
🌹HAPPY READING🌹
CUKUP! Ibra sudah tidak sanggup lagi. Tangan Ibra mengepal. Tanpa sadar dia meremas tangan Al yang masih ada dalam genggamannya.
Al yang merasa tangannya di remas oleh Ibra pun menengadah melihat Ibra. Al melihat wajah Abinya yang memerah seperti sedang menahan emosi.
Al mengusap lembut punggung tangan Ibra dengan tangannya yang lain. Sadar akan perbuatannya, Ibra menoleh kepada Al, dan melihat anaknya itu sedang tersenyum kepadanya.
"Maaf, Nak. Apa tangan Al sakit?" tanya Ibra menyesal.
Al tersenyum dan menggeleng. "Enggak Abi," jawab Al.
Ibra tersenyum dan mengacak pelan rambut Al. Dia kembali memandangi Adam yang sudah selesai mengurut kaki Dee.
Adam sudah berdiri dari jongkoknya. "Nanti kalau masih sakit di usap-usap lagi aja, Yang," ucap Adam.
Dee mengangguk dan tersenyum kepada Adam.
"Abi," rengek Kina kepada Ibra sambil merentangkan tangannya.
Ibra dengan sigap mengangkat Kina ke gendongannya. Dengan manja, Kina menyandarkan kepalanya kepada bahu Ibra mencari kenyamanan kepada Abinya.
"Yang, ke dalam dulu, ya," ucap Adam kepada Dee.
Dee mengangguk. Setelah itu Adam masuk ke dalam rumah Dee meninggalkan Ibra, Al, Kina dan Dee di luar.
"Adek, Adek sama Abang ke dalam dulu, ya. Abi mau bicara sebentar sama Umi," ucap Ibra membujuk Kina.
Kina dengan patuh mengangguk. Ibra menurunkan Kina dari gendongannya.
"Al, bawa Kina ke dalam, ya. Abi mau bicara dulu sama Umi," ucap Ibra.
"Iya, Abi," jawab Al patuh. Setelah itu, Al dan Kina pergi ke dalam meninggalkan Ibra dan Dee berdua di luar.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Ibra dengan suara dinginnya.
Dee mengangguk. Ibra duduk di kursi yang ada di sebelah Dee. Ibra memutar tubuhnya menghadap Dee untuk memulai pembicaraannya.
"Dee, bisakah kau melihat aku sebentar saja?" pinta Ibra.
__ADS_1
Dee diam, sama sekali tidak bergerak dari duduknya.
"Kau tidak mau melihat ku tapi kau membiarkan lelaki lain menyentuh mu!" ucap Ibra tegas.
Dee langsung menoleh kepada Ibra. Menatap mata Ibra dengan pandangan yang sulit di artikan. Dia sama sekali belum berniat untuk menjawab pertanyaan Ibra.
"Kau mengatakan bukan muhrim mu jika berdua dengan ku, tapi kau membiarkan lelaki lain memasuki rumah mu? Dan seenaknya memegang tubuhmu. Apakah seperti itu wanita baik-baik?" lanjut Ibra. Rasa kesal dan cemburu menyeruak di hatinya.
Dee masih diam menatap Ibra. Bahkan kau melupakan adik kecil yang dulu selalu kau banggakan, Mas. Kau benar-benar tidak mengingat bagian dari hidupku lagi. Baiklah, aku akan membiarkan mu bicara sesuka mu sekarang. Batin Dee.
"Aku memang masih sangat mencintaimu, Dee. Tapi jika sikap dan kelakuan mu seperti ini, jangan salahkan aku membawa anak-anakku pergi darimu. Sikap mu yang seperti seenaknya membiarkan lelaki di rumahmu akan memberikan pengaruh buruk untuk anakku!" ucap Ibra tegas.
Dee bungkam. Namun matanya menunjukkan raut kecewa kepada Ibra. Bahkan kepercayaan mu masih belum ada untukku, Mas. Aku mengerti ada rasa cemburu dalam hati mu, tapi tidak dengan cara seperti ini menyampaikannya. Batin Dee menatap Ibra sendu.
"Ingat, kau sudah menerima lamaran ku untuk kembali menjadi suamimu. Tidak peduli siapa lelaki yang ada di rumah mu ini, aku akan tetap memperjuangkan cintaku. Berhati-hatilah, jaga dirimu dan jangan berikan pengaruh buruk untuk anak-anakku," ucap Ibra dan langsung berdiri dari duduknya.
Saat Ibra akan melangkahkan kakinya, suara Dee menghentikan langkah Ibra.
"Bagiamana jika aku menolak permintaanmu untuk kembali?" ucap Dee ikut berdiri.
Ibra membalikkan badan menatap Dee. "Aku akan melakukan hal yang bahkan di luar dugaan mu," ucap Ibra dan langsung berjalan menuju motornya. Tanpa pamit, Ibra langsung menjalankan motornya dan meninggalkan rumah Dee.
"Dasar egois! egois! egois!" ucap Dee kesal sambil meremas-remas tangannya sendiri.
Setelah itu Dee masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
.....
Ibra sampai dirumahnya. Sampai di rumah, Ibra langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Huft, mulutmu keterlaluan Ibra. Bego, bego, bego!" ucap Ibra memukul mulutnya sendiri.
Ada rasa penyesalannya dalam dirinya karena telah berbicara kasar kepada Dee. "Kalau Dee membatalkan untuk menikah kembali dengan ku bagaimana? Dasar bego, Ibra!" ucap Ibra merutuki kebodohannya sendiri.
"Harusnya tadi Lo bersikap manis dan bersaing sehat dengan Adam-Adam itu, bodoh! Benar-benar nggak dan otak Lo, Ibra!" ucap Ibra terus memukul-mukul kepalanya.
Ibra mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Ib," ucap Kevin dari seberang sana. Ya, Ibra mengubungi Kevin untuk menanyakan bagaimana keadaan perusahaan.
__ADS_1
"Gimana Perusahaan, Vin?" tanya Ibra langsung.
"Aman disini. Lo fokus sama perjuangan Lo," ucap Kevin terkekeh di akhir katanya.
"Zahra gimana?" ucap Ibra menanyakan keadaan Zahra. Ada rindu dihatinya kepada anak itu.
"Zahra disini baik-baik aja. Dia hanya kadang rewel karena merindukanmu," jawab Kevin.
"Lalu?" tanya Ibra.
"Lalu apa?" ucap Kevin bingung.
"Ck, lalu gimana Lo mengatasinya?" tanya Ibra.
"Soal gampang. Lo tenang aja," jawab Kevin.
"Oiya, Vin. Gimana pesanan yang gue tanya? Berapa harganya?" tanya Ibra. Ibra memang memesan maharnya dari luar untuk Dee. Dia akan memberikan sesuatu yang spesial untuk wanitanya. Walaupun dia harus berkerja keras untuk itu.
"Tiga puluh lima juta, Ib. Lo yakin mau beli?" tanya Kevin.
Ibra diam sebentar. Tidak lama setelah itu dia mengangguk. "Iya, gue yakin. Lo pesan dan nanti Lo bayar dengan uang yang gue kirim dari sini," ucap Ibra.
"Oke," jawab Kevin. Setelah itu Ibra langsung memutus sambungan telepon mereka.
Ibra menghela nafas kasar, setelah itu dia bangun untuk membersihkan diri dan segera tidur.
.....
Sudah tiga Minggu berlalu. Sudah tiga Minggu sejak Ibra berbicara kasar dimalam itu kepada Dee. Dee benar-benar mengacuhkan Ibra jika dia datang kerumahnya. Hanya Al dan Kina yang bercerita dengan Ibra. Ibra juga bertambah kesal karena lelaki yang bernama Adam itu selalu ada di rumah Dee. Sikap Dee yang lembut dan hangat kepada nya membuat Ibra mengusap dadanya sabar. Jangan sampai di kembali berbicara kasar. Bisa-bisa masa depannya hancur seketika.
Saat ini Ibra sedang duduk di kasurnya. Ibra menghitung uang yang dia dapatkan dari hasil kerjanya. Alan benar-benar mengikuti perkataan Ibra dengan memberi gaji pekerja kuli itu lima ratus ribu per harinya. Dan ditambah uang makan seratus ribu perhari. Jadilah mereka menerima uang enam ratus ribu perharinya.
Berbagai pekerjaan dilakukan Ibra untuk mencukupi uangnya. Bahkan Ibra menjadi ojek online untuk menambah penghasilannya jika saat malam hari dan hari Minggu.
"Uang ini benar-benar berkah. Sangat menyenangkan jika kita melakukannya dengan ikhlas," gumam Ibra setelah selesai menghitung uangnya.
"Seminggu lagi ulang tahun Al yang ke delapan. Gue akan datang dan kasih kejutan. Kalau perlu gue nikahin Dee hari itu juga. Nggak ada penundaan untuk sesuatu yang baik, kan," ucap Ibra senang sambil membayangkan hari-hari menyenangkannya.
......................
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"