


Dua


Tiga


DOORR


DOORR


Dua peluru keluar dari pistol tersebut. Seluruh bodyguard yang ada disana langsung membuka penutup mata mereka. Helaan nafas lega keluar dari mereka melihat Bima yang masih berdiri mematung di sana.


Pandangan mereka semua teralihkan pada bingkai foto Bima yang tergelatak tak berdaya di lantai. Al melesatkan tembakannya pada foto yang terpajang di dinding tepat di atas kepada Bima.


Bima masih mematung dengan keterkejutannya. Bagaimana bisa? Batin Bima tak percaya.


Al tersenyum senang melihat keberhasilannya. "Aku memang tidak berhasil mengambil nyawamu, tapi aku berhasil melesatkan dua peluru sekaligus," ucap Al.


Al berjalan mendekati Bima dan berdiri tepat didepan pria itu. Al memandang Bima dengan tajam. "Aku tidak membunuhmu karena itu bukan hakku. Aku tidak ingin membuat gadisku menjadi yatim karena kebodohanmu. Bersyukur pada pencipta karena waktu bertaubat masih diberikan kepadamu!" ucap Al tegas dan berbalik meninggalkan Bima dan para antek-anteknya.


Sebelum benar-benar pergi, Al kembali berbalik. "Siapkan dirimu besok. Indonesia menantimu," ucap Al meninggalkan Bima dengan segala kebungkamannya.


Bima terduduk lemas di lantai. Setitik air bening keluar dari sudut matanya. Senyum kecil terbit di bibirnya. "Terimakasih," gumam Bima pelan. Entah kepada dia berterimakasih, yang pasti hanya dia yang tahu maksud dari setiap tindakannya.


Dengan segala keyakinannya, Al memanggil Dokter terbaik untuk memulihkan luka ditubuhnya. Hingga saat kembali ke Indonesia, luka itu sedikit menghilang dan dia bisa kembali tanpa membuat orang-orang yang menunggunya cemas.


*Flashback Off*

__ADS_1


......................


Jangan lupa buat tetap like, komen dan kasih vote ya. Aku sayang kalian 😘🌹


__ADS_2